Halo!

Chapter 02

Memuat...

Ia menguber dengan sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal, tetapi ia terpisah kurang lebih setombak dari pendeta itu.

Ia mengagumi bukan main dan berkata dalam hatinya: "Di atas Gunung Hwasan, ayah dan ibu pernah mengatakan bahwa hweeshio ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aku masih percaya. Sekarang baru terbukti, perkataan ayah dan ibu adalah benar." Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah rumah kecil dan Kak Wan segera pergi ke belakang dan menuang air dari kedua timba itu ke dalam sumur.

Kwee Siang jadi lebih heran. "Toa hweeshio, apa kau sudah gila?" tanyanya. "Mengapa kau menuang air ke dalam sumur?" Paras muka si pendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum. Mendadak Kwee Siang tertawa nyaring. "Ah! Aku tahu sekarang," katanya. "Kau sedang melatih ilmu silat, bukan?" Kak Wan kembali menggeleng-gelengkan kepala.

Si nona jadi mendongkol. "Kau seorang gagu, padahal barusan aku mendengar kau menghafal Kitab Suci," katanya. "Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku?" Si pendeta merapatkan kedua tangannya. Dilihat dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua timbanya, ia lalu turun di jalanan tadi.

Kwee Siang melongok sumur itu. Ia hanya melihat air yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tidak ada apa pun yang luar biasa. Ia berdiri termenung dan hatinya bimbang mengawasi bayangan Kak Wan yang semakin lama jadi semakin jauh. Sesudah menguber mati-matian, ia merasa letih dan lalu duduk di pinggir sumur sambil memandang keadaan di sekitarnya.

Ia berada di tempat yang lebih tinggi daripada Kuil Siauw Lim Sie. Dipandang dari jauh, kuil itu angker dan indah. Ia mendongak dan memandang puncak yang menjulang ke langit dan berderet-deret bagaikan barisan raksasa, sedang di bawah puncak-puncak itu terdapat awan putih yang mengambang kian kemari. Di lain saat, sayup-sayup telinganya mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa ke atas oleh tiupan angin. Dalam keadaan begitu, ia merasa berada di suatu tempat suci yang jauh dari keduniawian.

"Ke mana perginya murid si pendeta itu?" tanyanya di dalam hati. "Kalau dia sendiri tak mau bicara, biar kucari dia." Perlahan-lahan ia turun gunung untuk mencari Thio Kun Po, murid Kak Wan. Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar suara kerincing rantai besi dan dari jauh Kak Wan kelihatan mendatangi sambil memikul dua timba besinya. Kwee Siang baru saja melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon. "Biarlah aku mengintipnya," pikirnya, "Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?" Tak lama kemudian, Kak Wan sudah tiba di tempat bersembunyinya. Kwee Siang yang mendapati kenyataan bahwa sambil berjalan, pendeta itu membaca sebuah buku dengan penuh perhatian.

Mendadak ia melompat dan berteriak. "Toa Hweeshio, buku apa yang kau baca?" "Aduh! Kaget benar aku!" teriak si pendeta tanpa sadar. "Nakal sungguh kau!" Si nona tertawa geli. "Toa Hweeshio, mengapa tadi kau berlagak gagu?" tanyanya dengan nada mengejek. Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti orang ketakutan. Ia menengok ke kiri dan ke kanan serta menggoyang-goyangkan tangannya. "Apa yang kau takuti?" tanya pula Kwee Siang dengan perasaan heran.

Sebelum Kak Wan sempat menjawab, dari dalam hutan mendadak muncul dua orang pendeta yang mengenakan jubah kuning. "Kak Wan!" bentak si pendeta yang berjalan di depan. "Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan kami! Kau berani bicara dengan orang luar, apalagi dengan seorang wanita. Sekarang kau harus menghadap pada tetua Kayloet Tong (dewan perundang-undangan dari kalangan Buddha)."

Kak Wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengangguk, lalu berjalan mengikuti di belakang kedua pendeta itu. Kwee Siang lantas saja naik darah. "Hai! Di kolong langit mana ada aturan tak boleh bicara?" bentaknya. "Aku bicara dengan Taysu itu karena aku mengenalnya. Ada sangkut paut apanya dengan kalian berdua?"

Pendeta yang bertubuh jangkung melotot matanya. "Semenjak ribuan tahun, seorang wanita belum pernah diizinkan masuk ke dalam daerah Siauw Lim Sie," katanya. "Lebih baik nona cepat-cepat turun gunung supaya tidak menghadapi kesukaran." Si nona jadi semakin gusar. "Eh, kalau wanita masuk di sini, mau apa kau?" bentaknya. "Apa perempuan tak sama dengan lelaki? Mengapa kamu menyusahkan Kak Wan Taysu? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau mengeluarkan larangan gila-gilaan."

Si jangkung mengeluarkan suara di hidung, "Kaisar sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami," katanya dengan suara datar. "Nona tak usah banyak bicara." Kwee Siang berjingkrak. "Aku tahu Kak Wan Taysu seorang yang baik dan karena ia seorang yang baik, kau berani menghinanya," katanya. "Huh-huh! Di mana Thian Beng Siansu, Bu Sek Hweeshio, dan Bu Siang Hweeshio? Panggil mereka! Aku mau menanyakan urusan gila ini!"

Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui bahwa Thian Beng Siansu adalah Hongthio atau kepala dari Kuil Siauw Lim Sie, sedang Bu Sek Siansu pemimpin Lo-han-tong, dan Bu Siang Siansu pemimpin Tak Mo Tong. Dengan kedudukan yang sangat tinggi, mereka dihormati oleh segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan Hoat Nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa menggunakan panggilan "Loo Hong Thio," "Lo Han Tong Co-su," atau "Tat Mo Tong Co-su." Maka itu, tidak heran jika mereka kaget bercampur gusar waktu mendengar si nona menyebut nama ketiga pemimpin dengan suara kasar.

Hoat Nia pendeta yang bertubuh jangkung itu adalah Hong Bang, murid kepala Co-su (pemimpin) Kayloet Tong. Atas perintah Co-su, bersama Hong Yan, adik seperguruannya, ia menilik gerak-gerik Kak Wan. "Lie Sie Cue (nona)!" bentaknya sambil menahan amarah. "Jika kau terus berlaku kurang sopan di tempat yang suci ini, Siauwceng tak akan berlaku segan lagi." "Kau kira aku takut?" Kwee Siang balas membentak. "Lekas buka rantai yang melilit Kak Wan Taysu. Jika tidak, aku akan cari Thian Beng Loo Hweeshio untuk berurusan lebih jauh."

Bagaimana Siauw-tong-sia Kwee Siang bisa berada di Gunung Siauw Sit San? Sesudah berpisah dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie di puncak Hwasan, tiga tahun lamanya ia tak pernah menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena khawatir, ia segera meminta izin dari kedua orang tuanya untuk berpesiar ke berbagai tempat, dengan tujuan mendengar berita tentang Yo Ko. Ia bukan terlalu ingin bertemu muka dengan kedua suami-istri itu. Ia sudah merasa puas jika bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tidak ada orang yang tahu di mana mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana di sebagian besar wilayah Tionggoan, dari utara ke selatan, dari timur ke barat, belum pernah Kwee Siang mendengar disebut-sebut namanya, "Sintiauw Tayhiap Yo Ko."

"Waktu tiba di Provinsi Holam, dia ingat dulu Yo Ko pernah mengatakan bahwa ia kenal Hongthio dari Kuil Siauw Lim Sie. Mengingat hal itu, dalam hatinya muncul harapan kalau Thian Beng Siansu mengetahui segala sesuatu mengenai Yo Ko. Ia lalu mendaki Siauw Sit San, tapi tak dinyana, begitu tiba ia bertemu dengan kejadian yang mengherankan.

Melihat di pinggang Kwee Siang tergantung sebatang pedang pendek, Hong Bang dan Hong Yan jadi semakin gusar. "Tinggalkan pedangmu di sini dan lekas pergi dari gunung!" bentak Hong Yan dengan mata melotot. Mendengar perintah itu, kegusaran si nona jadi bertambah-tambah. Ia membuka ikatan tali pedang dari pinggangnya dan sambil mengacungkannya dengan kedua tangan, ia berkata seraya tertawa dingin. "Baiklah, aku menurut perintah!"

Sejak kecil, Hong Yan sudah menyucikan diri di Kuil Siauw Lim Sie. Selama belasan tahun, ia selalu mendengar bahwa Siauw Lim Sie adalah pusat dari ilmu silat dan siapa pun juga, biarpun ahli silat yang berkepandaian paling tinggi, tak akan berani melewati pintu kuil dengan membawa senjata. Sekarang, walaupun Kwee Siang masih belum masuk di pintu, tapi ia sudah berada dalam lingkungan Siauw Lim. Dengan usianya yang masih begitu muda, apalagi ia hanya seorang wanita, dapat dimengerti jika Hong Yan tidak memandang sebelah mata kepada Kwee Siang.

Begitu ia menyerahkan senjatanya, si pendeta menafsirkan bahwa nona itu sudah menyerah dengan ketakutan. Dengan paras muka berseri-seri sambil mengebas jubah yang menutupi kedua tangannya, ia segera menjulurkan tangan untuk menjemput pedang si nona. Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang, lengannya bergetaran, seperti terkena sengatan listrik. Ia merasakan semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak ampun lagi ia roboh terguling dan terus menggelinding ke bawah tanjakan.

Sesudah tergelincir belasan tombak, untung saja ia berhasil menggapai satu pohon kecil di pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya. Darah Hong Bang mendidih; paras mukanya merah padam. "Perempuan celaka!" bentaknya, "Kau rupanya sudah punya nyali singa, sehingga berani unjuk keganasan di Siauw Lim Sie." Sambil mencaci, ia menghantam dengan kedua tangannya. Melihat gerakan orang itu, Kwee Siang tahu bahwa kepandaian pendeta itu jauh lebih tinggi daripada kawannya yang barusan terguling.

Dengan cepat ia mengangkat pedangnya yang masih berada di dalam sarung dan menotok pundak Hong Bang bagaikan kilat. Si pendeta mengelak, sambil mencoba menjambret sarung pedang. "Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!" teriak Kak Wan dengan suara bingung. Jambretan Hong Bang ternyata berhasil, tapi baru saja ia mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan. "Celaka!" Hong Bang hampir berbaring. Kwee Siang menyapu dengan kakinya dan tubuh Hong Bang tergelincir ke bawah. Ia menderita lebih hebat daripada Hong Yan dan baru berhenti sesudah menggelinding dua puluh tombak lebih dengan badan dan muka berlumuran darah.

Peristiwa itu membuat si nona agak menyesal. "Ah! Aku naik ke Siauw Lim Sie untuk mendengar-dengar warta tentang Yo Ko," pikirnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment