Halo!

Chapter 05

Memuat...

Beda bagaimana? Apakah hilangnya uang kiriman ini mereka tidak perlu memberi ganti rugi lagi? Ya, betul, mereka memang tidak perlu memberi ganti rugi lagi. Sebab apa? Teriak Siau-hi-ji sambil melonjak.

Sorot mata Samkohnio menjadi sayu, katanya. Sebab segenap jago pengawal Siang-say-piaukiok, dari petugas yang rendah sampai pejabat pimpinan, seluruhnya sembilan puluh delapan orang kini telah mati semua, hanya tersisa seorang saja, yaitu tukang kuda yang biasa memberi makan pada kuda. Siau-hi-ji mendekap kepalanya dan termenung sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia berseru.

Dan bagaimana dengan Kang Giok-long itu? Kang Giok-long bukan orang perusahaan pengawalan Siang-say-piaukiok. Tapi semula kan dia yang merampas kembali barang kiriman itu, dia... dia tidak.... Setelah berhasil merampas kembali barang kiriman itu dia lantas undurkan diri dengan berjasa, bukankah cara demikian sesuai tingkah laku seorang ksatria sejati, seorang pahlawan tulen?! Siau-hi-ji terkekeh-kekeh, jengeknya.

Hm, hebat amat ksatria sejati, pahlawan tulen! Bisa jadi sebelumnya dia sudah tahu barang kiriman bakal dirampok lagi, makanya dia lantas mengeluyur pergi. Maksudmu... perampokan kedua kalinya itu dilakukan oleh bandit yang sama pada perampokan pertama kalinya? Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya. Masa tidak mungkin begitu? Tidak mungkin, Kata Samkohnio. Sebab apa? Tanya Siau-hi-ji.

Orang yang merampok pada pertama kali itu sudah terbunuh semua oleh Kang Giok-long, waktu dia pulang dengan membawa harta kiriman itu diantar bersama dengan kepala bandit itu. Akal bagus! Sungguh akal yang keji! Siau-hi-ji berkeplok tangan. Samkohnio menatapnya tajam-tajam, lalu berkata pula dengan perlahan. Apalagi perampokan kedua kalinya hanya dilakukan oleh seorang saja... sembilan puluh delapan jiwa jago pengawal Siang-say-piaukiok terbinasa seluruhnya di tangan seorang ini.

Hanya satu orang? Siau-hi-ji menegas. Hanya satu orang dalam semalam saja sekaligus menghabiskan sembilan puluh delapan nyawa? Siapakah gerangan begitu kejam di dunia Kangouw ini yang memiliki pula akal selihai itu? Konon orang itu adalah seorang kakek berewok yang jenggot alisnya sudah beruban.... Siapa yang melihatnya? Tanya Siau-hi-ji. Dengan sendiri si tukang kuda yang lolos dari lubang jarum itu.

Jika begitu dia.... Begitu dia mendengar jeritan pertama segera dia sembunyi di balik onggokan rumput makanan kuda, Sela Samkohnio. Didengarnya suara jeritan susul menyusul terjadi di dalam rumah dan berlangsung dalam waktu singkat.... Cepat amat gerakan goloknya! Seru Siau-hi-ji. Ya, meski tidak lama berlangsungnya pembunuhan itu, habis itu dia lantas melihat seorang kakek berewok tinggi besar keluar dari rumah dengan membawa golok sambil terbahak-bahak puas. Kakek itu memakai baju warna muda, tapi kini telah berubah menjadi merah berlepotan darah.

Hm, teliti amat cara melihat tukang kuda itu, Jengek Siau-hi-ji. Hanya dua-tiga kejap saja dia memandang, lalu tidak berani melihatnya. Dia terus sembunyi di situ hingga pagi baru merangkak keluar, antero pakaiannya juga sudah basah kuyup oleh keringat dinginnya. Siau-hi-ji meraba dahi dan berkata pula dengan acuh. Ceritamu ini seperti ki dalang yang sedang mendongeng, setiap kejadian yang kecil-kecilan juga diuraikan dengan jelas dan menarik.... Seorang yang baru lolos dari renggutan maut masih sanggup melukiskan apa yang dilihatnya dengan begitu jelas, tukang kuda itu sungguh hebat dan cermat.

Ya, waktu kudengar itu aku pun merasakan dia teramat cermat, Ujar Samkohnio dengan tertawa cerah. Bilakah kau mendengar berita itu? Kira-kira setengah jam yang lalu. Bilamana terjadi perampokan kedua itu? Kemarin malam. Masa beritanya bisa datang secepat itu? Berita merpati pos, Tutur Samkohnio. Di Ankhing sini pusatnya, beberapa ribu li sekeliling sini, di tujuh sembilan kota besar kecil tersebar jaringan merpati pos keluarga kami.

Dan begitu kau menerima berita itu segera kau memburu kemari untuk memberitahukan padaku? Samkohnio mengiakan. Mendadak Siau-hi-ji berteriak. Lalu apa sangkut-pautku dengan urusan ini? Mengapa kau terburu-buru memberitahukan padaku? Apakah kau terlalu iseng, di rumah tidak ada pekerjaan? Melengak juga si nona gede, ia tergagap. Ini aku.... Memangnya kau sangka aku ada hubungannya dengan kaum perampok itu? Seru Siau-hi-ji dengan melotot.

Tidak! Jawab Samkohnio sambil membanting kaki. Bukan begitu maksudku. Habis apa maksudmu? Tanya Siau-hi-ji. Wajah Samkohnio menjadi merah dan ternyata tidak marah, bahkan dia menunduk, lalu berkata dengan suara lirih. Soalnya... kau adalah sahabatku, seseorang kalau menemukan kejadian aneh tentu akan diberitahukan kepada sahabat sendiri.... Sahabat? Teriak Siau-hi-ji. Aku tidak lebih cuma seorang pegawaimu, mengapa kau menganggap aku sebagai sahabatmu? Muka Samkohnio bertambah merah dan kepalanya semakin menunduk, jawabnya.

En... entah, aku pun tidak tahu. Terbelalak Siau-hi-ji memandangi si nona hingga sekian lama, mendadak ia bergelak tertawa. Ap... apa yang kau tertawakan? Tanya Samkohnio sambil menggigit bibir. Sejak kukenal kau sampai sekarang, baru detik ini bentukmu menyerupai seorang perempuan! Kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Sambil tertunduk Samkohnio termangu-mangu di situ, tiba-tiba ia menangis keras-keras, sekujur badannya serasa lemas lunglai, dia terus mendengkap lemari dan menangis dengan sangat sedih.

Siau-hi-ji mengerut kening, tanyanya. Apa yang kau tangiskan? Sejak kecil hingga kini selamanya tak pernah ada yang memandang diriku sebagai perempuan, sampai-sampai ayahku sendiri juga menganggap diriku sebagai anak lelaki, Tutur Samkohnio dengan menangis. Sedangkan aku... sudah jelas dan terang aku ini perempuan. Siau-hi-ji melenggong sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk. Ya, seorang perempuan kalau senantiasa dipandang orang sebagai anak lelaki, rasanya memang benar-benar sangat tersiksa....

Sekonyong-konyong Samkohnio menjatuhkan dirinya di atas tubuh Siau-hi-ji sambil menangis, katanya. Hanya engkau, hanya engkau yang memandang diriku sebagai perempuan, betul tidak? Sungguh lucu kelihatannya, seorang perempuan yang jauh lebih tinggi besar menangis seperti anak kecil menggemblok di atas tubuhnya, tentu saja Siau-hi-ji serba susah. Ya, ya, kau memang seorang perempuan, dengan sendirinya kupandang kau sebagai perempuan, Ucap anak muda ini.

Makanya aku... aku menganggapmu sebagai... sebagai sahabatku, Kata Samkohnio. Karena itu pula aku memberitahukan semua isi hatiku padamu, sebab selain kau di dunia ini tiada orang yang memahami diriku. Mereka mengira aku ini galak dan kepala batu, padahal... padahal aku pun anak perempuan, sama seperti anak perempuan lain-lainnya. Betul, mereka memang betul sangat sulit memahami dirimu, Ujar Siau-hi-ji menghela napas.

Tangis Samkohnio mulai berhenti, ia bersandar pada pundak Siau-hi-ji dan berkata. Sebenarnya juga tidak soal bagiku, hanya kesepian... kesepian yang mencekam itu terkadang sangat menyiksa diriku dan rasanya akan gila, namun tiada seorang pun dapat menjadi tempat tumpahan isi hatiku. Ya, kau sesungguhnya seorang anak perempuan yang harus dikasihani, Kata Siau-hi-ji gegetun. Baru sekarang kudengar ucapan demikian, seumpama segera mati juga aku rela, Keluh Samkohnio.

Tapi sedikit pun aku tidak bersimpati padamu, Kata Siau-hi-ji. Samkohnio terhuyung-huyung sambil melotot, katanya dengan gemetar. Kau... kau.... Kau mengharapkan simpati orang lain padamu, minta dikasihani, begitukah? Seperti mau bicara si nona, tapi sukar diucapkan. Kau harapkan orang lain memandangmu sebagai anak perempuan, betul kan? Aku memang anak perempuan, dengan sendirinya kuharap orang lain menganggap diriku sebagai anak perempuan.

Jika kau ingin orang lain menganggapmu anak perempuan betul-betul, maka kau harus bertingkah sebagai anak perempuan, tapi setiap hari kau memakai baju anak lelaki, mengisap tembakau, sebelah kaki bertumpu di atas meja, kau lebih mirip kusir pedati. Cara demikian mana bisa orang lain memandangmu sebagai perempuan. Samkohnio menerjang maju dan bermaksud memukul, tapi tangan terangkat dan tidak dihantamkan, ia terkesima, sejenak kemudian ia menunduk lagi.

Anak baik, pulanglah sana dan camkan apa yang kukatakan, Kata Siau-hi-ji. Mengenai barang kiriman itu saat ini aku tidak tahu apa-apa, tapi tidak sampai setengah bulan pasti akan kuberitahukan duduk perkara yang sebenarnya. Sambil bicara ia terus melompat masuk ke kamar lagi dan menutup daun jendela, ia mencoba mengintip dari sela-sela jendela, dilihatnya si nona masih termangu-mangu di situ, setelah termenung sekian lamanya, akhirnya melangkah pergi juga.

Siau-hi-ji menggeleng kepala, sambil tersenyum getir ia bergumam. Perempuan, mengapa perempuan selalu bawel begini? Biarpun bangun tubuhnya seperti lelaki, tapi perempuan tetap perempuan. Malam ini Siau-hi-ji dapat tidur dengan nyenyak. Dia tidak memikirkan lagi peristiwa perampokan barang kiriman Toan Hap-pui yang mencurigakan itu, sebab terhadap kejadian ini dia sudah dapat menarik kesimpulan yang meyakinkan, soalnya hanya belum dibuktikannya saja.

Tengah ia tidur dengan lelapnya, sekonyong-konyong beberapa orang menerobos ke dalam kamarnya terus menyeretnya bangun, ada yang memakaikan baju, ada pula yang mengenakan sepatu baginya. Beberapa orang ini termasuk kuasa pertama dan kedua rumah obat ini. Mata Siau-hi-ji masih sepat, dia kucek-kucek matanya yang masih belekan dan bertanya. Belum tiba hari gajian, untuk apa kalian menculik diriku?

Sembari merapikan kancing baju Siau-hi-ji si kuasa kedua berkata dengan tertawa. Sungguh berita baik bagimu, hari ini Tuan Besar kita ternyata ingin bertemu denganmu. Si kuasa utama lantas menyambung. Tuan Besar hampir tidak pernah menemui pegawainya, tapi hari ini begitu sampai di Ankhing segera dia ingin bertemu denganmu?

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment