Halo!

Dewa Iblis - Chapter 03

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 03

Saat senjata hendak dikibaskan, tiba-tiba darah muncrat dari mulut hingga mengenai punggung Arya. Mata penyerang itu terbelalak, golok yang dipegangnya jatuh, disusul tubuhnya yang juga roboh.

Ia menggelepar sedikit lalu tidak berkutik lagi, menandakan telah tewas.

Pemimpin perampok yang tadinya pongah kini terbelalak ngeri pada orang yang ada di depannya. Namun, meskipun begitu, ia tidak boleh terlihat pengecut, apalagi di depan anak buahnya. "Kurang ajar!

Kau tidak tahu dengan siapa berhadapan, anak muda!" ujar laki-laki gagah plontos dengan jambang lebat itu seraya mengambil senjata andalannya, lalu memutarnya hingga mengeluarkan bunyi deru angin yang sangat hebat. "Aku adalah Kepala Gerombolan Tapak Langit, penguasa rimba ini!

Nama Gerombolan Tapak Langit di dunia persilatan sudah amat terkenal, bahkan sering diundang untuk membantu pemberontakan serta perampokan. Tak sekalipun gagal, gerombolan itu cukup disegani dan ditakuti, apalagi di sana ada pemimpin yang tidak bisa dipandang remeh ilmu kanuragannya. Ketua perampok itu bernama Boma, mantan kepala pasukan kerajaan yang kemudian membelot.

Ia menjadi perampok bersama sisa prajuritnya karena gaji sebagai prajurit tidak seberapa jika dibandingkan dengan hasil rampokan. Sedangkan Kirana, atau dikenal dengan sebutan Dewi Pedang Bulan, kini telah bisa mengimbangi serangan musuh, bahkan sekali-kali mampu memberi balasan setelah salah satu dari penyerang itu tumbang di tangan Arya. "Argh...

Salah satu penyerang Kirana tersayat pedangnya tepat di pergelangan tangan, sehingga goloknya jatuh. Ia tersungkur di tanah sambil memegang tangan yang terus mengucurkan darah. Kini Kirana dapat memimpin pertempuran setelah dua penyerang tidak bisa bergabung lagi, sehingga formasi serangan sedikit pincang.

Boma menghantamkan cambuk bermata bola bergerigi itu ke tubuh Arya dengan tenaga dalam cukup tinggi, karena ia tahu orang yang ada di depannya kali ini bukan orang sembarangan.

Bola bergerigi itu menderu diiringi hembusan angin panas cukup tajam. Arya mengetahui serangan dahsyat itu; jika orang biasa terkena tekanan anginnya saja pasti terpelanting, apalagi terkena bola besi bergerigi yang bisa menghancurkan batu cadas sebesar gajah itu.

Namun Arya tetap tenang.

Ketika bola besi bergerigi sekitar satu jengkal di depan wajahnya, ia hanya memiringkan tubuh dengan gesit, sehingga serangan itu berlalu di samping wajahnya. Wajahnya terasa riak terkena hembusan angin panas, namun tidak terjadi apa-apa. Dengan secepat kilat Arya malah menangkap rantai cemeti itu. Hal itu membuat Boma terbelalak. Selama ini tak seorang pendekar pun yang bisa menangkap kecepatan cambuknya, namun kali ini dengan mudah Arya menangkapnya. Seketika tubuh Boma menggigil, apalagi setelah ia berusaha menarik kembali senjatanya. Sekuat apa pun ia berusaha, namun kepalan salah satu tangan Arya tidak bisa lepas.

"Hiaaaaat!" Melihat ketua kelompoknya terdesak, dua orang di antara penyerang Kirana beralih menyerang Arya. Menyadari ada serangan lain, Arya bukannya mengendurkan pegangannya. Dengan memiringkan tubuh sedikit, Arya menendang dua buah kerikil di ujung kakinya. "Wesss...

Crap! Crap!"

Bagaikan anak panah yang melesat bak kilat, dua kerikil itu menembus kepala kedua penyerang hingga terlempar satu tombak ke belakang. Tanpa erangan, mereka langsung mati seketika, membuat Boma dan seluruh anak buahnya berkeringat melihat kehebatan dan kesadisan orang yang sekarang memegang cemeti Boma.

Kirana semakin kagum melihat dewa penolongnya. Pertama kali muncul, ia sudah kagum dengan ketampanan pemuda yang sekarang berhadapan dengan kepala perampok yang hendak memperkosanya. Ditambah lagi kehebatannya yang sangat luar biasa. Padahal ia sudah lama melanglang buana di dunia persilatan, namun tak sekalipun kenal pada dewa penolong itu.

Boma mengerahkan semua tenaga dalamnya untuk bisa menarik senjatanya, namun hingga wajahnya memerah, cemeti itu tetap menempel di salah satu tangan Arya.

Tiba-tiba Arya menghentak tangannya.

Tak ayal tubuh Boma tertarik ke depan, melayang pelan, membuatnya tergagap. "Tap!"

Leher Boma langsung tertangkap tangan kanan Arya.

Boma berusaha melepaskan diri namun tidak bisa. Ia merasa cekikan tangan Arya semakin mencengkeram hingga napasnya tersengal.

"Tuan... sudah cukup!" Sebuah teriakan wanita membuat Arya menoleh, mendapati Kirana telah sendirian memperbaiki pakaiannya yang compang-camping, dengan beberapa pengeroyok yang bergelimpangan di sekitarnya, sedangkan sisanya lari tunggang langgang melihat pemimpin mereka dibuat tak berdaya oleh Arya.

Arya hanya tersenyum kecil, membuat jiwa Kirana melambung. Lalu Arya menarik tubuh Boma ke belakang dan membantingnya hingga tubuh Boma terlentang di tanah. "Bunuh saja aku!" teriak Boma putus asa. "Kau tidak pantas mati begitu mudah, Tuan. Namun juga tidak mungkin aku biarkan kau selalu bertindak sewenang-wenang," seringai Arya mengerikan, membuat Boma dan Kirana terkejut.

Arya mengangkat kakinya dan menginjak lengan kanan Boma. "Krakkkk!" Bunyinya seperti ranting yang dipatahkan, membuat Boma berteriak hebat, sedangkan Kirana terkejut dan memalingkan wajahnya tidak tega.

"Hahahahaha... bukan hanya itu. Jika hanya sebelah tangan yang kurusak, kau masih bisa menggunakan tangan kirimu." "Tuan, cukup, Tuan!" teriak Kirana tidak tahan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu bahwa pemuda itu telah menolongnya dari kekejaman Boma, namun ia juga tidak tega melihat Boma dibuat seperti itu. Namun Arya tidak menghiraukannya. Ia tetap menginjak lengan kiri Boma. "Krakkkk!" "Aaaaaaah!" teriakan Boma melengking tinggi menyayat hati. "Bunuh saja aku!" teriak Boma, namun Arya hanya menyeringai mengerikan.

"Kakimu juga?" teriak Arya. Seketika itu juga Arya menginjak kedua kaki Boma. "Krakkkk! Krakkkk!" Kirana memalingkan wajah tidak tega. Tiba-tiba ia teringat akan pembahasan di Bukit Batu. "Sudah, Tuan, cukup?!"

"Apakah... apakah Tuan adalah Dewa Iblis?" tanya Kirana bergidik ngeri. Hatinya yang semula dihiasi bunga mawar seketika layu melihat kelakuan orang yang dia kagumi. "Tak sekalipun aku memberi nama itu, namun orang lain yang menyebutnya," jawab Arya tenang, membuat Kirana dan juga Boma ternganga menyadari dengan siapa ia berhadapan. Seandainya sejak tadi Boma tahu berhadapan dengan Dewa Iblis, pasti ia telah lari terbirit-birit. Namun apa daya, semuanya telah terjadi. Kaki dan tangannya lumpuh semua, untuk bergerak saja ia tidak bisa. "Sekarang orang ini aku berikan padamu, terserah kamu. Mau membunuhnya atau mau menolongnya," ujar Arya. Seketika itu pula ia berkelebat tenang tanpa perasaan meninggalkan Boma yang terus mengerang kesakitan.

Kirana masih ternganga di tempatnya, namun erangan Boma membuatnya terkejut. Dengan cepat ia mendatangi Boma berencana menotok jalan darahnya, agar darah yang keluar tidak banyak dan nyawanya bisa tertolong. "Sudahlah! Buat apa aku hidup dalam keadaan lumpuh total?" teriak Boma menolak pertolongan Kirana. Kirana tertegun dan memalingkan wajahnya ngeri akan tindakan Boma yang tidak ia sangka.

Boma menggigit lidahnya sendiri hingga putus. Ia bunuh diri di depan Kirana. Tak terasa air mata Kirana menetes.

Ia ingat lagi akan fatwa Kiai Banjar Banyu Bening dan Kiai Koneng, "Jangan berusaha bertarung nyawa dengan Dewa Iblis. Dewa Iblis masih punya nurani, dia pasti bisa disadarkan." Dan ia melihat sendiri kehebatan Dewa Iblis serta kesadisannya ketika membunuh lawan.

Kemudian ia berkelebat ke arah menghilangnya Dewa Iblis. Ia ingin melaksanakan tugas yang diputuskan Sidang Bukit Batu.

Arya memperlambat larinya mengetahui ada orang yang mengejarnya, dan ia tahu siapa pengejar itu. Ia menunggu hingga kini pengejar itu berada di depannya, seorang wanita cantik dengan tubuh ramping. Pakaian birunya sedikit terkoyak di sana-sini, bahkan wanita itu sejak tadi telah memegang belahan dadanya yang sedikit tersingkap. Arya bukan seorang hidung belang, namun sebagai anak muda ia senang pada wanita cantik dan juga sedikit terkesima apabila melihat bagian-bagian tertentu dari wanita yang semestinya bukan untuk konsumsi umum.

"Buat apa kau mengejarku? Apakah kau tidak terima terhadap tindakanku pada kepala perampok itu?!" tanya Arya tegas. "Walaupun dia pantas mati, namun tidak sepantasnya Tuan menyiksanya seperti itu," jawab Kirana tegas.

Arya mengagumi kejujuran wanita di depannya. "Itu tidak seberapa dengan penyiksaan yang pernah dia lakukan selama ini. Lalu, apakah kau akan menuntut balas?" tanya Arya tegas, membuat Kirana sedikit terbakar emosi melihat kecongkakan Arya, namun bukan itu niatnya mengejar Arya. "Saya hanya mau berterima kasih atas pertolongan Tuan pada saya." "Aku bukan tuanmu, namaku Arya. Dan terima kasihmu aku terima, jadi tak usahlah kau mengikutiku," ujar Arya hendak melanjutkan perjalanannya. "Tunggu dulu, Arya?" tahan Kirana. Arya memalingkan tubuhnya dengan mengernyitkan alis bertanya, "Aku tidak bisa menyimpan hutang jasa, jadi apa yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu?" tanya Kirana berusaha mengajak bicara Arya, padahal ia gentar berhadapan dengan sorot mata Arya yang begitu tajam menghujam sanubarinya.

Namun ia juga ngeri menyadari orang yang ada di depannya sangat sadis dan bertindak sembrono. Bisa saja nanti ia harus menghadapi maut dengan Dewa Iblis. "Aku tidak punya keinginan, hanya satu keinginanku." "Apa itu?!" "Membunuh Datuk Pengemis Nyawa. Jadi kalau kau ingin membantuku, carikan informasi keberadaan Datuk Pengemis Nyawa, dan jangan sampai kau membunuhnya, karena hanya aku yang layak mencabik-cabik ususnya." Arya menegang penuh kemarahan dan kebencian. "Bagaimana jika Datuk Pengemis Nyawa dibunuh orang lain?" tanya Kirana. "Akan kubunuh juga pembunuh Datuk Pengemis Nyawa itu!" jawab Arya tegas. Sungguh dalam kebencian Arya kepada sosok tua itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment