Halo!

Chapter 04

Memuat...

Pekerjaan Siau-hi-ji cukup lengang, dia tidak perlu ke bagian depan, makanya tidak perlu khawatir dikenali orang. Setiap hari dia hanya menimbang obat-obatan yang diperlukan menurut resep dan mencocokkan sisa persediaan, selebihnya dia boleh dikatakan menganggur.

Baru sekarang ia tahu bahwa Toan Hap-pui itu adalah hartawan paling kaya di sekitar lembah Tiangkang, semua perusahaan yang paling banyak mengeduk keuntungan di daerah ini hampir seluruhnya dimonopoli olehnya. Dan "Li-beng-siang" itu adalah putrinya yang tunggal, konon dia mempunyai dua orang kakak, tapi sudah mati sejak kecil, makanya orang menyebutnya "Samkohnio" atau si nona ketiga.

Samkohnio itu sering datang ke Ging-ih-tong, tapi dia tidak menggubris Siau-hi-ji, maka Siau-hi-ji juga tidak menggubris dia, meski Siau-hi-ji tahu si nona gede itu tampaknya galak, tapi sesungguhnya hatinya tidak jelek. Anehnya, semakin Siau-hi-ji tidak menggubris dia, kedatangan si nona gede ke rumah obatnya juga tambah sering, terkadang satu hari datang dua-tiga kali, tapi sekejap saja dia tetap tidak memandang Siau-hi-ji dan dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak ambil pusing, hanya diam-diam ia merasa geli saja.

Suatu hari Siau-hi-ji sedang berbaring di kursi malasnya berjemur sinar matahari, sinar matahari di permulaan musim dingin terasa sangat nyaman sehingga saking nikmatnya Siau-hi-ji hampir terpulas. Tiba-tiba Samkohnio itu mendekati dia, dengan pipa cangklongnya dia ketok sandaran kursi dan berkata, "Hai, bangun!" Dengan kemalas-malasan Siau-hi-ji membuka matanya dan menjawab, "Kau bicara dengan siapa?" "Di sini selain kau masakah ada orang lain?" Ucap Samkohnio.

"Tapi namaku bukanlah Hei," Kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Samkohnio jadi mendelik, tapi ia lantas tergelak-gelak, katanya, "Eh, ingin kutanya kau tentang pengiriman uang ayahku ke Kwan-gwa seperti pernah kau katakan itu, dari mana kau mendapat tahu?" "Memangnya ada apa dengan pengiriman uang itu?" Tanya Siau-hi-ji. "Telah dirampok orang di tengah jalan," Tutur Samkohnio dengan dingin.

Seketika mata Siau-hi-ji terbelalak, cepat ia bangun duduk dan berkata, "Telah dirampok orang? Memangnya pengiriman itu tidak dikawal oleh Siang-say-piaukiok?" "Justru Siang-say-piaukiok yang mengawalnya," Jawab Samkohnio. Tanpa terasa Siau-hi-ji meraba hidungnya sambil bergumam, "Aneh! Jika dikawal oleh Siang-say-piaukiok, mengapa kena dirampok orang pula?"

"Memangnya barang kawalan Siang-say-piaukiok tidak mungkin dirampok orang?" Jengek Samkohnio. "Hm, kulihat kedua orang she Li itu pada hakikatnya adalah kantong nasi belaka, hanya pandai gegares tapi tak bisa bekerja," Ujar Siau-hi-ji. "Meski orang she Li itu kantong nasi," Ujar Siau-hi-ji, "masih ada orang lain bukanlah kantong nasi." "Siapa?" Tanya Samkohnio. "Di dalam persoalan ini tentu banyak seluk-beluknya, cuma kau sendiri yang tidak tahu, malahan aku ... ai, aku sendiri pun tidak tahu."

"Kan omong kosong ocehanmu ini," Omel Samkohnio dengan mendelik. Setelah berpikir sejenak, kemudian Siau-hi-ji bertanya, "Orang macam apakah yang merampok itu, apakah kau tahu?" "Kiriman itu tiba-tiba hilang di tengah malam, pintu tak terbuka, jendela tak terpentang, penjaga juga tidak melihat apa-apa, bahkan suara kentut pun tidak terdengar dan tahu-tahu barang kiriman itu lantas terbang hilang seperti bersayap."

"Ini benar-benar peristiwa aneh," Ujar Siau-hi-ji. "Kukira kawanan perampok itu bisa ilmu sihir atau mata telinga orang-orang Siang-say-piaukiok yang mengawal itu memang cacat." "Jika begitu, mereka sendiri yang akan rugi," Ucap Samkohnio. "Memangnya mereka harus mengganti?" "Tentu, biarpun menggadaikan celana juga harus ganti," Jengek si nona gede.

Siau-hi-ji meraba-raba hidungnya pula dan bergumam, "Sungguh aneh, tadinya kukira pihak Siang-say-piaukiok yang maling teriak maling, tapi kalau mereka harus ganti rugi, lalu apa sebabnya bisa terjadi begini?" "Sebabnya mereka adalah kantong nasi semua, makanya barang kawalan mereka kena dirampok begitu saja, teori ini kan sangat sederhana?" "Tampaknya memang sangat sederhana, tapi bisa jadi di balik layar urusannya teramat ruwet."

"Apa artinya?" Tanya Samkohnio. "Aku pun tidak tahu apa artinya," Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. Samkohnio terbelalak memandangi anak muda itu, memandangi senyumannya, sampai sekian lama, tiba-tiba ia berteriak, "Sesungguhnya kau ini orang pintar atau orang bodoh?" Siau-hi-ji menghela napas panjang, ia membalik tubuh dan membenamkan kepalanya ke bawah siku, ucapnya dengan tak acuh, "Jika aku ini orang bodoh, tentu kehidupanku akan terlalui dengan gembira."

Esoknya, cuaca cukup cerah, sang surya tetap bersinar menghangat. Kembali Siau-hi-ji berbaring di kursinya dan berjemur sinar matahari. Sekujur badannya terasa kendur seluruhnya seakan-akan tak bertulang, ia berbaring dengan tenang-tenang seperti tidak pernah memikirkan sesuatu. Padahal sesungguhnya benaknya sedang bekerja keras dan tidak sedikit yang dipikirkannya.

Walaupun banyak persoalan yang dipikirkannya, tapi jika diringkas dan diperas kesimpulannya hanya dua kalimat saja, yakni "Mengapa barang kiriman itu kena dirampok? Siapa yang merampoknya?" Pertanyaan itulah yang belum dapat dipecahkannya. Dalam pada itu, Samkohnio yang dibikin pergi dengan mendongkol itu ternyata datang pula. Sambil memicingkan sebelah mata Siau-hi-ji memandang nona itu, terlihat sikapnya sangat gembira, dengan tergesa-gesa ia mendekati Siau-hi-ji dan berseru, "He, kau salah!"

Sebenarnya Siau-hi-ji malas untuk mengubrisnya, tapi demi mendengar seruan itu, mau tak mau ia lantas membuka mata dan bertanya, "Dalam hal apa aku salah?" "Persoalan itu ternyata semakin sederhana, sedikit pun tidak ruwet," Kata Samkohnio, "O?!" Singkat saja suara Siau-hi-ji. Mata si nona tampak bersinar, katanya pula, "Baru saja kuterima berita, katanya barang kiriman itu sudah dapat dirampas kembali."

"Dirampas kembali oleh siapa?" Tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak. "Usia orang itu kira-kira sebaya denganmu, tapi kepandaiannya jauh lebih hebat daripadamu," Tutur Samkohnio. "Apabila kau tidak malas begini, bisa jadi kau akan mencapai sepertiganya." Serentak Siau-hi-ji melompat bangun, katanya, "Yang kau maksudkan apakah Kang Giok-long?" Samkohnio melengak, "Dari mana kau tahu?" Tanyanya heran.

"Kutahu, tentu saja kutahu ... segala apa pun kutahu ... Hahaha!" Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa. Melihat anak muda itu ya tertawa, ya berteriak, ya berjingkrak, Samkohnio jadi terkesima malah. Akhirnya ia tidak tahan dan berkata, "Apakah kau ini orang gila?" "Jika benar aku gila, tentu ada sementara orang akan hidup lebih gembira," Sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sekonyong-konyong ia meloncat dan mencium pipi Samkohnio, maklumlah dia jauh lebih pendek dari pada si nona. Habis itu ia lantas berseru pula, "Cuma sayang aku bukan orang gila, makanya hari apes mereka kini pun sudah dekat." Sambil berkeplok dan tertawa gembira, Siau-hi-ji terus membalik tubuh dan lari ke dalam gudang obat. Samkohnio meraba pipinya yang baru di-"ngok" Oleh Siau-hi-ji, ia pandang anak muda itu dengan mata terbelalak seperti orang melihat sesuatu makhluk aneh.

Sampai lama sekali, mendadak ia menggigit bibir dan tersenyum penuh arti, ia bergumam sendiri, "Si gila cilik ... kau benar-benar si gila cilik." Siau-hi-ji sudah berada di kamarnya, di dalam kamar telah dinyalakan pelita minyak, karena cuma memakai satu sumbu, maka cahaya pelita itu tidak cukup terang. Dengan terkesima Siau-hi-ji memandangi sumbu api pelita, ia tersenyum dan bergumam, "Kang Giok-long, kau ternyata sangat cerdik, kau pura-pura membuat uang kiriman itu dirampok, habis itu kau sendiri berlagak seperti berhasil merampasnya kembali ... Perkara kejahatan yang penuh rahasia itu ternyata dapat kau pecahkan dengan mudah saja, maka siapakah orang Kangouw yang takkan kagum padamu, siapa pula yang tahu bahwa semua ini tidak lebih adalah permainan sandiwara dirimu sendiri."

Ia menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, "Tapi masih ada diriku ... Kang Giok-long, semoga jangan kau lupakan bahwa di dunia ini masih ada diriku. Biarpun isi perutmu penuh akal muslihat, tapi tiada suatu pun akalmu yang licin itu mampu mengelabui aku." Malam sudah larut, suasana hening, hanya angin mendesir memecah kesunyian. Tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara tertahan, "He, si gila cilik, lekas keluar!" Cepat Siau-hi-ji membuka daun jendela, dilihatnya Toan-samkohnio berdiri di luar dengan memakai mantel merah.

Ia mengernyit dahi, katanya, "Si gila perempuan, tengah malam buta untuk apa kau bikin ribut? Jika kau ingin dicium lagi, sedikitnya kau harus tunggu sampai besok pagi." Muka Samkohnio ternyata menjadi merah juga, namun tidak marah. Ia hanya menggigit bibir, lalu berkata, "Ada ... ada urusan penting harus kuberitahukan padamu." "Urusan penting apa?" Tanya Siau-hi-ji. "Persoalan itu ternyata tidak begitu sederhana," Ucap Samkohnio dengan gegetun.

Mata Siau-hi-ji terbeliak, ia menegas, "Kau mendapatkan berita lain pula?" "Ya, baru saja kuterima kabar lagi bahwa ... bahwa barang kiriman itu kembali dirampok orang pula." Tanpa memakai sepatu Siau-hi-ji lantas melompat keluar. Sekali ini dia benar-benar terkejut, "Apakah betul kabar yang kau terima ini?" Tanyanya. "Tentu saja betul, sedikit pun tidak bohong," Jawab Samkohnio. Siau-hi-ji gosok-gosok tangannya dan bergumam, "Barang kiriman kembali dirampok orang, betapa pun hal ini tidak mungkin terjadi. Aku benar-benar tidak dapat mengerti .... Eh, kau tahu siapa yang merampoknya?" Samkohnio menghela napas, jawabnya, "Belum diketahui."

"Memangnya barang kiriman itu hilang mendadak di tengah malam pula? Apakah para jago pengawal dari Siang-say-piaukiok itu kembali suara kentut pun tidak mendengar dan tahu-tahu barang yang mereka jaga sudah lenyap? Apakah mungkin mereka sedang main sandiwara pula? Tapi bukankah cara demikian ini terlalu bodoh? Orang pintar seperti mereka itu mana bisa melakukan perbuatan sebodoh ini?" "Tapi sekali ini keadaannya sama sekali berbeda dengan kejadian pertama," Ucap Samkohnio.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment