Banjir Darah Di Borobudur
Penulis: Kho Ping Hoo
Status: Ongoing
Kategori: Cersil Indonesia
Seri: - #1
Sinopsis
Di tanah Jawa nan agung, kala dua panji kebesaran—Hindu Mataram dan Buddha Syailendra—berdampingan dalam simfoni takdir yang rawan, api pertikaian siap membakar kapan saja. Di tengah gelombang kebencian dan ambisi yang menggelegak, hiduplah Indrayana, seorang pemuda Syailendra berwajah elok yang menyimpan luka lara. Pewaris Aji Astadenta, jurus tangan gading sekuat gajah, ia adalah seniman pahat ulung yang batinnya terusik oleh keunggulan Mataram. Namun lebih dari itu, hatinya terpaut pada Sang Ayu Pramodawardani, Puteri Mahkota Syailendra yang jelita, dambaan setiap ksatria.
Ketika persaingan pembangunan candi agung memuncak, ketegangan antaragama memanggil datangnya malapetaka. Siddha Kalagana, seorang pendeta berilmu hitam dari lembah kegelapan, meneror dengan kesaktian tiada tara, mengotori tanah suci dengan ukiran cabul dan ritual sesat Batari Durga. Ia merobohkan harapan, menebar teror, bahkan membuat Pendeta Wisananda yang gagah gugur di tangan ular berbisa. Indrayana, ditempa dalam gemblengan ilmu kebatinan sang kakek Begawan Ekalaya, harus bangkit menghadapi kebatilan ini. Tak hanya pertarungan hidup mati melawan angkara murka, ia juga terseret dalam pusaran intrik asmara yang mengikatnya dengan Rakai Pikatan, Raja Mataram, dan rahasia hilangnya Candra Dewi yang membelenggu takdir mereka.
Kini, di atas kaki candi yang berlumur darah dan di bawah langit yang diselimuti kabut peperangan, nasib dua kerajaan besar dan jalinan asmara yang rumit dipertaruhkan. Mampukah Aji Astadenta Indrayana memadamkan bara ilmu hitam Siddha Kalagana? Akankah persatuan dua pemuda perkasa dari Mataram dan Syailendra mampu menaklukkan kegelapan, ataukah takdir akan menyeret mereka ke jurang kehancuran abadi? Dalam badai Banjir Darah yang menggegerkan bumi Jawa, sebuah candi megah akan menjulang, entah menjadi lambang persatuan yang abadi atau nisan bagi sebuah peradaban yang tercabik. Siapakah yang akan menjadi penentu takdir di antara pertumpahan darah ini?