"Betapa pun kau serang juga takkan mampu membunuhku lagi, apakah sekarang kau masih tidak percaya?" Jengek Siau-hi-ji.
Tubuh Kang Giok-long tampak gemetar, jidatnya sudah penuh butiran keringat, para penonton yang menyaksikan kejadian luar biasa ini pun ikut terkesima. Mereka adalah jago silat pilihan semua, mereka tahu ilmu pukulan Kang Giok-long yang hebat dan lihai itu, bahwa seorang dapat berdiri tanpa bergerak dan empat belas pukulan itu dapat dihindarinya, betapa kejadian ini sukar dibayangkan.
Akan tetapi "orang" ini justru sanggup berbuat demikian, belasan kali serangan Kang Giok-long itu benar-benar mengenai tempat kosong, ini disaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, mana bisa tidak percaya? Mana bisa tidak membuat mereka keder?
Dengan sendirinya mereka tidak tahu bahwa ilmu pukulan Kang Giok-long itu berasal dari satu sumber dengan kepandaian Siau-hi-ji, cuma pengetahuan Siau-hi-ji jauh lebih mendalam daripada Kang Giok-long. Kitab pusaka ilmu silat itu memang telah dibaca bersama oleh kedua orang, namun kecerdasan dan daya ingat Siau-hi-ji jauh lebih baik daripada Kang Giok-long, apalagi selama dua tahun ini Kang Giok-long sudah terkenal sebagai pendekar muda, putra Kang-lam-tayhiap Kang Piat-ho yang termasyhur itu, dengan sendirinya dia jarang berlatih, sebab itulah setiap pukulan Kang Giok-long segera diketahui oleh Siau-hi-ji sebelum serangan tiba.
Asalkan Siau-hi-ji memperhitungkan dengan tepat arahnya, maka dengan sedikit mengegos saja pukulan Kang Giok-long lantas luput. Mata Hay Ang-cu terbelalak lebar dengan air mata berlinang-linang, namun bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata kejut dan girang, air mata gembira.
Dilihatnya Siau-hi-ji mulai mendesak maju setindak demi setindak, Kang Giok-long juga mundur setindak demi setindak, kaki tangan seakan-akan sudah lemas seluruhnya, sedikit pun tiada keberanian untuk balas menyerang. Dengan sendirinya Li Tik bertiga menyingkir mundur terlebih jauh, mundur punya mundur dan akhirnya lantas lari.
Mendadak Kang Giok-long meloncat setingginya ke atas, dia berjumpalitan sekali di udara, habis itu ia pun lari terlebih cepat daripada Li Tik bertiga. Siau-hi-ji tidak mengejarnya, ia tertawa sambil memandangi bayangan mereka, gumamnya. "Aku tidak ingin membunuh ..., sungguh aku tidak ingin membunuhmu."
Dalam pada itu Hay Ang-cu telah memburu maju, jeritnya dengan suara gemetar. "Siau-ngay, kutahu kita pasti akan bertemu lagi, kutahu ...." Siau-hi-ji tergelak-gelak, katanya. "Siau-ngay siapa? Aku ini setan ... setan." Mendadak ia melayang mundur jauh ke belakang, waktu ia berjumpalitan pula di udara. "Plung", tahu-tahu ia jatuh ke tengah sungai.
Hay Ang-cu memburu sampai di tepi sungai, ia menangis sedih dari menjerit. "Siau-ngay ... Siau-ngay ... kalau engkau tidak sudi bertemu lagi denganku, untuk apa pula datang ke sini? Jika kau berharap menemuiku, mengapa kau pergi lagi setelah bertemu? Kenapa ... kenapa?...." Hay Si-tia menghela napas panjang, katanya. "Kenapa? Memangnya siapa yang dapat memberi penjelasan berbagai persoalan orang hidup di dunia ini? Anak Ang, sudah sejak mula kukatakan padamu agar sebaiknya kau lupakan dia, kalau tidak kau sendiri pasti akan menderita selamanya."
Malam sudah larut, sedapatnya Siau-hi-ji mengendurkan seluruh urat anggota badannya dan membiarkan dirinya terapung di permukaan air. Air sungai yang dingin menyerupai sebuah ranjang baginya. Bintang berkelip-kelip bertaburan di langit, ia merasa sangat nyaman.
Betapa pun ia sudah melihat orang yang ingin dilihatnya, walaupun perubahan mereka membuatnya terkejut dan heran, meski dia hanya melihatnya barang sejenak saja, tapi ini sudah cukup baginya. Ia merasa kalau melihatnya lebih lama mungkin malah akan berubah menjadi bosan. Persoalan yang membuatnya curiga selama beberapa hari kini pun dapat dipecahkan olehnya.
Pemuda baju ungu bermuka pucat itu memang betul bersekongkol dengan Kang Giok-long, sedangkan Kang Giok-long jelas adalah peran utama di belakang layar Siang-say-piaukiok. Dengan demikian, maka persoalan Tio Coan-hay dan Le Hong yang keracunan itu menjadi tidak perlu diherankan lagi. Arak yang mereka minum itu sudah pasti dituang oleh pemuda muka pucat itu.
Begitulah Siau-hi-ji merenungkan semua kejadian itu dan ketika mendadak terasa ada beberapa batang gala bambu sama meraih tubuhnya. Semula ia kaget, tapi segera teringat olehnya. "Mungkin mereka mengira aku ini orang yang mati tenggelam, maka berusaha hendak menolongku." Diam-diam ia merasa geli, maka dia sengaja memejamkan mata sekalian.
Terasa beberapa orang menyeretnya ke atas perahu, seorang meraba dadanya, lalu berseru. "Hah, panjang juga nyawa bocah ini, untung dia ketemu kita, belum sampai mati tenggelam." Lalu ada orang mencekoki dia dengan semangkuk kuah hangat, ada pula yang mengurut anggota badannya.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring berkata. "Orang macam apa yang tertolong itu? Coba kulihat." Segera Siau-hi-ji merasa tubuhnya digotong orang, tapi ia pun malas membuka mata, tapi terasa cahaya lampu yang menyilaukan, agaknya dia telah diantar masuk ke dalam kabin kapal.
Suara nyaring lantas berkata pula. "Orang itu sudah mati ataukah masih hidup?!" "Hidup!" Mendadak Siau-hi-ji membuka mata sambil berteriak tertawa. Begitu dia pentang mata segera dilihatnya seorang lelaki tinggi besar dengan dada baju setengah tersingkap, kopiahnya setengah miring, sebelah kaki terangkat tinggi di atas kursi sebelahnya, tangan memegang sebuah Huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan besar.
Dengan pipa cangklong itu dia tuding Siau-hi-ji, lalu berseru pula. "Jika orang hidup, mengapa kau pura-pura mati?" Belum lagi Siau-hi-ji menjawab, tiba-tiba diketahuinya dada "lelaki" ini terjumbul tinggi, pinggangnya ramping, meski alis tebal dan mata besar, tapi wajahnya tidaklah jelek.
"Lelaki" ini ternyata seorang perempuan, bahkan kalau perawakannya diperkecil sedikit, malahan dia tergolong perempuan cantik. Cuma sekarang dia terhitung perempuan gede, kuda teji, kalau boleh diberi poyokan, atau kalau menurut ukuran sepatu jaman kini, sedikitnya dia lebih besar dua nomor daripada ukuran perempuan normal.
Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas menjawab. "Bilamana kau ini perempuan, mengapa pula kau berdandan sebagai lelaki?" Seketika nona besar itu mendelik, dampratnya. "Kau tahu tidak siapa diriku?" "Peduli kau ini lelaki atau perempuan, yang jelas kau ini manusia," Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.
"Kukira kau sukar mendapatkan jodoh sekalipun kau sudah banting harga, kalau kau bersikap pula segalak ini, wah, siapa lagi yang berani melamarmu?" Mulut Siau-hi-ji memang usil dan tajam, selama dua tahun terakhir ini sedapatnya dia mengekang diri, tapi setelah muncul kembali toh penyakitnya ini sukar diperbaiki.
Apa mau dikatakan lagi kalau memang dasar wataknya begitu. Si nona gede itu menjadi gusar, bentaknya sambil gebrak meja. "Kau berani bicara demikian padaku?" Beberapa orang yang menggotong masuk Siau-hi-ji tadi menjadi ketakutan juga melihat sang nona marah-marah, serentak mereka berjaga-jaga di belakang Siau-hi-ji.
Tapi Siau-hi-ji berlagak tidak tahu, ia masih tertawa dan berkata. "Mengapa tidak berani? Asal kau ini manusia, betapa pun aku tidak ...." Belum habis ucapannya, beberapa orang itu menyela. "Inilah juragan putri kami, putri kesayangan Toan-lothaya, orang Kangouw menyebutnya Li-beng-siang (Beng-siang wanita), tentu kau pun pernah mendengar namanya, maka cara bicaramu hendaklah hati-hati dan sopan sedikit."
"O, kiranya kau ini putri Toan Hap-pui," Kata Siau-hi-ji dengan tertawa. "Bukankah ayahmu hendak mengirim suatu partai keuangan ke Kwan-gwa?" Nona gede yang berjuluk Li-beng-siang itu berkerut kening, tanyanya. "Dari mana kau tahu?" Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung, lalu bertanya pula.
"Muatan bahan obat-obatan ini apakah kau angkut dari Kwan-gwa?" Mata Li-beng-siang terbelalak lebih lebar, serunya. "Dari mana kau tahu kapal ini memuat bahan-bahan obat-obatan?" Siau-hi-ji tertawa, jawabnya. "Bukan saja aku tahu kapal ini memuat obat-obatan, bahkan kutahu obat-obat ini adalah Jinsom, Kuibwe, Lokka, Ngokacu ...." Sekaligus ia menyebut serentetan nama obat-obatan dan ternyata cocok dengan isi muatan kapal ini, sedikit pun tidak keliru.
Sudah tentu orang lain tidak tahu bahwa Siau hi-ji ini dibesarkan di tengah onggokan obat-obatan, jangankan cuma beberapa macam obat-obatan yang jamak ini, sekalipun seluruh obat-obatan di dunia ini dicampur-aduk menjadi satu juga dapat diendus olehnya.
Sekarang dia dapat menerangkan nama semua obat itu, keruan semua orang sama melongo heran. Sorot mata Li-beng-siang tampak berbinar gembira, dia mengisap tembakaunya dalam-dalam. "Berr", mendadak ia semburkan asapnya ke muka Siau-hi-ji, lalu berkata dengan kalem.
"Tak tersangka kau bocah ini ternyata ahli dalam hal obat-obatan." Air mata Siau-hi-ji hampir saja merembes karena pedas oleh asap tembakau itu, ia kucek-kucek matanya dan berkata dengan tertawa.
"Aku ini bukan saja ahli dalam hal obat-obatan, bahkan kuberani menyatakan jarang ada ahli yang lebih ahli daripadaku. Jika kau ini benar-benar Li-beng-siang, seharusnya kau mengundang aku ke perusahaan obatmu dengan segala kehormatan." Li-beng-siang mengisap pula tembakaunya, sekali ini asapnya tidak disemburkan lagi ke muka Siau-hi-ji melainkan cuma diembuskan dengan perlahan, habis asap tembakau terembus barulah mendadak ia bangkit dan melangkah ke dalam sambil berkata kepada anak buahnya.
"Berikan dia tukar pakaian dan antar dia ke Ging-ih-tong."
"Ging-ih-tong" Adalah nama rumah obat paling besar di kota Ankhing, bahkan terbesar di wilayah propinsi Anhwi. Oleh Li-beng-siang, putri kesayangan Toan Hap-pui itu, Siau-hi-ji ditempatkan di rumah obat atau apotek menurut istilah sekarang dan dijadikan kepala gu dang merangkap sebagai apoteker.