Halo!

Chapter 06

Memuat...

Rupanya kau sedang mujur dan akan dapat rezeki nomplok. Dan begitulah, beramai-ramai Siau-hi-ji lantas diusung ke atas kereta, tidak lama kemudian sampailah di depan sebuah rumah gedung yang sangat besar dan megah, beramai-ramai Siau-hi-ji lantas digiring ke dalam.

Rumah ini terdiri dari berlapis-lapis, Siau-hi-ji disongsong oleh seorang kacung dan dibawa masuk ke belakang, cukup lama barulah sampai di taman belakang. Di situlah ada sebuah paviliun indah. Kacung itu membisiki Siau-hi-ji. "Tuan Besar berada di dalam situ, beliau ingin kau masuk sendiri saja." Siau-hi-ji ragu-ragu, ia merandek sejenak di luar pintu, akhirnya ia menyingkap kerai dan melangkah ke dalam.

Pandangan pertama segera dilihatnya Samkohnio sudah berada di situ. Dandanan Samkohnio hari ini sungguh jauh berbeda dari hari biasa. Pakaiannya tidak lagi celana singsat dan baju ringkas, tapi memakai gaun berwiru ditambah baju sutera biru berkembang putih, rambutnya juga sudah digelung. Mukanya dibedaki dengan pupur tipis, gelung rambutnya dihiasi tusuk kundai dengan mainan burung Hong bermata mutiara, anting-anting juga tidak ketinggalan gemandul di daun telinganya.

Nona itu duduk tertunduk di situ dengan malu-malu kucing. Sekilas pandang Siau-hi-ji hampir tidak mengenali dia sebagai Li-beng-siang Samkohnio. Sebaliknya sudah jelas melihat Siau-hi-ji masuk ke situ, namun nona gede itu tetap tidak angkat kepalanya, dia hanya melirik sekejap saja sambil menggigit bibir perlahan dan kepalanya tertunduk semakin rendah.

Hampir saja Siau-hi-ji tertawa geli saking tak tahan kalau saja dia tidak melihat di situ masih ada seorang lagi. Orang itu sangat aneh, sedang merangkak-rangkak di lantai. Lantai dilapisi permadani Persia yang tebal, seorang gemuk dengan jubah yang longgar tampak merangkak di lantai sehingga kalau dipandang sepintas lalu orang akan mengira ada sebuah bola raksasa.

Di depan si gemuk itu ada sebuah kotak jamrud, kotak yang diukir dari sepotong batu jamrud besar, nilainya sukar diperkirakan, tapi kotak semahal itu isinya ternyata dua ekor jangkrik. Kiranya si gemuk lagi asyik mengadu jangkrik. Siau-hi-ji lantas berjongkok juga di situ, setelah memandang sekian lama, dengan tertawa ia menimbrung. "Si setan hitam mungkin algojo ...." Si gemuk menoleh dan tertawa sehingga matanya menyipit hampir tidak kelihatan, katanya. "Kau pun paham jangkrik?" "Selain melahirkan anak, segala urusan aku paham," Sahut Siau-hi-ji.

Si gemuk terbahak-bahak, katanya. "Bagus, bagus sekali .... Eh, A Sam, apakah dia ini orang yang kau katakan?" Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa si gemuk ini dengan sendirinya adalah si hartawan termasyhur Toan Hap-pui. Samkohnio tampak menunduk malu-malu dan mengiakan dengan suara perlahan. Toan Hap-pui tergelak-gelak lagi, ucapnya. "Bagus, bagus sekali, pandanganmu memang tidak keliru." "Urusan apa ini?" Siau-hi-ji garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau jangan tanya, segala urusan serahkan saja padaku .... O, tarik bangun aku dulu, yang kuat .... Ahhhh, beginilah baru anak baik," Dengan susah payah, dengan bantuan Siau-hi-ji barulah Toan Hap-pui dapat berdiri, tampaknya dia lebih payah daripada orang yang habis berlari sepuluh li jauhnya, napasnya terengah-engah dan mulut megap-megap. "Bagus, bagus sekali ...." Dengan tertawa ia berkata pula pada Siau-hi-ji. "Apa kau gemar makan Ang-sio-bak? Hah, biarpun Hi-sit, Yan-oh, Pauhi atau Him-cio segala, semuanya omong kosong, yang paling lezat hanya Ang-sio-bak." Siau-hi-ji merasa bingung, tanyanya. "Sungguh aku tidak tahu ini ...." Tapi cepat Toan Hap-pui memotongnya. "Kau tidak perlu tahu, segala apa tidak perlu tahu, serahkan saja padaku, tanggung beres. Makanlah di sini, kokiku paling mahir mengolah Ang-sio-bak, boleh dikatakan nomor satu di dunia." Maka tanpa bisa menolak dan tidak paham seluk-beluknya Siau-hi-ji lantas makan semangkuk besar Ang-sio-bak yang memang cukup lezat.

Berada di sini mulut Siau-hi-ji seakan-akan tiada gunanya lagi selain makan Ang-sio-bak belaka, sebab pada hakikatnya Toan Hap-pui tidak memberi kesempatan bicara padanya. Petangnya ia sudah berada kembali di rumah obat dan tetap tidak tahu untuk apa Toan Hap-pui memanggilnya ke rumah tadi. Yang jelas sekarang segenap pegawai Ging-ih-tong telah berubah sikap padanya. Dengan sendirinya berubah lebih ramah dan lebih hormat.

Sehabis mandi, baru saja Siau-hi-ji berbaring di kursi malas, mendadak terdengar ribut-ribut di depan. Seorang dengan suara yang kasar sedang berteriak. "Kuici, Bakkui, Lengka, Himta ...." Serentetan nama obat itu ternyata obat pilihan yang mahal. Lalu terdengar sang kuasa kedua sedang bertanya dengan perlahan. "Tuan menghendaki berapa banyak obat-obat itu?" "Berapa banyak persediaan di toko obat ini, semuanya kami ambil, semuanya, setitik pun tidak boleh tersisa," Teriak orang tadi.

Seorang lagi lantas menambahkan. "Ging-ih-tong kalian ini tentu masih ada gudang obat, coba kami dibawa melihat ke sana." Suara orang ini lebih nyaring dan cepat, agaknya sudah tidak sabar lagi. Tergerak hati Siau-hi-ji, baru saja ia berdiri, segera dilihatnya sang kuasa kedua itu diseret masuk oleh dua orang lelaki kekar berjubah sulam, Sang kuasa tidak mampu berkutik seperti anak ayam dicengkeram elang. Di bawah cahaya pelita kelihatan kedua lelaki itu berwajah bengis, menghadapi orang begini apa yang dapat diperbuat oleh kuasa rumah obat itu?

Siau-hi-ji hanya berdiri menonton saja di samping, pegawai lain lantas membungkus seluruh obat-obatan yang diminta kedua lelaki itu, semuanya diikat menjadi empat bungkus besar. Diam-diam Siau-hi-ji menyiapkan sebutir batu kecil, begitu bungkusan obat itu diangkat ke atas kereta mereka, perlahan ia menyelentik batu itu dan mengenai ujung bungkusan obat. Karena cahaya pelita hanya remang-remang, gerak tangannya cepat lagi, dengan sendirinya tiada seorang pun yang tahu akan perbuatannya itu.

Habis itu Siau-hi-ji merebahkan diri pula di kursi malasnya, sambil memandangi bintang yang bertaburan di langit ia bergumam. "Tampaknya bakal ada tontonan sandiwara yang menarik lagi ...." Malam semakin sunyi, semua orang di rumah obat itu sudah tidur, tapi Siau-hi-ji masih duduk di bawah cahaya berkelipnya bintang. Di tengah malam nan terang dan sunyi itu dia justru lagi mengharapkan terjadinya sesuatu yang mengejutkan.

Akan tetapi suasana tetap hening, tenang dan damai, di tengah desir angin yang lembut terkadang diselingi suara jangkrik, lebih dari itu tiada nampak tanda akan terjadinya sesuatu. Siau-hi-ji memejamkan mata, tampaknya dia sudah ngantuk dan akan pulas. Pada saat itulah di tengah malam sunyi tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang dilarikan dengan cepat.

