Di tangan gadis itu tercekal sepotong kayu panjang yang ujungnya telah hitam seperti terbakar.
"Kui Im Cinjin! Akhirnya engkau berhasil kucari!" kata gadis itu dengan suara yang nyaring.
Muka imam itu tampak berubah muram. Tampaknya di samping ketakutan, rasa gusar dan penasaran tengah mengaduk menjadi satu di dalam hatinya.
"San Ciam Liehiap Bong Cun Lie!" kata si imam akhirnya dengan suara berputus asa. "Aku memang menyadari tidak mungkin lolos dari tanganmu. Kau terlalu mendesak, pinto memang tolol dan tidak memiliki kepandaian apa-apa, tetapi jika demikian, baiklah, silakan... silakan maju, mari kita mengadu jiwa!"
Si gadis yang dipanggil dengan sebutan San Ciam Liehiap (Pendekar Wanita Penyebar Jarum) itu tertawa. Merdu sekali suara tertawanya itu, enak untuk didengar.
"Kui Im Cinjin," katanya kemudian sambil memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. "Memang selama ini kalian pihak Ngociat-kauw (Perkumpulan Lima Penjahat) ingin membela diri dengan segala macam alasan yang engkau miliki. Namun sekarang, walau bagaimanapun engkau seperti yang lain-lainnya tak mungkin lolos dari tanganku. Kematian Hoan Lian Taisu harus dipertanggungjawabkan oleh kalian..."
Muka Kui Im Cinjin berubah ketika mendengar perkataan tersebut. Dia rupanya sudah tidak dapat menahan kemurkaan yang bergolak di hatinya. Mukanya yang memang telah kuning pucat itu jadi semakin pucat dan kehijau-hijauan.
"Baiklah, pinto ingin mengadu jiwa dengan kau, perempuan siluman!" bentak imam itu. Tanpa membuang waktu lagi, hudtim di tangan kirinya telah bergerak menuju ke arah pinggang si gadis.
Hudtim merupakan senjata yang dapat dipergunakan oleh jago yang telah memiliki lwekang sempurna, karena bulu-bulu hudtim itu dapat dibuat keras seperti godam kalau bulu-bulu itu bergabung menjadi satu, dan dapat dipergunakan juga untuk menotok. Di samping itu, bulunya bisa dibuyarkan sehingga menyambar sekaligus ke berbagai jalan darah di sekujur tubuh lawan yang diserang.
Tetapi gadis itu, Bong Cun Lie, rupanya juga memang hebat. Dia melihat datangnya sambaran hudtim si imam ke arah pinggangnya yang akan menotok jalan darah Sun-kie-hiatnya. Dengan cepat luar biasa dan mudah sekali, dia mengelak dengan menggerakkan pinggulnya sedikit saja, disusul dengan kayu di tangannya yang terayun untuk menggempur batok kepala imam tersebut.
Kui Im Cinjin mengeluarkan seruan tertahan. Cepat sekali dia membatalkan serangannya dengan menarik pulang hudtimnya dan memiringkan kepalanya untuk berkelit dari sambaran kayu si gadis.
Tetapi serangan yang dilancarkan oleh San Ciam Liehiap Bong Cun Lie benar-benar luar biasa. Di saat si imam berkelit dan serangannya jatuh di sasaran yang kosong, dengan sangat cepat dia memutar tangannya sehingga kayu di tangannya ikut berputar dan berbalik arah menyambar ke arah dada imam itu.
Serangan serupa itu memang merupakan serangan yang sangat luar biasa, tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang belum memiliki kepandaian sempurna. Tetapi si gadis yang rupanya telah memiliki ilmu meringankan tubuh dan lwekang sempurna dapat melakukan serangan seperti itu dengan baik sekali.
Dengan mempergunakan Tiat Pian Ko (Jembatan Besi), dia merubuhkan dirinya ke belakang. Kedua kakinya tetap menempel di tanah, tetapi tubuhnya terlentang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah. Kayu si gadis lewat dua dim dari dadanya. Keringat dingin mengucur deras dari si imam dan dia cepat-cepat melompat berdiri begitu berhasil lolos dari serangan dahsyat tersebut.
Tetapi Bong Cun Lie tidak berhenti sampai di situ saja. Melihat lawannya berhasil mengelakkan serangan dengan cara yang manis, si gadis mengeluarkan suara dengusan mengejek. Dia melancarkan kembali serangan dengan mempergunakan kayu di tangan kanannya, disusul oleh seruan: "Terimalah ini!"
Imam itu baru saja berhasil berdiri tegak saat serangan si gadis she Bong telah tiba lagi, sehingga dia mengeluarkan seruan putus asa. Tidak ada harapan lagi baginya untuk mengelakkan diri. Serangan kayu si gadis yang menyambar ke arah dada sebelah kirinya berarti jika dia tergempur oleh tenaga dalam yang kuat, kalau tidak binasa, sedikitnya dia akan cacat.
Karena terlalu terdesak, akhirnya tojin itu menjadi nekat. Dia tiba-tiba memutar hudtimnya dengan gerakan cepat ke arah atas untuk mengibas kayu Bong Cun Lie, disusul tangan kanannya yang tiba-tiba mencengkeram dada sebelah kiri si gadis untuk mengincar jalan darah Pai-sie-hiat. Kalau memang jalan darah Pai-sie-hiat di dada kiri si gadis berhasil dicengkeram, walaupun si gadis memiliki kepandaian sepuluh kali lebih tinggi dari sekarang, jelas gadis itu akan roboh binasa.
Si gadis mendengus ketika melihat cara menyerang imam itu. Dia berkelit ke samping kanan dengan gerakan mundur ke belakang beberapa dim sehingga berhasil mengelakkan serangan si imam.
"Serangan yang kejam!" serunya dengan suara dingin. "Dan rasakanlah jarumku ini!"
Si gadis membarengi suaranya dengan menggerakkan tangan kirinya. Di saat itulah tampak empat sinar emas meluncur ke arah empat jalan darah terpenting di tubuh Kui Im Cinjin, yaitu Bong-su-hiat, Tiang-he-hiat, Kwan-lu-hiat, dan Tie-pie-hiat. Dua jalan darah yang pertama terletak di bagian ketiak kanan, sedangkan kedua jalan darah lainnya terletak masing-masing di pinggang kiri dan kanan. Si gadis juga bukan hanya menyerang dengan jarum, dia membarengi dengan serangan kayunya ke arah batok kepala imam itu.
"Ah!" seru imam itu putus asa. Umpama kata dia memiliki kepandaian lima kali lebih hebat dari sekarang, tentu dia tidak mungkin mengelakkan diri dari serangan Bong Cun Lie, karena serangan yang dilancarkan oleh si gadis she Bong itu benar-benar telah menutup jalan mundurnya.
Untuk menangkis, Kui Im Cinjin juga sudah tidak memiliki kesempatan. "Tidak kusangka akhirnya aku harus binasa dengan cara demikian penasaran!" keluh imam itu. Dengan putus asa dia memejamkan mata, pasrah menerima kematian di saat tongkat kayu tengah meluncur menghantam batok kepalanya, sedangkan keempat jarum emas tengah menyambar ke arah empat jalan darah terpenting di tubuhnya.
Kedua anak lelaki kecil yang berdiri di pinggiran hanya menyaksikan tanpa mengetahui bahwa si imam telah terancam kematian. Keduanya hanya heran melihat si imam dan si gadis telah bergerak cepat sekali bagaikan dua sosok bayangan, sehingga mereka bengong menyaksikan dengan mata berkunang-kunang. Mereka menduga bahwa saat itu tengah menyaksikan tarian dewa dan dewi yang turun dari kahyangan.
San Ciam Liehiap Bong Cun Lie melihat serangannya akan mencapai sasaran. Dia jadi girang bukan main, terlebih lagi melihat imam itu telah memejamkan matanya rapat-rapat. Dia justru menambahkan tenaga serangannya sehingga jika kayu di tangannya berhasil mencapai sasaran, tentu kepala imam itu akan hancur lebur.
"Sungguh serangan yang baik sekali..." Tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring, disusul oleh suara "tring, tring, tring" empat kali, lalu sesosok tubuh terpental.
Semua peristiwa itu terjadi hanya sekejap mata. Si gadis she Bong terkejut bukan main karena tahu-tahu si imam telah lenyap dari hadapannya sehingga kayunya jatuh di tempat kosong. Begitu juga keempat batang jarum emasnya telah runtuh di atas tanah.
Dengan gusar sekali, si gadis menoleh ke samping. Dilihatnya Kui Im Cinjin tengah merayap berdiri. Tadi di saat jiwanya terancam bahaya kematian, imam itu merasakan sambaran angin serangan yang kuat sekali sehingga tubuhnya terpental dan terpelanting di tanah. Hal itu membuatnya terhindar dari sambaran kayu si gadis she Bong dan keempat batang jarum maut lawannya.
Apa yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan Kui Im Cinjin maupun Bong Cun Lie. Begitu pula kedua anak lelaki yang menyaksikan pertempuran itu diliputi keheranan. Mereka melihat tahu-tahu si imam telah terlempar dan jatuh bergulingan di tanah. Peristiwa itu membuat anak-anak tersebut tertegun tanpa mengerti mengapa si imam membuang diri seperti itu.
Dengan sorot mata tajam, gadis itu menoleh ke samping. Kini baru dilihatnya seorang pemuda berpakaian sebagai siucai (pelajar) warna putih dengan kopiah hitam. Di tangannya tercekal kipas yang terbuat dari sutra. Pemuda itu tengah duduk di tanah dengan sikap yang manis; wajahnya tampan, senyumannya ramah, dan matanya bersinar cemerlang.
"Jangan menurunkan kematian... Dosa besar apakah yang telah dilakukan totiang itu sehingga Nona demikian ganas ingin mengambil jiwanya?" sapa pemuda itu dengan nada lembut. Dia bertanya sambil menggerak-gerakkan kipas dan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Muka Bong Cun Lie berubah merah padam. Dia lalu mendengus dengan gusar. "Mengapa kau begitu usil mencampuri urusan kami?" tanyanya dengan suara tak senang. "Urusan ini urusan penasaran yang tidak ada sangkut paut dan hubungannya dengan kau... kuharap engkau tidak mencampurinya."
Pemuda pelajar itu tersenyum sabar. Manis sekali sikapnya waktu dia bangkit perlahan-lahan. "Kamu demikian cantik, gagah, dan perkasa. Tidak kusangka jiwa dan hatimu kejam sekali. Dalam urusan itu aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa, kenal pun tidak, tetapi masakan aku harus berpangku tangan melihat sepotong jiwa manusia yang ingin dibinasakan? Bukankah jiwa harus disayang?"
"Baik, baik!" seru si gadis dengan murka.