Pohon-pohon yang kering kerontang dengan tanah yang tandus, di mana tidak terlihat kehidupan pada alam di sekitar perkampungan Lung-cie yang terpisah empat ratus lie dari kota Siang-yang, di mana angin tidak berhembus, beku dan seperti mati. Dan juga terik kemarau itu menambah keresahan untuk setiap makhluk yang berada di sekitar daerah tersebut, merupakan suasana yang tidak menarik sekali.
Daerah tersebut merupakan daerah yang pernah dilanda oleh suatu peperangan yang panjang dan ganas sekali sehingga perkampungan Lung-cie merupakan daerah yang termasuk daerah bekas korban peperangan, termasuk penduduknya yang banyak mengalami kerusakan harta benda maupun jiwa dan raga. Banyak yang berjatuhan sebagai korban peperangan, membuang jiwa terbinasa oleh peperangan antara dua, Mongolia yang menyerbu untuk merebut Siang-yang dan kekuatan tentara Song yang bertahan di Siang-yang.
Kerusakan hebat yang dialami oleh penduduk perkampungan Lung-cie justru rumah mereka umumnya menjadi hancur porak poranda rata dengan bumi, malah yang lebih menderita lagi adalah kaum wanita penduduk perkampungan tersebut. Setiap wanita yang memiliki paras cukup cantik telah menjadi korban keganasan dari para tentara Mongolia yang menculik dan memperkosa mereka sehingga tercerai berai dari suami isteri dan keluarga maupun anak-anak mereka.
Itulah peristiwa yang menyedihkan sekali, korban dari peperangan merupakan sesuatu yang mengerikan dan dikutuk, walaupun dengannya peperangan pasti akan membawa korban untuk penduduk di tempat terjadinya peperangan tersebut. Segala keganasan dan kebiadaban terjadi dalam pergolakan setiap peperangan di mana saja.
Lebih celaka lagi setelah Siang-yang terjatuh di tangan Kublai Khan, dan Kaisar Mongolia tersebut berkuasa di daratan Tionggoan, dengan kerajaannya yang bernama Boan-ciu tersebut, musim kemarau melanda daratan Tiong-goan. Kemiskinan akibat peperangan yang telah mencekam dan menyiksa penduduk di sekitar daerah ini, justru hebat akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Dan rupanya penduduk di daerah tersebut belum juga habis menderita di mana mereka beruntun harus mengalami penderitaan yang tidak berkesudahan. Sebelum pecahnya peperangan antara pasukan tentara Mongolia dengan pasukan tentara kerajaan Song di Siang-yang, jumlah penduduk di perkampungan Lung-cie tersebut kurang lebih seribu keluarga. Tetapi setelah usainya peperangan, dan diterjang musim kemarau yang berkepanjangan, maka jumlah penduduk perkampungan Lung-cie tidak lebih dari seratus keluarga.
Perkampungan yang dulunya indah dan ramai kini menjadi perkampungan yang mati, tiada terlihat kegiatan pada penduduk perkampungan Lung-cie tersebut. Wajah-wajah yang suram, tiada kegiatan apapun pada penduduk perkampungan tersebut, dan juga keresahan di samping kelesuan, telah meliputi seluruh penduduk kampung Lung-cie tersebut.
Mereka merupakan sisa-sisa dari manusia-manusia yang menjadi korban peperangan, dan yang masih tabah untuk melanjutkan hidup mereka di daerah tersebut. Namun justru keadaan alam yang beku dan mati, dengan tanah yang kering tandus dan juga kemiskinan yang mereka hadapi, mereka tidak ada bergairah untuk bekerja.
Jika sebelumnya di perkampungan tersebut cukup banyak bangunan gedung yang bertingkat tiga dan megah, sekarang semua itu telah menjadi reruntuhan yang memuakkan, disamping itu juga gubuk-gubuk reyot yang memenuhi perkampungan tersebut, telah banyak yang rusak di sana sininya, dengan atapnya yang terbuat dari daun-daunan dan bilik yang terbuat sederhana dari kayu-kayu pohon.
Segala apa yang terlihat pada saat itu di perkampungan Lung-cie memang menyedihkan. Terlebih lagi jika melihat keadaan penduduknya, yang umumnya memiliki tubuh yang kurus kerempeng dan tidak terdapat semangat hidup, lesu dan tidak jauh beda dengan sekeliling mereka.
Kesulitan dalam penghidupan yang diderita oleh penduduk Lungcie memang kian hari kian berat juga, di mana mereka mengalami derita yang tidak berkeputusan. Banyak yang bersyukur jika dalam seharinya mereka bisa makan tiga kali, mengisi perut yang lapar, karena sebagian besar dari mereka justru terdapat yang hanya makan pagi tetapi tidak untuk sore, makan sore tidak mengisi perut di pagi hari.
Dan keadaan yang diliputi kemiskinan seperti itu membuat sebagian penduduk Lung-cie mengungsi ke perkampungan lain, harapan mereka akan bisa membina hidup baru dengan keadaan yang jauh lebih baik dari pada jika mereka berdiam terus di perkampungan Lung-cie. Dengan begitu jumlah penduduk perkampungan Lung-cie, semakin lama semakin sedikit saja.
Setiap hari, yang sering terlihat hanyalah tentara-tentara Mongolia yang mondar mandir melakukan pemeriksaan di sekitar daerah tersebut, tetapi merekapun umumnya memperlihatkan sikap yang telah jemu melihat keadaan sekeliling mereka yang serba mati. Manusia-manusianya yang tidak memiliki kegairahan dalam menghadapi hidup, perkampungan yang miskin dan melarat, dengan keadaan alam di sekitarnya yang kering mati, beku dan tidak memiliki lagi suatu rangsangan untuk memperoleh suatu kegembiraan.
Dan jika pasukan tentara Mongolia yang melakukan pemeriksaan setiap harinya di sekitar daerah tersebut masih melaksanakan tugas mereka, itupun disebabkan kewajiban dari tugas mereka, guna menjaga sebaik mungkin kota Siang-yang yang telah berhasil direbut dengan bersusah payah tersebut.
Kemenangan yang telah diperoleh Kublai Khan dengan berhasil menerobos terus ke pedalaman daratan Tiong-goan, menjatuhkan kerajaan Song, dan lalu mendirikan kerajaan Boan-ciu, merupakan suatu kemenangan mutlak. Namun di daerah perbatasan tersebut, yang diliputi kemiskinan, belum memperoleh perhatian dari pemerintahan yang baru saja berdiri itu.
Dan para penduduk yang terdapat di sekitar daerah yang berdekatan dengan kota Siang-yang belum pula pulih dari tekanan perasaan takut dan sikap tidak acuh mereka.
Pagi itu, angin tidak berhembus, beku dan kering sekali, dan di sekitar permukaan dari perkampungan Lung-cie, hanya tampak beberapa ekor ayam dan anjing yang kurus. Jumlah binatang-binatang tersebut pun bisa dihitung dengan jari tangan.
Dari arah utara pintu perkampungan tersebut, tampak berjalan seorang pria berusia tigapuluh tahun lebih, memakai baju yang longgar berwarna kuning gading. Ikat pinggangnya terjuntai panjang berwarna merah daging, dengan kopiah yang melesak agak dalam menutupi keningnya.
Bahan pakaiannya itu terdiri dari bahan pakaian yang tidak mahal, namun jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pakaian dari para penduduk perkampungan tersebut. Debu yang memenuhi pakaian dan kopiahnya yang lusuh itu, menunjukkan bahwa pria itu telah melakukan perjalanan yang cukup panjang di daerah yang kering dan tandus ini.
Ketika memasuki pintu perkampungan Lung-cie, pria tersebut memandang sekitarnya, dan sepasang alisnya telah mengkerut dalam-dalam waktu melihat kemiskinan yang begitu parah meliputi perkampungan itu. Terlebih lagi ia melihat beberapa orang penduduk perkampungan tersebut yang umumnya berpakaian tidak keruan dengan wajah yang pucat kurus, dengan tubuh yang kerempeng.
Disamping itu juga sikap mereka yang acuh tak acuh, duduk terkulai menyandar di permukaan rumah mereka masing-masing, yang merupakan rumah-rumah yang tidak mirip lagi disebut sebagai rumah, karena telah reyot dan rusak di sana sininya dan lebih mirip dengan bangunan sebuah kandang binatang, dan juga tidak memiliki perabotan rumah tangga.
Benar-benar merupakan pemandangan yang menyedihkan sekali. Kaum wanitanya, yang juga bertubuh kurus kering dan kenyang ditelan oleh penderitaan, hanya duduk atau berdiam diri dengan tak acuh pula, karena mereka tidak mengetahui apa yang perlu dilakukan mereka, memasak ataupun melakukan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga.
Tiada pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Pria asing yang baru datang di perkampungan tersebut telah menghela napas dalam-dalam waktu menyaksikan pemandangan yang menyedihkan seperti itu.
"Inilah korban peperangan yang tak mengenal kasihan kepada makhluk yang berada di tempat terjadinya peperangan tersebut, laknat dan jahat sekali....... korban-korban peperangan yang patut dikasihani......!" dan setelah menggumam begitu, pria asing tersebut menghela napas lagi dalam-dalam.
Ia menghampiri sebuah rumah gubuk yang terdapat tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi, dan di depan pintu rumah itu, tampak seorang lelaki tua dengan kumis dan jenggot tak teratur dan pakaian yang compang camping telah lusuh, di saat mana tengah memainkan sebatang rumput kering yang ujungnya digigit-gigitnya dengan sikapnya yang tak acuh.
Wajah yang pucat seperti seraut wajah mayat, dan matanya yang telah tidak memiliki sinar itu hanya melirik sekejap saja pada pria asing yang tengah menghampirinya. Pria asing itu telah merangkapkan tangannya, memberi hormat, sambil katanya dengan suara yang ramah: "Lopeh (paman), bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Lelaki tua yang bertubuh kurus kering itu telah melirik lagi dengan sinar matanya yang tidak bersemangat sekali, ia mengeluh perlahan dan membenarkan letak duduknya dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata perlahan: "Apa hendak kau tanyakan, anak muda?"
"Siauwte tengah mencari seseorang, mungkin Lopeh kenal padanya," kata pria asing tersebut.