Halo!

Chapter 01

Memuat...

Siau-hi-ji tiba di tepi sungai, menghadapi gelombang sungai yang besar. Ia memperlambat langkahnya, berharap dapat melihat perahu kaum pengelana yang hidupnya terhina tapi berkepribadian luhur. Ia ingin melihat sepasang mata yang besar dan cemerlang itu. Banyak perahu hilir mudik di sungai, tapi perahu kaum pengelana itu sudah tidak nampak lagi.

Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di tepi sungai. Tiba-tiba, terdengar kesiur angin di belakang, lalu seorang menegurnya. "Maafkan jika saudara harus menunggu terlalu lama." Siau-hi-ji tidak menoleh dan tidak bersuara. Orang itu bertanya, "Kenapa saudara hanya sendirian? Di mana dua lagi yang lain?" Siau-hi-ji tetap diam. Orang itu berkata, "Sesuai kehendak kalian Cayhe sudah datang kemari, mengapa saudara malah tidak menggubris?"

Siau-hi-ji berpaling dan tersenyum. "Mungkin kalian salah wesel, aku bukan orang yang hendak kalian cari." Ia melihat tiga orang yang berdiri di depannya. Orang yang paling kiri tinggi besar, memakai baju merah, jelas dia inilah si "baju merah golok emas" Li Beng-sing. Orang yang berada di tengah tampak gagah perkasa, dengan sendirinya dia ayah Li Beng-sing, yaitu "Kim-say" Singa Emas, Li Tik. Seorang lagi bermuka kelam dan berjenggot pendek, yakni "Ci-bin-say", singa muka ungu, Li Ting.

Siau-hi-ji terkejut melihat ketiga orang ini. Wajahnya yang tersenyum hampir saja berubah menjadi kaku. Untung di malam gelap sehingga ketiga orang itu tidak mengenalnya. Si Singa Emas Li Tik berkerut kening dan bertanya, "Kiranya seorang pengemis kecil. Untuk apa kau berdiri di sini?" Siau-hi-ji menunduk dan menjawab, "Hamba tiada punya tempat tinggal, terpaksa berada di mana pun."

Li Beng-sing membentak, "Lekas enyah! Apa kau minta di..." Tiba-tiba, si "Singa Ungu" Li Ting berteriak, "Itu dia sudah datang!" Sebuah sampan meluncur dari permukaan sungai, dengan tiga orang berseragam hitam sebagai penumpangnya. Siau-hi-ji menyingkir jauh ke tengah semak alang-alang di tepi sungai, berjongkok dan enggan pergi.

Ketiga orang berseragam hitam melompat ke daratan, dengan gerakan tangkas dan gesit. Orang yang paling depan berperawakan tinggi tegap, orang kedua di belakangnya berbadan pendek tangkas, dan orang ketiga bertubuh ramping, seperti seorang perempuan. Masing-masing membawa bungkusan panjang, yang terbungkus dengan kain hitam. Keluarga Li ayah beranak menyongsong maju, tapi berhenti dan saling tatap dengan penuh waspada.

Kim-say Li Tik berteriak, "Apakah kalian inilah yang mengaku sebagai Jinhiap?" Si baju hitam yang tinggi besar menjawab, "Betul!" Li Tik bertanya, "Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kereta barang kawalan kami selalu dirampok, apakah semua ini pekerjaan kalian?" Si baju hitam menjawab, "Betul!" Li Tik menjadi gusar dan teriak, "Ada permusuhan apa antara Siang-say-piaukiok kami dengan kalian? Mengapa kalian sengaja merecoki kami?"

Si baju hitam menjawab, "Tidak besar permusuhan kita, tapi juga tidak kecil." Li Tik bertanya, "Setiap orang Kangouw sudah mengetahui bahwa Tio Coan-hay dan Le Hong sama keracunan, meski kedua orang itu belum mampus, tapi Lianglian dan Samlian sudah banyak kehilangan pamor dan kepercayaan." Si baju hitam menjelaskan, "Sudah tentu besar hubungannya. Kalau Liang-ho dan Sam-siang kehilangan kepercayaan, kan kesempatan itu dapat digunakan Siang-say-piaukiok untuk menonjolkan diri, barang kawalan Toan Hap-pui itu dengan sendirinya akan jatuh di tangan kalian."

Siau-hi-ji merasa tergerak, begitu pula keluarga Li ayah beranak itu. Li Tik bertanya, "Jika begitu, mengapa kau tidak menunggu kesempatan baik nanti untuk merampas lagi barang kawalan kami?" Si baju hitam menjawab, "Tapi bukan soal kecil barang kawalan Toan Hap-pui itu. Kukira pihak Siang-say-piaukiok sendiri juga tidak berani mengawalnya dengan tangan sendiri dan pasti akan minta bantuan orang luar pula untuk membelanya, sedangkan tenaga kami bertiga terasa pula tidak sanggup mengincarnya."

Keluarga Li ayah beranak itu sudah menyongsong maju, tapi setelah berhadapan dalam jarak beberapa meter, mereka berhenti dan saling tatap dengan penuh waspada. Kim-say Li Tik berteriak, "Apakah kalian inilah yang mengaku sebagai Jinhiap?" Si baju hitam yang tinggi besar menjawab, "Betul!" Li Tik bertanya, "Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kereta barang kawalan kami selalu dirampok, apakah semua ini pekerjaan kalian?" Si baju hitam menjawab, "Betul!"

Li Tik menjadi gusar dan teriak, "Ada permusuhan apa antara Siang-say-piaukiok kami dengan kalian? Mengapa kalian sengaja merecoki kami?" Si baju hitam menjawab, "Tidak besar permusuhan kita, tapi juga tidak kecil." Li Tik bertanya, "Setiap orang Kangouw sudah mengetahui bahwa Tio Coan-hay dan Le Hong sama keracunan, meski kedua orang itu belum mampus, tapi Lianglian dan Samlian sudah banyak kehilangan pamor dan kepercayaan."

Si baju hitam menjelaskan, "Sudah tentu besar hubungannya. Kalau Liang-ho dan Sam-siang kehilangan kepercayaan, kan kesempatan itu dapat digunakan Siang-say-piaukiok untuk menonjolkan diri, barang kawalan Toan Hap-pui itu dengan sendirinya akan jatuh di tangan kalian." Siau-hi-ji merasa tergerak, begitu pula keluarga Li ayah beranak itu. Li Tik bertanya, "Jika begitu, mengapa kau tidak menunggu kesempatan baik nanti untuk merampas lagi barang kawalan kami?"

Si baju hitam menjawab, "Tapi bukan soal kecil barang kawalan Toan Hap-pui itu. Kukira pihak Siang-say-piaukiok sendiri juga tidak berani mengawalnya dengan tangan sendiri dan pasti akan minta bantuan orang luar pula untuk membelanya, sedangkan tenaga kami bertiga terasa pula tidak sanggup mengincarnya." Ketiga orang berseragam hitam lantas menubruk maju, dengan senjata yang memancarkan cahaya kemilau, yaitu gaetan bunga Bwe.

Li Tik terkejut dan bertanya, "He, Bwe-hoa-kau?" Si baju hitam menjawab, "Kenal juga kau akan senjata ini." Pertempuran antara keluarga Li dan orang berseragam hitam menjadi sengit. Siau-hi-ji menyaksikan pertempuran ini dengan pandangan yang dingin, karena ilmu silat yang dipelajari dari kitab pusaka telah membuatnya merasa bahwa ilmu silat orang lain tidak ada artinya lagi. Ia merasa bahwa permainan Bwe-hoa-kau memang menarik, tapi selebihnya hampir tidak ada harganya untuk ditonton.

Li Beng-sing menjadi semakin terdesak, karena senjatanya telah terkunci oleh gaetan lawannya. Si baju hitam yang pendek tangkas itu semakin bertempur semakin gagah perwira, dan mendadak ia mengelak sambil menerjang maju, sinar hijau berkelebat, dan golok Li Beng-sing sudah terkunci. Li Beng-sing terhuyung-huyung dan menegas, "Bayar utang apa maksudmu?" Si baju hitam menjawab, "Anak murid Bwe-hoa-pang cukup jelas membedakan den dam dan budi, setiap utang-piutang harus dibayar lunas."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment