Saat itu Ang-toa berjongkok. Ia menyentil kelerengnya hingga meluncur menyerempet kelereng pasangan mereka, tetapi tidak ada satu butir pun kelereng pasangan itu yang terlontar keluar dari garis lingkaran yang digambar di tanah.
Walaupun Ang-toa tidak berhasil menyentil tepat sasaran, ia tetap melompat-lompat kegirangan sambil berseru, "Aku kena! Keenam kelereng itu telah menjadi milikku!"
Wajah kedua anak itu tidak memperlihatkan sikap atau perasaan lain; mereka berdiri pucat ketakutan karena mengetahui siapa Ang-toa, si nakal yang jenaka ini.
"Ya... ambillah, Ang-toa!" kata mereka hampir berbarengan.
Ang-toa mengambil keenam kelereng itu dan berkata kepada kedua anak tersebut, "Ayo, pasang lagi!"
"Ang-toa...!" kata salah seorang dari mereka.
"Kenapa? Kalian juga tidak mau bermain kelereng denganku?" tanya Ang-toa sambil mendelikkan matanya.
"Bukan begitu, tiba-tiba perutku sakit! Ambillah sebelas kelerengku ini, tetapi maafkan aku harus pulang untuk buang air dulu!" Anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun itu menyodorkan seluruh kelerengnya kepada Ang-toa. Rupanya ia memang sudah tidak mau bermain dengan Ang-toa dan lebih rela menyerahkan sisa kelerengnya.
Ang-toa menerima kelereng-kelereng itu dan memasukkannya ke dalam saku. "Dan engkau?" tanyanya kepada anak yang satu lagi.
"Aku tadi disuruh ibu membeli ikan," sahut anak itu. "Aku baru ingat sekarang, jadi aku mau pergi membeli ikan dulu!"
"Ah, engkau benar-benar jahat tidak mau menemaniku main kelereng!" kata Ang-toa sambil menjitak anak itu. Anak yang keningnya dijitak keras oleh Ang-toa tidak mengaduh; ia hanya menyodorkan sisa kelerengnya yang berjumlah delapan buah.
"Ambillah, Ang-toa. Aku memang tidak sepandai engkau bermain kelereng, anggap saja aku kalah!"
Sambil tersenyum mengejek, Ang-toa menerima kedelapan kelereng itu dan memasukkannya ke dalam saku. Kedua anak itu pun cepat-cepat meninggalkan Ang-toa.
Ang-toa masih berdiri di tempatnya, bingung harus melakukan apa. Ia menggerakkan tangan kanannya di dalam saku sehingga kelereng-kelereng itu bergemerincing. "Heran! Mereka semua tidak mau bermain kelereng denganku! Mengapa begitu? Memang mereka manusia-manusia jahat, selalu mengasingkanku!" gumam Ang-toa.
Ia tidak menyadari bahwa dirinyalah yang selalu curang saat bermain. Menang atau kalah, ia harus menang. Anak-anak sebaya tidak berani bermain dengannya karena jika mereka menentang Ang-toa, mereka akan dijitak atau dipukul.
Setelah berdiam diri sejenak, Ang-toa menyusuri jalan hingga ke pinggiran kota. Ia berdiri menyandar di batang pohon, lalu melemparkan kelereng rampasannya satu per satu ke tanah. Namun, ia tidak memungutnya lagi dan justru berlalu begitu saja.
Saat sedang berjalan menendang kerikil, tiba-tiba ia mendengar sorak-sorai riang anak-anak. Ang-toa melihat serombongan anak laki-laki—sekitar delapan orang—sedang bermain kelereng. Hatinya kembali girang.
Ia berlari menghampiri mereka. "Aku ikut main!" teriak Ang-toa.
"Kau, Ang-toa?" tanya seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun bertubuh sehat. "Mana kelerengmu?"
"Kalian pinjami dulu. Nanti setelah menang, akan kukembalikan!" sahut Ang-toa.
"Cih, enak saja mau meminjam! Jika kalah, kau mau menggantinya dengan apa?"
"Aku tidak mungkin kalah! Nanti setelah menang, aku akan memberimu hadiah dua kelereng!" bujuk Ang-toa.
Tetapi anak laki-laki yang lebih besar dari Ang-toa itu menggelengkan kepalanya. "Kalau tidak punya kelereng, jangan ikut main!" katanya.
"Hei, kok begitu? Mengapa kau tampak tidak senang kalau aku ikut main?" tanya Ang-toa dengan nada menegur. "Bawa kelereng sendiri, jangan seenaknya meminjam kelereng kami!"
"Buko, jangan begitu... aku berjanji akan mengembalikan kelereng yang kupinjam!" bujuk Ang-toa lagi.
"Tidak!"
"Dan kau?" tanya Ang-toa kepada anak lain dengan mata melotot.
"Aku... aku mau saja meminjamkan kelereng, tetapi tanyakan dulu kepada Buko apakah dia setuju atau tidak!"
"Mengapa harus begitu? Bukankah kelereng itu milikmu? Mengapa aku harus bertanya pada anak marga Bu itu?" tanya Ang-toa galak.
Buko menyahut tidak sabar, "Ang-toa, lebih baik kau pergi. Jangan mengganggu permainan kami!"
Mendengar itu, kesabaran Ang-toa habis. Ia bertolak pinggang dan berkata, "Kau berani menggertakku? Baik! Aku akan menjitak kepalamu, kita lihat kau bisa melawan atau tidak!"
Ang-toa melangkah menghampiri Buko dan hendak menjitak keningnya. Namun Buko tidak tinggal diam; ia melompat ke samping menghindar. "Ang-toa, jangan kurang ajar!" bentak Buko sengit. "Jika kau mendesakku, jangan salahkan aku jika bertindak keras padamu!"
"Eh, kau berani berurusan denganku?" tanya Ang-toa heran.
"Mengapa harus takut? Jika kau keterlaluan, siapa pun pasti berani menghadapimu!" sahut Buko lantang.
Ang-toa marah. "Dia harus kutundukkan, jika tidak, anak-anak lain akan berani kurang ajar padaku!" pikirnya. Ia kembali mencoba menjitak Buko. Namun karena Buko lebih besar dan kuat, ia tidak takut. Setelah berkelit, sebuah kepalan tangan mendarat di hidung Ang-toa hingga ia terjungkal.
Pandangannya berkunang-kunang, tetapi Ang-toa segera bangkit dan menyerudukkan kepalanya ke perut Buko. "Buk!" Buko menjerit kesakitan dan jatuh terjengkang. Dengan licik, Ang-toa segera merangkul dan menggigit telinga lawannya kuat-kuat.
Buko menjerit-jerit kesakitan dan meronta, tetapi Ang-toa tidak melepaskannya. "Ampun tidak? Masih berani kurang ajar padaku?" tanya Ang-toa sambil sesekali melepaskan gigitan lalu menggigitnya lagi.
Saking sakitnya, Buko menangis dan memohon ampun. Setelah puas, Ang-toa bangkit dan menatap Buko yang sedang memegangi telinganya yang memerah. "Kalau nanti kau berani berlagak lagi, akan kugigit putus telingamu itu!" ancam Ang-toa bangga karena berhasil mengalahkan lawan yang lebih besar.
"Akan kuberitahu ayahku!" tangis Buko sambil beranjak pergi.
"Alah, kau cuma besar mulut!" ejek Ang-toa sambil menjitak kening Buko sekali lagi. Buko tidak berani melawan dan langsung lari.
Anak-anak lain yang melihat jagoan mereka kalah berdiri pucat ketakutan. "Sekarang, kalian masih berani bertingkah di hadapanku?" bentak Ang-toa.
"Tidak! Tadi Buko memang keterlaluan, dia yang melarang kami menemanimu bermain," sahut mereka ketakutan.
"Hem, orang seperti dia memang harus dihajar agar tidak besar mulut. Badan saja besar, tapi nyali tikus!" Anak-anak itu terpaksa tertawa meski hati mereka ngeri.
"Ayo, siapa yang mau meminjamkan kelereng padaku?" tanya Ang-toa nyaring.
"Aku!" "Aku mau meminjamkan!"
"Ini Ang-toa, pakai saja kelerengku! Aku mau pulang makan dulu!" kata salah satu anak sambil menyerahkan semua kelerengnya.
Ang-toa mendelik. "Kalian benar-benar kurang ajar! Mengapa setiap aku mau bermain, selalu saja ada alasan? Aku tahu kalian berbohong! Kalian hanya takut bermain denganku dan mencari cara untuk pergi!"
"Mana berani kami berpikir begitu?" sahut salah seorang anak dengan cepat.