Halo!

Chapter 02

Memuat...

So Ing memandang Gui Moa-ih dengan tenang, kemudian berpaling ke arahnya sambil menarik muka. "Padahal, biarpun kuceritakan rahasia Ihgiok, ini juga tiada gunanya bagimu," katanya dengan suara tenang. "Untuk belajar, jelas kau tidak becus, hendak mematahkannya juga kau tidak mampu."

Belum lagi Gui Moa-ih menjawab, seketika air muka Siau-hi-ji berubah, dan dia berseru, "Apa katamu? Rahasia Ihgiok?" "Betul, rahasia Ihgiok, rahasia terbesar dalam ilmu silat," jawab So Ing. "Karena rahasia inilah selama dua puluh tahun ini mereka, guru dan murid, tidak enak makan dan tidak enak tidur."

"Jadi kau... kau tahu rahasia Ihgiok?" tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak. "Ya, selain orang-orang Ih-hoa-kiong sendiri, yang mengetahui rahasia ini mungkin cuma aku saja di seluruh dunia ini," ucap So Ing dengan tertawa.

Gui Moa-ih tampak tidak sabar lagi, dan dia berteriak dengan suara serak, "Sudahlah, yang penting kau ceritakan rahasia itu padaku, dapat mempelajarinya atau tidak adalah urusanku." "Baik," jawab So Ing. "Dengarkan..."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak dan tertawa sekeras-kerasnya, suaranya melengking memekak telinga sehingga apa yang diucapkan So Ing tak terdengar oleh Gui Moa-ih. Gui Moa-ih menjadi gusar, dan dia melompat ke sana dan meraung murka. "Apa kau sudah gila, keparat!" Siau-hi-ji mencibir padanya, menjawab dengan tertawa. "Tidak, aku tidak gila, soalnya aku tidak ingin lagi mendengarkan rahasia ini."

Ucapan ini membuat So Ing melengak pula. Sedang Gui Moa-ih tambah murka, dan dia berteriak gemas. "Tadi mati pun kau ingin tahu rahasia ini, bila dapat mendengar rahasia Ihgiok, mati pun tidak penasaran, mengapa sekarang malah tidak mau mendengarkan lagi?" "Rahasia lain memang menarik bagiku, tapi rahasia Ihgiok ini... hehe, sejak umur tiga tahun aku sudah tahu, untuk apa kudengarkan pula?" jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Gui Moa-ih tercengang, dan dia bertanya, "Masa kau... kau pun tahu?" "Bukan saja tahu, bahkan apa yang kuketahui terlebih banyak dan lebih jelas daripada yang diketahui So Ing, apakah kau ingin mendengarnya dariku?" Girang dan kejut Gui Moa-ih, tapi dia sengaja menarik muka dan menjawab, "Jika benar kau dapat menguraikannya, tentu aku..."

"Aku tidak memerlukan terima kasihmu, asal saja kau bebaskan aku," tukas Siau-hi-ji. "Baik, baik," seru Gui Moa-ih cepat. "Nah, dengarkan. Kunci utama latihan Ihgiok dimulai dari berdiri dengan menjungkir, tangan digunakan sebagai kaki, kedua kaki menegak ke atas, kepala terangkat, lalu kaki dibentangkan disertai menahan napas dan..."

"Kungfu macam apa ini?" teriak Gui Moa-ih sambil berkerut kening. "Kau mesti tahu bahwa kegaiban ilmu Ihgiok terletak pada cara latihannya yang berlawanan dari semua kebiasaan, dengan sendirinya gaya latihannya juga harus begitu," tutur Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

"Tapi... tapi..." "Tapi apa? Kau mesti tahu bahwa kegaiban ilmu Ihgiok terletak pada cara latihannya yang berlawanan dari semua kebiasaan, dengan sendirinya gaya latihannya juga harus begitu," ujar Siau-hi-ji.

Meski sangsi, tapi Gui Moa-ih benar-benar keranjingan ilmu Ihgiok yang sakti itu, asalkan dapat mempelajari ilmu itu, dia bersedia mengorbankan apa pun juga. Asalkan ada kesempatan untuk itu, biarpun cuma setitik harapan saja pasti takkan dilewatkannya.

So Ing hanya menyaksikan saja dengan sebelah tangan menutup mulut dan tidak bersuara. Dilihatnya Gui Moa-ih telah menuruti kehendak Siau-hi-ji, dia terus berjungkir seperti pemain akrobat, dengan kedua tangan menahan tanah, kedua kaki menegak ke atas dengan sedikit terpentang, kepala diangkat tinggi-tinggi.

Macamnya itu mengingatkan orang pada katak buduk. Tapi Siau-hi-ji memandanginya dengan dingin, sedikit pun tiada mengunjuk senyum, katanya, "Tekuk lagi sedikit dengkulmu dan angkat lebih tinggi kepalamu." Gui Moa-ih benar-benar penurut, ia lakukan semua petunjuk itu, dan bertanya, "Sudah cukup begini?"

"Ya, kacek sedikit, bolehlah!" kata Siau-hi-ji, tapi habis ucapan ini, lalu diam tanpa bersambung. Selang sekian lama, Gui Moa-ih menjadi tidak sabar, dan dia bertanya pula, "Lalu bagaimana lagi?"

Dengan nada kurang senang Siau-hi-ji menjawab, "Jika ingin berilmu sakti harus tekun berlatih. Kalau kesabaran sedikit saja tidak ada, lalu kepandaian apa yang dapat dihasilkan?" Sekonyong-konyong Gui Moa-ih melompat bangun, dan katanya sambil mendelik, "Jika kau menipu aku, akan kuu..."

"Menipu kau? Untuk apa kutipu kau?" jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. "Coba pikir, apabila aku tidak tahu rahasia ilmu sakti ini, masa aku sengaja membuang kesempatan baik untuk mengetahui rahasia ilmu yang diidam-idamkan setiap orang persilatan ini?"

Untuk sekian lama Gui Moa-ih melotot dengan sangsi, tapi akhirnya ia pun menurut, kembali ia berjungkir pula seperti tadi dan tidak bersuara lagi. Namun setelah lewat sejenak Siau-hi-ji tetap diam saja, tetap tidak bersambung.

Biarpun tenaga dalam Gui Moa-ih sangat kuat, tapi gaya berjungkir itu benar-benar sangat melelahkan. Betapa pun tinggi ilmu silat seseorang, kalau disuruh berdiri menjungkir begitu juga pasti merasa payah.

Setelah seminuman teh pula, dahi Gui Moa-ih sudah mulai berkeringat, dan dia bertanya, "Harus menunggu berapa lama lagi?" "Baiklah, hawa murni dalam tubuhmu rasanya sudah terhimpun sampai di dada, langkah dasar pertama ini boleh dikatakan sudah cukup," ujar Siau-hi-ji.

"Sekarang langkah kedua, sebelum dimulai, kentut dulu satu kali." "Apa, kau suruh aku kentut?" tanya Gui Moa-ih dengan gusar. "Betul, kau harus kentut," kata Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

"Kukira mulutmu yang lagi kentut!" teriak Gui Moa-ih dengan gusar. Meski gelisah dan gusar, tapi dia belum berani melompat bangun karena khawatir hasil latihannya tadi terbuang percuma.

Dengan tenang Siau-hi-ji lantas berkata, "Kau tahu, kentut adalah angin busuk dalam tubuh manusia, sebabnya kusuruhmu mengentut ialah supaya angin busuk dalam tubuhmu dihalau keluar, habis itu barulah mulai berlatih ilmu sakti." Gui Moa-ih pikir alasan Siau-hi-ji itu pun masuk di akal, terpaksa ia benar-benar mengentut satu kali.

Orang yang punya Lwekang tinggi memang dapat mengendalikan setiap anggota badannya dan juga pernapasannya, maka untuk mengentut bukan sesuatu yang sukar. Dengan sendirinya So Ing merasa geli, tapi sedapatnya ia menahan perasaannya sambil mendekap hidung dan melengos ke sana.

Namun Siau-hi-ji tetap bersikap sungguh-sungguh, dan katanya, "Kentutmu ini tidak masuk hitungan." "Kenapa tidak masuk hitungan?" tanya Gui Moa-ih. "Caramu kentut harus buka celana," kata Siau-hi-ji.

"Bu... buka celana..." Gui Moa-ih tergagap, mukanya menjadi merah padam. "Ya, langkah ini disebut buka celana dan kentut," ujar Siau-hi-ji.

Gui Moa-ih meraung murka sambil melompat bangun. Dia bukan orang tolol, bahkan licin dan licik, bukan manusia yang mudah diakali. Soalnya dia keranjingan belajar Ihgiok sehingga rada keblinger, sebab itulah ia kena dikibuli Siau-hi-ji.

Sekarang didengarnya ucapan Siau-hi-ji semakin tidak masuk akal, segera ia melompat bangun dan membentak. "Sesungguhnya ilmu... ilmu apakah ini?" "Ini namanya ilmu sakti si tolol kentut, jauh lebih lihai daripada Ihgiok," jawab Siau-hi-ji, tetap dengan air muka serius.

Saking geregetan Gui Moa-ih mengepal dengan kencang, sekujur badan serasa gemetar semua, sungguh kheki setengah mati. Akhirnya So Ing terpingkal-pingkal. Baru sekarang Siau-hi-ji terbahak-bahak, dan ucapnya, "Goblok kau! Coba pikir apabila benar aku mahir Ihgiok, apakah mungkin aku bisa kau gantung di atas pohon? Kau telah menipu aku, jika sekarang tidak kubalas menipu kau, kan tidak adil?"

So Ing terkikik-kikik geli, dan katanya, "Tapi caramu... caramu ini rada-rada kebangetan." "Orang yang berani mengakali aku harus terima ganjarannya lebih banyak," ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. "Kau menipu aku, hendak kucabut nyawamu!" teriak Gui Moa-ih sambil menubruk maju.

Tapi mendadak So Ing berseru, "Inilah kunci dasar latihan Ihgiok...." Agaknya daya tarik ucapan So Ing lebih kuat daripada apa pun, pukulan Gui Moa-ih sudah hampir dilontarkan, tapi dia tahan mentah-mentah demi mendengar ucapan So Ing itu.

"Bagaimana? Lekas katakan!" seru Gui Moa-ih dengan parau. "Sudah tentu akan kujelaskan," ujar So Ing dengan tak acuh. "Tapi kau..." "Aku harus bikin keparat ini tutup mulut dulu," Gui Moa-ih menyeringai setelah mendeliki Siau-hi-ji.

Tapi mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak pula, "Wahai malaikat langit dan setan akhirat, ayolah lekas keluar menolong tuanmu, jika tidak segera akan kucaci maki kalian." "Huh, orang macam kau ini, setan pun tidak sudi menolongmu," ejek Gui Moa-ih, berbareng jarinya lantas menutuk Hiat-to bisu anak muda itu.

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba dari tempat gelap seseorang bersuara seram, "Kau bukan setan, dari mana kau tahu setan tidak sudi menolong dia?" Suara itu samar-samar dan mengambang seperti diucapkan seorang yang sedang sekarat, waktu suara terdengar rasanya seperti di sebelah timur, tapi pada akhir ucapannya kedengarannya sudah di sebelah barat.

Di tengah malam buta dan di tengah hutan sunyi mendadak terdengar suara seram begini, sungguh membikin berdiri bulu roma orang. Bahkan Gui Moa-ih juga merinding tanpa terasa, segera ia membentak, "Siapa itu? Manusia atau setan?"

"Memangnya aku bukan manusia!" Suara tadi menjawab dengan tertawa seram. Gui Moa-ih berputar dan mengincar ke tempat datangnya suara itu, secepat panah dia menubruk ke sana. Tak terduga di tempat gelap sana berkumandang lagi suara seram itu, "Aku berada di sini!"

Waktu Gui Moa-ih memutar tubuh dan menubruk ke sana, tahu-tahu suara itu sudah berada di pucuk pohon dan sedang berkata, "Coba memandang ke atas!" Gui Moa-ih mendongak, dilihatnya di pucuk pohon samar-samar memang ada sesosok bayangan kelabu dengan bajunya yang longgar berkibaran, kelihatan wajah seram dan lebih mirip setan daripada manusia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment