Halo!

Dewa Iblis - Chapter 06

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 06

Hingga jika mata orang biasa yang melihat hanya akan menyaksikan kelebatan bayangan saja.

Merasa sudah tidak memiliki kemungkinan untuk menggunakan tangan kosong.

Tiba-tiba saat serangan tangan kosong beradu.

Secepat kilat Aji menarik pedangnya dan membabat seketika.

Arya hampir tidak mengetahui.

Dia menarik semua anggota tubuhnya dan melompat ke belakang.

Sedikit saja dia lambat, pedang itu pasti membabat dadanya. Tampak jelas baju Arya di sebelah dada terbabat hingga menganga.

Bukan cuma Arya yang terkejut, Aji Mahendra juga terkejut.

Jarang ada orang yang selamat dari serangan mautnya itu.

"Ternyata kau hebat juga!" puji Aji Mahendra. "Bagus, aku sejak tadi memang ingin melihat pedang mainanmu itu," ujar Arya yang kini telah mengubah posisi kuda-kudanya. Tangan di depan dengan telapak tangan terbuka ke atas, seperti orang berdoa, namun tangan kanan lebih maju, dan satu kaki di belakang membentuk kuda-kuda kuat, sedangkan kaki yang di depan hanya menjinjit. Ini adalah Jurus Putri Bulan yang dia warisi dari Kakek Kambangan.

Tidak seperti jurus milik Aji Mahendra yang tersusun rapi, jurus Arya berubah-ubah karena dia memang tidak sempat menamatkan pelajaran pada satu guru. Sehingga untuk menyambut serangan lawan yang beraneka ragam, dia menggunakan jurus milik aliran yang berbeda-beda. Jurus Belalang Sembah sangat hebat untuk perkelahian tangan kosong, namun tidak baik untuk melawan orang yang bersenjata karena itu untuk perkelahian jarak dekat. Untuk melawan musuh bersenjata, dia harus menggunakan jurus yang disusun untuk jarak yang tidak terlalu rapat, dan yang paling tepat adalah Jurus Putri Bulan.

"Ayo kemari, anak manis," ledek Arya sambil tersenyum tenang. "Hiaaaaaatttt!" Aji Mahendra berkelebat membabatkan pedangnya. Arya berkelit ke samping kiri sambil menyodorkan tangannya.

Tiba-tiba tangan kiri Aji Mahendra menderu dengan kuat.

Membuat Arya tergagap menarik kembali tangannya.

DUGGG... ! Pukulan Aji Mahendra telak menghantam bahu Arya hingga dia oleng ke samping. Tak sampai di sana, tendangan Aji Mahendra datang mengarah perut. Secepat kilat Arya menangkis dengan tangan. Saking kuatnya tendangan itu membuat tubuh Arya sedikit terangkat.

Tak sampai di sana, ada serangan yang jauh lebih mematikan, di mana pedang Aji Mahendra berkelebat dari atas. Menyadari posisi dalam bahaya, Arya cepat menghentak kakinya hingga tubuhnya berputar ke samping di udara.

Dan hinggap dengan manis di tanah.

Arya membelai bahunya yang sedikit nyeri sambil memutar-mutar lengannya agar posisi urat kembali pada tempatnya.

Dia sedikit meringis menahan sakit. "Ini yang namanya jurus Naga Mencabik Langit Menelan Bumi," seringai Aji Mahendra sambil menudingkan pedangnya dan mengepal tinju kiri sambil memainkan kaki kanannya.

Arya sangat takjub, selama ini dia tidak pernah berhadapan dengan orang yang menggunakan senjata, namun tangan dan kakinya juga hidup turut menyerang.

Kembali dia mengatur posisi kuda-kuda Jurus Putri Bulan. Namun saat ini, dia yang menyerang terlebih dahulu dengan geram. "Hiaaaaat!" Arya menyodorkan telapak tangannya ke depan, namun cepat dia tarik karena pedang Aji Mahendra akan membabat. Kemudian dia susul dengan sodokan tangan kiri menuju wajah. Aji Mahendra hanya mengelak ke samping, tanpa disadari, selain mengelak, Aji Mahendra melancarkan tendangan. BUUUGGG...!!

Tendangan itu telak menghantam perut Arya. Dia terhuyung ke belakang tiga langkah sambil meringis menahan sakit. Tidak mau melepas kesempatan, Aji berencana menyerang langsung Arya yang masih dalam posisi tanpa persiapan. Namun saat kaki yang menghantam perut Arya sampai di tanah, dia merasakan nyeri yang tidak terkira. Sepertinya salah satu jari kaki patah.

Tadi saat menendang Arya, dia sudah terkejut. Sepertinya bukan perut yang dia tendang, namun bongkahan batu.

Aji pun meringis menahan sakit di kakinya.

"Ternyata jurusmu hebat juga, Banci?" seringai Arya, berdiri tegak seperti tidak pernah terjadi apa-apa, membuat Aji Mahendra terbelalak dan sadar dengan siapa sekarang dia berhadapan.

Kiai Banjar Banyu Bening saja mengatakan belum tentu sanggup menghadapinya. Dulu dia tidak percaya kata-kata itu; dia anggap Kiai Banjar hanya merendahkan diri saja, namun sekarang dia melihat sendiri kehebatan Dewa Iblis yang menggetarkan dunia persilatan.

Dia menjadi meringis ngeri, padahal sudah hampir semua jurus dia kerahkan. Namun Dewa Iblis menyambutnya dengan santai, masih belum ada tanda-tanda keseriusan pada wajahnya, dia tetap cengar-cengir.

Kini dia seakan berhadapan dengan dewa maut, namun dia tidak mau menyerah sampai di sini.

"Baiklah, Pendekar Pedang Naga, kuampuni nyawamu," ujar Arya sambil menarik kayu cendana yang terselip di pinggangnya.

"Melihat kehebatanmu, kau masih berguna bagi orang lain," lanjut Arya menyeringai.

Membuat Aji Mahendra semakin naik pitam. "Hiyaaaat!" Aji Mahendra menyerang dengan ganas, dan Arya menyambutnya dengan kayu cendananya. Aji Mahendra tersenyum kecil, pedangnya yang terbuat dari besi pilihan dilawan dengan sebongkah kayu. Jangankan hanya kayu cendana, besi biasa saja akan terbabat oleh Pedang Naga itu.

TRAAAANG! Aji Mahendra terkejut saat senjata bertemu dengan kayu cendana itu seakan membentur besi murni dengan kualitas tinggi hingga pedangnya bergetar butuh dua tangan untuk bisa menguasai getaran pedangnya.

Seketika pula harum kayu cendana memenuhi rongga napasnya membuat damai. Namun tiba-tiba dia tersentak, "Ini racun! Bangsat, kau sungguh licik, Iblis!" teriak Aji Mahendra menyadari seluruh urat mengendor, bahkan dia tidak mampu mengangkat senjatanya sendiri. Seketika itu pula tubuhnya ambruk ke tanah. "Hahahaha, kau sendiri yang gegabah ingin membunuhku sehingga tidak menyadari serangan yang sangat halus itu," seringai Arya penuh kemenangan sambil memasukkan kembali kayu cendananya. "Hanya Iblis yang dengan licik menggunakan racun?" teriak Aji Mahendra, tidak terima dikalahkan dengan tidak jantan.

"Apa saja bisa digunakan untuk menang, Pendekar," jika bicara curang, tadi kau juga curang membabatkan senjata tajam saat kita beradu tangan kosong. "Apa itu tidak dikatakan curang?" ujar Arya tersenyum sambil jongkok menatap mata Aji Mahendra yang nanar penuh amarah. "Itu bukan curang, tapi keahlian." "Dan penggunaan racun juga salah satu keahlianku?" kata Arya seraya mengangkat tubuh Aji Mahendra yang lemah dan meletakkan di pundaknya.

"Hei! Apa yang akan kau lakukan?!" teriak Aji Mahendra bingung dan takut. "Tenang saja, Pendekar, aku sudah berjanji tidak akan membunuhmu."

"Kau akan terlihat memalukan jika ditemukan orang tergeletak lemah di sana," terang Arya. Membuat Aji Mahendra terbelalak, ternyata orang yang menggendongnya mempunyai hati yang baik juga. Benar apa yang dikatakan Dewa Iblis, betapa malunya jika dia yang terkenal sebagai pendekar hebat ditemukan tergeletak lemah di tanah.

Ingin rasanya dia berterima kasih akan kebaikan Arya, namun kedongkolan karena kekalahannya dengan cara yang licik lebih besar lagi.

Tiba-tiba Aji Mahendra terkejut karena merasa tubuhnya melayang lepas dari pundak Arya. Bukannya jatuh, malah tubuhnya semakin tinggi dari badan Arya yang tersenyum melihatnya. KRAK... KRAK... KRAK...

"Kurang ajar kau, Iblis laknat!" teriak Aji Mahendra setelah dia tahu sekarang tubuhnya menyangkut di pohon ampelan yang berduri-duri besar, sehingga tak ayal tubuhnya tertusuk duri-duri itu.

Ternyata Arya melemparkannya ke sana.

"Hahahaaa... Dengan seperti itu, kau tidak tergeletak di tanah, namun lebih mulia sedikit. Orang yang menemukanmu tidak akan curiga kau kalah bertarung, tapi disangka tidak bisa naik pohon dan jatuh tersangkut di sana. Itu kalau ada manusia yang melihat, entah kalau binatang buas yang menemukanmu, aku tidak tahu," ujar Arya seraya meninggalkan Aji Mahendra dengan tenang. "Bangsat kurang ajar! Lebih baik kau bunuh aku sekarang daripada mati tersiksa di sini!" pinta Aji Mahendra.

Membuat Arya menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aji Mahendra yang menatap terbelalak.

Takut Arya bersungguh-sungguh mengabulkan permintaannya. "Oh ya, walau kau tidak ada yang menemukan, asal kau bisa bertahan setengah hari kau pasti selamat karena racun itu hanya berlaku setengah hari. Dan pedangmu aku letakkan di pohon ampelan sana agar tidak dicuri orang," seringai Dewa Iblis, membuat Aji Mahendra terbelalak karena pohon ampelan tempat pedang itu berada sangat tinggi dan penuh dengan duri-duri besar.

Bagaimana cara dia mengambilnya? Aji Mahendra terus mengeluarkan sumpah serapah yang tajam pada Dewa Iblis, namun tidak ditanggapinya. Arya terus berlalu meninggalkan Pendekar Pedang Naga yang tersangkut di pohon ampelan. Tak terasa Aji Mahendra melinangkan air mata meratapi nasibnya, dan dendam pada Dewa Iblis semakin memuncak. Bukan hanya ingin membunuhnya, bahkan jika dia menemukan jasadnya telah mati sekalipun, dia dengan tega pasti akan menginjak-injak dan membelahnya hingga berkeping-keping saking marah. Bahkan dia berharap Dewa Iblis mati di tangan Datuk Pengemis Nyawa, atau kalau perlu dia akan membantu Datuk Pengemis Nyawa yang jelas musuh alirannya itu, jika melihat penghinaan Arya padanya kali ini.

Setelah sekian lama melanglang jagat mencari keberadaan Datuk Pengemis Nyawa, Arya sampai di belahan barat.

Dia asyik menikmati makan di sebuah kedai. Iring-iringan manusia lewat di depan kedai itu menjadi pusat perhatiannya.

"Ada acara apa ini, Tuan? Kok banyak iring-iringan lewat sini?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment