Halo!

Chapter 02

Memuat...

"Kau benar-benar mengetahui di mana beradanya orang yang kucari itu?" A Bun mengangguk cepat, akan tetapi kemudian dia batal mengucapkan kata-kata yang hampir meluncur dari mulutnya.

Dia mengulurkan tangannya sambil berkata, "Berikan dulu hadiahmu, aku yakin pasti Bin Hujin yang tengah kau cari itu!" Lelaki berpakaian kumal tersebut tampak ragu-ragu, akan tetapi tangan kanannya merogoh saku dan mengeluarkan lima tail perak untuk diberikan kepada A Bun.

"Jika memang kau menunjukkan orang yang kucari itu dengan benar, nanti akan kutambah lagi lima puluh tail perak!" janji lelaki berpakaian kumal tersebut.

Wajah A Bun berseri-seri karena lima tail perak bukanlah jumlah yang kecil. Apalagi mendengar janji lelaki berpakaian kumal tersebut yang menyatakan bahwa jika benar Bin Hujin yang tengah dicarinya, ia akan diberi hadiah lima puluh tail perak lagi. Maka dengan gembira, ia segera menjelaskan ciri-ciri wajah Bin Hujin.

Semakin mendengar penjelasan A Bun, mata lelaki setengah baya tersebut semakin bersinar. Pipinya yang semula pucat kekuningan kini memerah dan wajahnya berseri-seri. "Sekarang... sekarang dia berada di mana?" tanya lelaki berpakaian kumal tersebut.

A Bun tidak segera menjawab pertanyaan itu, dia malah balik bertanya, "Benarkah orang yang tengah kau cari itu Bin Hujin adanya?" Lelaki berpakaian kumal tersebut mengangguk-angguk.

"Jika memang kau tidak berdusta, didengar dari ceritamu, memang dialah yang tengah kucari...!" sahut lelaki berpakaian kumal tersebut. "Ayo cepat tunjukkan kepadaku, di mana tempat tinggalnya!"

"Tunggu dulu... ceritakan dulu kepada kami, apa hubunganmu dengan Bin Hujin? Dan juga hadiah sebesar lima puluh tail perak itu belum kau berikan kepada kami. Aku khawatir nanti kau menipu kami!"

Lelaki bermuka kotor itu tersenyum pahit. Walaupun pakaiannya sangat kumal dan dekil, ternyata dia memiliki uang yang sangat banyak. Tangannya merogoh saku dan memberikan lima puluh tail lagi kepada A Bun. Saat lelaki itu mengeluarkan uang dari dalam kantong yang juga dekil, anak-anak itu melihat bahwa dia masih memiliki banyak uang, mungkin mencapai ratusan tail perak.

"Ayo antarkan aku ke tempat Bin Hujin!" kata lelaki berpakaian kumal itu sambil memasukkan kembali kantong uangnya ke dalam saku.

A Bun menyimpan uangnya lalu berkata, "Kami akan mengantarkanmu, akan tetapi kami tidak berani terlalu dekat dengan gedung Bin Wan-gwe. Kau boleh datang sendiri ke sana!"

Bola mata lelaki itu membelalak. "Kenapa?" tanyanya tidak sabar.

"Karena tidak ada seorang pun penduduk kampung kami yang diizinkan berada di dekat gedung Bin Wan-gwe!" sahut A Kie, mewakili A Bun.

"Benar! Benar!" seru anak-anak yang lainnya. "A Bun dan A Kie tidak berbohong!"

Muka lelaki berpakaian kumal tersebut berubah menjadi marah. "Bin Wan-gwe itu suami dari... dari Bin Hujin yang kau katakan?" tanya lelaki itu. "Dia suami Un... Un Kim Hoa?"

A Kie mengangguk. "Benar!" sahutnya.

"Jangan takut! Jika Bin Wan-gwe itu berani mengganggu kalian, aku akan menghajarnya!" kata lelaki tersebut.

"Oh, hebat sekali!" seru A Kie, A Bun, dan anak-anak lainnya sambil tertawa. "Wan-gwe memiliki puluhan orang tukang pukul, mana mungkin kau yang bertubuh kerempeng dan kurus seperti ini bisa mengalahkannya?"

Lelaki berpakaian kumal tersebut tertawa dingin, wajahnya semakin memerah. "Begitu jahatkah suami Un Kim Hoa, sehingga Kim Hoa selalu dikurung dan tidak diperkenankan bergaul dengan penduduk kampung ini? Hemm, jika memang nanti aku mendapati kenyataan bahwa Kim Hoa menderita di tangannya, akan kupatahkan seluruh tulang di tubuh Bin Wan-gwe itu!"

Sambil berkata begitu, lelaki itu menghampiri sebuah patung batu berbentuk singa. Dia mengayunkan tangan kanannya dan memukulnya perlahan. Terdengar suara "plak!" yang tidak begitu keras. Anak-anak itu mengawasi dengan heran; mereka tidak mengerti apa yang dilakukan orang itu. Mereka mengira jika batu itu dipukul, justru tangan orang itulah yang akan sakit.

Akan tetapi, apa yang terjadi benar-benar mengejutkan mereka. Patung singa batu itu seketika hancur berkeping-keping, seolah-olah telah dipukul dengan godam besi yang sangat berat dan kuat. Anak-anak itu terpana, namun akhirnya mereka bersorak gembira.

"Hore! Permainan sihir yang menarik sekali!" seru A Kie, A Bun, dan anak-anak lainnya.

Sedangkan lelaki itu, dengan muka yang masih merah padam, bertanya, "Bagaimana? Apakah tukang pukul Bin Wan-gwe memiliki tenaga yang sekuat itu?"

Anak-anak itu segera bersorak lagi. Ada yang berseru, "Mari kita saksikan keramaian! Mari kita lihat keramaian!"

A Kie dan A Bun, yang melihat bahwa lelaki berpakaian kumal tersebut ternyata memiliki tenaga luar biasa, menjadi berani. Mereka segera setuju untuk mengantar orang itu ke rumah Bin Wan-gwe.

Saat mereka hendak berangkat, pemilik rumah yang patung singanya dihancurkan keluar karena mendengar suara ribut-ribut. Betapa terkejutnya dia melihat patung singa batu di depan rumahnya telah hancur.

"Oh, siapa yang telah melakukan perbuatan terkutuk ini? Siapa? Cepat katakan!" seru pemilik rumah tersebut.

Akan tetapi, lelaki berpakaian kumal itu merogoh sakunya dan melemparkan uang lima tail perak kepada pemilik rumah. "Pergilah beli yang baru. Harganya paling hanya dua tail, sisanya yang tiga tail untukmu!"

Menerima ganti rugi seperti itu, pemilik rumah tidak protes lagi. Sebaliknya, dia malah mengucapkan terima kasih karena dengan hancurnya patung itu, dia justru mendapat untung.

Lelaki itu kemudian mengajak rombongan anak-anak meninggalkan tempat tersebut menuju rumah Bin Wan-gwe. A Kie dan A Bun memimpin rombongan hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah gedung besar dan mewah bertingkat dua. Di sekeliling gedung terdapat pagar tembok yang cukup tinggi, hampir dua tombak. Pintu gedung tersebut berwarna cokelat tua dengan garis-garis emas.

Orang berpakaian kumal itu menoleh kepada A Bun. "Sepi... tidak terlihat seorang manusia pun di rumah itu," katanya.

A Bun mengangguk. "Ya, mereka berada di dalam," katanya.

"Kau ketuklah, katakan bahwa aku mencari Un Kim Hoa dan ingin bertemu dengannya!" perintah lelaki itu.

"Kami yang mengetuknya? Oh, kami tidak berani. Bisa-bisa kepala kami terpisah dari leher!" kata A Bun cepat dengan sikap ketakutan. Anak-anak yang lain pun tidak ada yang berani.

Akhirnya, lelaki berpakaian kumal itu menghampiri sendiri pintu gedung tersebut. Dia mengetuknya dengan keras. Walaupun tangannya tampak digerakkan perlahan, ketukannya menimbulkan suara gedoran yang sangat nyaring.

Rupanya gedoran tersebut mengejutkan penghuni gedung. Seorang pelayan berlari membukakan pintu dengan muka cemberut. "Oh, kau...?" katanya dengan sikap sinis saat melihat tamu yang datang hanya seorang lelaki berpakaian kotor. "Apa maksudmu datang kemari? Kau mencari siapa?"

Lelaki bertubuh kurus itu menyahut, "Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!"

"Un Kim Hoa? Siapa dia?" tanya pelayan tersebut. Wajahnya berubah merah padam karena dongkol, lalu dia hendak membanting pintu untuk menutupnya kembali. "Lain kali jangan mengetuk pintu sekeras itu! Apa kau sudah gila? Kau harus tahu tata krama!"

Dimaki begitu, lelaki itu tidak peduli. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk menahan pintu. Hanya dengan satu jari telunjuk, pintu yang hendak ditutup dengan keras oleh pelayan itu tertahan dan tidak bisa bergerak, meskipun pelayan tersebut sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Eh, kurang ajar! Di siang bolong begini kau hendak mengacau dan merampok rupanya!" maki pelayan itu sengit.

Tetapi orang berpakaian kumal tersebut berkata dengan suara dingin, "Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!"

"Un Kim Hoa! Un Kim Hoa! Kenal pun tidak aku dengan orang itu! Pergi cari di tempat lain!" teriak pelayan itu sangat dongkol.

Wajah lelaki itu berubah. Dia bertanya dengan sungguh-sungguh, "Jadi Un Kim Hoa tidak tinggal di rumah ini? Bukankah dia telah menjadi istri Bin Wan-gwe?"

Rombongan anak-anak—A Bun, A Kie, dan kawan-kawannya—ketika melihat pelayan Bin Wan-gwe sudah sangat marah, segera meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu, si pelayan yang mendengar perkataan terakhir lelaki itu bertanya dengan kaget, "Apa kau bilang? Istri Bin Wan-gwe? Kau sinting atau sedang bermimpi? Yang ingin kau jumpai itu Bin Hujin?"

Lelaki berpakaian kumal itu mengangguk mengiyakan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment