Apakah kedatangan kalian hendak menolong dia ini? Kalau betul, apa yang kalian mau? Jawab si Hwesio dengan terbahak.
Jika kalian tidak lekas enyah dari sini, segera kubunuh dia lebih dulu, bentak Gui Moa-ih. Hahaha, kukira kepandaianmu setinggi langit, tak tahunya, hahaha, paling-paling cuma begini saja? Si Hwesio bergelak tertawa pula. Si setan pemakan manusia juga menimbrung dengan tertawa.
Kau mengancam hendak membunuh dia, apakah kau mampu membunuhnya? Di tengah gelak tertawa ramai itu, Siau-hi-ji yang tergantung jungkir di pohon dan tak bisa berkutik itu mendadak bisa bergerak. Bukan saja bisa bergerak, bahkan gerakannya secepat kilat. Sekali tangannya bergerak, serentak beberapa Hiat-to penting di tubuh Gui Moa-ih ditutuknya.
Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa gembira, katanya. Sekarang tentunya kau tahu bahwa tidaklah enak hendak menarik keuntungan atas diriku, cepat atau lambat pasti kutagih kembali pokok bersama rentenya sekaligus. Setan pemakan manusia itu mendekati Gui Moa-ih dan mengendus-endus kuduknya, tiba-tiba ia mengunjuk rasa girang, serunya sambil berkeplok. Wah, bagus, bagus sekali. Tubuh orang ini sudah tidak bau tikus lagi, jika kutambahi sedikit bumbu dan diberi kecap nomor satu untuk dimasak Ang-sio, kukira rasanya pasti tidak mengecewakan.
Apa... apa? Kau berani.... Seru Gui Moa-ih dengan gelagapan. Setan pemakan manusia itu meraba-raba mukanya, katanya dengan tertawa. Kau marah apa? Kulitmu yang budukan ini bisa menjadi isi perutku, kan untung bagimu? Orang yang pernah kumakan semuanya lebih empuk dan lebih harum daripadamu, jika tidak mengingat sedikit namamu di dunia Kangouw, tulang igamu ini tidak nanti menarik seleraku.
Sorot mata Gui Moa-ih menampilkan rasa kejut dan takut, dengan terbelalak ia menegas. Kau... jangan-jangan engkau ini tidak makan kepala manusia Li Toa-jui? Setan pemakan manusia itu menengadah dan tertawa, jawabnya. Sudah dua puluh tahun aku tidak bergerak di dunia Kangouw, tak tersangka masih ada yang ingat pada namaku. Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas lunglai.
Jika orang lain bilang mau makan dia, tentu dia takkan percaya. Tapi kalau Li Toa-jui mengatakan hendak makan dia, maka hal ini pasti bukan berseloroh belaka. Bilamana seorang mengetahui dirinya sebentar lagi akan menjadi isi perut orang, maka perasaannya jelas tidak enak, betapa pun besar nyali orang itu juga pasti akan gelisah.
Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata. Untuk apa kau menakut-nakuti dia lagi, jika pecah nyalinya karena ketakutan, kan dagingnya menjadi pahit dan tidak enak dimakan? Betul-betul anak didikku dan harus dipuji, seru Li Toa-jui dengan tertawa. Syukur kau mengingatkan aku, setelah kurebus dia, dagingnya yang paling empuk di bagian pantat pasti akan kuberikan padamu.
Ah, aku tidak mau, cukup kau sisihkan satu jarinya saja untukku agar dapat kugerogoti seperti makan wortel di waktu iseng, ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. Haha, kau benar-benar sangat berani, kata Li Toa-jui. Boleh juga, kukira tangannya yang seperti cakar ini pasti lebih gurih daripada kaki bebek, kata Li Toa-jui.
Mendadak seorang melompat turun dari atas pohon, pakaiannya yang putih kelabu itu berkibar tertiup angin, dia hinggap di depan Gui Moa-ih, tanyanya sambil menyeringai. Apakah kau cuma kenal Li Toa-jui saja dan tidak kenal aku? Orang ini yang tadi terpaksa melompat turun karena sambitan senjata rahasia Gui Moa-ih, pada kopiahnya yang besar itu masih tampak menancap beberapa biji jarum mengkilap, agaknya dia benar-benar kaget dan jatuh ke bawah walaupun jarum itu tidak tepat mengenai tubuhnya.
Gui Moa-ih memandangnya sekejap, lalu memejamkan mata dan berkata dengan gegetun. Yang main sembunyi-sembunyi dan berlagak sebagai setan seharusnya sudah kuduga pasti kau si setengah setan setengah manusia Im Kiu-yu ini. Tapi orang itu lantas menggunakan ranting pohon untuk menyingkap kelopak mata Gui Moa-ih dan berkata. Coba pentang matamu yang lebar, Im Kiu-yu masih berada di sana.
Terpaksa Gui Moa-ih membuka mata dan memandang ke sana. Benar juga, di sana masih berdiri sesosok bayangan orang yang berdandan dan berperawakan persis seperti orang di depannya sekarang. Rupanya orang yang menyaru sebagai setan tadi terdiri dari dua orang, pantas sebentar berada di sini dan lain saat terlihat di sana.
Gui Moa-ih menghela napas panjang, tanyanya kemudian. Capjin sekarang datang berapa orang? Tidak banyak dan juga tidak sedikit, hanya enam saja, jawab orang itu. Dan aku inilah bikin rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri Pek Khay-sim adanya. Apakah kau keparat ini pernah mendengar nama kebesaranku?
Sudah lama kudengar bahwa di antara Capjin Pek Khay-sim terhitung yang paling tidak becus, orang Kangouw hanya menggunakan dia untuk mengisi jumlah Capjin saja, jawab Gui Moa-ih tak acuh. Tentu saja Pek Khay-sim menjadi gusar, tapi segera ia tertawa. Haha, tidak perlu kau memecah belah kami, usiaku tahun ini sudah empat puluh delapan, tidak nanti kuterjebak oleh muslihatmu.
Haha, Pek Khay-sim benar-benar sudah lebih dewasa sekarang, seru Hwesio tadi sambil berkeplok. Tapi umurmu jelas sudah lima puluh dua, mengapa kau bilang empat puluh delapan, kau bukan orang perempuan, untuk apa merahasiakan umurmu? Aku kan masih jejaka, belum punya bini, jika tidak mengaku lebih muda sedikit, siapa yang mau kujadikan istri? jawab Pek Khay-sim dengan mendelik.
Jika benar tiada perawan yang sudi menjadi istrimu, maka seadanya ambil saja To Kiau-kiau, ujar Li Toa-jui dengan tertawa. Kan pernah kau dengar bahwa lebih baik setengah perempuan daripada tidak ada perempuan sama sekali. Yang menyamar sebagai si kerdil Gui Bu-geh tadi jelas bukan lain daripada To Kiau-kiau.
Dia tertawa, katanya kepada Li Toa-jui. Jangan khawatir, akan lebih baik kujadi istrinya daripada diperistri olehmu, betapa pun buruk dia memperlakukan istrinya, paling tidak pasti takkan makan istrinya sendiri. Peristiwa Li Toa-jui makan istrinya sendiri sebenarnya sudah tak terpikir lagi olehnya, dahulu dia sendiri terkadang malah suka mengungkatnya untuk menakuti orang lain.
Tapi sekarang usianya makin lanjut, di tengah malam sunyi, dalam keadaan sendirian, terkadang ia tak dapat tidur dan teringat kepada kejadian masa lampau, maka hatinya menjadi sedih juga, bila terkenang pada istrinya yang berbudi halus dan dapat melayani dia dengan baik, teringat kepada tubuh sang istri yang montok dan putih... dan hatinya lantas pedih seperti ditusuk jarum.
Pada umumnya, kalau sudah memasuki masa tua barulah seorang akan merasakan betapa sedihnya orang kesepian, betapa berharganya cinta kasih, betapa hangatnya keluarga. Cuma sayang, ketika Li Toa-jui merasakan semua ini, sementara itu sang waktu sudah lalu, menyesal pun sudah terlambat.
To Kiau-kiau hidup berkumpul dengan Li Toa-jui dan lain-lain selama dua puluh tahun, dengan sendirinya dia tahu jalan pikiran kawan-kawannya itu. Maka apa yang diucapkannya tadi benar-benar menusuk perasaan Li Toa-jui. Begitulah Li Toa-jui menjadi marah, bentaknya. To Kiau-kiau, bilamana kau menyinggung lagi hal ini, segera kubunuh kau.
Apa gunanya kau bunuh aku? Dagingku kan tidak selezat daging istrimu? jawab Kiau-kiau dengan tertawa. Li Toa-jui meraung murka terus menerjang maju. Hm, apa kau ingin berkelahi benar-benar? jengek To Kiau-kiau. Ayolah maju, memang sudah lama juga ingin kuhajar adat padamu. Nyata kedua orang benar-benar hendak bergebrak.
Syukur si Hwesio lantas mengadang di tengah mereka, serunya dengan tertawa. Hahaha, kalian sudah tergolong orang tua, mengapa masih seperti anak kecil saja, berkelakar tetap berkelakar, kenapa jadi sungguhan? Apa tidak khawatir ditertawakan orang? Hm, kau yang bikin gara-gara, sekarang berlagak sebagai wasit? jengek Pek Khay-sim.
Dia tepuk-tepuk pundak Gui Moa-ih, lalu berkata pula. Nah ingat baik-baik di balik tertawa Hwesio ini tersembunyi belati, dia bisa tertawa sambil menikam, kau harus waspada kelak. Ya, kutahu dia ini Ha-ha-ji si tertawa sambil menikam, kata Gui Moa-ih dengan gegetun.
Tiba-tiba pandangannya beralih ke arah si baju putih bermuka pucat itu dan bertanya. Dan kau....? Si baju putih mengebas lengan bajunya sehingga kelihatan tangan kanannya yang buntung, sebagai gantinya, lengannya bersambung sebuah kaitan baja yang mengkilat, sedangkan tangan kiri tampak merah membara.
Hah, si tangan... tangan berdarah! Toh Sat! seru Gui Moa-ih. Toh Sat hanya mendengus saja. Bagus, bagus, kiranya Capjin benar-benar telah datang enam, apa yang dapat kukatakan pula bila aku sudah jatuh dalam cengkeraman kalian, ucap Gui Moa-ih dengan menyengir pedih. Benar, hanya ada mati bagimu, jengek Toh Sat sambil melangkah maju, sinar mengkilap berkelebat, kaitannya terus menggantol ke leher Gui Moa-ih.
Nanti dulu! cepat Li Toa-jui menarik tangan Toh Sat. Apa maksudmu? tanya Toh Sat dengan bengis. Wah, jangan-jangan penyakit gemar membunuh Toh-lotoa kumat lagi? ujar Li Toa-jui. Kalau sudah tahu, mengapa kau merintangi aku? kata Toh Sat.
Mana berani kurintangi kehendak Toh-lotoa, cepat Li Toa-jui menjelaskan dengan tertawa. Soalnya daging di tubuh orang ini tidak banyak, jika dia dibunuh dulu baru nanti kurebus dia, tentu darahnya akan banyak keluar dan dagingnya menjadi tidak ada rasanya. Masa kau hendak merebusnya hidup-hidup? tanya Toh Sat.
Ya, sudah lama aku tidak makan enak, sudilah Toh-lotoa memberi bantuan, ucap Li Toa-jui. Lain kali.... Lain kali pasti juga akan kubantu memuaskan selera Toh-lotoa, tukas Li Toa-jui. Hmk, kembali Toh Sat cuma mendengus saja sambil menarik kembali tangannya.