Halo!

Chapter 02

Memuat...

Tapi bilakah aku pernah melakukan kesalahan? "Sebelum ajalmu tentu akan kuberitahukan padamu apa utangmu padaku!" Bentak si baju hitam. Bwe-hoa-kau kembali bergerak, hanya sekejap cahaya hijau telah mengunci rapat pula sinar golok lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang seseorang, sesosok bayangan tahu-tahu menyelinap ke tengah-tengah cahaya gaetan. Menyusul itu lantas terdengar "sarr... serr... serr..." Tiga kali, ketiga batang Bwe-hoa-kau kawanan baju hitam mendadak mencelat semua ke udara, dua batang jatuh di tengah sungai.

Keruan ketiga orang berbaju hitam terkejut dan serentak melompat mundur. Mereka hanya merasa pergelangan tangan tergetar dan tahu-tahu senjata terlepas dari cekalan, cara bagaimana pihak lawan turun tangan sama sekali tak diketahui oleh mereka.

Waktu mereka mengawasi, terlihat entah sejak kapan di depan mereka sudah berdiri seorang pemuda bermuka putih. Pemuda yang tampaknya lemah tak tahan tiupan angin ini hanya dalam sekejap saja ternyata mampu membikin senjata mereka terlepas dari tangan, sungguh mimpi pun mereka tak berani membayangkan akan kejadian luar biasa ini.

Melihat pemuda muka putih ini Siau-hi-ji juga rada terkejut. Kang Giok-long, pemuda bermuka putih pucat dengan senyuman seram ini ternyata bukan lain daripada Kang Giok-long. Tapi mengapa ilmu silat Kang Giok-long bisa maju sepesat ini?

Pertanyaan ini dengan sendirinya dapat dijawab oleh Siau-hi-ji. Soalnya Kang Giok-long juga pernah menghafalkan isi kitab pusaka ilmu silat itu, selama dua tahun ini kalau ilmu silatnya tidak mengalami kemajuan pesat, maka percumalah dia menjadi manusia.

Li Tik bertiga tampak kegirangan melihat datangnya Kang Giok-long, sebaliknya kawanan baju hitam jadi terkejut. "Huh, kiranya kalian sudah menyembunyikan bala bantuan," Bentak si baju hitam yang tinggi besar itu dengan gusar.

"Haha, bagaimana pendapatmu dengan bala bantuanku ini?" Jengek Li Tik dengan tertawa. Si baju hitam tinggi besar itu menggentak kaki mendongkol, tampaknya ia hendak melangkah pergi, tapi sekali menyelinap Kang Giok-long sudah mengadang di depan mereka dan berkata dengan tertawa.

"Eh, kalian jangan terburu-buru pergi, masih ada persoalan yang harus kumintakan penjelasan darimu." "Kau ingin tanya apa?" Bentak si baju hitam tinggi besar. "Nona ini pun memakai kedok, apakah disebabkan mukanya terlalu jelek atau terlalu cantik?" Kata Giok-long dengan tertawa.

Si baju hitam pendek tangkas menjadi gusar, ia meraung murka terus menerjang maju hendak menyerang. Ilmu silatnya sesungguhnya tidak lemah terbukti Li Beng-sing sama sekali tidak mampu melawannya, tapi kini berada di depan Kang Giok-long, ilmu silatnya ternyata tiada berguna sedikit pun.

Belum lagi dia sempat menjotos, tahu-tahu pergelangan tangannya malah sudah terpegang oleh Kang Giok-long, hanya sedikit digentak, kontan tubuhnya lantas mencelat jauh ke sana dan hampir kecebur ke dalam sungai. "Karena kalian tidak mau mengaku, terpaksa Cayhe sendiri yang memeriksanya," Ucap Giok-long dengan tertawa.

Berbareng itu ia terus melompat maju, ia menyelinap lewat di samping si baju hitam yang tinggi besar itu dan tahu-tahu sudah berada di depan si nona. Sekaligus kedua tangan si nona baju hitam menghantam, tapi entah cara bagaimana kedua tangannya malah kena ditangkap hanya oleh sebelah tangan Kang Giok-long.

Cepat ia hendak menendang, tapi baru saja kaki terangkat, tahu-tahu dengkulnya terasa kaku kesemutan dan tak dapat bergerak lagi. "Hehe, semoga wajah nona cantik molek, kalau tidak tentu Cayhe akan merasa kecewa," Kata Giok-long dengan tertawa.

"Lep... lepaskan!" Teriak si nona baju hitam dengan suara parau. Dengan sendirinya Giok-long tidak mau melepaskan pegangannya, waktu sebelah tangannya bergerak maju, sebisanya si nona mendongakkan mukanya ke belakang, walaupun begitu akhirnya kain hitam yang menutupi mukanya itu toh tersingkap juga oleh Kang Giok-long.

Di bawah cahaya bintang yang remang-remang tertampaklah wajahnya dan kelihatan pula matanya yang besar itu. Seketika Siau-hi-ji hampir menjerit. Hay Ang-cu, nona baju hitam ini ternyata Hay Ang-cu adanya!

"Bagus, bagus! Memang benar seorang nona cantik," Ujar Giok-long dengan tertawa. "He, dia!" Tanpa terasa Li Beng-sing berteriak. "Kau kenal dia?" Tanya Giok-long.

"Dia inilah si nona pemain akrobat yang mengakibatkan kematian Pek-toako itu...." Seru Li Beng-sing dengan suara serak. "Rupanya si pendek itulah bocah yang pernah kutempeleng satu kali ini, pantas dia menuntut balas padaku dan hilang hendak menagih utang padaku." "Haha, bagus, bagus, anak murid Bwe-hoa-pang sampai-sampai menjadi pemain akrobat kelilingan," Seru Giok-long dengan tertawa.

"Demi menghindari musuh kalian ternyata sudi melakukan pekerjaan yang rendah itu, untuk ini betapa pun aku sangat kagum." Segera si baju hitam tinggi besar itu pun menarik kedoknya, betul juga, dia memang Hay Si-tia adanya.

Dengan menggereget dia berteriak. "Lepaskan tangannya!" "Tidak sukar untuk melepaskan tangannya," Jawab Giok-long. "Tapi aku ingin tanya lebih dulu padamu, siapakah orang yang tempo hari sekali pukul membinasakan Pek-kongcu itu? Saat ini dia berada di mana?" "Kau ingin mencari dia?" Teriak Hay Ang-cu dengan nyaring.

"Huh, agaknya kau sedang mimpi!" "O, mimpi? Giok-long tersenyum sambil mengencangkan genggamannya, kontan Hay Ang-cu meringis kesakitan sehingga air mata pun berlinang-linang.

Tapi sekuatnya ia bertahan, jeritnya dengan menggereget. "Orang macam kau ini kalau dibandingkan dia, huh, mungkin menjadi kacungnya saja tidak sesuai." Bicara sampai kalimat terakhir, terdengar suaranya menjadi gemetar, jelas dia menahan rasa sakit, namun begitu mati pun dia tak mau tutup mulut.

Dengan murka Hay Si-tia meraung terus menghantam punggung Kang Giok-long dengan kepalan yang kuat. Sama sekali Kang Giok-long tidak menoleh, tubuhnya tetap tegak seperti tidak bergerak, tapi tahu-tahu tangan Hay Si-tia sudah terjepit di bawah ketiaknya sehingga tak dapat berkutik lagi.

Tampaknya Hay Si-tia membetot-betot tangannya sehingga urat hijau tampak merongkol di dahinya disertai butiran keringat, tangannya mungkin serasa terjepit oleh tanggam seakan-akan patah.

Dahulunya Hay Si-tia juga pernah malang melintang di dunia Kangouw, tapi sekarang menghadapi seorang anak muda begini ternyata tak bisa berkutik sama sekali, ia menjadi putus asa, ia menghela napas panjang dan berkata. "Sudahlah, aku...."

Belum lanjut ucapannya tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara memilukan. "O, betapa sakit Sin-kin-hiatku. Kang Giok-long, ayolah bayar kembali jiwaku!" Suaranya tajam seram seperti rintihan hantu.

Menyusul mana sesosok bayangan lantas melayang tiba dari semak alang-alang tepi sungai. Di tengah malam remang-remang tertampak rambut orang semrawut tak teratur, sekujur badan berlepotan minyak, keadaannya lebih mirip setan daripada mirip manusia, tubuhnya kelihatan melayang mengambang tidak menempel tanah.

Jerit suaranya ngeri memilukan sehingga membuat setiap orang yang melihatnya mustahil takkan berkeringat dingin ketakutan. Tentu saja Kang Giok-long juga mengkirik, dengan suara bengis ia tanya. "Kau... kau siapa?"

"Bangsat berhati keji," Damprat Siau-hi-ji dengan terkekeh-kekeh. "Selamanya kita tiada permusuhan apa-apa, tapi di dapur restoran Su-hay-jun itu kau tega membinasakan aku, sekarang kau harus ganti nyawaku." Pegangan Kang Giok-long pada tangan Hay Ang-cu kini sudah dilepaskan, dia mulai mundur-mundur ke belakang, serunya dengan tergagap.

"Kau... kau...." Orang seperti Kang Giok-long sebenarnya tidak mungkin percaya tentang setan iblis segala, tapi kini mau tak mau dia harus percaya, soalnya dia yakin dirinya memang pernah menutuk Hiat-to mematikan si koki dan jelas orang itu pasti tewas, padahal kejadian di dapur Su-hay-jun itu tidak dilihat oleh orang lain.

Lalu siapa "orang" ini kalau bukan setan? Begitulah gigi Kang Giok-long sampai gemertuk sehingga tidak sanggup bicara lagi. Melihat jagonya ketakutan sedemikian rupa, tanpa kuasa Li Tik bertiga juga ikut mundur-mundur ke belakang.

"Hehe, kau ingin lari?" Jengek Siau-hi-ji dengan suara seram. "Hah, kau takkan mampu lari, tak mungkin, ayolah lekas serahkan jiwamu!" Sambil menyeringai dia terus mendesak maju setindak demi setindak, jalannya sengaja dibuat goyang ke kanan dan doyong ke kiri seakan-akan roboh tertiup angin.

Sudah tentu munculnya Siau-hi-ji sangat menarik perhatian Hay Ang-cu, ia memandangnya dengan terbelalak, sekonyong-konyong ia berseru. "He kau! Kiranya kau, Siau-ngay?" Meski lahiriah Siau-hi-ji telah berubah, tapi sepasang matanya, sorot mata yang telah terukir di dalam lubuk hati Hay Ang-cu, kedipan mata yang takkan terlupakan selama hidupnya ini tentu saja segera dikenalinya.

Tapi begitu dia berteriak menegur, segera pula ia menyadari kesalahannya, namun sudah telanjur dan tak dapat diurungkan lagi. Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh urusan pasti akan runyam.

Benar saja, Kang Giok-long yang cerdik itu segera melihat di balik kejadian ini ada sesuatu yang tidak beres, mendadak ia bertindak, cepat sekali ia menubruk maju, dengan enteng dia melancarkan tujuh kali pukulan secara berantai.

Melihat perubahan aneh itu serta menyaksikan pukulan Kang Giok-long yang lihai itu, Hay Si-tia dan kedua anaknya menjadi kaget, bahkan diam-diam Hay Ang-cu berkhawatir bagi si tolol yang dirindukannya. Tapi Siau-hi-ji ternyata tidak gentar, ia mendengus.

"Hm, masih juga kau ingin membunuhku lagi." Dengan tenang Siau-hi-ji berdiri di tempat, tubuhnya seperti tidak bergoyang, pada hakikatnya dia tidak menghindar, tapi beberapa kali pukulan Kang Giok-long itu ternyata tidak mengenai sasarannya, bahkan ujung baju saja tidak menyenggol.

Tentu saja semua orang melongo heran, Kang Giok-long sendiri juga cemas dan gentar, mendadak ia meraung, kembali ia melancarkan pukulan tujuh kali, serangan semakin cepat dan tambah ganas. Namun Siau-hi-ji tetap tidak bergerak sama sekali dan pukulan Kang Giok-long tetap tidak mampu menyentuhnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment