Di sebuah negeri kecil yang indah dan makmur, bernama Tayli, terdapat sebuah jalan yang dikelilingi oleh pohon-pohon Yangliu yang lebat dan subur. Daun-daun pohon tersebut bergoyang-goyang diterpa oleh angin, seperti seorang penari istana yang sedang menari. Udara cerah, matahari pagi memancarkan sinarnya yang tidak terlalu terik, dan burung-burung kecil berkicau di sekitar tempat tersebut.
Beberapa orang petani melalui jalan tersebut, membawa pacul dan tampaknya akan berangkat ke sawah. Mereka melangkah sambil bersiul atau bernyanyi, tampaknya riang dan gembira. Keindahan alam di sekitar tempat tersebut membuat mereka merasa bahagia.
Tayli adalah sebuah kerajaan kecil yang tidak sebesar dan semegah kerajaan Song, namun memiliki tanah subur, pemerintahan yang baik, dan rakyat yang hidup aman dan makmur. Raja Tayli, Toan Hongya, masih berusia muda dan belum lagi lebih dari tiga puluh tahun. Ia pandai sekali mengatur negerinya dan berhasil membawa negerinya ke jaman keemasan.
Rakyat Tayli tidak perlu dibebani pajak, dan para pembesar negara tidak ada yang korup. Tidak ada kejahatan di negeri yang aman dan makmur tersebut, walaupun tidak semua rakyat hidup dalam kekayaan dan kemewahan, namun juga tidak ada yang hidup melarat dan sengsara. Semuanya serba berkecukupan, dan rakyat puas dengan raja mereka yang berhasil membawa negeri mereka ke puncak kemakmuran.
Di antara bergoyang-goyangnya daun-daun Yangliu, nampak dua orang penunggang kuda yang merarikan kuda tunggangan mereka dengan perlahan. Mereka melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa dan menikmati keindahan alam di sekitar tempat tersebut. Kedua penunggang kuda itu terdiri dari seorang tojin berusia kira-kira tiga puluh delapan tahun, mengenakan jubah pertapa berwarna abu-abu, dan seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun yang tampak periang sekali.
Pemuda itu, Ciu Sute, menanyakan banyak hal kepada suhengnya, Tojin, tentang asal mulanya pohon Yangliu, dewi mana yang menjadi penunggu pohon itu, dan bagaimana terjadinya awan, hujan, dan bintang-bintang. Tojin selalu menjawab dengan sabar dan tersenyum, namun Ciu Sute tidak pernah puas dengan jawaban suhengnya.
Ciu Sute bertanya tentang pohon Yangliu yang memiliki daun yang lebat dan cabang yang lemas, tidak seperti pohon-pohon lainnya yang tumbuh tegak dan kuat. Tojin menjawab bahwa pohon Yangliu memiliki sifat yang lemah dan gemulai, seperti golongan "Im", sedangkan pohon Gouw tong memiliki sifat yang kuat dan perkasa, seperti golongan "Yang". Tojin menjelaskan bahwa kedua sifat tersebut tidak pernah dapat disatukan sampai kapanpun. Ciu Sute tertawa dan mengatakan bahwa suhengnya telah membicarakan pelajaran Iwekang, bukan riwayat pohon Yangliu. Tojin tersenyum dan menjelaskan bahwa ia ingin menjelaskan apa yang Ciu Sute tanyakan itu jauh lebih luas dari apa yang Ciu Sute maksudkan.