Halo!

Chapter 02

Memuat...

Tiat Ciang Sui Peng merupakan pengawal rendahan dalam istana, sama sekali tidak tahu pesilat tangguh dalam dunia persilatan. Tidak heran ketika mendengar nama Oey Yok Su, malah mentertawakannya.

Wajah Oey Yok Su berubah tak sedap dipandang, lalu dia tertawa dingin seraya berkata, "Tidak salah, namaku memang mirip tukang obat keliling. Aku adalah tukang obat, tentunya tidak melanggar hukum yang berlaku di kotaraja. Ya, kan?" Pada hal sesungguhnya, Oey Yok Su sudah berkata sungkan terhadap Tiat Ciang Sui Peng, sebab di sini bukan Pulau Tho Hoa To, melainkan adalah kotaraja.

Akan tetapi, Tiat Ciang Sui Peng justru tidak tahu diri, bahkan juga tidak tahu bahwa Oey Yok Su sudah naik darah, dia malah membentak, "Hei! Kau tukang obat, kenapa berani tertawa dingin di hadapanku?" Kening Oey Yok Su langsung berkerut.

Seandainya dia mau menyudahi urusan itu, cukup baginya berkata sungkan. Namun dia adalah Oey Yok Su, majikan Pulau Tho Hoa To, sudah pasti tidak akan membiarkan Tiat Ciang Sui Peng bertingkah di hadapannya. Oleh karena itu, Oey Yok Su tertawa dingin lagi dan berkata, "Aku tertawa dingin lantaran melihat orang-orang Tay Song menganggap dirinya amat setia kepada kerajaan! Tapi sesungguhnya cuma bersifat seperti kaum wanita, melihat tanah Kerajaan Tay Song akan jatuh ke tangan suku Kim, namun masih dapat bersabar seakan tiada urusan! Di sini hanya terdengar cerita akan kegagahan orang-orang Tay Song, mengapa tidak menceritakan kebusukan menteri Cing Kwei, serta kebobrokan Kerajaan Tay Song, juga tidak menceritakan Tay Song harus mempersembahkan upeti-upeti kepada Bangsa Kim" Itu disebabkan apa?"

Semua orang yang mendengar kata-kata itu, bersorak penuh kegirangan. Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa pemuda yang tampak lemah itu ternyata begitu berani. Semula semua orang amat gusar kepadanya, tapi kini justru malah menaruh hormat karena keberaniannya itu.

Akan tetapi, orang yang di hadapan pemuda itu adalah pengawal dalam istana, tentunya pemuda itu akan celaka. Namun di saat semua orang mencemaskannya, Oey Yok Su malah tertawa dingin, sudah barang tentu membuat Tiat Ciang Sui Peng melotot. "Baik, kau sungguh berani! Kalau begitu, kau harus mampus di dalam penjara!" Usai berkata, Tiat Ciang Sui Peng memukul meja yang berada di sisinya.

Bukan main terkejutnya semua orang, ternyata Tiat Ciang Sui Peng berkepandaian tinggi, sebab meja yang dipukulnya menimbulkan bekas telapak tangannya berwarna hitam, kelihatannya seperti hangus terbakar. Apabila pukulan itu menghantam Oey Yok Su, bukankah nyawa pemuda itu akan melayang?

Namun Oey Yok Su tidak tampak terkejut, hanya tertegun memandang Tiat Ciang Sui Peng sambil tertawa dan tangannya mengusap-usap meja tersebut sambil berkata, "Tuan, mengapa harus merusak meja ini?" Oey Yok Su mengusap meja itu perlahan, namun meja itu justru telah berubah rata. Melihat kejadian itu, semua orang berseru, "Lihat! Lihat! Lihat meja itu!" Ternyata Oey Yok Su memperlihatkan kungfu tingkat tinggi.

Walau tangannya mengusap begitu perlahan, namun bekas telapak tangan Tiat Ciang Sui Peng di meja itu telah hilang, rata seperti semula. Seandainya Tiat Ciang Sui Peng berpengalaman, pasti tahu bahwa itu merupakan kungfu tingkat tinggi, maka dia harus tahu diri dan segera mundur. Akan tetapi, orang tersebut justru berpengalaman cetek dan berpengetahuan dangkal, lagi pula menganggap dirinya adalah pengawal dalam istana, sehingga selalu berlaku sok, tidak ingat akan suatu pepatah, bahwa di luar langit masih ada langit, di atas gunung masih terdapat gunung lain.

Ketika menyaksikan perbuatan Oey Yok Su, dia malah tampak gusar sekali, dan membentak keras, "Kau berani mempermainkanku?" Biasanya tiada seorang pun berani bersikap demikian terhadapnya, karena itu, kegusarannya sudah tak tertahan lagi, dan dia langsung menggerakkan sepasang tangannya untuk menyerang Oey Yok Su.

Oey Yok Su sama sekali tidak bergerak, juga tidak memperdulikannya, hanya berdiri diam di tempat, tapi keningnya berkerut-kerut. Sedangkan Tiat Ciang Sui Peng hanya menggunakan tujuh bagian tenaganya karena tidak bermaksud membunuh Oey Yok Su, hanya ingin menghajarnya. Orang-orang langsung menyingkir, karena pukulannya menimbulkan angin yang menderu-deru.

Perlu diketahui, Tiat Ciang Sui Peng memang mahir ilmu pukulan Tiat Sah Ciang (Ilmu Pukulan Pasir Besi). Ketika semua orang menyaksikan pukulannya, segera bertepuk tangan memujinya, itu agar Tiat Ciang Sui Peng merasa puas. Ternyata benar, orang tersebut merasa girang. Dia yakin namanya akan lebih terkenal, sebab semua orang pasti akan menyebar luaskan tentang kejadian itu.

Lagi pula dia pun mempunyai alasan tertentu untuk menghajar Oey Yok Su, karena Oey Yok Su berani menghina kaisar. Berpikir sampai di situ, Tiat Ciang Sui Peng semakin merasa puas, sehingga membuatnya ingin merobohkan Oey Yok Su dalam sekali pukul. Sedangkan Oey Yok Su tetap berdiri diam di tempat, kelihatannya seperti tidak berani melawan, dan itu sungguh mencemaskan semua orang.

Sungguh sial pemuda yang berasal dari Pulau Tho Hoa To itu, hari ini dia pasti celaka di tangan Tiat Ciang Sui Peng! Pikir semua orang. Kalau tidak mati, dia pun pasti akan terluka parah! Tiat Ciang Sui Peng tidak tahu, bahwa Oey Yok Su masih berusaha mengendalikan diri. Sebaliknya dia malah ingin memamerkan kepandaiannya, agar namanya lebih terkenal.

Oey Yok Su mundur, tapi Tiat Ciang Sui Peng terus menyerangnya. Itu membuat Oey Yok Su terpaksa mundur dan terus mundur, akhirnya punggungnya membentur tembok, maka dia sudah tidak bisa mundur lagi. Di saat itulah dia memandang Tiat Ciang Sui Peng, lalu tertawa seraya berkata dengan lantang, "Baiklah! Kegusaranmu telah dilampiaskan. Dari tadi kau terus menyerangku, tapi aku sama sekali tidak membalas! Kini sudah cukup kau menyerang, aku pun sudah harus pergi!"

Semua orang langsung bersoraksorai. Mereka sudah melihat jelas, bahwa Oey Yok Su memiliki kungfu tingkat tinggi. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia tidak terluka ketika terkena pukulan Tiat Ciang Sui Peng? Seandainya semua orang tidak bersorak-sorai, mungkin Tiat Ciang Sui Peng akan menyudahi urusan itu. Namun dikarenakan semua orang bersorak-sorai, kelihatannya seakan memuji Oey Yok Su, itu membuat Tiat Ciang Sui Peng menjadi penasaran sekali.

Sebab dari tadi dia terus menyerang dan memukul, tapi Oey Yok Su tidak membalas dan tidak tampak terluka, maka Tiat Ciang Sui Peng menganggap semua orang sedang menertawakannya. Di saat bersamaan, terdengar seseorang berkata sambil tertawa, sehingga membuat Tiat Ciang Sui Peng bertambah penasaran dan kegusarannya pun memuncak. "Memukul tak kena malah kelelahan! Ha ha ha . . . .!"

Sesungguhnya saat itu, semua orang memang ingin melihat Oey Yok Su menghajar Tiat Ciang Sui Peng, karena para pengawal dalam istana, selalu bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Sementara Tiat Ciang Sui Peng menatap Oey Yok Su dengan mata melotot, kemudian mendadak menyerang lagi dengan pukulan dahsyat. Sedangkan Oey Yok Su sudah tidak bisa mundur, maka terpaksa mengangkat sebelah tangannya untuk menangkis pukulan Tiat Ciang Sui Peng.

Plak! Terdengar suara benturan. Tiat Ciang Sui Peng terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah. Sepasang matanya yang melotot bertambah melotot, namun mulutnya menutup rapat. Bukan main terkejutnya Tiat Ciang Sui Peng. Dia tahu dirinya telah terluka dalam, sebab dadanya terasa sakit sekali.

Maka dia tidak berani membuka mulut, sebab apabila membuka mulut, pasti menyemburkan darah segar. Itu membuatnya mengeluh dalam hati, "Habislah! Tak kusangka akan kalah di tangan pemuda berasal dari Pulau Tho Hoa To! Aku memperoleh ilmu pukulan Tiat Sah Ciang dari partai Tiat Sah Ciang, tapi justru dilukai oleh pemuda ini, selanjutnya bagaimana aku menaruh kakiku di kotaraja lagi?" Sambil menahan rasa sakit di dadanya, dia terus melotot pada Oey Yok Su, namun nyalinya telah ciut.

Pemuda itu berkepandaian begitu tinggi. Sebetulnya tempat apa Pulau Tho Hoa To itu? Kepandaiannya begitu tinggi, dia berasal dari partai mana? Tiat Ciang Sui Peng bertanya dalam hati. Setelah rasa sakit di dadanya agak berkurang, barulah dia berkata dengan lemah, "Kepandaian Anda sungguh tinggi, di luar dugaanku. Aku tun . . . ." Karena membuka mulut berbicara, akhirnya Tiat Ciang Sui Peng memuntah darah segar.

Semua orang tahu, Tiat Ciang Sui Peng sudah terluka parah. Betapa kagumnya mereka terhadap Oey Yok Su, sebab yang menyerang adalah Tiat Ciang Sui Peng, sedangkan Oey Yok Su cuma mundur dan akhirnya menangkis, tapi justru tangkisannya membuat Tiat Ciang Sui Peng terluka parah. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak akan percaya.

Tiat Ciang Sui Peng tahu apabila saat ini tidak pergi, tentunya akan memperoleh ejekan dari semua orang. Oleh karena itu, dia segera berjalan pergi dengan sempoyongan. Semua orang tahu dia sudah terluka parah, maka membiarkannya pergi tanpa mengejeknya.

Akan tetapi, ketika Tiat Ciang Sui Peng baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara bentakan, "Berhenti!" Apa boleh buat, Tiat Ciang Sui Peng terpaksa berhenti. Ternyata yang membentak itu adalah Oey Yok Su. Karena hawa kegusarannya belum reda, dia berkata dengan lantang, "Sui Peng, katakanlah! Kau orang Tay Song, namun bukankah seorang tolol?"

Tiat Ciang Sui Peng tidak dapat menyahut, hanya melototi Oey Yok Su dengan mulut membungkam. Semua orang saling memandang. Sudah barang tentu suasana di tempat itu berubah menjadi hening sekali. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara sahutan, "Omitohud! Kalau Sui Tayjin berniat bertobat Oey Siauhiap juga harus mengampuninya! Hud Couw (Sang Buddha) pun pernah melakukan kekeliruan, apalagi orang awam?"

Semua orang tersentak, tidak menyangka akan ada orang menyahut. Mereka segera menoleh, ternyata yang menyahut itu adalah seorang padri muda, wajahnya agak merah dan tampan, tampak lembut dan welas asih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment