Halo!

Dewa Iblis - Chapter 07

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 07

"Apa kau tidak dengar kabar besar itu, bahwa sebentar lagi akan ada keramaian di Bukit Gembala?" tanya Arya pada orang yang makan di sebelahnya.

"Ada apa di Bukit Gembala?" tanya Arya semakin heran.

"Ah, kau benar-benar ketinggalan informasi. Racun Barat, atau Tuan Owyang, setelah mengawinkan anak pertamanya dengan Pangeran dari Jepara, kini akan mencari jodoh putri keduanya yang sangat cantik itu dari dunia persilatan," terang pria tambun itu. "Andai aku punya ilmu hebat, pasti juga turut serta acara itu. Menurut kabar, parasnya lebih cantik dari yang diperistri Pangeran Jepara, namun aku juga ingin menyaksikan pertarungan orang-orang hebat itu," tambah pria kurus itu sambil mempercepat makannya.

Arya hanya manggut-manggut sebagai tanda mengerti. Nama Bukit Gembala, Tuan Owyang, atau Racun Barat, baru didengarnya.

Hal yang aneh memang jika seorang pendekar tidak tahu akan tokoh sakti di antara empat tokoh persilatan yang merajai dunia pendekar.

Dia hanya menanggapi hal itu dengan biasa. Tiba-tiba dia teringat akan Datuk Pengemis Nyawa yang gila perempuan; sayembara seperti ini pasti tidak akan dilewatkannya.

Arya pun mempercepat makannya. Setelah membayar kepada pemilik kedai, bergegas dia bergabung dengan rombongan agar bisa menuju Bukit Gembala. Sesungguhnya, dia bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh agar perjalanannya lebih cepat.

Tapi dia tidak tahu arah Bukit Gembala.

Maka, ia pun mengikuti langkah masyarakat yang berbondong-bondong ingin menyaksikan pertarungan orang-orang hebat. Bukit Gembala adalah area kekuasaan Racun Barat. Tempatnya sangat asri, dikelilingi sebuah danau kecil di tengahnya.

Dan di tengah danau itu terdapat sebuah pentas dari beton.

Itu adalah arena sayembara.

Di sebelah barat terdapat pentas besar, yang pasti adalah tempat tuan rumah. Bagian utara berjejer rapi kursi dan meja, serta jamuan yang lezat.

Pasti itu tempat para pendekar yang ikut sayembara.

Tampak jelas sudah duduk para pendekar pilih tanding dari semua aliran di sana.

Bagian timur dan selatan danau itu khusus bagi para penonton, serta para pedagang yang mencari keuntungan dalam helatan akbar Racun Barat.

Arya duduk dengan tenang di sebuah bangku bersama dengan para pendekar lainnya.

Pelayan pun datang menyuguhkan makanan dan minuman yang sangat lezat, guna menghormati tamu-tamu penting itu.

Tiba-tiba para penonton dan pendekar lainnya menjadi ramai, saat rombongan besar datang. Bahkan mereka dikawal oleh tentara kerajaan dan naik ke atas podium besar di sebelah barat. Jelaslah itu adalah tuan rumah yang dikawal oleh pasukan menantunya.

Tampak jelas di sana seorang lelaki besar berpakaian mewah, bertubuh gemuk dengan rambut yang memutih digelung ke atas, serta janggut yang juga memutih. Jari-jari tangannya hitam kelam, penuh racun. Dia pastilah Racun Barat.

Yang tidak kalah menjadi pusat perhatian semua orang adalah wanita cantik berpakaian mewah yang duduk di sebelah Racun Barat.

Dia pasti Putri yang akan diperebutkan para pendekar.

Senyum manisnya mengundang semangat luar biasa untuk mendapatkannya.

Tatapan putri itu sedikit lama tertuju pada Arya, yang tidak peduli sekitarnya, tetap asyik menikmati hidangan lezatnya.

Racun Barat berdiri kemudian menghentakkan kakinya hingga melayang di udara dan hinggap dengan manis di tengah pentas. Ia disambut tepuk tangan meriah oleh para penonton yang kagum akan ilmu meringankan tubuh tokoh hebat persilatan itu.

"Terima kasih atas kedatangan seluruh masyarakat, sudah bersedia meramaikan acara ini serta menjadi saksi siapa yang pantas menjadi menantuku. Saya juga berterima kasih atas kedatangan para pendekar hebat, calon menantu saya." Para pendekar saling membusungkan dada, bahkan ada yang memamerkan sedikit jurus silatnya untuk menarik perhatian Racun Barat, terutama putrinya yang masih terus menatap pemuda tampan yang aneh. Arya bahkan tidak memedulikan keramaian itu, cenderung meremehkan orang tuanya sendiri.

Namun, melihat ketampanan pemuda itu, ada harapan besar bahwa gadis jelita itu nanti yang akan memenangkan sayembara.

Arya bukan tidak memperhatikan semua yang terjadi, namun rasa dongkolnya lebih tinggi lagi. Jauh-jauh datang ke Bukit Gembala, ia masih belum menemukan sosok yang dicarinya.

"Saudara pendekar sekalian yang saya hormati, alangkah baiknya jika kalian memperkenalkan diri dulu. Terus terang, saya sudah lama tidak ikut campur di dunia persilatan, sehingga saya banyak tidak kenal dengan para pendekar," ujar Racun Barat sambil melirik kecil ke arah Arya. Dalam hatinya terbersit kekaguman akan sikap tenang Arya.

Seorang pemuda tampan dengan kumis tipis, dan pedang di tangannya, maju ke depan dengan memberi hormat. "Saya Bintang Kusuma, putra Datuk Gema Samudra, mengucapkan salam hormat kepada Racun Barat," ujarnya.

"Ohhh... putra Datuk Gema Samudra. Ayahmu teman baikku, sampaikan salamku apabila kau pulang nanti..." sapa Racun Barat ramah.

Kemudian disusul pria tambun yang memegang guci arak. Ia mengangkat guci besarnya dan meminum isinya dengan lahap. "Aku Tuak Seta, memberi salam kepada Racun Barat."

"Oh, Tuak Seta, aku sudah dengar kehebatanmu. Salammu kuterima."

Para pendekar yang lain pun melakukan salam perkenalan dengan cara yang berbeda-beda, hingga akhirnya sampai pada giliran Arya. Arya yang tidak tahu itu sampai harus disuruh oleh pelayan.

"Oh, ya," nama saya Arya. Maaf, Tuan, saya bukan termasuk peserta sayembara. Saya kemari hanya ingin menyaksikan keramaian saja," ujar Arya dengan gelagapan.

"Kalau hanya penonton, jangan duduk di tempat ini! Sana, pergi!" bentak pelayan diiringi cemoohan penonton lainnya. Arya digiring keluar oleh dua pelayan, dan Arya pun menurut saja.

Tampak jelas ada nada kecewa pada raut wajah putri Racun Barat, sedangkan Racun Barat hanya tersenyum. Sebagai tokoh tua persilatan, melihat sekilas saja dia sudah bisa menebak kemampuan orang. Melihat beberapa luka di tubuh pemuda itu serta kayu yang bukan benda sembarangan terselip di pinggangnya.

Pasti dia bukan orang sembarangan.

Ada rasa kecewa juga yang terhembus dalam benaknya.

"Baik, pencarian jodoh untuk putri bungsu saya akan segera dimulai. Syaratnya cukup mudah. Siapa yang lebih dulu tercebur ke dalam danau, dialah yang kalah. Dan yang menang boleh melanjutkan melawan berikutnya atau beristirahat sejenak..." terang Racun Barat seraya melenting ke udara dan mengirimkan pukulan jarak jauh ke gong besar di sebelah pentas barat.

GONG!!!

Tepuk tangan para penonton riuh seiring sampainya kaki Racun Barat di pentas dan duduk dengan tenang di samping putrinya.

Tak berselang beberapa lama, seorang pendekar melenting ke udara dan hinggap di tengah arena dengan memegang golok besar. "Saya Golok Setan, ingin menunjukkan kepantasan saya mempersunting putri Racun Barat dengan menantang pendekar sekalian," ujarnya sambil mengangkat golok besarnya ke udara diiringi tepuk tangan penonton.

Kemudian melenting juga sesosok pendekar lain dan hinggap di sebelah Golok Setan. "Saya Tapak Besi, ingin menjajal kehebatan Tuan..." ujar pendekar yang baru datang dengan menatap tajam ke arah Golok Setan.

Seiring dengan anggukan Racun Barat, sayembara itu pun mulai. Mereka saling menunjukkan kehebatannya. Sekilas tampak jelas jika Golok Setan lebih unggul dari Tapak Besi, di mana goloknya menderu membabat setiap jengkal tubuh pendekar Tapak Besi. Ini adalah pertempuran antara pendekar bersenjata golok dan pendekar bertangan kosong.

Dan sungguh di luar dugaan, benar-benar tidak salah berjuluk Tapak Besi. Golok besar milik Golok Setan ditangkis tangan kosong Pendekar Tapak Besi, membuat semuanya menganga. Mereka bertempur imbang, saling menyerang dan bertahan dengan mudah.

Hingga berlalu tujuh puluh jurus, masih belum bisa dipastikan siapa yang pantas sebagai pemenang. "Tapak Besi membara!" teriak pendekar Tapak Besi. Seketika itu juga tangannya yang sekeras besi itu memerah, membuat semuanya terkejut.

Namun, Golok Setan tetap memburunya dengan golok besarnya.

TRANG!!!

Golok besar itu beradu dengan Tapak Membara milik Pendekar Tapak Besi. Pendekar Golok Setan terkejut dan cepat mundur sambil berusaha mengendalikan goloknya yang bergetar hebat, bahkan hampir lepas dari genggamannya.

Saat masih berusaha mengendalikan golok itu, tanpa ia sadari Pendekar Tapak Besi mengirimkan sebuah serangan.

BUG!!!

Tak ayal serangan dadakan itu menghantam tubuh Golok Setan, hingga tubuhnya terlempar.

BYUR!!!

Tubuh Golok Setan tenggelam ke air danau.

Secepat kilat pasukan kerajaan yang sudah bersiap sejak tadi melompat ke dalam danau untuk menolong yang kalah.

Gemuruh tepuk tangan penonton seiring dengan tangan Pendekar Tapak Besi terangkat dengan senyum kemenangan. "Aku tidak mau beristirahat, langsung saja jika ada yang ingin mencoba!" teriak Pendekar Tapak Besi dengan sombong.

WESSSS!!!

Sebuah serangan dari samping membuatnya terkejut, dan buru-buru menghindar. Sebuah guci arak besar hendak menghantam tubuhnya.

BUM!!!

Guci besar itu mendarat di tengah arena, membuat arena itu bergetar. Disusul dengan melentingnya sebuah tubuh dan mendarat dengan rapi di atas guci.

Pria tambun itu telah bersila di sana. "Aku Tuak Seta," ujarnya dengan tenang.

Tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah lagi, Tapak Besi langsung menderu ke arah Tuak Seta yang telah membuatnya dongkol oleh serangan pertamanya.

Melihat Tapak Besi menyerang, Tuak Seta melenting ke belakang dan menendang guci besarnya yang terbuat dari besi. Guci tersebut menderu ke arah Tapak Besi. Mendapat serangan tak disangka, Tapak Besi langsung meletakkan kedua tangannya untuk menangkap guci besar itu.

TAP!!! GERRR!!!

Alangkah terkejutnya Tapak Besi ketika tangannya bertemu dengan guci itu. Dia tidak bisa langsung menghentikannya, bahkan dia masih tersuruk ke belakang. Tak sampai di situ, Tuak Seta melompat tinggi dan menghantam guci itu dengan tendangan hebat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment