Kau sudah terpikat oleh bocah ini, dengan sendirinya segalanya kau puji. "Dia memang hebat dan harus dipuji, kalau tidak... kalau tidak masa aku sampai terpikat olehnya?" Gui Moa-ih jadi melengak dan kikuk sendiri, katanya.
"Ucapan begini pun dapat tercetus dari mulutmu?" "Mengapa aku tidak berani mengucapkan isi hatiku sendiri? Ini kan bukan sesuatu yang memalukan? Jika main sembunyi-sembunyi, diam-diam makan dalam menyukai seorang, tapi tidak berani mengutarakannya, cara beginilah baru memalukan dan menggelikan.... Betul tidak?" Wajah Gui Moa-ih yang pucat kekuning-kuningan itu jadi merah jengah juga, segera ia menjengek pula.
"Tapi meski kau menyukai dia, rasanya belum tentu dia suka padamu." "Yang penting aku suka padanya, apakah dia juga suka padaku atau tidak bukan soal, kau tidak perlu ikut khawatir," kata So Ing.
"Hm, kau...." Gui Moa-ih bermaksud mencemoohkannya, tapi tidak tahu apa yang harus diucapkannya.
Dengan tertawa So Ing menyambung. "Apalagi seumpama sekarang dia tidak suka padaku, nanti juga aku ada akal untuk membuatnya suka padaku." Sampai di sini, tak tahan lagi Siau-hi-ji, ia bergelak tertawa, katanya.
"Tepat, tepat sekali. Rasanya sekarang juga aku sudah mulai menyukai kau." Air muka Gui Moa-ih sebentar putih sebentar hijau saking menahan geramnya. Teriaknya kemudian dengan bengis. "Jika demikian, bila dia mati tentu kau sangat berduka, bukan?" So Ing tersenyum, jawabnya.
"Sejak mula sudah kuketahui kau pasti akan memperalat dia untuk memeras diriku. Sesungguhnya apa kehendakmu? Masa kau tidak enak untuk bicara terus terang?" Melihat kerlingan mata si nona yang menggetar sukma, melihat dadanya yang berombak perlahan di bawah bajunya yang tipis itu, hati Gui Moa-ih menjadi berdebar dan bibir pun terasa kering, serunya.
"Aku... aku ingin kau...." Mendadak ia menggerung dan berputar cepat sambil memukuli dada sendiri beberapa kali, ia tidak berani menatap si nona pula, teriaknya.
"Aku ingin kau ceritakan rahasia yang kau dengar kemarin." "O, kau sudah bertemu dengan Pek San-kun?" "Hmk," dengus Gui Moa-ih.
Tiba-tiba So Ing tertawa dan berkata. "Sebenarnya, sekalipun yang kau inginkan adalah diriku pasti juga akan kuserahkan padamu, cuma sayang kau sendiri tiada punya keberanian sehingga kesempatan baik ini tersia-sia." Gui Moa-ih meraung gusar, mendadak ia membalik tubuh dan mencengkeram pundak si nona, teriaknya dengan suara parau.
"Kau... kau budak busuk, perempuan hina, kau... kau...." Tapi So Ing tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum genit. "Kutahu sekarang kau menyesal mengapa tadi tidak berani mengutarakan isi hatimu. Tapi itu urusanmu sendiri, mengapa aku yang menjadi sasaran kedongkolanmu?" "Persetan!" Bentak Gui Moa-ih murka.
"Siapa menghendaki perempuan busuk macam kau, kau..." Karena tak tahu apa yang dikatakan, mendadak sebelah tangannya menampar muka So Ing.
Namun si nona tidak berkelit, sebaliknya mukanya yang molek itu seolah-olah sengaja disodorkan malah, katanya. "Jika ingin memukul aku, silakan pukul saja. Tapi apakah kau sampai hati memukulku?" Di bawah cahaya bintang yang berkelip-kelip itu wajah So Ing kelihatan kemerah-merahan laksana bunga mawar yang baru mekar dengan pandangannya yang sayu.
Tangan Gui Moa-ih jadi terhenti di udara dan tidak jadi memukul. So Ing malahan terus mendekatkan tubuhnya ke sana, katanya sambil memejamkan mata. "Pukul, ayolah pukul! Mengapa tidak jadi pukul!" Tubuh Gui Moa-ih seperti mulai gemetar, hatinya menggereget. Kalau bisa dia ingin memeluk si nona sekarang juga, tapi dia justru sangsi dan tidak berani.
Wajahnya yang pucat kuning tampak berkeringat. Dongkol dan geli pula Siau-hi-ji menyaksikan semua itu. Tiba-tiba dilihatnya salah satu jari So Ing yang lentik itu entah sejak kapan telah memakai sebuah cincin yang mengkilap.
Karena dia tergantung menjungkir, matanya tepat berada di depan cincin itu. Di bawah sinar bintang yang remang-remang dapat dilihatnya di atas cincin itu ada sebuah jarum yang lembut dan runcing.
Dengan gaya yang menggiurkan serta suara yang samar-samar, perlahan So Ing mengangkat tangannya yang bercincin itu dan merangkul leher Gui Moa-ih.
Dalam keadaan begitu bila kulit leher Gui Moa-ih tergores sedikit saja oleh jarum perak itu, maka jiwanya pasti akan melayang. Padahal saat ini Gui Moa-ih dalam keadaan kesengsem, hati berdebar-debar, mata terbelalak bingung, pikiran melayang entah ke mana, dengan sendirinya tak terpikir olehnya maut sedang mengintai jiwanya.
Pada saat itulah, mendadak Siau-hi-ji berteriak. "Awas tangannya! Tangannya berjarum berbisa!" Gui Moa-ih meraung kaget, berbareng sebelah tangannya terus mengebas sehingga So Ing terdorong mundur beberapa kaki.
Tubuh So Ing terbentur pohon, dengan terbelalak ia pandang Siau-hi-ji, serunya. "Kau... apakah sudah gila?" "Siapa bilang aku gila? Otakku cukup waras!" Jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.
"Lalu mengapa... mengapa kau...." "Kau heran mengapa aku malah menolong dia, begitu bukan?" So Ing menggigit bibir dan tidak berucap lagi.
Gui Moa-ih terkejut dan gusar pula, ia pun tak mengerti mengapa Siau-hi-ji berbalik menolongnya malah.
Sebab itulah dia hanya mendelik dan juga tidak bersuara.
Maka terdengar Siau-hi-ji berkata dengan tertawa. "Sebabnya kutolong dia, karena aku pun ingin tahu rahasia apa yang dimaksudkannya itu." "Ap... apa katamu?" Tanya So Ing.
"Cinta saudara padamu ini sudah merasuk tulang sumsum, tapi pada kesempatan baik untuk melaksanakan idam-idamannya ini dia justru menyampingkan urusan cinta dan cuma minta kau menjelaskan sesuatu rahasia, ini suatu tanda bahwa rahasia yang dimaksudkannya terlebih penting daripada dirimu yang dicintainya." "Hmk," Gui Moa-ih hanya mendengus dan tidak menanggapi komentar Siau-hi-ji itu.
Segera Siau-hi-ji menyambung pula. "Sebaliknya kau rela menyerahkan tubuhmu padanya daripada menceritakan rahasia yang dia minta, ini pun suatu tanda bahwa kau memandang rahasia itu jauh lebih penting daripada tubuhmu sendiri." So Ing menggigit bibir, katanya kemudian sambil membanting-banting kaki.
"Tolol kau, masa... masa kau tidak tahu maksudku?" "Sudah tentu kutahu maksudmu," Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.
"Tapi bila dia mengetahui dirinya keracunan, apakah dia dapat mengampunimu?" "Dia tidak berani membunuhku," Ujar So Ing.
"Sebab kalau aku dibunuhnya maka selanjutnya jangan harap akan dapat mengetahui rahasia itu." "Itulah dia, kan cocok dugaanku!" Seru Siau-hi-ji dengan tergelak-gelak.
"Jadi apa pun juga dia tetap ingin mengetahui rahasia ini. Dari sini dapat diketahui bahwa rahasia yang dimaksud pasti sangat hebat, maka aku jadi ingin tahu juga." "Tapi kalau kau...." "Agar kau mau membeberkan rahasia yang dimaksud, jalan satu-satunya ialah biarkan kau dipaksa oleh dia," Sela Siau-hi-ji sebelum So Ing bicara lebih lanjut.
"Sebab kalau kau sampai terbunuh, jelas rahasia ini takkan kau ceritakan dan aku pun tidak dapat mendengarnya." So Ing membanting-banting kaki dengan mendongkol, katanya.
"Tapi kan aku mau menolongmu, mengenai rahasia ini kelak kan dapat kuberitahukan padamu?" "Belum tentu," Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.
"Kalau melihat aku akan mati, kau khawatir, lalu rahasia itu akan kau beberkan. Tapi bila aku tertolong, kau khawatir pula aku akan kabur, untuk ini kau pasti akan ceritakan rahasia ini untuk mengikat diriku, bukan mustahil aku harus menunggu dan menunggu terus, entah sampai kapan barulah kau mau memberitahukan rahasia ini. Nah, mana aku sanggup bersabar menunggu selama itu?" Setelah terbahak-bahak, lalu dia menyambung lagi.
"Bicara sejujurnya, setelah kau tolong aku, bisa jadi akan terus kutinggal pergi. Jika begitu, kan selamanya aku tak dapat mendengar rahasia ini, dan selama itu pula pikiranku akan merana." Uraian Siau-hi-ji yang aneh, seperti betul dan juga seperti tidak betul ini, membuat Gui Moa-ih rada-rada bingung dan serba salah.
Apalagi So Ing, hampir meledak perutnya saking gemasnya.
Dengan suara gemas So Ing lantas berkata. "Jika rahasia ini sedemikian pentingnya, kalau kau ikut mendengarnya, apakah dia mau mengampunimu? Kau suka anggap dirimu ini orang pintar nomor satu di dunia, mengapa segi ini tidak kau pikirkan?" Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya.
"Pagi bisa mendengar, mati petang tanpa menyesal. Asalkan aku dapat mendengar rahasia sebagus ini, biarpun mati juga bukan soal." So Ing melengak, sampai sekian lama barulah ia berucap pula dengan tersenyum getir.
"Di dunia ini ternyata ada manusia seperti kau, jika tidak kusaksikan sendiri, biarpun kepalaku dipotong juga aku tidak percaya." "Kan sudah kukatakan sejak mula kau bertemu dengan aku, anggaplah kau yang sial," Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.
"Nah, sekarang lekaslah kau ceritakan rahasia itu, kalau tidak, segera dia akan membunuhku." Sungguh ganjil bin janggal. Dia berbalik membantu orang lain, seakan-akan khawatir orang lain tidak jadi membunuhnya, makanya dia harus lekas-lekas mengingatkannya.
Benar juga, dengan suara bengis Gui Moa-ih lantas membentak. "Betul, jika kau ingin main gila lagi, segera kubinasakan dia!" So Ing memandang Siau-hi-ji, lalu memandang Gui Moa-ih, mendadak ia tertawa terkikik-kikik, tertawa geli, geli sekali.
Katanya kemudian. "Sungguh lucu, sungguh aneh! Di dunia ini ternyata ada manusia begini. Untuk persoalan ini, sebenarnya tidak nanti kubeberkan rahasia ini bagi siapa pun, akan tetapi bagimu...." "Bagiku, tentu kau mau membeberkan bukan?" Tukas Siau-hi-ji.
"Sesungguhnya dunia ini sudah membosankan bagiku," Kata So Ing dengan tertawa.
"Jika sekarang kubiarkan kau mati, hidupku kan tambah kosong?" "Betul, betul," Seru Siau-hi-ji dengan tertawa.
"Orang macamku ini sekali-kali tidak boleh mati.