Seketika mata Siau-hi-ji terbeliak, ia coba pasang telinga sambil bergumam. "Satu, dua, tiga, mengapa cuma tiga ekor kuda?" Dalam pada itu terdengar suara ringkik kuda, ringkik kuda yang berjingkrak kaget bilamana sedang lari cepat dan mendadak dihentikan. Benar juga, habis itu suara derap kaki kuda lantas lenyap. Jelas kuda-kuda itu sudah berhenti di depan Ging-ih-tong.

Menyusul itu lantas terdengar suara pintu digedor dengan keras, seorang berteriak. "He, buka pintu, lekas buka, kami ingin beli obat, ada orang sakit keras." Suaranya yang nyaring keras itu memang penuh rasa cemas dan gelisah. Dengan sendirinya pegawai yang tidur di bagian depan terjaga bangun, maka suara gerundelan dan suara desakan menjadi bercampur aduk bersama dengan suara berkeriutnya pintu terbuka.

Siau-hi-ji bergumam sendiri. "Jika dugaanku tidak salah, obat-obat yang hendak dibeli orang ini pasti Kuici, Bakkui, Lengka, Himta dan sebagainya, sama seperti apa yang diborong orang tadi." Dan dugaannya ternyata tidak meleset, segera terdengar suara kasar tadi lagi berteriak. "Kami minta Kuici, Bakkui, Lengka, Himta masing-masing tiga kati. Lekas, lekas bungkuskan! Penting, orang sakit keras!" Sudah barang tentu pegawai Ging-ih-tong itu melengak heran, mengapa pembeli obat yang datang berturut-turut ini membeli obat yang sama.

Dan dengan sendirinya dijawabnya obat-obat itu tidak ada, sudah habis. Dengan sendirinya orang yang bersuara kasar tadi bertambah gelisah dan cemas, bahkan terus mengomel. "Rumah obat sebesar ini, masakah obat-obat begitu juga tidak tersedia?" Perawakan orang ini tinggi besar, sorot matanya tajam, namun merah beringas, tentu saja pegawai toko obat menjadi takut, terpaksa ia memberi penjelasan. "Rumah obat tua dan besar seperti toko kami ini dengan sendirinya mempunyai persediaan obat yang lengkap, cuma sayang dan sangat kebetulan, beberapa macam yang tuan kehendaki ini baru dua-tiga jam yang lalu diborong habis oleh pembeli lain, sebaiknya tuan coba mencari ke rumah obat yang lain saja." Diam-diam Siau-hi-ji mendekati dan mengintip dari celah-celah pintu, dilihatnya dahi lelaki kekar itu berkeringat saking gelisahnya, berulang-ulang ia mengomel pula.

"Mengapa begini kebetulan. Masa belasan rumah obat di kota ini semuanya kehabisan beberapa macam obat ini?!" Terlihat pula di luar pintu toko yang setengah terbuka itu menunggu seorang lelaki lain dengan menuntun dua ekor kuda, mulut kuda tampak berbusa, jelas kuda itu baru saja berlari jauh. Ada lagi seorang dengan kudanya berdiri rada jauh di sana. Di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan penunggang kuda itu memakai ikat kepala hitam, rambut panjang terurai, kiranya orang ini adalah perempuan.

Sambil membawa lilin, pegawai toko bermaksud mengantar pergi tetamunya, maklumlah dia masih ngantuk dan ingin tidur lagi. Mendadak cahaya lilin berkelebat, perempuan baju hitam, yang menunggang kuda itu tahu-tahu sudah berada di depan pegawai toko obat itu, sorot matanya setajam sembilu. Si pegawai terkejut dan mundur sempoyongan, tangannya ketetesan cairan lilin yang panas sehingga dia lepaskan pegangannya, tatakan lilin terus jatuh ke bawah. Tapi tatakan lilin itu tidak jatuh ke lantai, entah cara bagaimana sudah berada di tangan perempuan baju hitam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment