Halo!

Dewa Iblis - Chapter 05

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 05

Namun, "nama iblis" lebih pantas kausandang!" Kembali, suara itu menggema, dan Arya masih belum mampu menentukan arah datangnya suara itu.

"Siapa kau? Jangan main kucing-kucingan, aku tidak punya waktu bermain-main." "Hahahaha! Bukannya kau senang mempermainkan nyawa orang?" tanya suara itu penuh hawa kebencian. "Cepat keluar! Jika kau memang Datuk Pengemis Nyawa... atau anteknya... akan kurobek ususmu!" bentak Arya geram.

"Aku bukan Datuk Pengemis Nyawa, tidak juga anteknya, namun aku punya urusan dengan seluruh kelakuanmu."

"Kalau kau bukan bagian dari Datuk Pengemis Nyawa, aku tidak ada urusan denganmu!" teriak Arya seraya mengendurkan kepalan tangannya, kemudian melangkah pelan hendak meninggalkan tempat ini. Namun, dia tetap waspada.

Ternyata benar... selang tiga langkah, dia merasa ada deru udara panas yang terkirim dari sebelah kanannya. Dengan cepat dia melompat menghindari serangan itu.

DUAAAR!" Seketika, tanah tempat Arya semula berpijak meledak meninggalkan serpihan debu dan asap yang terlontar ke mana-mana, membuat Arya harus melindungi matanya dari debu panas itu. Jelas, itu kiriman yang mematikan.

Arya berdiri melihat arah kepulan asap sisa ledakan. Seiring asap itu terbawa angin, kini jelas di depannya, berdiri seorang pemuda dengan pakaian rapi dan cukup tampan; jelas dia senang bersolek, membuat Arya tersenyum. Di kepalanya terikat sebuah kain berwarna merah, di tengahnya tersulam sebuah gambar naga dari benang emas. Ada pedang tanpa sarung, tipis putih terselip di pinggangnya. Pada gagangnya penuh dengan taburan permata dan emas, sehingga berkilat-kilat tersengat sinar matahari. Dia juga berkalung rantai emas.

"Pemuda pesolek tukang pamer..." bisik Arya lirih, sambil meludah pelan ke kiri bahunya.

"Ternyata ini yang namanya Dewa Iblis..." Mata pemuda itu menilik tubuh Arya sambil berjalan ke sana kemari, membelai jenggotnya yang tipis, sambil manggut-manggut. Arya tenang melihat tingkah laku pemuda yang menurutnya menggelikan itu.

"Cukup tampan juga jika disebut iblis, namun juga tidak pantas disebut dewa, tak mungkin ada dewa sedekil ini..." ledek pemuda itu.

"Ada urusan apa kau mencegah langkahku?" tanya Arya tetap tenang.

"Aku adalah pendekar dari Aliran Putih, yang menentang kekejian dan kemungkaran, dan tugasku untuk memusnahkan orang-orang sepertimu... tapi..." Pemuda pesolek yang tidak lain adalah Aji Mahendra melangkah tenang menuju Arya yang masih belum menunjukkan keseriusan. Dia memutari tubuh Arya yang berdiri tegap dan membelai kulit lengan Arya. "Tapi aku tidak tega membunuhmu, aku akan mengampunimu jika kau sudi melayaniku," rayu Aji Mahendra, membuat Arya mencibir.

"Katanya Golongan Putih, tapi kelakuannya sangat menjijikkan!" bisik Arya lirih.

Aji Mahendra mencubit lengan Arya, tapi dia terkejut, buru-buru menarik tangan mulusnya yang bengkak merah. Dia seperti bukan mencubit kulit manusia, melainkan kulit kayu saking kerasnya. Dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya, tersipu malu seperti wanita.

"Sudahlah, lebih baik kau pulang dan berdandan di depan cermin!" bentak Arya, membuat Aji Mahendra melompat mundur.

"Kau benar-benar mencari mati, Bangsat!" bentak Aji Mahendra. "Aku tidak punya urusan dengan orang di luar kepentinganku, namun jika kau berusaha menghalangi tujuanku, maka tidak segan-segan aku akan membunuhmu!" ancam Arya.

Membuat Aji Mahendra merah padam. "Kau tidak tahu siapa aku? Lihat pedang dan ikat kepalaku! Cepat kau minta maaf!" bentak Aji Mahendra sambil menunjuk pedang dan ikat kepalanya. Arya hanya memiringkan kepala dan memicingkan matanya, tidak mengerti.

"Aku adalah Pendekar Pedang Naga, bagaimana? Kau takut mendengarnya?" tanya Aji Mahendra sambil menepuk dadanya sombong, dan Arya malah tertawa. Dia tidak tahu pendekar mana dan siapa, selain para gurunya yang dia tahu di dunia persilatan, hanya Datuk Pengemis Nyawa dan seorang pendekar wanita yang kemarin ditolongnya. Nama Pendekar Pedang Naga sangat kesohor di dunia persilatan. Walaupun sifatnya seperti wanita, namun ketika berkelahi seperti harimau yang menerkam mangsa, dia adalah orang yang disegani bagi Aliran Putih, dan ditakuti oleh Golongan Hitam. Ilmunya sangat tinggi, namun bagi Arya, mana dia tahu!

"Kau ini lucu... Baik, jika kau ingin uji tanding. Melihat seranganmu tadi, aku cukup kagum, jadi mari kita bermain. Jika kau berhasil mendesakku hingga aku mengeluarkan senjata ini," Arya menunjuk sebuah Kayu Cendata Kuning sepanjang lengan orang dewasa yang terselip di pinggangnya, "aku akan biarkan kau bernyawa. Namun jika kau tidak bisa membuatku mengeluarkan senjata, kematianmu karena kesalahanmu sendiri!" ancam Arya tenang, meskipun dia sungguh-sungguh.

Aji Mahendra tambah geram diancam oleh orang yang begitu santai di hadapannya itu. "Lancang kau, bangsat!" teriak Aji Mahendra seraya mengirimkan pukulan tangan kosong.

Menyadari serangan dengan tenaga dalam sangat hebat, Arya juga melakukan hal yang sama dengan menangkis serangan itu. DUGGG! Seperti benturan benda keras terjadi. Tak sampai di sana, Aji Mahendra melayangkan tinju tangan sebelahnya, dan Arya hanya merunduk menangkis tendangan kaki Aji Mahendra yang beruntun. Serangan Aji Mahendra sangat gesit dan lincah, bahkan dia bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya secara serampangan, membuat Arya kagum pada Pendekar Pedang Naga ini. Dia terus mengimbangi serangan bertubi-tubi itu tanpa berusaha membalas. Dia masih ingin bermain-main.

Mengetahui serangan jarak dekat yang Aji Mahendra lakukan tidak menemukan hasil, kemudian dia melenting ke udara. "Serangan Naga Air!" teriak Aji Mahendra. Tiba-tiba tubuhnya berputar bak gasing di udara dengan satu kaki menjulur ke bawah. Arya terperangah mendapat serangan mematikan itu. Secepat kilat Arya mengubah susunan kuda-kudanya. "Memaku Bumi Menendang Langit!" teriak Arya. Kaki kanannya terangkat tinggi menyambut datangnya serangan Aji Mahendra, sedangkan kaki kirinya masih di tanah.

Kedua tendangan beradu dengan kuat. BLEMMMM! Kaki kiri Arya terbenam setengah jengkal ke tanah. Betapa hebat serangan Aji Mahendra! Kedua telapak kaki pendekar itu masih menyatu di atas kepala Arya, tenaga dalam sama-sama ditingkatkan, hingga di sekitar bertemunya kedua kaki itu timbul asap sangat panas. BLEMMMM! Kembali, kaki kiri Arya semakin terbenam di tanah. Menyadari kuatnya tenaga dalam lawan, Arya sedikit menarik kaki kanannya. "Hiaaaaaat!" Seiring teriakan itu, kaki kanan Arya menghentak, membuat Aji Mahendra terkejut terlontar ke udara. Dia berusaha mengontrol tubuhnya dengan berbalik ke belakang, namun masih sempat terhuyung tiga langkah. Sejak tadi dia meremehkan musuhnya itu, namun apa yang barusan dilihatnya? Serangan Naga Air yang begitu hebat itu dapat dipatahkan dengan mudah, bahkan sekarang dia berdiri santai tersenyum mengejeknya.

"Ayo, anak manis! Kalau ingin mencoba lagi?" ledek Arya, membuat wajah Aji Mahendra semakin padam, penuh amarah.

"Kubunuh kau, Iblis!" Teriaknya seraya dengan cepat memburu tubuh Arya dengan pukulan dan tendangan yang serampangan. Arya telah merasakan betapa hebatnya serangan serampangan itu. Dengan pasti dia mengatur kuda-kudanya dengan bentuk yang berbeda, membuat Aji Mahendra terkejut, karena silat Arya selalu berubah-ubah sehingga tidak bisa ditebak alirannya. Dia jadi ingat keterangan di Bukit Batu bahwa Arya memiliki banyak guru dengan berbagai aliran, pantas saja bentuk dan seni beladiri Arya beraneka ragam. Namun, bagi Aji Mahendra yang sudah lama melanglang buana di rimba persilatan dan berhadapan dengan orang dari berbagai bentuk dan aliran, hal itu tidak akan menggentarkannya. Dia tetap melanjutkan serangannya.

Saat hantaman Aji Mahendra hampir mengenai tubuh Arya, dia menangkis dengan lengannya. Kemudian sikunya menekuk dan menderu ingin menghantam kepala Aji Mahendra. Aji Mahendra terkejut namun cepat-cepat memiringkan kepala. Dia mengirimkan lagi pukulan dengan tangan kiri. Arya menangkis, lalu menekuk sikunya dan menderu ingin menghantam dada Aji Mahendra, membuat Aji mundur satu langkah. Masih belum cukup keterkejutannya melihat Arya menangkis langsung menyerang dengan siku. Aji mencoba mengirim serangan berupa tendangan. Arya menangkis dengan betisnya, lalu ditekuk, serta-merta lutut Arya menderu ingin menghantam perut Aji. Dia melompat ke belakang.

Aji Mahendra semakin nanar melihat jurus Arya. Dia yang menyerang, namun dia pula yang terdesak. Aji melihat Arya meletakkan kedua tangannya menutupi dada dan kakinya melompat-lompat dengan kaki kanan di depan. Ini yang disebut dengan Jurus Belalang Sembah, yang dia warisi dari Tokoh Sesat Tua Garda Neraka, yang akhirnya juga binasa di tangan Arya, karena telah memperkosa dan membunuh muridnya sendiri, atau saudara seperguruan Arya. Seluruh murid Garda Neraka juga mati di tangan Arya, karena berusaha menuntut balas atas kematian gurunya, dan hal itu dianggap menghalangi tujuan Arya untuk membunuh Datuk Pengemis Nyawa. Jadi, pewaris Jurus Belalang Sembah tinggal dia seorang.

Aji Mahendra tidak puas dengan kejadian tadi. Dia berusaha melakukan serangan tangan kosong. Namun lagi-lagi dia harus melompat mundur oleh siku dan lutut Arya yang mengancam keselamatannya. Arya hanya tersenyum mengejek tanpa berusaha menyerang terlebih dahulu.

"Kurang ajar! Laki-laki ini benar-benar tangguh!" geram Aji Mahendra.

"Ayo lagi?" tantang Arya.

Aji Mahendra membuka kakinya lebar dan merentangkan kedua tangannya. Ini merupakan kombinasi Pedang Naga yang biasa dia pergunakan apabila terdesak saja, namun kali ini harus dikeluarkan sebelum terdesak, karena mengetahui lawannya sangat tangguh. "Hiaaaattt!" Pukulan dan tendangan Aji Mahendra semakin menderu dan cepat, membuat Arya terkejut. Saking cepatnya serangan Aji Mahendra sehingga dia tidak sempat untuk menekuk siku atau lututnya karena harus menangkis pukulan dan tendangan lainnya. Perkelahian itu kembali imbang. Mereka saling memberi dan menerima dengan cepat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment