Halo!

Chapter 02

Memuat...

"Sengaja Siauwte berkunjung ke perkampungan Lung-cie ini untuk mencari Lie Tiang An. Menurut kabar yang Siauwte terima, belakangan ini Lie Tiang An masih berdiam di perkampungan Lung-cie ini." Tetapi orang tua bertubuh kurus kering tersebut menggeleng perlahan. Dengan lesu ia berkata, "Sayang sekali, orang yang engkau cari itu telah tiada..."

"Telah tiada, Lopeh?" tanya pria asing tersebut dengan wajah terkejut.

Orang tua itu mengangguk perlahan. Dengan tidak bersemangat ia menyahut, "Ya, empat bulan yang lalu ia meninggal karena suatu penyakit yang dideritanya!"

"Tetapi... tetapi keluarganya masih berdiam di perkampungan ini, Lopeh?" tanya pria asing itu lagi.

Orang tua tersebut mengangguk. Ia memutar duduknya ke arah kanan, kemudian tangan kanannya menunjuk ke arah sebuah rumah yang terpisah sekitar empat rumah lainnya. "Mereka tinggal di sana!" katanya, kemudian ia duduk bersandar dengan lesu.

Pria asing tersebut memandang ke arah rumah yang ditunjuk orang tua itu. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan dua tail perak yang diangsurkan kepada orang tua tersebut. "Lopeh, terima kasih atas keterangan yang kau berikan. Terimalah sekadarnya hadiah dariku ini," kata pria asing itu.

Orang tua itu memandang uang di tangan pria asing tersebut, kemudian tersenyum sinis. Dengan sikap tak acuh ia berkata, "Uang? Kukira di perkampungan Lung-cie ini, uang tidak memegang peranan yang terlalu berarti!"

"Kenapa begitu, Lopeh?" tanya pria asing tersebut dengan heran.

Orang tua tersebut menyahut, "Walaupun kita memiliki uang yang banyak, tidak ada sesuatu yang bisa dibeli di perkampungan yang miskin seperti ini. Yang terpenting buat kami adalah makanan dan barang-barang kebutuhan pokok. Tanpa adanya bahan makanan dan barang lainnya, walaupun kita memiliki uang yang banyak, tidak ada artinya karena tidak bisa dipergunakan. Simpanlah kembali uangmu itu, anak muda. Mungkin engkau lebih memerlukannya!"

Pria asing itu menghela napas dalam-dalam. Ia tidak ingin berbantahan lagi, lalu memasukkan kembali uangnya ke dalam saku. Ia pun melihat bahwa perkampungan Lung-cie merupakan tempat yang terlalu miskin dan melarat, sehingga tidak ada toko ataupun orang yang berjualan. Penduduk perkampungan tersebut hanya melewati hari-hari dengan memakan apa pun yang masih bisa dimakan.

Memang uang tidak memiliki banyak arti di perkampungan yang serba kering dan miskin tersebut. Di musim kemarau itu, di mana mereka telah mengalami tiga musim paceklik dan tidak bisa menanam apa pun di tanah yang tandus, penduduk lebih mementingkan simpanan bahan makanan daripada uang. Itulah sebabnya, jangankan ada orang yang berdagang barang kebutuhan pokok seperti beras, untuk konsumsi sendiri saja sudah sangat sulit.

Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, pria asing tersebut meninggalkan orang tua kurus kering itu yang tengah duduk merenungi nasib dan membayangkan hari esoknya. Setibanya di depan rumah gubuk yang ditunjuk tadi, pria asing itu melihat betapa bangunan itu sudah tidak layak disebut sebagai rumah. Segalanya sudah rusak; sebagian gentingnya hilang, tiang-tiang bambu dan kayunya banyak yang rubuh, dan kondisinya sangat reyot.

Daun pintu rumah tersebut miring karena sebagian pakunya terlepas. Begitu pula lantai rumah yang hanya berupa tanah; kotor sekali dan penuh rongsokan. Dari celah-celah pintu yang tergantung dan tidak bisa tertutup itu, pria asing tersebut melihat tidak ada satu pun barang yang masih utuh di dalamnya.

Dengan langkah perlahan dan agak ragu, pria asing tersebut menghampiri daun pintu lalu mendorongnya. Daun pintu terbuka dan menimbulkan suara "krekkk!" yang panjang. Pria asing itu melangkah masuk. Baru dua tindak ia melangkah, ia langsung berdiri terbelalak dengan mata terpentang lebar.

Apa yang dilihatnya memang mengenaskan. Sesosok tubuh wanita menggeletak, sudah tidak bernapas lagi. Tubuhnya kurus kering hingga seperti tinggal kerangka yang dibungkus kulit. Mayat itu mengenakan pakaian yang sudah compang-camping dan sangat kotor. Wajahnya begitu tirus dengan tulang pipi yang menonjol. Sepasang matanya cekung ke dalam, sementara mulutnya yang tipis menyeringai memperlihatkan barisan gigi. Keadaan mayat tersebut sungguh menyedihkan.

Setelah menghela napas beberapa kali, pria asing tersebut melangkahi mayat wanita itu menuju ke bagian dalam rumah. Di sana terdapat sebuah ruangan sempit yang hanya berbatas selapis dinding anyaman kulit kayu. Ruangan itu kosong, tidak terdapat satu pun perabotan maupun pembaringan.

Namun, pria asing tersebut tertarik melihat sesosok tubuh kecil yang kurus kering, meringkuk dengan pakaian robek-robek. Sosok itu adalah seorang anak lelaki berusia enam atau tujuh tahun yang ternyata masih hidup. Napasnya berjalan satu-satu; dadanya yang tipis menampakkan tulang-tulang rusuk yang bergerak sangat lemah.

Cepat-cepat pria asing tersebut berjongkok memeriksa keadaan anak itu. Ia menghela napas saat mendapati sang anak masih bernapas, meskipun kondisinya sangat lemas. Tubuhnya yang tidak bertenaga itu kemungkinan besar disebabkan karena sudah beberapa hari tidak makan.

Saat tubuhnya diperiksa, anak lelaki itu membuka mata. Bola matanya yang buram bergerak lemah, seolah heran melihat orang asing di dekatnya. Bibirnya yang kering bergerak perlahan, "Mama... Mama..." Suaranya serak dan sangat lirih, hampir tidak terdengar jelas.

Pria asing tersebut tersenyum penuh kasih sayang, meskipun hatinya teriris pedih. Ia berkata dengan lembut, "Anak manis, tenanglah! Engkau akan segera sehat kembali. Tenanglah..." Cepat-cepat ia mengeluarkan bungkusan kain hijau dari sakunya.

Ia mengeluarkan beberapa bolu kecil dan sekitar delapan butir pil berwarna-warni. Dengan sabar ia memasukkan pil itu sebutir demi sebutir ke mulut anak itu sambil menuangkan air dari kantong airnya. Pil tersebut merupakan ramuan obat untuk memulihkan kekuatan tubuh. Dalam keadaan lapar dan haus yang ekstrem, anak tersebut tidak boleh langsung diberi makanan berat karena bisa membahayakan pencernaannya.

Setelah meminum obat dan air tersebut, anak lelaki itu merasa tubuhnya agak segar. Suaranya terdengar lebih jelas saat bertanya, "Paman... siapakah Paman? Di manakah Mamaku?"

Pria asing itu tersenyum sabar dan berkata, "Nanti akan Paman jelaskan. Sekarang kau makanlah makanan kering ini perlahan-lahan." Ia mengeluarkan bungkusan makanan dan memberikan sepotong daging kering yang langsung dimakan dengan lahap oleh si anak.

"Makanlah perlahan-lahan!" kata pria asing itu dengan hati terharu.

"Lagi, Paman..." pinta anak lelaki tersebut sambil menjilati bibirnya.

"Ya, aku akan memberikan lebih banyak lagi, Nak," kata lelaki asing itu, "tapi engkau harus makan sedikit demi sedikit dahulu sampai pencernaanmu bisa bekerja kembali dengan baik. Nah, habiskan sepotong ini lagi." Ia mengangsurkan sepotong daging dan dua potong kue kering.

Setelah menghabiskan makanan itu, anak tersebut masih merasa lapar dan meminta lagi. Namun, lelaki asing itu menggeleng sambil tersenyum. "Sekarang engkau tidak boleh makan terlalu kenyang dahulu. Nanti Paman berikan lagi. Nah, sekarang ikutlah dengan Paman meninggalkan tempat ini."

Anak lelaki itu memandang pria asing tersebut sejenak, lalu bertanya dengan suara ragu, "Paman... di mana Mamaku?"

"Nanti Paman akan menceritakannya, mari ikut dengan Paman!" kata pria asing tersebut sambil merapikan buntalannya dan menggendongnya di punggung. "Paman akan mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan." Sambil berkata begitu, pria asing itu mengulurkan tangannya hendak menggendong anak lelaki tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment