Chapter 01
Di rimba persilatan, siapa yang tidak mendengar julukan "Dewa Iblis"? Julukan itu bukan tanpa alasan. Julukan "Dewa" pasti khusus untuk golongan Putih, namun nama "Iblis" tentu adalah aliran hitam. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa menafsirkan Dewa Iblis termasuk golongan yang mana. Yang jelas, kemunculannya di rimba persilatan membuat semua orang resah.
Dewa Iblis adalah seorang pemuda dengan perawakan tinggi dan tegap, dengan banyak bekas luka di tubuhnya. Hanya wajahnya yang masih bersih dan tergolong tampan. Dia senang berpakaian biru terong dengan rambut sebahu. Ada sebuah kayu cendana putih panjang satu lengan orang dewasa yang terselip di pinggangnya. Ilmunya sangat hebat karena dia pernah berguru pada beberapa tokoh hebat, baik sesat maupun putih.
Dewa Iblis memiliki dendam yang sangat besar pada seorang dari Golongan Hitam yang terkenal paling hebat. Sejak kecil, dia hidup dengan bergelimang harta karena orang tuanya adalah kepala Perampok Macan Loreng di bawah perlindungan Pendekar Tua Golongan Hitam "Datuk Pengemis Nyawa". Ketika ayahnya ingin menyerahkan upeti pada Pengemis Nyawa dengan membawa serta ibu dan kakak perempuannya yang sudah remaja, tiba-tiba Pengemis Nyawa meminta kakaknya untuk meladeni nafsu biadabnya. Orang tuanya tidak terima, sehingga terjadi bentrok, dan kemudian mereka mati mengenaskan di tangan Pengemis Nyawa, beserta seluruh rombongan, baik ibu maupun kakaknya yang diperkosa lebih dulu.
Dengan tidak ada pemimpin, Gerombolan Macan Loreng yang berkuasa di Bukit Tanggupan Perahu diserang oleh aliran putih hingga porak poranda, tak ada yang selamat, kecuali Dewa Iblis yang dibawa serta oleh aliran itu dan kemudian diangkat menjadi murid. Dia belajar dengan giat, namun sebaik apapun aliran itu, kenangan kecilnya tidak bisa dihapus begitu saja. Sehingga, ketika sudah dirasa ilmu yang diperoleh lumayan, dia lari dari padepokan untuk menjajal ilmunya pada orang-orang hebat, dan ketika dia kalah, dia akan belajar pada orang itu, begitu seterusnya.
Hingga dia memiliki guru yang beraneka ragam dengan tujuan ingin membalas kematian orang tuanya di tangan Pengemis Nyawa, yang terkenal sangat hebat itu. Lebih dari dua puluh tahun, dia menggembleng diri tanpa lelah dari guru satu ke guru lainnya, hingga dirasa ilmunya telah cukup untuk terjun langsung di rimba persilatan mencari Pengemis Nyawa.
Dia terjun sebagai orang yang tidak terima melihat ketidakadilan seperti yang dia lihat pada keluarga dan seluruh anggota Macan Loreng, apapun bentuknya. Ketika melihat ada pendekar golongan Putih diserang keroyokan, dia pasti akan membantunya, begitu pula sebaliknya, jika ada golongan hitam yang diserang golongan putih dengan tidak imbang, dia juga pasti menolongnya. Bahkan dia bisa sadis dan keji apabila berhadapan dengan orang yang melakukan kesewenang-wenangan. Bahkan sering membunuh lawan dengan senjata yang digunakan lawan.
Sehingga, sampai detik ini, tak seorang pun yang mengetahui aliran pasti Dewa Iblis. Sebagai golongan yang masih baru di dunia persilatan, hanya sebagian saja yang melihat sosok Dewa Iblis, atau pernah melihat, terutama yang sempat berhadapan atau ditolongnya. Kebanyakan dari para pendekar hanya mengenal julukannya saja tanpa mengetahui orangnya.
Sekarang, dia sedang duduk dengan tenang di sebuah kedai nasi, menikmati hidangan yang dipesannya. Tiba-tiba, penjaga kedai tergesa-gesa mendatanginya. "Tuan, itu kuda Anda, kan? Sekarang mau dicuri orang," bisik pemilik kedai. Arya hanya melirik tenang melihat kudanya digiring tiga orang berpakaian kuning dengan golok besar terselip di pinggangnya.
"Biarkan saja," teriak Arya lantang, membuat penghuni kedai menatapnya dan menoleh ke arah para pencuri yang tergagap dilihat seluruh masyarakat yang ada di dalam kedai. Sudah kepal