Halo!

Chapter 03

Memuat...

Betapa pun Gui Moa-ih bukan sembarangan orang, setelah melihat bayangan lawan, ia menjadi lebih sabar, selangkah demi selangkah ia mendekat ke sana sambil menjengek.

"Jika kau ingin menjadi setan, baiklah akan kukabulkan keinginanmu!" Berbareng itu, secomot sinar perak terus berhamburan ke arah pucuk pohon.

Bayangan di atas pohon itu menjerit kaget, dengan enteng seperti daun jatuh, ia terus melayang turun.

"Hm," jengek Gui Moa-ih.

"Ingin kulihat apakah kau berani main gila lagi atau tidak...." Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seseorang menanggapi dengan terkekek-kekek.

"Hehe, mati satu kali jadi setan, mati dua kali juga jadi setan. Coba kau pandang lagi ke sini!" Gui Moa-ih terkejut dan cepat menoleh, ternyata bayangan kelabu tadi tahu-tahu sudah berada di pucuk pohon yang lain lagi, sorot matanya yang tajam sedang menatap Gui Moa-ih dengan terkekeh-kekeh.

Biarpun tinggi kepandaiannya dan besar nyalinya, tidak urung kaki dan tangan Gui Moa-ih menjadi rada gemetar.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang terbahak-bahak di belakangnya sambil berseru.

"Hahaha! Orang gede begini juga kena digertak oleh setan?" Cepat Gui Moa-ih membalik tubuh, dilihatnya seorang Hwesio bermuka gemuk bundar dengan berseri-seri sedang mendekatinya.

Diam-diam Gui Moa-ih menghimpun tenaga, bentaknya.

"Apakah kau pun setan?" "Tidak, Hwesio bukan setan, tapi Hwesio justru ahli menangkap setan, haha!" Jawab Hwesio itu sambil tertawa.

"Hwesio penangkap setan?" Gui Moa-ih menegas.

"Betul.... Hahaha, Hwesio tidak suka menangkap manusia melainkan lebih suka menangkap setan," Kata Hwesio itu tanpa melupakan tertawanya "Jika begitu, silakan kau tangkap setan itu, Hwesio," jengek Gui Moa-ih.

"Haha, Hwesio tidak menangkap manusia.... Hwesio dapat membedakan mana manusia dan mana setan, hahaha!" "Dia itu bukan setan?" Tanya Gui Moa-ih.

"Sudah tentu bukan, hahaha, setan tidak berada di sana." "Habis setan berada di mana?" Tanya Gui Moa-ih.

Mendadak si Hwesio menuding ke hutan yang gelap sana.

Tanpa terasa Gui Moa-ih memandang ke arah yang ditunjuk itu, maka tertampaklah di kegelapan sana entah sejak kapan sudah duduk sesosok bayangan orang, tangan memegang sesuatu benda entah panganan apa yang sedang dimakan dengan lahapnya.

Dengan gelak tertawa Gui Moa-ih berkata.

"Hahaha, orang itu memang rada-rada mirip setan, sedangkan orang tadi sama sekali tidak berbau setan." Si Hwesio terbahak-bahak, katanya.

"Setan tidak memper setan, yang mirip setan paling-paling cuma setengah manusia setengah setan dan sekali-kali bukan setan tulen." Diam-diam Gui Moa-ih memandang cara bagaimana harus menghadapi musuh yang berjumlah tidak sedikit ini, ia pikir harus sekali hantam merobohkan semua lawan itu, tapi di mulut ia sengaja menjawab dengan tertawa.

"Ah, masa setan juga begitu rakus dan suka makan?" "Hahaha, setan tidak makan barang lain, setan cuma gemar makan manusia, haha!" Kata Hwesio tadi.

"Makan manusia?" Gui Moa-ih menegas dengan tertawa.

"Hah, masa yang dimakannya itu manusia?" "Haha, dia tidak percaya, kenapa tidak kau perlihatkan padanya," Ucap si Hwesio, sudah tentu kata-kata ini ditujukan kepada orang yang sedang makan sesuatu di hutan sana.

