Chapter 02
Baik, ini teks novel yang sudah dibersihkan dan disesuaikan dengan EYD Indonesia:
***
Seorang pria berpenampilan rapi dengan pedang tipis terselip di pinggangnya, tak lain adalah Aji Mahendra, atau yang dikenal sebagai Pendekar Pedang Naga, angkat bicara. "Maaf sebelumnya jika hamba lancang. Melihat pentingnya acara kali ini dan terkait waktu yang tersedia, karena kami juga masih banyak urusan yang perlu diselesaikan, izinkan hamba memberi usulan agar secepatnya pada inti pembahasan," pinta Aji Mahendra.
Dan yang lain menyetujuinya.
Kyai Banjar Banyu Bening tersenyum maklum.
Kemudian dia bangkit.
"Terima kasih atas kedatangan kalian, meluangkan waktu sejenak untuk bisa menghadiri undangan kami. Saya berbincang dengan adik saya, Kyai Koneng, tentang kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia persilatan, hingga pada pembahasan yang tidak bisa kami temukan solusinya."
"Perihal apakah gerangan itu, Kyai?" tanya seorang tua dengan tasbih besar melingkar di lehernya.
Jelas terlihat bahwa semua tokoh yang hadir sangat segan pada Kyai Banjar Banyu Bening.
"Sikap kita terhadap Dewa Iblis..."
Tiba-tiba Kyai Koneng angkat bicara.
Dan kata-kata itu membuat yang hadir saling pandang dan heran.
Ada apa dengan tokoh baru yang aneh berjuluk Dewa Iblis itu sehingga petinggi aliran putih itu resah.
"Ya, benar, tentang Dewa Iblis... Sampai saat ini saya sendiri tidak pernah bertemu dengan pendekar itu, namun dari kabar yang saya terima membuat kami khawatir dan bingung," terang Kyai Banjar Banyu Bening. Hal itu juga dirasakan oleh tokoh yang lain, karena mereka juga tidak pernah bertemu dengan sosok yang akhir-akhir ini menggetarkan dunia persilatan.
"Dewa Iblis sampai sekarang masih menjadi sosok yang misterius dan mengkhawatirkan. Dia bertindak layaknya binatang saja, tanpa pikir panjang dan hanya mengikuti instingnya saja. Jika hal itu dibiarkan, merupakan teror yang sungguh menakutkan. Bahkan saya mendengar kabar, Kyai Prana, yang merupakan bekas gurunya, mati mengenaskan di tangan Dewa Iblis," terang Kyai Banjar.
"Tapi juga banyak Golongan Hitam yang mati di tangannya..." terang Kyai Koneng.
"Saya juga pernah mendengar kematian Kyai Prana di tangan bekas muridnya ini, karena Kyai Prana menangkap kepala perampok dan menyiksanya untuk mengakui segala perbuatan. Dewa Iblis tidak terima perlakuan itu sehingga terjadi bentrok," terang Banjar Kalianget.
"Lalu bagaimana menurut Kyai, apa kita perlu membinasakan Dewa Iblis?" tanya seorang wanita muda berpakaian hijau dengan Pedang Bulan di punggungnya.
"Kita tidak harus tergesa-gesa itu, Kirana," ujar Kyai Koneng pada wanita cantik yang bernama asli Kirana itu, atau Dewi Pedang Bulan.
"Lalu bagaimana sesungguhnya sikap kita pada Dewa Iblis, Kyai?" tanya Aji Mahendra.
"Kalau mendengar cerita yang tersebar dan gelagat dari tindakannya, dia berbuat sadis karena dipengaruhi oleh benci dan dendam atas ketidakadilan yang menimpa keluarganya yang mati di tangan Pendekar Tua Pengemis Nyawa. Sikapnya yang antiketidakadilan, walaupun bentuknya sangat tidak berperikemanusiaan, berarti dia masih punya nurani untuk menjadi orang baik," terang Kyai Koneng.
"Maksud Kyai?" tanya semua yang hadir tidak mengerti.
"Andaikan kita bisa menyadarkannya dari pengaruh masa lalu yang tidak mengenakkan, tentu dia akan menjadi orang baik, dan akan menjadi senjata ampuh untuk melawan golongan hitam," terang Kyai Koneng.
"Tapi adakah cara untuk menyadarkannya...?!" tanya seorang pendekar muda yang juga hadir di sana dengan nada jengkel, dan rasanya ingin secepatnya bertemu dengan Dewa Iblis serta memenggal kepalanya, setelah mendengar semua tindakannya yang tidak beraturan itu. Bahkan gurunya sendiri dibunuhnya.
"Pasti ada, dan itu yang perlu kita pikirkan bersama," komentar Kyai Koneng.
"Lebih baik kita binasakan saja, Kyai, daripada terus jadi beban, dan saya siap memikul tugas itu!" tantang Aji Mahendra mantap.
Kyai Banjar tersenyum arif. "Saya tahu bahwa kau hebat, Pendekar Pedang Naga, tentu akan mampu berhadapan dengan Dewa Iblis, tapi dia bukan lawan yang pantas kita anggap remeh... Karena saya sendiri saja belum tentu menang melawannya," terang Kyai Banjar tenang, membuat yang lain menganga tidak percaya jika tokoh hebat golongan putih itu mengatakan seperti itu.
"Mana mungkin, Kyai?" sanggah Kirana.
"Mana mungkin Anda mengatakan seperti itu? Anda sendiri tidak pernah bertemu apalagi menjajal kehebatannya. Jangan membuat kami juga ciut, Kyai!" bantah golongan putih yang lain.
"Kyai Prana adalah adik seperguruanku, hanya satu tingkat di bawahku, dan dia mati mengenaskan di tangan Dewa Iblis," terang Kyai Banjar, membuat yang lain semakin terkejut dan tergagap keheranan.
"Jadi, alangkah baiknya kalau kita tidak berurusan nyawa dengannya. Lebih baik kita cari solusi untuk bisa menyadarkannya," terang Kyai Koneng.
Pertemuan terus berlangsung guna mengatasi kegemparan dunia persilatan yang bukan hanya meresahkan Golongan Putih, namun juga Golongan Hitam itu. Hingga matahari hampir tenggelam, pertemuan itu tidak menemukan cara yang baik mengatasi masalah pelik tersebut. Hingga Kyai Banjar bangkit.
"Saudara hadirin sekalian, kini telah hampir malam. Pertemuan kita tutup sampai di sini, dengan keputusan kita harus mencari solusi masing-masing untuk bisa menyadarkan Dewa Iblis dan menggiring ke jalan yang lurus. Dan apabila usaha yang telah kita lakukan tidak bisa, maka tidak ada cara lain kecuali memusnahkannya, seperti tugas kita untuk memusnahkan Golongan Hitam, agar kehidupan ini menjadi damai sentosa dan makmur. Ini semua demi anak cucu kita ke depan."
Semua yang hadir mengangguk-angguk setuju, namun juga ada yang masih memendam rasa penasaran dan kejengkelan yang meluap, ingin secepatnya membumihanguskan biang kerok itu. Contohnya seperti Aji Mahendra, atau Pendekar Pedang Naga.
***
Seorang pemuda dengan pakaian biru terong, yang tak lain adalah Arya, terus berkelebat menembus hutan rimba tanpa tujuan yang pasti, karena satu yang dia tahu: Dia harus mencari Pengemis Nyawa, menuntut balas atas kematian keluarganya. Namun, sampai saat ini dia tidak tahu keberadaan pendekar tua itu. Bahkan tempat kekuasaan Pengemis Nyawa di Ceruk Gua Bangkai sudah pernah didatangi, namun tempat itu sudah tidak berpenghuni.
Tiba-tiba telinganya menangkap benturan-benturan benda keras dan teriakan-teriakan manusia, membuatnya tersenyum. Dia pun bergegas ke arah itu. Bukan karena dia ingin menyaksikan pertempuran, atau ingin menjadi dewa penolong. Namun, ia berharap yang ada di sana adalah Pengemis Nyawa.
Arya hinggap di salah satu cabang pohon tidak jauh dari arena pertempuran. Namun, wajahnya seketika kecewa setelah mendapati bukan orang yang dicarinya. Seorang gadis berpakaian hijau dengan senjata pedang sedang bertarung hidup-mati dengan belasan orang berpakaian kuning bersenjata golok. Tiba-tiba dia teringat tiga orang yang pernah berusaha mencuri kudanya, dan ketiga orang itu ada di antara pengeroyok itu.
"Tangkap Kirana hidup-hidup! Kalau bisa, jangan sampai lecet, karena aku ingin beradu nafsu dengannya..." teriak seorang pria yang berdiri tegap tidak jauh dari arena pertempuran, dengan senyum menyeringai menjijikkan. Dia berkepala plontos dengan jambang lebat memenuhi dagunya. Berpakaian kuning, sebuah cambuk dengan bandul bongkahan besi bulat bergerigi di pinggangnya, dapat ditebak dia adalah pemimpin pengeroyok itu.
Secara sepintas, ilmu gadis yang dipanggil Kirana itu jauh lebih tinggi dari para pengeroyok. Jika bertarung satu lawan satu, tentu dengan mudah dia akan menumbangkan musuhnya. Namun, kini dia harus berhadapan dengan kekompakan serangan golok yang seperti gelombang, datang silih berganti. Hingga empat puluh jurus, dia masih belum menemukan cara untuk membalas serangan, dia masih berusaha menghindari serangan-serangan itu. Tak pelak pakaiannya telah compang-camping di sana-sini, bahkan dadanya yang montok sedikit tersingkap, membuat penyerangnya semakin kalap.
Arya hanya melihat dari kejauhan, tadinya tidak mau ikut campur namun dia merasa kasihan.
"Cuhh..."
Arya meludah ke samping tubuhnya sebagai tanda kejengkelan. Sekali hentak dia telah melayang turun menuju ketua pengeroyok yang sejak tadi hanya tertawa-tawa. Melihat kedatangan orang yang tak dikenal secara tiba-tiba, spontan dia surut satu langkah untuk menjaga jarak dan bersiap akan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Ternyata Arya malah tenang berdiri tersenyum pada pemimpin itu.
"Hei, siapa kau?" bentak kepala perampok itu.
"Hehehehe, Kisanak, daripada kita hanya gatal melihat pertempuran mereka, bagaimana kalau kita main-main?" ajak Arya tenang.
"Kurang ajar! Kau tidak tahu dengan siapa berhadapan?!"
"Aku tidak pernah bertanya dengan siapa aku berhadapan," kata Arya lagi tenang, membuat kepala perampok itu merasa direndahkan. Dan geram.
"Bangsat! Kau yang telah membuat aku malu kemarin..."
"Hiaaat!" Tiba-tiba salah satu penyerang Kirana beralih menyerang Arya yang pada waktu itu menatap tajam kepala perampok tanpa memedulikan penyerang dari belakang. Kepala perampok tersenyum menyangka Arya tidak mengetahui serangan dari belakangnya.
Saat penyerang itu tepat di belakang Arya sambil membabatkan pedangnya, secepat kilat kaki Arya melesat ke arah perut penyerang itu. Walau gerakan itu lebih lambat dari tebasan golok penyerang, namun...
"Bukk!"
Kaki itu telak menghantam ulu hati penyerang itu tanpa menoleh. Matanya tetap tajam menatap kepala perampok yang menganga tidak percaya. Gerakan penyerang itu terhenti dengan mata terbelalak. Melihat sekilas seakan tidak terjadi apa-apa. Dengan tendangan yang keras itu, biasanya membuat orang terlontar atau terpelanting, namun penyerang itu masih berdiri di belakangnya. Pemimpin perampok menyeringai geli, melihat serangan Arya yang tidak menimbulkan efek apa-apa pada anak buahnya, malah mau berhadapan dengannya... Ia pun semakin congkak sambil berkacak pinggang.
Penyerang itu berusaha menggerakkan badannya lagi untuk melanjutkan serangan yang sempat tertahan oleh tendangan Arya.
"Hiaaat... Akh?"
"Croot!"