"Tapi jika kita bicarakan soal kegagahan, walaupun pohon Yangliu itu tampaknya lemas, lemah gemulai, dan Gouw Tong merupakan pohon yang kuat serta menonjolkan sifat perkasa, toh kenyataannya jika kita hendak membandingkan mereka, pohon Yangliu jauh lebih unggul dari Gouw Tong!" "Mengapa begitu, Suheng?!" tanya Ciu Sute dengan perasaan ingin tahu.
"Sekarang begini saja, coba kau patahkan dahan Yangliu itu dengan menggunakan tiga bagian dari tenaga Iwekangmu, belum tentu kau bisa mematahkannya, karena Yangliu memiliki sifat lemas, alot, dan tidak mudah dipatahkan.
Selalu Yangliu menerima dan menuruti arah yang diterimanya, baik tiupan angin maupun kekuatan yang hendak mematahkannya. Namun jelas, karena alotnya, dahan itu tidak mudah patah!
Tetapi Gouw Tong yang kaku dan keras, yang tampak begitu kuat, dengan hanya menggunakan dua atau tiga bagian tenaga Iwekangmu, tentu kau dapat mematahkan dahan pohon tersebut!
Sekarang kau mengerti, Ciu Sute?!" Pemuda yang dipanggil dengan sebutan Ciu Sute itu seperti baru tersadar. Ia menggunakan tangan kanannya untuk menggetok-getok keningnya sambil berkata, "Ai... Ai, mengapa aku jadi tolol begitu? Memang benar yang dikatakan Suheng, yang lemas itu belum tentu dapat dirubuhkan, namun yang kuat dan kaku jauh lebih mudah ditumbangkan!" "Tepat! Dan demikian pula halnya dengan latihan Iwekangmu yang telah kuberikan cara melatihnya pada Yangliu dan Gouw Tong tersebut, tentu jauh lebih mudah bagimu mempelajari Iwekang itu!" Ciu Sute mengangguk beberapa kali.
Memang, percakapan kedua orang ini merupakan percakapan yang tampaknya biasa-biasa saja, namun sesungguhnya di dalamnya terkandung makna dan pelajaran aliran Iwekang kelas tinggi, yang menyangkut rahasia kekuatan lemas dan keras, lunak dan kaku, serta Im dan Yang!
Rupanya kedua orang ini merupakan dua tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi.
"Tapi Suheng, engkau belum lagi menceritakan asal mula pohon Yangliu bisa memiliki dahan dan ranting yang lemas, lemah gemulai seperti itu!" kata Ciu Sute kemudian setelah mengangguk-angguk beberapa kali, setelah berhasil meresapi pelajaran Iwekang yang diberikan Suhengnya.
"Soal riwayat mengapa pohon Yangliu memiliki dahan dan ranting yang lemas, lemah gemulai seperti itu hanya merupakan cerita yang sangat singkat. Pohon Yangliu adalah jelmaan dari Dewi Liu Sian Ong Bio dari Kerajaan Langit, yang menerima kutukan dari Raja Langit karena telah melakukan dosa...!" "Seorang Dewi di Kerajaan Langit masih bisa melakukan dosa?" tanya Ciu Sute sambil melebarkan matanya lebar-lebar.
Suhengnya tersenyum. Ia melompat turun dari kudanya, lalu berkata, "Mari kita beristirahat di bawah pohon Yangliu, nanti kuceritakan seluruhnya padamu perihal riwayat pohon Yangliu." Ciu Sute itu jadi kegirangan. Ia sangat gesit melompat turun dari kuda tunggangannya. Waktu kakinya menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara. Itu menunjukkan bahwa Ginkang yang dimiliki Ciu Sute memang telah mencapai tingkat yang tinggi.
Ia telah menuntun kudanya dan kuda Suhengnya untuk diikat di batang pohon Yangliu, lalu duduk di samping Suhengnya. Katanya dengan sifat kekanak-kanakan, "Suheng, kau boleh memulai menceritakannya, Suheng. Aku akan mendengarkannya baik-baik!" Tojin itu tidak segera bercerita, hanya mengawasi Ciu Sutenya dengan wajah dan sikap bersungguh-sungguh. Katanya, "Sebelum aku menceritakan perihal riwayat pohon Yangliu itu, ada sesuatu yang hendak kuminta darimu. Sebagai syaratnya, engkau harus berjanji, Ciu Sute! Jika engkau tidak bersedia berjanji, maka aku pun tidak ingin menceritakan perihal Dewi Liu Sian Ong Bio yang menerima kutukan Raja Langit sehingga dikutuk menjadi pohon Yangliu!" Ciu Sute tidak sabar. Katanya, "Cepat katakan, Suheng, janji apa yang kau kehendaki? Aku ingin segera mendengar cerita mengenai Dewi Liu Sian Ong Bio itu..." "Ciu Sute, kau tahu bahwa kita tengah melakukan perjalanan untuk menemui seorang!" kata Suheng itu sabar.
"Ya, untuk bertemu dengan Toan Hongya yang menjadi Raja di Tayli!" sahut Ciu Sute.
"Benar! Dan sekarang kita telah memasuki wilayah Kerajaan Tayli. Yang kuharap darimu, dan engkau harus berjanji, selama berada di wilayah Tayli ini engkau tidak boleh menimbulkan keonaran dan kerusuhan, engkau harus menjaga ketenangan, engkau harus bicara baik-baik jika tengah berhadapan dengan Toan Hongya, tidak boleh kurang ajar, tidak boleh berandal, dan tidak boleh bertindak semau hati...!" "Aduh! Aduh! Banyak sekali yang harus kupatuhi?!" teriak Ciu Sute sambil tertawa. "Baiklah! Baiklah! Aku berjanji tidak akan berandal, akan bicara baik-baik jika berhadapan dengan Raja yang agung itu, akan berusaha menunjukkan tingkah laku yang baik dan tidak menimbulkan keonaran dan kerusuhan! Nah, Suheng, sekarang boleh mulai bercerita mengenai Dewi Liu Sian Ong Bio itu!" Suheng itu mengangguk. Ia berkata dengan sikap tenang dan sabar, "Baik, baik. Dewi Liu Sian Ong Bio telah melakukan suatu dosa, yakni ia memiliki hubungan gelap dengan seorang Dewa penjaga istal kuda, dan mereka berkasih-kasihan. Itulah dosa yang tak terampuni.
Dengan demikian, waktu Raja Langit mengetahui kelakuan buruk dari Dewa dan Dewi tersebut, segera keduanya dipanggil menghadap. Di hadapan Raja Langit mereka berusaha menyangkal, namun mana mungkin bisa? Raja Langit lebih mengetahui dengan jelas. Karena kedustaan mereka dan usaha menyangkal, Raja Langit murka, hilang kesabarannya. Dalam keadaan marah seperti itu, telah keluar kutukannya, "Liu Sian Ong Bio, selama puluhan tahun kau menjadi seorang Dewi yang memiliki kedudukan mulia dan agung di Kerajaan Langit, namun jiwamu bukan jiwa Dewi, masih kotor dan rendah seperti halnya manusia! Karena itu engkau kukutuk menjadi Yangliu...!" Lalu Raja Langit itu pun mengutuk Dewa penjaga istal kuda yang bergelar Bun Ong Sian Jin. Dewa ini telah dikutuk menjadi batu giok yang akan menemani Dewi Liu Sian Ong Bio. Walaupun Dewa dan Dewi itu berasal dari Langit, namun kenyataannya kutukan Raja Langit telah terjadi. Mereka dilempar ke dunia, dan Dewi Liu Sian Ong Bio telah menjelma menjadi pohon Yangliu, berkembang biak, dan sampai sekarang ini menjadi banyak serta terdapat di mana-mana. Jika ia memang berkembang biak sampai seratus ribu batang pohon Yangliu, maka hukumannya akan habis. Sedangkan Dewa Bun Ong Sian Jin yang dikutuk menjadi bangku empat persegi dari batu giok itu memang selalu berada di samping pohon Yangliu untuk tempat duduk-duduk berangin-angin di bawah pohon Yangliu!
Karena sedih dan berduka, Yangliu selalu bergoyang-goyang dengan dahan dan rantingnya yang melambai-lambai. Seperti memanggil-manggil Bun Ong Sian Jin yang menjadi bangku, tidak bisa berbuat lain, hanya untuk menampung manusia yang hendak berteduh di bawah pohon Yangliu saja. Itulah cerita mengenai asal mula pohon Yangliu dan bangku empat persegi di samping pohon tersebut. Kau mengerti makna dongeng tersebut, Ciu Sute?" Pemuda yang dipanggil Ciu Sute itu telah tertawa, kemudian menyahuti, "Tentu saja agar seseorang tidak melakukan perbuatan dosa...!" Tojin tersebut mengangguk. Itu merupakan salah satu maksud yang terkandung dalam dongeng itu. Tetapi bagi kita, orang yang mempelajari ilmu silat, terkandung maksud lain lagi, yaitu mengandung sifat Im, yakni sifat yang lunak dan lembek. Sedangkan bangku memiliki sifat Yang, yaitu keras dan kuat. Itulah kedua sifat Im dan Yang. Sifat Yang pun terdapat dalam dongeng itu, yang jika engkau mau memperhatikannya saksama, banyak memberikan petunjuk mengenai pelajaran dan latihan Iwekangmu!" "Benar, benar, Suheng, terima kasih atas petunjukmu...!" serunya kemudian.
"Mari kita meneruskan perjalanan... Mungkin dalam tiga hari lagi baru akan dapat mencapai tujuan kita," kata Tojin itu sambil melompat berdiri dengan ringan dan gesit. Ciu Sute mengiyakan. Keduanya telah melompat ke atas punggung kuda masing-masing. Kaki kuda itu bergerak mencongklang dan berlari-lari dengan perlahan namun tetap menuju ke arah depan menyusuri jalan itu.
Siapakah Tojin itu dan pemuda yang dipanggil Ciu Sute? Ternyata Tojin itu tak lain adalah Ong Tiong Yang, seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian luar biasa. Mungkin di daratan Tionggoan, Ong Tiong Yang dari Coan Cin Kau adalah tokoh yang memiliki kepandaian terhebat, sakti, paling murni, dan lurus. Sedangkan pemuda bermarga Ciu itu tak lain adalah adik seperguruannya, yaitu Ciu Pek Thong, yang memiliki sifat sangat berandal.
Secara resmi, Ciu Pek Thong adalah adik seperguruan Ong Tiong Yang. Namun, baru beberapa tahun Ciu Pek Thong diterima di perguruan Coan Cin Kau, guru Ong Tiong Yang telah meninggal dunia karena usia tua. Selanjutnya, Ciu Pek Thong dibimbing oleh Ong Tiong Yang. Secara tidak langsung, sesungguhnya Ciu Pek Thong adalah murid Ong Tiong Yang, namun secara resmi tetap saja ia sebagai adik seperguruan Ong Tiong Yang. Itulah sebabnya mengapa Ciu Pek Thong tetap memanggil Ong Tiong Yang dengan sebutan Suheng, sedangkan Ong Tiong Yang pun tidak mengubah panggilannya pada Ciu Pek Thong. Kali ini keduanya tengah melakukan perjalanan untuk menemui Toan Hongya. Itulah sebabnya mereka dari Tionggoan telah melakukan perjalanan yang jauh menuju Tayli, karena Ong Tiong Yang memiliki urusan yang sangat penting dengan Toan Hongya, Toan Ceng, Kaisar Tayli tersebut. Waktu Ong Tiong Yang akan berangkat, Ciu Pek Thong telah merengek hendak ikut serta. Sebagai seorang Tojin yang memiliki hati yang lemah lembut dan pengasih, Ong Tiong Yang tidak tega meninggalkan Sutenya, apalagi menolak keinginannya itu.