Terdengar orang itu mengekek tawa, makanan yang dipegangnya mendadak dilemparkan kepada Gui Moa-ih dan tanpa sadar terus ditangkap oleh Gui Moa-ih.

Begitu barang itu terpegang, Gui Moa-ih merasakan sesuatu yang lunak dan masih hangat-hangat.

Waktu diawasinya, kiranya benar-benar sepotong lengan manusia yang habis direbus.

Baru sekarang Gui Moa-ih benar-benar terkejut, badan terasa lemas dan hampir jatuh kelengar.

Cepat ia lemparkan kembali potongan lengan manusia itu.

Dengan cekatan orang di hutan sana menangkap kembali makanannya itu, katanya sambil terkekeh-kekeh.

"Manusia di sekitar sini sama berbau tikus dan tidak enak dimakan, dengan susah payah kudapatkan orang yang masih mulus dan kumakan dengan hemat selama tiga hari, kini hanya tersisa sepotong lengan ini, jika kau buang begini saja kan sayang." Habis berkata, dengan lahap kembali ia menggerogoti pula lengan manusia itu.

Saking tak tahan hampir saja Gui Moa-ih tumpah-tumpah, tanpa terasa ia menyurut mundur.

Si Hwesio lantas tertawa, katanya.

"Hahaha, jangan khawatir, badanmu juga berbau tikus, dia pasti tidak doyan dagingmu." "Se... sebenarnya siapakah kalian? Apa kehendak kalian?" Tanya Gui Moa-ih dengan parau.

"Di sini cuma aku inilah manusia satu-satunya, ada urusan apa boleh dibicarakan dengan aku," Kembali seorang lagi menanggapi.

Lalu muncul seorang jangkung dengan baju putih, wajah pun pucat dingin, nampaknya lebih seram daripada setan.

"Baik, jika kau manusia, akan kubikin kau menjadi setan juga," Bentak Gui Moa-ih dengan bengis.

Berbareng itu dia lantas menghantam.

Cepat si baju putih mengebas lengan bajunya yang panjang dan menjulurkan tangan untuk menangkis.

"Kau cari mampus!" Bentak Gui Moa-ih.

Gerakannya cepat, perubahan serangannya juga cepat, baru setengah jalan pukulannya telah berubah menjadi mencengkeram, ia incar baik-baik pergelangan tangan lawan yang terselubung lengan baju itu dan segera hendak memegangnya.

Cengkeraman ini sangat kuat, bila kena, biarpun besi atau batu juga akan hancur.

Tampaknya si baju putih tidak sempat ganti serangan dan juga tidak keburu menghindar, dengan tepat tangannya telah kena dicengkeram oleh Gui Moa-ih.

Akan tetapi mendadak Gui Moa-ih merasakan yang kena terpegang itu bukan tangan manusia melainkan suatu benda keras dan dingin.

Dalam kagetnya lantas terdengar si baju putih membentak dengan menyeringai.

"Lepas tangan!" "Bret", tahu-tahu lengan baju panjang itu robek menjadi dua.

"Tangan" Orang itu telah menggores pada telapak tangan Gui Moa-ih, darah segar mengucur.

Kini Gua Moa-ih dapat melihat jelas "tangan" Lawan ternyata bukan tangan biasa melainkan sebuah kaitan baja dengan ujung yang runcing.

"Haha, tentunya kau tahu sekarang bahwa manusia terkadang lebih sukar direcoki daripada setan!" Demikian Hwesio tadi berseru sambil berkeplok tertawa.

Meski luka di tangan Gui Moa-ih tidak parah, tapi khawatir kaitan orang berbisa, ia tidak berani terlibat pertempuran lebih lama lagi, sekali melompat mundur segera ia hendak menerjang pergi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang pula membentak dengan gusar.

"Anak murid Bu-geh mana boleh kabur di medan tempur? Peduli mereka itu setan atau manusia, apa yang kau takuti?" Menyusul suara itu, seorang lantas melompat keluar dari belakang si Hwesio, berbareng sebelah tangannya terus menghantam ke belakang, kontan Hwesio gemuk terpukul mencelat jauh ke hutan yang gelap sana.

Tertampak pendatang baru ini berperawakan kurus kecil seperti kanak-kanak, muka jelek memualkan tapi berjenggot yang terpelihara dengan indah, panjang terurai hampir menyentuh tanah.

Kepalanya berkopiah emas, jubahnya mengeluarkan sinar hijau kemilau, tampaknya lucu tapi juga menakutkan.

Si setan pemakan manusia di hutan tadi mendadak berteriak.

"Wah, Gui Bu-geh datang! Setan saja takut padanya, lekas angkat kaki!" Gui Moa-ih tampak terkejut juga, katanya dengan tergagap.

"Eng... engkau orang tua...." "Hm, walaupun kau tidak anggap aku sebagai gurumu, tapi kutetap pandang kau sebagai murid dan tak dapat kusaksikan kau dikerjai orang," Jengek si kerdil alias Gui Bu-geh.

Dalam pada itu kawanan setan dan manusia tadi sudah kabur bersih, hanya Siau-hi-ji saja yang masih tergantung di pohon, entah sejak kapan So Ing juga sudah menghilang.

Dengan menghela napas menyesal Gui Moa-ih berkata.

"Baru sekarang Tecu tahu, apa pun juga Tecu memang tak dapat dibandingkan dengan Suhu." "Hm, asal kau tahu saja," Jengek Gui Bu-geh.

Setelah mengibaskan lengan bajunya, lalu berkata pula.

"Di mana lukamu? Apakah berbisa?" "Mungkin berbisa," Jawab Gui Moa-ih.

Perlahan Gui Bu-geh melangkah maju, katanya.

"Ulurkan tanganmu, coba kulihat." Dengan perlahan Gui Moa-ih menjulurkan tangannya, tapi mendadak terus menghantam ke dada Gui Bu-geh.

Serangan ini sangat cepat dan di luar dugaan.

Namun Gui Bu-geh agaknya sudah memperhitungkan kemungkinan ini, mendadak ia mengegos dan menggeser mundur, lalu membentak gusar.

"Murid jahanam, kau berani terhadap guru?" Gui Moa-ih tergelak-gelak, ucapnya.

"Meski kepandaian menyamar cukup lihai, tapi jika ingin menyaru sebagai Gui Bu-geh, tampaknya kau belum mampu." "Gui Bu-geh" Itu pun tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Bagus, ternyata kau dapat membongkar penyamaranku. Tapi coba jelaskan, bagian mana penyamaranku ini yang tidak betul?" "Kau pernah melihat Gui Bu-geh?" Tanya Gui Moa-ih.

"Jika belum pernah melihat dia, cara bagaimana aku dapat menyamarnya" Jawab orang itu.

"Dan pernah kau lihat Gui Bu-geh berjalan?" Tanya Gui Moa-ih pula.

"Memangnya Gui Bu-geh tidak pernah berjalan?" Orang itu menegas dengan melengak.

"Masa kau tidak tahu bahwa pembawaannya memang cacat, kedua kakinya kecil seperti anak bayi, cara berjalannya lebih mirip anak merangkak," Tutur Gui Moa-ih dengan tertawa.

"Lantaran khawatir dilihat orang, maka dia tidak pernah berjalan sendiri...." Pada saat itulah terdengar suara "hahaha" Orang tertawa, si Hwesio tadi melompat keluar dari kegelapan sambil berseru.

"Haha, sekali ini Kiau genit benar-benar jatuh habis-habisan." Setan pemakan manusia tadi juga tiba-tiba muncul pula, katanya sambil tertawa.

"Orang aneh dan jelek seperti Gui Bu-geh rasanya sukar dicari bandingannya di dunia ini, maka tidak heran siapa pun sukar menyamar seperti dia. Sudah sejak mula kutahu usahamu ini pasti akan sia-sia belaka." Mendadak si kerdil menggeliat sehingga tubuhnya mulur dua kaki lebih panjang, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik.

"Yang kupikirkan sekarang ialah dengan cara bagaimana akan kubikin Gui Bu-geh berjalan." Sekonyong-konyong Gui Moa-ih membalik tubuh dan secepat kilat melayang ke samping Siau-hi-ji, dengan belatinya dia ancam tenggorokan anak muda itu sambil membentak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment