Maka kau lantas minta mereka membuka Hiat-tomu? Cukup keras cara menutuk keparat she Gui itu, dengan tenaga mereka berenam perlu berkutetan sekian lama baru dapat membuka Hiat-toku. Tapi kau tetap pura-pura tidak bisa bergerak untuk menipu aku? Sebenarnya bukan tujuanku hendak menipumu, soalnya Gui Moa-ih telah menipu aku satu kali, mana boleh kubiarkan dia pergi sebelum kubalas mengerjai dia agar ia tahu kelihaianku.
Meski tujuanmu bukan menipu aku, tapi kemudian aku yang tertipu, ucap So Ing. Jika begitu pikirmu, ya terserah, ujar Siau-hi-ji sambil angkat pundak. Kau tahu aku sangat baik padamu, kau lantas menggunakan kelemahan ini untuk menipu aku agar aku khawatir dan cemas bagimu. Tanpa menghiraukan apa pun aku berusaha menyelamatkanmu, tapi kau menggunakannya untuk memeras aku agar menguraikan rahasiaku.
Tanpa berkedip ia menatap Siau-hi-ji, sorot matanya kelam seperti kemilau air laut di dalam gelap. Siau-hi-ji melengos ke sana, mendadak ia berpaling pula dan berkata. Kan sudah kukatakan sejak mula bahwa aku ini bukan orang baik. Apabila ada orang berlaku baik padaku, maka dia sendiri yang bakal apes, ucap So Ing dengan menghela napas.
Kebanyakan orang di dunia ini sama khawatir dirinya akan berubah menjadi busuk, tapi kau kebalikannya, kau seakan-akan khawatir dirimu akan berubah terlalu baik, maka kau selalu ingin berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa kau ini bukan orang baik-baik. Sesungguhnya apa sebabnya kau berbuat demikian? Kukira kau sendiri pun tidak tahu, betul tidak? Ya, bisa jadi lantaran pembawaanku memang berbibit jahat, ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.
So Ing memandangnya sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata. Tapi apakah kau tahu bahwa dirimu tidaklah sejahat sebagaimana kau bayangkan. O? Orang macam apakah diriku ini, masa kau terlebih jelas daripada diriku sendiri? Ehm, aku tahu, jawab So Ing. Coba, coba katakan?! kata Siau-hi-ji dengan tertawa.
Pangkal soalnya adalah karena sejak kecil kau telah berkumpul dan dibesarkan oleh orang-orang jahat itu, maka di dalam hatimu selalu merasa dirimu tak dapat berubah menjadi orang yang baik. Oya, masa begitu? Pula, kau pun menganggap bila dirimu berubah terlalu baik, rasanya menjadi seperti mengkhianati orang-orang yang telah membesarkanmu itu, makanya terkadang kau harus berbuat sesuatu kebusukan untuk membuktikan dirimu.
Sekonyong-konyong Siau-hi-ji terbahak-bahak dan memotong ucapan si nona. Hahaha, kan belum berapa hari kau kenal aku, masa kau anggap telah cukup memahami diriku? Tadinya aku pun tidak terlalu paham, tapi setelah melihat orang-orang tadi aku jadi jelas, ucap So Ing. Orang-orang tadi sungguh boleh dikatakan jeniusnya orang jahat, kejahatan mereka boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya sempurna, mereka dapat berbuat sesuatu yang kotor dan rendah, melakukan sesuatu yang keji dan kejam, tapi malah membuat orang merasa tertarik.
Kau tidak perlu mengolok-olok mereka, kan mereka tidak bersalah padamu? ujar Siau-hi-ji. Betul, aku malah harus berterima kasih kepada mereka, kata So Ing dengan tertawa. Berterima kasih apa? tanya Siau-hi-ji heran. Jika tiada mereka, mana aku dapat kenal kau, ujar So Ing dengan tersenyum.
Ucapanmu makin membingungkan aku, kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip. Kau tidak paham sungguh-sungguh? Ehm, Siau-hi-ji mengangguk. Dengan sekata demi sekata So Ing lantas menjelaskan. Masa sampai sekarang belum lagi kau sadari bahwa mereka itulah yang memancingmu ke... ke liang tikus itu.
Kembali Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya. Lucu, sungguh lelucon besar. Memangnya untuk apa mereka menipu aku? Bisa jadi lantaran mereka telah mengetahui bahwa kau sesungguhnya bukan manusia jahat seperti mereka, bisa jadi akhirnya engkau juga akan mengkhianati mereka, maka mereka sengaja membuat tanda-tanda rahasia itu untuk memancingmu masuk ke liang tikus sana, dengan meminjam tangan Gui Bu-geh mereka hendak melenyapkan kau. Hahaha, jika begitu, jadi kau anggap mereka sengaja hendak membinasakan aku? Siau-hi-ji menegas dengan tertawa.
Ehm, begitulah, jawab So Ing. Mendadak Siau-hi-ji berhenti tertawa dan berteriak. Sekarang ingin kutanya, jika mereka ingin membinasakan aku, mengapa tadi mereka menyelamatkan aku pula? Bisa jadi tiba-tiba mereka merasa kau masih berguna bagi mereka dan sayang kalau terbunuh begitu saja, mungkin pula mereka.... Kentut, kentut busuk! Mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar.
Apa yang kau katakan sama sekali tak dapat kupercaya, ucap Siau-hi-ji. So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang. Kukira engkau bukan tidak percaya sungguh-sungguh, cuma tidak suka percaya saja, betul tidak? Betul kentut! omel Siau-hi-ji pula. Kau bukan cacing pita dalam perutku, dari mana kau tahu isi hatiku? Bukan maksudku mengharuskan kau percaya, cukup kau lebih waspada dan berjaga-jaga, begitu saja, ucap So Ing sambil menghela napas.
Haha, kau suruh aku berjaga-jaga. Kukira kau sendiri yang perlu lebih berhati-hati, ujar Siau-hi-ji. Aku? Aku harus hati-hati urusan apa? tanya So Ing dengan tertawa. Memangnya kau kira tempatmu ini sudah cukup aman? Tempatku ini selama ini memang aman tenteram, jawab So Ing. Tapi sekarang belum tentu aman lagi, jengek Siau-hi-ji. Oya?! Orang-orang yang datang ke sini memang hendak mencari perkara kepada Gui Bu-geh, maka mereka tentu tidak perlu lagi sungkan-sungkan padamu lantaran jeri terhadap Gui Bu-geh.
So Ing menghela napas menyesal, ucapnya. Memang betul ucapanmu, selanjutnya tempat ini mungkin benar-benar akan berubah menjadi arena pertempuran, rasanya aku pun tidak dapat berdiam lebih lama lagi di sini. Tadi... apakah engkau telah melihat sesuatu? Orang yang tergantung di atas pohon, yang dilihatnya tentu jauh lebih banyak dan lebih luas daripada orang lain, jawab Siau-hi-ji dengan tenang.
O, sesungguhnya apa yang telah kau lihat? Kulihat dua orang, jawab Siau-hi-ji. So Ing mengikik tawa, katanya. Seumpama melihat dua puluh orang juga bukan urusan yang mengherankan. Tapi kedua orang ini justru sangat mengherankan, ujar Siau-hi-ji. Oya?....
Sudah sejak tadi kedua orang ini bersembunyi di balik batu sana, mereka sudah berada di sana waktu kawan-kawanku datang menolong diriku, tapi mereka seperti tidak ingin ikut campur urusan yang terjadi di sini, setelah kau dan Gui Moa-ih datang ke hutan ini, segera mereka menyusup ke rumah sana secepat terbang, Ginkang mereka ternyata tergolong kelas satu, ujar Siau-hi-ji. So Ing tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa, katanya. Jadi lantaran urusan inilah maka kau masih tinggal di sini? Ehm, jawab Siau-hi-ji singkat.
Makin manis tertawa So Ing, makin hangat dan lembut ucapannya. Kiranya engkau tetap memperhatikan diriku. Hm, masa bodoh jika kau suka menghibur diri sendiri, hanya saja saat ini bukan waktunya kau memuaskan dirimu sendiri, sebab kedua orang itu, ujar Siau-hi-ji. Kau tidak perlu khawatir bagiku, kembali So Ing memotong. Kutahu siapa kedua orang itu. Memangnya siapa? tanya Siau-hi-ji.
Mereka adalah pasangan suami istri yang lucu, mereka sering kali berbuat sesuatu yang mereka anggap pintar. Mendingan yang lelaki, yang perempuan bahkan selalu menganggap dirinya jauh lebih pintar daripada orang lain, padahal dia sebenarnya orang sinting, ujar So Ing. Orang yang suka menganggap diri sendiri lebih pintar daripada orang lain memang kebanyakan punya penyakit, kecuali aku tentunya, sebab aku memang jauh lebih pintar daripada siapa pun juga, ucap Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.
So Ing tertawa terpingkal-pingkal, katanya kemudian. Rasanya aku harus memperkenalkan pasangan suami istri itu padamu. Tapi sayang sekarang sudah terlambat, tukas Siau-hi-ji. Ma... masa mereka sudah pergi? tanya So Ing. Ya, bukan saja mereka sudah pergi, bahkan membawa serta dua bungkusan besar, jawab Siau-hi-ji. So Ing melengak, katanya cepat. Kapan mereka pergi? Tadi, waktu kau sedang tertawa gembira, jawab Siau-hi-ji.
Kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Sebenarnya hendak kukatakan, tapi tertawamu tampak sangat gembira sehingga tiada peluang bagiku untuk bicara, ujar Siau-hi-ji sengaja menghela napas menyesal, lalu menyambung pula. Dan sekarang, mungkin kau tidak dapat tertawa lagi, ujar Siau-hi-ji. Tak tahunya, setelah bola matanya berputar, kembali So Ing tertawa, katanya. Yang mereka gondol itu bukan dua bungkus barang, melainkan dua orang.
Sekali ini yang melengak ialah Siau-hi-ji, serunya cepat. Apa? Dua orang? Orang hidup? Tak dapat dikatakan orang hidup, tapi juga bukan orang mati, ya anggaplah dua orang yang setengah hidup dan setengah mati, jawab So Ing. Dengan susah payah kedua orang suami istri itu hanya mencuri dua orang yang setengah hidup setengah mati begitu? tanya Siau-hi-ji. Ehm, jawab So Ing.
Untuk apa mereka mencuri dua orang setengah hidup setengah mati? Jika ada gunanya tentu takkan kubiarkan dicuri mereka, jawab So Ing. Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya. Tampaknya suami istri itu memang rada-rada sinting. Tapi tindakan mereka itu sama dengan telah membantumu, tiba-tiba So Ing tertawa pula. Kembali Siau-hi-ji melengak. Membantu aku apa maksudmu? Sebab satu di antara kedua orang yang mereka gondol itu adalah musuhmu yang akan duel dengantmu, jawab So Ing.
Siau-hi-ji tambah heran. Musuhku? Siapa maksudmu? Coba ingat-ingat, adakah musuhmu yang akan mengadu jiwa denganmu akhir-akhir ini? Hati Siau-hi-ji serasa mencelus, serunya parau. Mak... maksudmu Hoa Bu-koat? Betul, jawab So Ing dengan tertawa. Seperti kucing yang terinjak ekornya, Siau-hi-ji berjingkat kaget dan berteriak. Jadi maksudmu Hoa Bu-koat digondol orang? Melihat sikap Siau-hi-ji itu, So Ing jadi terkejut, jawabnya dengan ragu-ragu.
Be... betul! Mengapa tidak kau katakan sejak tadi? Siau-hi-ji meraung. Dari mana kutahu dia dibawa lari orang? Kau sendiri yang tidak mau bilang sejak tadi-tadi, jawab So Ing sambil tersenyum getir. Mendadak Siau-hi-ji menampar pipi sendiri beberapa kali, serunya. Ya, betul, mengapa tidak sejak tadi kukatakan padamu?