Segera tampak di punggung imam ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras.
"Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat," kata Siauw Thian.
"Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya," kata Tiat Sim.
"Benar," sahut Tiat Sim.
"Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan?" Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar.
Ketika itu, karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya.
"Totiang, tunggu sebentar!" Tiat Sim segera memanggil.
Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk.
"Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin," kata Tiat Sim pula, "Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin." Imam itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir dengan cepat sekali.
Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali.
"Kamu pandai bergaul, eh!" katanya tawar Tiat Sim, yang masih muda dan tidak senang dengan sikap orang.
"Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?" pikirnya. Maka ia menjadi diam saja.
Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat.
"Totiang, harap Anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama," kata Siauw Thian.
Imam itu memutar matanya.
"Baik, baik!" katanya.
"Minum arak ya minum arak!" Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.
Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping.
"Aku belum belajar kenal dengan Totiang!" katanya.
Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin.
Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas.
Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati.
Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah "ketemu batunya".
Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu.
"Totiang, mari silakan duduk di sini!" ia mengundang.
Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim.
Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu.
"Dia sangat aneh, pergi temani dulu," kata Pauw-sie.
"Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya?" Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu.
Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar.
"Tunggu sebentar!" memanggil sang istri.
Tiat Sim pun memutar kembali.
Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya.
Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja.
Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum.
Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja.
Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju.
Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja.
Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu.
Ia menyambuti, terus diminumnya.
"Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru," katanya.
Dan ia mengisikan pula.
Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya.
"Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!" katanya.
Tiat Sim menjadi hilang sabar.
"Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!" tegurnya.
"Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!" "Hm!" bersuara si imam itu.
Tak lebih.
Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan.
Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya.
Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang.
Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar.
Ia bukan sembarang imam.
Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali.
Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya.
Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya.
Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia.
"Jahanam!" teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.
"Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!" seru si imam sambil tertawa.
Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang!
Siauw Thian kaget bukan kepalang.
Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya.
Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang.
Itulah ilmu silat "Khong-ciu toat pek-jin" atau "Tangan kosong merampas senjata tajam" yang lihay, yang baru pernah ia saksikan.
Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang.
Akan tetapi dugaannya ini salah adanya.
Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya.
Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu!
Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang.
Sungguh aneh imam ini.
Akan tetapi itu masih belum semua.
Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat!
Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika!
Sedang ujung meja turut sempal sedikit?
Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung!
"Kiranya dia seorang yang edan!" bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik.
"Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia," kata Siauw Thian.
Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu.
Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan.
Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi.
Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas.
"Totiang, mari minum kuwah ini!" katanya.
Ia letaki mangkok itu di atas meja.
Si imam bukan menerima kuwah itu, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya.
Ia pun berseru: "Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!" Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas.
"Mari, mari!" ia menantang.
"Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!" Imam itu tersenyum.
"Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?" tanyanya.
Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar.
Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali.
Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya.
"Hunus pedangmu!" seru Tiat Sim.
"Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!" sahut si imam.
"Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!" Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu.
Ia gunai tipu silatnya "Tok liong cut tong" atau "Naga berbisa keluar dari gua".
"Bagus!" seru si imam kagum menampak serangan itu yang menuju ke dadanya.
Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu.
Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu "Yo-kee Chio-hoat."
Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya, "tentara kerajaan Song" menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah, sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan.
Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya.
Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa.
Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan.
Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari.