Halo!

Dewa Iblis - Chapter 08

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 08

Tak ayal, Tapak Besi yang tidak mampu menahan serangan pertama masih ditambah serangan kedua yang semakin hebat, membuatnya terjungkal ke dalam danau. BYUUUUUURRR! "Hahahahaa, jurus picisan, memamerkan jurus di sini!" tertawa Tuak Seta, membuat semua terbelalak, tak menyangka pemenang ronde pertama digilas begitu mudahnya oleh Tuak Seta. Teriakan dan tepuk tangan penonton pun semakin gaduh.

Seketika itu pula, ada sesosok tubuh pendekar melenting ke udara. Melihat kedatangan lawan tanding, tanpa menunggu pendekar itu menginjakkan kaki di arena, Tuak Seta melempar guci besinya ke udara disusul dengan tubuhnya yang turut melenting. Pendekar itu tergagap berusaha menahan guci besi tersebut, namun tak berhasil dan terlempar ke belakang. Tuak Seta menangkap gucinya dan menarik kembali ke tengah arena.

Sedangkan pendekar yang terpental itu sangat sial. Ia jatuh di tepian danau yang penuh bebatuan. BUGGGGG! Pendekar itu langsung tak sadarkan diri.

"Ayo, siapa lagi yang ingin maju?" tantang Tuak Seta sambil melihat para pendekar yang ada di bangku utara. Melihat kehebatan Tuak Seta, para pendekar saling pandang, bahkan banyak yang mengangkat tangan tanda menyerah.

"Hahahaha, tinggal kau sendirian, anak muda!" tunjuk Tuak Seta pada Bintang Kusuma. Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, kemudian melenting ke udara menuju arena.

Tuak Seta melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia melempar guci araknya disusul tubuhnya melompat.

Bintang mengetahui serangan itu. Dengan mudah ia menangkap guci tersebut, lalu melemparkannya kembali pada Tuak Seta yang sedang menyusul gucinya.

Tuak Seta tergagap. Buru-buru ia melenting ke samping dan menangkap guci itu. Secara bersamaan, kedua pendekar itu mendarat di arena sayembara.

Tuak Seta berdiri sambil mengangkat tinggi guci besar yang terbuat dari besi tebal, menunjukkan tenaga dalamnya sangat tinggi. Padahal, butuh dua puluh orang biasa untuk bisa mengangkat guci besar itu.

Namun kini di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan sikap tenang menjinjing pedang yang masih tersarung. Ia dengan mudah menangkap dan mengembalikan guci besar Tuak Seta, berarti ia juga memiliki tenaga dalam yang hebat.

Penonton semakin riuh dengan tepuk tangan.

Karena hanya tinggal dua pendekar tersisa, ini adalah babak penentuan.

Putri Racun Barat meringis, membayangkan jika yang menang ternyata pria tambun pemegang guci. Ia lebih mengharapkan pria tampan bernama Bintang Kusuma, walau sesungguhnya ia lebih mengharap pemuda yang tadi diusir pelayan karena ternyata hanya penonton.

Arya masih di tempatnya menyaksikan pertarungan orang-orang hebat, walau sesungguhnya ia kecewa karena tidak menemukan orang yang ia harapkan. Namun, dengan melihat aksi-aksi pendekar itu, ia bisa mengukur kemampuannya sendiri.

"Baik! Dikarenakan peserta tinggal dua orang, maka ini merupakan babak penentuan. Jadi, tunjukkan kehebatan kalian agar layak bersanding dengan putriku!"

"Hahahaha, aku yang pasti jadi juara, anak muda!" ujar Tuak Seta meremehkan Bintang Kusuma. Bintang Kusuma hanya tenang di tempatnya.

"Terimalah seranganku, anak muda! Hiaaaat!" Tuak Seta menyerang dengan melempar gucinya, disusul tubuhnya yang juga ikut di belakang guci.

Bintang mengetahui serangan itu. Ia melompat ke samping sambil menghunus pedangnya dan menusuk ke arah Tuak Seta.

Dengan gesit, Tuak Seta berkelit ke samping guci dan menarik guci itu untuk menangkis pedang Bintang Kusuma. TRAAANGGG! Sungguh dahsyat serangan kedua pendekar, hingga memercikkan api. Tiba-tiba, bukan hanya kedua pendekar yang terkejut, semua mata yang ada di sana juga tergagap, melihat sebuah bayangan hitam menghantam tengah pertarungan, sehingga Tuak Seta dan Bintang Kusuma harus melompat mundur. DUAAAAAR! Serangan yang sungguh mematikan, hingga arena terbuat dari beton berlapis jebol seketika. Kini tampak di depan mereka seorang wanita berpakaian hitam berdiri menatap Racun Barat yang masih santai di tempatnya.

"Maaf, Tuan Racun Barat, saya datang terlambat?" terang wanita itu.

"Ada apa gerangan Nyi Pelet Peteng kemari? Ini adalah sayembara bagi pendekar pria untuk mencari calon pendamping putriku."

"Saya juga ingin turut serta dalam sayembara ini," ujar Nyi Pelet Peteng, membuat semuanya terkejut, begitu juga Racun Barat.

"Mana mungkin wanita merebutkan wanita?!" bentak Tuak Seta geram.

"Apakah kau suka pada wanita, Nyi Pelet?!" tanya Racun Barat turut geram.

"Ampun, Tuanku, saya ikut sayembara ini bukan untuk saya sendiri, tapi untuk guru saya."

"Sepantasnya gurumu yang menjajal ilmu kemari jika ingin turut mempersunting Putri Racun Barat!" bentak Bintang Kusuma.

"Hahahahaaaa! Tak usah guruku yang turun tangan, kalian berdua saja belum tentu bisa mengalahkanku?" ledek Nyi Pelet Peteng, membuat Pendekar Tuak Seta dan Bintang Kusuma sama-sama terbakar emosi.

"Keparaaaat! Hiaaaat!" teriak Tuak Seta mengirim serangan disusul Bintang Kusuma yang terbakar emosi, secara bersamaan menyerang Nyi Pelet Peteng.

"Sudah cukuppp?!" teriak Racun Barat menggema, membuat semua penonton menutup telinga saking kuatnya.

Namun, ketiga pendekar yang telah diamuk emosi tidak menghiraukannya. Hal ini membuat Racun Barat menarik napas berat dan membiarkannya sambil memperhatikan dengan saksama. Ia telah berpikir untuk bersikap siaga jika ada hal yang tidak diinginkan.

Pertempuran orang-orang hebat itu berjalan seimbang. Tampak ilmu Nyi Pelet Peteng lebih tinggi dari kedua pendekar lawannya. Seandainya berlawanan satu lawan satu, Nyi Pelet Peteng pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah, tapi sekarang ia harus menghadapi kedua lawan sekaligus.

Pertempuran itu berjalan seimbang. Jika diperhatikan, serangan Bintang Kusuma lebih memiliki arti daripada serangan Tuak Seta, jelas menunjukkan bahwa ilmu Bintang Kusuma lebih tinggi dari Tuak Seta.

"Nyi Pelet Peteng, ke mana gurumu? Kenapa tidak datang sendiri kemari?" pancing Racun Barat, mencoba memecah konsentrasinya agar bisa mudah dikalahkan oleh kedua penyerangnya. Ia juga geram atas kedatangan Nyi Pelet Peteng yang merusak acaranya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat guru Nyi Pelet Peteng seangkatan dengannya. Tidak enak jika harus beradu tegang dengan Guru Nyi Pelet Peteng. Menyadari pancingan itu, Nyi Pelet Peteng jadi geram, namun juga harus menjawab pertanyaan, takut Racun Barat tersinggung. Ia tahu siapa Racun Barat; jika ia berurusan dengannya, berarti ia hanya mengantarkan nyawa. Ia mundur untuk mengatur jarak agar bisa bersuara.

"Guruku, Datuk Pengemis Nyawa, sedang istirahat," jawabnya seraya langsung menyambut serangan dua pendekar itu.

Pertempuran pun tak bisa dielakkan lagi.

Arya yang melihat di tempat penonton terkejut, mendengar nama guru orang yang disebut Nyi Pelet Peteng. Seketika napasnya kembang-kempis, dadanya membusung, dan kepalannya semakin kuat.

Semua yang hadir terkejut, begitu juga Racun Barat, ketika dari arah kerumunan penonton melenting sebuah tubuh. "BELIUNG SAMUDERA?!" teriak orang itu. Seketika, dari kibasan kedua tangannya, menderu angin sangat dahsyat, seperti taufan kiriman dari Tuhan.

Hingga air danau yang tenang terguncang memuncah-muncah hebat. Padahal serangan itu ditujukan untuk pentas arena, namun saking dahsyatnya berimbas pada sekitarnya. Para penonton berusaha mencari pegangan agar tidak terlempar, atap-atap warung dadakan terbang entah ke mana, bahkan atap podium besar tempat Racun Barat juga tersingkap.

Racun Barat berusaha duduk tenang dengan menambah tenaganya menahan embusan taufan itu sambil memegang tangan putrinya. Beberapa pasukan juga berlindung di belakangnya. Racun Barat terkejut juga, siapa yang memiliki ilmu sangat hebat ini.

Sedangkan di tengah arena, Nyi Pelet Peteng menambah tenaganya hingga kakinya amblas ke dalam beton. Bintang Kusuma juga menancapkan pedangnya pada beton pentas sebagai pegangan agar tidak terempas embusan itu. Sedangkan Tuak Seta terempas bersama guci besarnya ke dalam danau. Setelah embusan taufan melemah dan sirna, kini tampak seorang pemuda memakai rompi biru terong dengan beberapa parut luka di lengannya.

Ia tepat menatap Nyi Pelet Peteng dengan mata merah.

Semua yang hadir terkesima, ternyata yang menciptakan badai tadi hanya seorang pemuda. Putri Racun Barat terbelalak, apalagi pelayan yang sempat mengusirnya karena menyangka orang biasa.

Racun Barat tersenyum kecil karena tebakannya benar. Bintang Kusuma bergidik di tempatnya. Melihat peserta yang kini berdiri di depannya, langsung pupus harapannya untuk bisa mempersunting Putri Racun Barat sesuai dengan keinginan dia dan ayahnya, walau ia masih mampu berdiri di atas arena.

Namun, melihat serangan pertama yang dikirimkan pemuda itu, tidak mungkin ia bisa mengalahkannya.

"Mana Datuk Pengemis Nyawa?!" bentak Arya langsung pada Nyi Pelet Peteng.

"Apakah kau termasuk peserta sayembara ini?" tanya Nyi Pelet Peteng tegang.

"Aku tidak ada kaitannya dengan sayembara ini. Pemenang sayembara ini adalah dia," tunjuk Arya pada Bintang Kusuma, membuat semuanya terkesima, begitu pun Putri dan Racun Barat.

"Urusanku hanya dengan Datuk Pengemis Nyawa!" bentak Arya dengan mengibaskan tangannya ke depan.

Hal itu membuat Nyi Pelet Peteng terbelalak, secara cepat menghindar dari udara panas tajam yang terkirim dari tangan Arya.

"Hei, kau! Cepat pergi dari sini, datangi mempelaimu! Aku hanya punya urusan dengan wanita iblis ini," ujar Arya pada Bintang Kusuma. Dengan sigap, ia melompat ke samping danau, menyaksikan pentas arena dari samping.

"Maaf, Tuan Racun Barat, bukannya saya ingin merusak acara Anda, namun acara Anda telah selesai. Tersisa dia yang bertahan di atas pentas, sedangkan saya dan wanita iblis ini bukan termasuk peserta," ujar Arya pada Racun Barat. Racun Barat hanya mengangguk mengerti, tidak mau mencela kemauan Arya, melihatnya sudah diburu nafsu. Ia membiarkan saja apa yang terjadi di atas pentas, apalagi keputusan itu lebih baik daripada menyerahkan putri kesayangannya pada Datuk Pengemis Nyawa yang terkenal sadis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment