Halo!

Chapter 05

Memuat...

Gui Moa-ih berteriak dengan gemetar. "Li Toa-jui, betapa pun kita adalah sama-sama orang persilatan, jika kau bunuh aku, mati pun aku tidak menyesal, tapi mana boleh..." Tiba-tiba ia merasa mual sehingga isi perutnya tertumpah keluar.

"Bagus, tumpahlah, paling baik tumpah sebersih-bersihnya agar bisa lebih cepat kurebus," ucap Li Toa-jui dengan tertawa. "Kalau tidak, sedikitnya aku harus menunggu tiga hari sampai perutmu menjadi kosong..." Dengan berlepotan kotoran yang ditumpahkannya, dengan suara serak Gui Moa-ih berteriak. "Jika kau berani... berani... jadi setan pun takkan kuampunimu."

"Hihi, nyali paman Li biasanya besar, dia tidak pernah takut pada setan, sebaliknya setan yang takut padanya," ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. "Masa... masa kau tidak jaga etika orang Kangouw lagi?" seru Gui Moa-ih dengan parau. "Paman Li tidak kenal sanak keluarga, apalagi moral orang Kangouw segala, dia tidak peduli," ujar Siau-hi-ji.

"Betul, yang kuketahui cuma makan enak, cara bagaimana harus kuolah dagingmu..." Dengan tertawa Li Toa-jui lantas mencubit daging pipi Gui Moa-ih, lalu bergumam sendiri. "Wah, orang segede ini sedikitnya perlu pakai dua kati kecap nomor satu, satu kati arak Siauhin, dua tahil bawang brambang dan... dan setengah tahil bubuk Ngohiang." Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas semua, ia tidak dapat marah lagi, dengan suara gemetar ia berkata, "Mohon... mohon... jangan... jangan..."

Orang seperti dia juga mengucapkan kata "mohon", maka dapat dibayangkan betapa ketakutannya. Tapi Siau-hi-ji lantas menanggapi dengan tertawa. "Hati paman Li sangat keras, sia-sia belaka meskipun kau mohon ampun seribu kali padanya." Sekali angkat Li Toa-jui lantas jinjing tubuh Gui Moa-ih, katanya dengan tertawa. "Nah, para saudara, perutku sudah lapar, kupergi lebih dulu..." Belum habis ucapannya Gui Moa-ih telah meraung keras-keras satu kali, lalu tidak sadarkan diri.

"Haha, semaput, dia semaput ketakutan!" seru Ha-ha-ji sambil berkeplok tertawa. "Li Toa-jui memang bisa saja. Haha!" "Sekarang tentu kalian tahu, betapa pun buasnya seorang juga merasa takut akan dimakan orang," ujar Li Toa-jui dengan tertawa. To Kiau-kiau lantas berseru sambil mendongak ke atas. "Nah, Im Kiu-yu, kau dengar tidak, orang sekarang tidak lagi takut pada setan melainkan cuma takut pada Li Toa-jui, maka makhluk setengah setan dan setengah manusia seperti kau tiada gunanya lagi."

Im Kiu-yu melompat turun dari pucuk pohon, katanya dengan tertawa seram. "Apakah kau ingin aku berkelahi dengan Li Toa-jui?" "Kukira kau tidak berani," ujar To Kiau-kiau tertawa. "Jika kubinasakan Li Toa-jui, nanti kalau kau mati kan aku yang harus membeli peti mati untuk menguburmu," ujar Im Kiu-yu. "Betul, orang macam kau ini andaikan mati juga mayatmu akan dihancurkan orang," sambung Li Toa-jui dengan tertawa. "Jalan paling selamat kukira harus kumakan kau ke dalam perutku."

"Tapi aku bukan Gui Moa-ih, aku takkan semaput oleh gertakmu," kata To Kiau-kiau dengan terkikik-kikik. Pek Khay-sim meraba-raba kepala Gui Moa-ih, ucapnya. "Setelah siuman, si keparat ini pasti akan tunduk kepada setiap perintah kita. Jika kita ingin membongkar liang tikus Gui Bu-geh, bantuan keparat ini sangat dibutuhkan." "Memang begitulah, kalau tidak, untuk apa kita menggertaknya dengan susah payah," ujar Ha-ha-ji.

"Tapi aku yang celaka, aku tergantung lebih lama di atas pohon," seru Siau-hi-ji dengan tertawa sambil menggeliat untuk mengendurkan urat pinggang. To Kiau-kiau memandang anak muda itu sejenak, tiba-tiba ia berkata. "Ada beberapa persoalan ingin kami tanya padamu." "O, urusan apa?" jawab Siau-hi-ji. "Tadi budak So Ing sudah hampir menceritakan rahasia Ihgiok, mengapa kau malah mencegahnya?" tanya To Kiau-kiau.

"Ya, betul, mengapa kau mencegahnya," timpal Pek Khay-sim. "Padahal kau kan hendak perang tanding dengan Hoa Bu-koat? Jika kau dapat menyelami rahasia ilmu Ihgiok kan menguntungkan." Siau-hi-ji tertawa kemalas-malasan, jawabnya. "Bila sudah kuketahui rahasia ilmu silatnya, lalu apa artinya kalau nanti aku berkelahi dengan dia?" "Jika dia dapat kau bunuh apakah juga tiada artinya?" kata Pek Khay-sim.

"Membunuh orang juga perlu memakai tenaga, dengan demikian baru ada artinya, kalau membunuh orang terjadi seperti menyembelih ayam atau anjing, lantas apanya yang menarik?" ujar Siau-hi-ji. Untuk sejenak Pek Khay-sim melotot padanya, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berkata. "Ah, kiranya kau ini orang baik." Mendadak ia tertawa pula sambil berkeplok. "Hah, sungguh janggal dan sukar untuk dipercaya bahwa anak yang dibesarkan oleh Ha-ha-ji, Li Toa-jui, Toh-lotoa, To Kiau-kiau dan Im Kiu-yu ternyata seorang yang baik...."

Dia pandang kelima orang kawannya itu sejenak, lalu berseru pula. "Haha, seorang serigala bisa melahirkan anjing gembala, apakah kalian tidak merasa malu?" Air muka Im Kiu-yu dan Toh Sat tampak berubah, tapi Li Toa-jui lantas menanggapi dengan bergelak tertawa. "Hah, tampaknya kau pun hendak meniru To Kiau-kiau, kau ingin mengadu domba kami?" To Kiau-kiau mengikik tawa, ucapnya. "Dia telah dikerjai habis-habisan oleh Siau-hi-ji, sudah tentu hatinya masih panas."

"Panas hati bisa apa?" tukas Ha-ha-ji. "Haha, biarpun sepuluh Pek Khay-sim juga tidak dapat menandingi seorang Siau-hi-ji. Jika kau bermaksud menuntut balas, kukira sebaiknya batalkan saja niatmu ini." Pek Khay-sim tidak marah, ia berkata pula dengan tertawa. "Mana aku panas hati segala? Bilamana kelak sarang serigala dicaplok oleh anjing gembala, nah, baru tahu rasa." Ucapan ini membuat air muka Li Toa-jui merah padam.

Akan tetapi Siau-hi-ji pura-pura tidak tahu, serunya sambil tertawa. "Dasar bikin rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri, kalau memang begitu wataknya, mati pun takkan berubah." Pada saat itulah tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring merdu. "Capjin memang tidak bernama kosong, baru sekarang aku benar-benar kagum." Tiba-tiba batang pohon yang besar sana merekah dan berujud sebuah pintu, batang pohon itu ternyata geronggang bagian dalamnya dan persis dapat dibuat sembunyi satu orang, kalau sudah sembunyi di situ, jelas sukar lagi ditemukan.

Dari rongga batang pohon itulah So Ing lantas melangkah keluar, ia memberi hormat dengan lembut, ucapnya pula dengan tersenyum. "Capjin yang termasyhur sudi berkunjung kemari, maafkan aku tidak melakukan penyambutan yang layak." "Hahaha, nona jangan sungkan-sungkan," seru Ha-ha-ji dengan tertawa. "Orang-orang macam kami pada dasarnya memang bertulang rendah, bila diperlakukan sungkan-sungkan malah kami akan takut dikibuli olehmu."

"Di depan tokoh-tokoh Capjin masa ada orang berani berbuat jahat, itu kan seperti pemeo yang berujar, main kapak di depan tukang kayu, hanya cari penyakit sendiri," kata So Ing. Sampai di sini, sekonyong-konyong Li Toa-jui melompat pergi sambil berteriak-teriak. "Pergi, ayo pergi, lekas pergi!" "Eh, secawan arak saja belum kusuguhkan pada kalian, mengapa kalian terburu-buru hendak pergi?" ujar So Ing.

"Jika tidak lekas pergi, rasanya aku tidak tahan lagi," kata Li Toa-jui sambil menoleh. "Kenapa engkau tidak tahan?" tanya Kiau-kiau. "Melihat tubuh budak yang putih mulus ini, sungguh air liurku bisa menetes," ucap Li Toa-jui. "Padahal kutahu Siau-hi-ji pasti tidak mengizinkan kumakan dia. Nah, kan bisa gila aku jika tidak lekas tinggal pergi saja." Habis bicara, segera ia panggul Gui Moa-ih terus dibawa lari pergi secepat terbang.

Segera Pek Khay-sim juga berteriak. "Betul, aku pun mau pergi saja. Melihat nona cantik begini, betapa pun hati jejaka seperti diriku ini pun rada-rada guncang, maka lebih baik kupergi saja daripada nanti bertengkar dengan Siauhi-ji memperebutkan si cantik." Di tengah ucapannya, sekali melayang, hanya sekejap saja ia pun menghilang. Menyusul Ha-ha-ji juga lari pergi sambil berseru. "Haha, memang betul, kalau tidak lekas pergi mungkin juga Hwesio bisa melanggar pantangan."

"Untung aku ini setengah perempuan, kalau tidak... hihihi!" To Kiau-kiau tertawa nyekikik, ia lirik Siau-hi-ji sekejap, lalu melayang ke atas pohon terus lenyap. Im Kiu-yu tertawa seram, katanya. "Jika nona merasa bosan menjadi manusia, silakan cari padaku untuk menjadi setan, menjadi setan terkadang lebih menarik daripada menjadi manusia. Malahan jaman sekarang setan perempuan sangat laris, permintaan banyak, persediaan kurang."

"Terima kasih atas perhatianmu, cuma sekarang hidupku terasa cukup menyenangkan," jawab So Ing sambil tertawa. Sambil menuding Siau-hi-ji, Im Kiu-yu menambahkan pula. "Jika kau mencintai bocah ini, tidak terlalu lama tentu kau akan merasa bosan hidup..." Bicara sampai di sini, tahu-tahu suaranya sudah berada di kejauhan.

Toh Sat menatap Siau-hi-ji tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa. "Masih berapa lama kau tinggal di sini?" "Mungkin tidak terlalu lama lagi," jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum. "Kau tahu di mana akan dapat menemukan kami?" tanya Toh Sat pula. "Tahu," sahut Siau-hi-ji. "Bagus!" ucap Toh Sat, tahu-tahu dia sudah melayang jauh ke sana, mendadak ia berpaling pula dan memberi pesan.

"Awas, bilamana perempuan cantik juga makan manusia, biasanya berikut kepalanya juga akan dimakan mentah-mentah." "Jangan khawatir, Cianpwe," sela So Ing dengan tertawa. "Nafsuku makan biasanya kurang baik, maka selamanya aku cuma makan barang tak berjiwa." Begitulah, dalam waktu singkat suasana hutan menjadi sunyi senyap.

Dengan tersenyum So Ing memandang Siau-hi-ji, tanyanya. "Waktu kau digantung di sini oleh Gui Moa-ih tadi, kawanan Capjin ini sudah tiba?" "Ya, kedatangan mereka sangat kebetulan," jawab Siau-hi-ji tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment