TAMU ANEH Ditengah Malam.
Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin. Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat.
Di sungai kecil di pinggir kota kecil itu, lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil, sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu untuk memetik biji teratai. Di antara kelima gadis cilik itu, usia tiga orang kurang lebih lima belas, dua orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja.
Kedua dara cilik itu adalah saudara misan: Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay (adik misan) bernama Liok Bu-siang. Keduanya hanya berbeda setengah tahun, tapi Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok Bu-siang sangat lincah. Perangai keduanya sama sekali berbeda.
Ketiga gadis yang lebih tua masih terus bernyanyi sambil mendayung perahu menyusun semak daun teratai. "Eh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!" seru Thia Eng sambil menuding seorang yang berduduk di bawah pohon di tepi sungai sana.
Orang yang dimaksud itu berambut kusut masai tapi kaku, kumis dan jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, namun baik rambut maupun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap. Mestinya usianya belum begitu lanjut, namun mukanya penuh keriput dan cekung sehingga tampaknya seperti kakek berusia 70-80 tahun.
Yang paling aneh dan lucu adalah pakaian-nya. Bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru. Malahan bagian bawahnya bersulamkan kupu-kupu yang berwarna-warni. Tangan kakek itu memegang sebuah kelentungan mainan kanak-kanak, kelentungan itu tidak henti-hentinya diputar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan.
"Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?" kata Liok Bu-siang.
"He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah," ujar Thia Eng.
"Kalau dia marah akan tambah menarik," kata Liok Bu-siang sambil menjemput sebuah ubi teratai, terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.
Jarak antara perahu kecil itu dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, tapi tenaga Bu-siang ternyata tidak lemah meski usianya masih kecil. Lemparannya itu sangat jitu, ubi teratai itu langsung menyambar ke muka si kakek aneh.
"Akan tetapi keajaiban segera terjadi, tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai itu tergigit olehnya. Ia tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai itu digeragotinya dengan lahap."
Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apalagi kulitnya juga tidak dikupas, tapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing. Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besar tadi menjadi geli dan mengikik tawa.
Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya: "Ini makan satu lagi!" Segera ia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek. Waktu itu separuh daripada umbi teratai pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya, mendadak kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah tepat hinggap di atas kepalanya.
Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikit pun. Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.
"Ini masih ada!" seru Bu-siang pula, kembali melemparkan sebuah ubi teratai. Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai di mulutnya seperti tadi, dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas dan jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.
Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter.
Setelah ubi teratai pertama tadi termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya, dan ubi teratai yang paling atas mendadak menggelinding ke bawah, tapi tepat jatuh di mulut si kakek, sebentar saja ubi teratai itu pun dimakan habis, lalu ubi teratai yang lain menggelinding jatuh ke bawah pula dan dimakan lagi.
Dalam waktu singkat, ubi teratai yang tersunggi di atas kepala-nya itu hanya tersisa dua saja. Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.
Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata: "Empek tua, caramu makan begitu tidak enak!" Lalu ia mengambil sebuah ubi teratai, kulitnya dikupasnya, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, kemudian diberikannya kepada kakek aneh itu.
Kakek itu pun tidak menolak, ubi teratai itu lantas dimakannya, dan terasa lebih gurih dan enak daripada yang dimakannya tadi. Tiba-tiba ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut.
Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya itu cuma bergoyang sedikit saja dan tidak terperosot jatuh.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara menguiknya anjing kecil di seberang sungai sana, terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai. Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tertampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekor, sedang berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil sana, di belakang anjing budukan itu mengejar tujuh atau delapan anak nakal, ada yang memegang bambu, ada yang menyambit dengan batu, disertai suara bentakan segala.
Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula hingga babak belur oleh kawanan anak nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol.
Biasanya Thia Eng suka kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan padanya. Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari ke sini, lalu sembunyi di belakang Thia Eng.
Ketika kawanan anak nakal itu mengejar tiba dan hendak menghajar pula anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru: "He, jangan memukulnya, jangan memukulnya!"
"Anak perempuan, minggir, bukan urusanmu!" damprat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.
Tapi sedikit menggos saja Thia Eng dapat menghindarinya.
Bu-siang berdiri di sebelah sang Piauci, melihat anak nakal itu kurang ajar, segera ia menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan pelahan di bahu anak itu.
Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itu pun menjerit menangis.
Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan, ia membangunkan anak itu dan menghiburnya: "Jangan menangis! Apakah sakit?" - Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya.
Tapi anak nakal itu terus mendorongnya sambil memaki: "Tidak perlu kau mengusap, kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu!" - Kuatir dihajar pula oleh Bu-siang, anak nakal itu lantas berlari menyingkir sambil mencaci maki, setelah agak jauh, ia terus menjemput batu kecil dan menyambit kawanan gadis ku.
Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang dapat menghindarinya, akan tetapi ketiga gadis yang agak besar itu tidak mahir ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu.
Beberapa potong batu itu pun mengenai badan si kakek aneh, tapi orang tua itu tidak menjadi gusar juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa tersambit oleh batu-batu itu.
Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik, segera mereka mengamati keadaan di sekelilingnya. Muka Thia Eng sudah berubah, menjadi pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam. Waktu mereka memandang sekelilingnya, kiranya tempat itu adalah tanah pekuburan. Kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau tidak mau hati mereka menjadi berdebar.
"Kongkong", kata Thia Eng dengan lemah lembut, "kami ingin pulang saja, tak mau lagi bermain dengan kau."
Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab.