Halo!

Dewa Iblis - Chapter 04

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 04

"Lalu setelah kau berhasil membunuh Datuk Pengemis Nyawa, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Kirana, membuat Arya kelagapan. Dia tidak pernah memikirkan itu. Yang ada di benaknya hanya membalas dendam. Setelah dendamnya terbalas, apa yang akan dia lakukan? Dia tak pernah memikirkan itu.

Gadis itu tersenyum melihat kebingungan Arya.

"Apa yang akan aku lakukan? Yang jelas Datuk Pengemis Nyawa harus binasa!" kata Arya setelah tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Kirana. "Kalau tujuanmu hanya untuk membunuh Datuk Pengemis Nyawa, lalu perbuatanmu selama ini yang membunuh orang atas tujuan apa?" tanya Kirana, karena dia memang penasaran, sama seperti pendekar-pendekar yang lain, akan tindakan Arya yang tergolong serampangan tanpa perhitungan.

"Aku bertindak bukan tanpa alasan. Jika pandanganku dan perasaanku terganggu, pasti aku akan membalasnya. Dan terus terang, tak ada niatan sekalipun aku membunuh orang, karena yang layak aku bunuh hanya Datuk Pengemis Nyawa. Kau lihat sendiri tadi aku tidak membunuh kepala perampok itu."

"Tapi dia mati bunuh diri karena siksaanmu..."

"Salahnya sendiri bunuh diri. Aku sudah memberikannya kesempatan hidup, hidup tanpa bisa mengganggu orang lagi."

"Tapi aku lihat sendiri kau membunuh beberapa orang tadi!"

"Bukan aku yang berniat membunuh, tapi dia terbunuh karena tidak bisa menghindari seranganku. Salahnya sendiri berusaha menyerangku dengan ilmu yang dangkal," terang Arya sambil duduk di sebuah batu santai.

Awalnya dia tidak senang bicara dengan gadis di depannya itu. Namun lama-kelamaan dia menikmati juga obrolan tentang dirinya itu.

"Bagaimana dengan para pendekar yang lain yang telah mati di tanganmu itu?" tanya Kirana semakin menyelidik. Sesungguhnya dia ingin tahu akan kematian Kyai Prana, bekas guru Dewa Iblis itu, namun dia tidak berani bertanya, takut Arya tersinggung, dan itu bisa fatal baginya.

"Sama seperti tadi, aku tidak berniat membunuh. Jika dia tangguh, aku tinggalkan jasadnya di atas pohon atau dalam jurang dalam keadaan hidup. Kupasrahkan nyawanya pada nasib. Jika nasibnya baik, dia akan hidup terus apabila ditolong orang. Entah kalau tak ada yang menolong atau malah ditemukan hewan buas, bukan aku yang membunuhnya?" ucap Arya santai, namun jawaban itu membuat bulu kuduk Kirana berdiri semua. Begitu sadisnya orang yang ada di depannya itu, pantas saja jika dia dijuluki Iblis, namun juga dijuluki Dewa karena selalu menolong orang yang tertindas.

"Sudahlah. Pembicaraan kita sampai di sini. Aku harus melanjutkan perjalanan mencari Datuk Pengemis Nyawa. Jika kau memang berniat membantuku, carikan informasi keberadaan Datuk Pengemis Nyawa. Dan cepat kau ubah pakaianmu itu. Malu dilihat kucing..." seringai Arya, membuat Kirana merona seraya semakin merapatkan dekapannya pada bagian sensitifnya.

"Namaku Kirana. Bagaimana caraku mencarimu jika kudapatkan kabar keberadaan Datuk Pengemis Nyawa...?" teriak Kirana pada Arya yang telah melompat tinggi seperti terbang, terbayang kehebatan peningan tubuhnya.

"Beberapa pekan ke depan, jika aku tidak menemukan Datuk Pengemis Nyawa, aku yang akan mencarimu, Kirana!" teriak Arya sambil menoleh dan tersenyum ke arahnya, membuat Kirana tambah merona dan tersenyum girang saat Arya memanggil namanya.

Kirana pun berkelebat ke arah yang berlawanan guna mencari perkampungan terdekat untuk memperbaiki pakaiannya. Dalam jiwa Kirana masih bingung untuk menebak sifat Arya, dia Dewa atau Iblis. Jika melihat kesadisannya, dia benar-benar Iblis. Namun jika Arya benar-benar berwatak Iblis, tentu melihat dirinya yang setengah telanjang itu menjadi santapan yang empuk. Namun Arya tidak seperti Boma yang tergila-gila pada tubuhnya itu. Andaikan Arya benar-benar bersifat Iblis dan menginginkan tubuhnya, tentu dengan mudah dia akan mendapatkannya. Kirana tersenyum kecil akan pikirannya yang mengelantur.

Arya memang tak pantas menyandang gelar Dewa, tetapi juga sangat tidak pantas jika disebut Iblis. Seakan Kirana tidak terima akan gelar itu. "Tapi tak mungkin dia berusaha untuk mengubah gelar Arya, karena di dunia persilatan nama itu yang kesohor..."

"Kenapa Guru datang kemari tidak terlebih dahulu memberitahu kami, sehingga kami tidak sempat menyediakan penyambutan yang layak?" terang Adipati Layan Kusuma sambil mempersilakan kakek tua berwajah tirus, dengan capil besar dan mantel lebar menutupi tubuhnya yang setengah bungkuk. Dia melangkah tenang membawa tongkat dari akar kayu jati berwarna hitam dan duduk di tempat yang lebih tinggi dari posisi Adipati itu. Terlihat begitu hormatnya Adipati Layan Kusuma pada kakek tua itu. Karena kekayaan dan semua yang dia capai atas jasa kakek tua itu yang tak lain adalah Datuk Pengemis Nyawa.

"Bagaimana Kadipatenmu, Adipati?"

"Cukup baik, Guru, berkat jasa Guru dan beberapa murid Guru yang menjadi pengawal hamba. Dan mereka juga yang telah melatih para pasukan kadipaten sehingga dengan mudah kami menumpaskan beberapa pemberontakan dan perlawanan rakyat, sehingga semuanya dapat dikendalikan dengan mudah," terang Adipati. Di balai itu juga hadir beberapa pentolan murid-murid Datuk Pengemis Nyawa, seperti Ronggowengi, pendekar kembar, Jala dan Jalu dengan senjata sepasang pedang kembar, serta wanita muda bersusur, Nyi Pelet Peteng.

"Bagaimana kesehatan Guru?" tanya Nyi Pelet Peteng hormat.

"Aku sehat-sehat saja."

"Ada apa gerangan Guru tiba-tiba datang kemari?" tanya Ronggowengi.

"Aku terpaksa meninggalkan Ceruk Gua Bangkai karena diburu nyawa oleh pendekar baru yang menggetarkan dunia persilatan akhir-akhir ini," terang Datuk Pengemis Nyawa, membuat semua yang hadir terkejut. Selama ini dia tidak pernah melihat gurunya takut pada siapa pun, namun kali ini sangat jelas gurunya mengharap perlindungan dari mereka.

"Siapa yang telah mengancam Guru...?" tanya Adipati Layan Kusuma geram.

"Seorang pendekar muda dengan julukan Dewa Iblis...!!"

"Dewa Iblis?" Semuanya memicingkan mata penuh tanya, karena mereka tidak pernah sekalipun mendengar ada tokoh persilatan yang mempunyai gelar itu. Datuk Pengemis Nyawa memaklumi ketidaktahuan para muridnya, karena Dewa Iblis baru saja tenar di dunia persilatan, sedangkan mereka terlalu asyik menikmati kemewahan yang diberikan Adipati Layan Kusuma, tanpa memedulikan perkembangan dunia persilatan. Mereka tidak perlu bertanya kenapa Dewa Iblis mencarinya, karena sosok seperti gurunya sudah biasa dimusuhi orang. Namun selama ini dia tidak pernah takut, bahkan semua yang memusuhinya mati mengenaskan.

"Rencananya aku mau meminta perlindungan pada Boma, ketua gerombolan Tapak Langit. Namun ketika aku sampai di sana, mendapati Boma telah mati dengan tubuh mengenaskan, kaki dan tangannya hancur serta lidahnya putus. Pasti itu perbuatan Dewa Iblis."

"Begitu sadisnya Dewa Iblis itu, Guru," komentar Jala.

"Makanya dia terkenal dengan sebutan Dewa Iblis... tindakannya lebih sadis dari aku sekalipun."

"Apakah Guru tidak bisa mengalahkan dia...?" tanya Jalu.

"Ilmuku sedang tersumbat sementara, hingga ritual Bedah Bumi pada bulan purnama kelak, makanya aku datang kemari," terang Datuk Pengemis Nyawa. Membuat semua orang yang ada di sana saling tatap, namun kemudian mereka mengerti apa yang diharapkan gurunya.

"Jadi aku harap kalian bisa menyediakan dua perawan pada bulan purnama ini," terang Datuk Pengemis Nyawa.

Semua yang hadir mengerti. Itu sudah biasa dilakukan gurunya setiap dua tahun sekali, di mana Ilmu Datuk Pengemis Nyawa yang terkenal hebat akan luntur selama setengah bulan pada akhir tahun kedua, hingga dia meminum darah perawan dari dua gadis yang jelita. Semakin cantik gadis itu, semakin bagus untuk menambah kesaktian Datuk Pengemis Nyawa. Pada bulan-bulan awal setelah ritual Bedah Bumi, Ilmu Datuk Pengemis Nyawa berlipat-lipat, sehingga bukan hanya jurusnya yang hebat, suaranya saja bisa membuat gendang telinga orang meledak. Makanya dia diberi julukan Pengemis Nyawa.

"Untuk sementara waktu Dewa Iblis tidak akan datang ke sini, karena aku telah kuutus Gatot Ngurai menggantikan posisiku di Rawa Lintah," terang Datuk Pengemis Nyawa. Murid yang lain hanya mengangguk mengerti. Bahkan mereka mengharap Dewa Iblis akan musnah di tangan Gatot Ngurai.

Gatot Ngurai adalah murid pertama Datuk Pengemis Nyawa yang sosoknya hampir mirip dengan dia, sehingga tak jarang Datuk Pengemis Nyawa memerintahkannya menyamar jadi dia. Bahkan di dunia persilatan, Datuk Pengemis Nyawa bisa membelah diri, ada di dua tempat pada waktu yang bersamaan. Padahal yang satunya adalah Gatot Ngurai yang ilmunya tidak jauh dari gurunya, dia telah banyak menyerap ilmu-ilmu gurunya dengan baik. Jadi tidak heran jika kembaran Datuk Pengemis Nyawa itu memiliki kesaktian yang sangat hebat.

Sekarang ini di dunia persilatan terkenal ada empat pendekar yang paling sakti: Kyai Banjar Banyu Bening, penguasa belahan Timur; Pengemis Gila dari Utara yang sekarang sudah tua renta; Racun Barat yang putrinya menikah dengan salah satu Pangeran Kerajaan, sehingga dia lebih konsentrasi membantu kerajaan daripada terjun di dunia persilatan; dan yang terakhir adalah Datuk Pengemis Nyawa dari Selatan. Jika melihat keterangan itu, maka jelas hanya ada dua pendekar hebat yang masih melanglang buana di rimba persilatan, yaitu Kyai Banjar Banyu Bening sebagai Ketua Golongan Putih dan Datuk Pengemis Nyawa sebagai Ketua Golongan Hitam. Namun kini juga hadir seorang pendekar muda tanpa arah, yang memiliki ilmu bela diri sangat mumpuni, yaitu Dewa Iblis yang tidak bisa ditebak alirannya.

Langkah Arya tertahan saat sampai di sebuah bukit gundul. Dia mendengar ada orang dengan lantang memanggil namanya, "DEWA IBLIS...!" teriakan dengan tenaga dalam tinggi, sehingga suara itu menggema di tempat yang lapang itu. Arya mengerahkan seluruh pancaindranya, pendengaran, penglihatan, dan penciumannya. Tangannya mengepal dengan kuat menunggu hal yang tidak diinginkan. Dia mengetahui pemilik suara itu memiliki ilmu kanuragan hebat. "Sepantasnya tidak ada kata 'Dewa'..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment