Halo!

Chapter 01

Memuat...

Angin selatan mendesir lembut, bunga rontok keindahan bumi, halimun lembut ringan sejuk, mega tersenyum memandang gadis cantik, baju merah, ikat pinggang kuning, rambut disanggul, sepatu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil, tali kecapi tergetar oleh jari-jari lentik, suara merdu mengiringi kicau burung, senyum gadis cantik mekarnya bunga, Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia, dewa-dewi di selatan.

Bahagia dan abadi...

Syair di atas merupakan hasil sastra tulisan pujangga terkenal di awal pemerintahan dinasti Song, yang namanya dikagumi oleh rakyat Tiongkok karena keahliannya untuk melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan. Disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung kegagahan dan keabadian.

Pujangga itu berasal dari keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie, meninggal tepat di hari ulang tahunnya yang ke-74.

Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk "Tan Gie Sin Thong" menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya ke negarinya.

Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu, bebaslah kota "Hapciu, Cung king dan Siangyang.

Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong mengepung kota Siangyang selama puluhan tahun tanpa berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi pertempuran yang hebat sekali di muka kota Siangyang yang dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong (Tuli) di bulan dua, tahun ke-9, phiacu.

Penyerangan dilancarkan ke berbagai pintu kota, mendaki tembok, dan membunuh banyak tentara kerajaan Song. Walaupun diserang berulang-ulang, kota tersebut tidak dapat dirampas.

Di tahun kui-hay, disaat itulah Kaisar Mangu (Hian Cong) terbunuh oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa jenasah Mangu pulang ke utara, maka kota Siangyang bebas dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia.

Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan tersebut, dengan nama "Yo Ko yang disanjung-sanjung sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti.

Tetapi Yo Ko menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orang-orang gagah, akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan, dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka.

Dan dengan bebasnya kota Siangyang, suasana aman dan tenang kembali, rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun banyak puing-puing yang berserakan akibat dari pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.

Disaat rakyat berhasil hidup tenteram, maka disaat seperti itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nada-nada kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan.

Dan yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari Hoan Lie Khe, pujangga besar itu.

Dan seperti yang terdapat dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu; "Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di Selatan, bahagia dan abadi" maka rakyat Siangyang pun menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara kerajaan Song itu bahagia, tenteram, dan kekal-abadi...

Entah darimana asalnya, diluar kampung Wucuancung tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk di bawah sebatang pohon yang tumbuh rindang di sebelah kanan dari pintu kampung tersebut.

Sebetulnya, tidaklah luar biasa dengan adanya imam itu ditempat tersebut, karena memang biasa jika seorang yang tengah melakukan perjalanan dan beristirahat ditempat-tempat sejuk.

Namun yang agak luar biasa adalah keadaan imam itu. Sanggulnya yang digantung merupakan sebuah sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi, rambutnya pun tampak agak kusut tidak karuan.

Yang luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia empat puluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir yang lebar.

Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan perasaan apapun juga.

Matanya itu yang menatap lurus ke depan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati.

Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci.

Hudtim yang tercekal di tangan kirinya, tampak sudah agak kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok.

Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu menggumam perlahan sekali; "telah sepuluh jiwa...... telah sepuluh jiwa...... dan yang kesebelas akan tiba......" Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya yang tidak bersinar seperti mata ikan itu bergerak-gerak tanpa arah,

Dari arah pintu kampung tampak dua orang anak lelaki kecil yang tengah main kejar-kejaran, suara mereka lantang dan nyaring sekali di selingi oleh suara tawa gelak di antara keduanya.

Tetapi imam itu tidak menoleh sedikitpun juga.

Dan ketika kedua anak lelaki yang masing-masing berusia di antara delapan atau sembilan tahun itu melihat imam tersebut, mereka jadi tertarik, keduanya berhenti berlari dan mengawasi si imam dengan perasaan heran.

Semakin lama, selangkah demi selangkah, mereka telah mendekati, dan akhirnya jarak mereka dengan imam itu hanya terpisah kurang lebih satu tombak.

"Totiang......" panggil salah seorang anak itu.

"Apakah totiang sudah makan?" Imam itu melirik sejenak, dia menggeleng.

"Apakah totiang mau memakan kuwe keras ini?" tanya anak itu lagi sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering, yang diangsurkan kepada imam tersebut.

Imam itu tidak menyahuti, dia menyambut pemberian itu, lalu dimakannya, Dia pun tidak mengucapkan terima kasihnya.

Sekejap mata saja kuwe itu telah dimakannya habis.

Kedua anak lelaki kecil itu saling tatap satu dengan yang lainnya, dan yang tadi memberikan kuwe itu kepada si-imam telah bertanya lagi.

"Kalau totiang masih lapar, kami masih memiliki satu lagi.....

" kata-kata itu disusul dengan dirogoh saku kawannya, dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering lainnya.

Dan kuwe kering itu telah diberikan kepada imam itu lagi.

Imam itu telah menyambut, dan seperti tadi dia telah memakan kuwe kering itu tanpa mengucapkan sepatah kata.

Tetapi baru memakan setengah kuwe tiba-tiba mukanya telah berubah pucat, tubuhnya agak menggigil.

Sisa kuwe yang separuh di tangan nya itu telah dilemparkannya ke samping.

"Akhh, dia telah datang menyusul...!" menggumam imam itu.

Kedua anak lelaki itu tidak mengetahui apa yang dimaksud si imam, hanya merasa sayang kuwe yang masih separuh itu telah dibuang begitu saja.

Si-imam telah berdiri dengan cepat, tetapi sepasang kakinya agak menggigil gemetar.

"Anak-Anak, engkau baik sekali, kalau memang aku masih ada umur nanti aku akan mencari kalian untuk menyatakan terima kasihku.

Dan imam itu telah mengibaskan hudtimnya ke jubahnya yang dipenuhi runtuhan kuwe kering, katanya lagi seperti kepada dirinya sendiri; "Tetapi harapan hidup tipis sekali mungkin aku lah yang kesebelas..." Dan suaranya itu belum lagi habis diucapkan maka disaat itu dari arah telah terdengar suara siulan yang panjang dan menusuk pendengaran.

Suara siulan yang panjang itu berasal dari luar perkampungan di sebelah barat dari arah tegalan yang luas.

Kedua anak itu jadi heran bukan main mereka telah menoleh ke arah datangnya suara siulan itu, tetapi mereka tidak melihat siapapun juga.

Si imam telah berdiri tegak, rupanya dia telah berhasil menguasai goncangan hatinya.

Dengan matanya yang bersinar mati itu, dia telah memandang jauh ke tengah tegalan.

Suara siulan itu terdengar semakin keras dan dalam sekejap mata, dari arah tengah tegalan itu telah berlari-lari seperti bayangan sesosok tubuh, dan hanya beberapa detik saja sudah berada di hadapan si imam.

Gerakan orang yang baru datang itu sangat cepat, karena disaat dia mengeluarkan suara siulan yang panjang tadi, tubuhnya belum tampak dan hanya diseling oleh sebuah siulan lagi, dia sudah berada di hadapan si imam.

Dengan sendirinya, hal itu membuktikan orang yang baru datang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali.

Kedua anak lelaki kecil itu melihat, orang yang baru datang itu seorang gadis yang memiliki raut wajah sangat cantik memakai baju warna hijau dengan ikat pinggang merah dan rambut disanggul tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment