Halo!

Dewa Iblis - Chapter 09

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 09

Nyi Pelet Peteng menatap Arya dengan seksama, sepertinya dia tidak pernah punya urusan dengan laki-laki gagah yang sekarang menatapnya dengan tajam. Kemudian dia teringat akan cerita gurunya, dia terkejut.

"Apakah kau Dewa Iblis?" Tanya Nyi Pelet Peteng memastikan.

"Aku Arya... Dan Dewa Iblis hanya sebuah gelar sampah?" jawab Arya penuh amarah, disambut keterkejutan oleh para pendekar yang hadir, begitu juga Racun Barat.

Mereka hanya mendengar kabarnya saja. Kini mereka nanar melihat Dewa Iblis ada di depan mereka, semua bersikap penasaran dan waspada. Ingin tahu seberapa hebat Dewa Iblis yang menggetarkan persilatan itu, sehingga dibiarkan saja suasana yang tercipta di atas pentas.

"Hahahaha, ternyata sekarang aku berhadapan dengan Dewa Iblis. Jelas kau terkirim ke sini agar aku bisa membunuhmu!" bentak Nyi Pelet Peteng. "Cepat katakan di mana Datuk Pengemis Nyawa, sebelum nyawa busukmu kupermainkan!"

"Cuiiiiihhh... Besar benar omonganmu, anak muda!" Hiat! Nyi Pelet Peteng melompat menyerang. "Gada Buda!" teriak Arya.

Tak tanggung-tanggung, langsung separuh tenaga dalamnya dia gunakan saking marahnya. Angin keras menghantam telapak tangan Nyi Pelet hingga dia terjungkal ke belakang dan bersalto agar bisa berdiri tegak.

Tak cukup itu saja, Arya melompat tinggi. Dari atas udara dia kirimkan pukulan jarak jauhnya, "Gada Buda!" Seiring teriakan itu, angin menderu dari kepalan Arya menghantam tubuh Nyi Pelet yang melompat ke sana kemari menghindari udara padat yang sangat keras itu.

BLEMMMM! BLEMMMMM! BLEMMMM! Serangan itu menghentak dasar pentas hingga bengkak di sana sini, bagaikan dijatuhi batu sebesar gajah dengan kecepatan tinggi. Bukan hanya pendekar biasa yang terperangah. Bahkan Racun Barat tak kalah terkejut, karena setahu dia Ilmu Gada Buda hanya ada di negeri Tiongkok, jauh dari tempat itu. Dan kini dia lihat ada seorang pemuda yang menguasai ilmu ciptaan Biksu Hong Pek di sini.

"Sabit Bulan!" teriak Arya dengan menendangkan kakinya di udara. Dari tendangannya itu menderu sebuah cahaya besar seperti bulan sabit menuju tubuh Nyi Pelet Peteng. Tak ada cara lain kecuali dia mencebur ke dalam danau. BLARRRRRRRR! Pentas yang terbuat dari beton itu pecah seketika, seperti ada pedang raksasa yang menghantamnya.

Lagi-lagi semuanya terperangah. Tubuh Nyi Pelet Peteng tenggelam di air danau. Semua mata takjub melihat tubuh Arya yang mengambang di udara, bahkan Racun Barat sekalipun tidak bisa melakukan seperti itu.

Tiba-tiba semuanya tersentak dan mencari perlindungan saat Arya berteriak, "BELIUNG SAMUDRA!" Hembusan angin sangat keras pun menderu tempat itu, kembali mengguncang air danau dengan hebat. Tak ayal tubuh Nyi Pelet Peteng terlontar dari dalam danau. Seketika itu pula Arya memburu dengan cepat dan mengirimkan tendangan kuat.

BUK! Tubuh Nyi Pelet terhempas dengan cepat menuju pentas beton. BLEMMMMM! Betapa kuatnya tendangan Arya hingga tubuh itu amblas setengah jengkal ke dalam beton yang sangat kuat itu, membuat semua orang terperangah dan meringis ngeri.

Nyi Pelet Peteng menyeringai kesakitan merasakan seluruh tulang tubuhnya remuk, hingga dia tidak bisa bergerak. Arya mendarat di samping tubuh itu.

"Ada di mana Datuk Pengemis Nyawa?!" bentak Arya. Nyi Pelet meringis menahan sakit dan ngeri, baru dia sadar kenapa gurunya ketakutan. Pemuda itu memang hebat luar biasa.

"Bunuh saja aku! Tidak mungkin aku sebutkan keberadaan Datuk Pengemis Nyawa," bentak Nyi Pelet Peteng. Arya semakin berang. Diambilnya bongkahan beton di sebelahnya, lalu dihantamkan ke kaki Nyi Pelet. Seketika Nyi Pelet menjerit histeris menyayat hati, membuat yang menyaksikan meringis tidak tega.

Yang ada di tempat itu kini hanya tinggal para pendekar, karena masyarakat sudah lari tunggang langgang ketakutan, dan ada pula yang dipaksa meninggalkan tempat itu oleh para prajurit agar tidak ada korban salah sasaran. Putri Racun Barat juga telah diamankan oleh pasukan kerajaan.

"Sudah, Tuan, hentikan siksaan itu!" teriak Bintang Kusuma.

"Jangan ikut campur!" bentak Arya sambil mengibaskan sebelah tangannya, hingga terkirim udara panas yang tajam, membuat Bintang Kusuma terbelalak, menyadari ada ancaman nyawa bagi calon menantunya.

Racun Barat berkelebat mengibaskan tangannya hingga menderu udara kuat menghempas serangan Arya. Arya tidak memedulikan kejadian itu, dia terfokus pada tubuh Nyi Pelet Peteng yang terlentang tak berdaya.

Racun Barat mendatangi Bintang Kusuma. "Terima kasih, Tuan," ujar Bintang Kusuma.

"Kau jangan ikut campur urusan orang, dia sedang terbakar emosi."

"Tapi saya tidak tega, Tuan."

"Kalau kau tidak tega, lebih baik jangan saksikan. Tinggalkan tempat ini!" bentak Racun Barat, membuat Bintang Kusuma tergagap.

Melihat calon menantunya terkejut, Racun Barat merendahkan bicaranya. "Aku juga tidak tega, tapi tidak mungkin menghalangi pemuda itu. Dia pasti punya urusan penting dengan Datuk Pengemis Nyawa. Dan juga, kau harus ingat, pemuda itu yang telah membuatmu memenangkan sayembara ini," terang Racun Barat.

Arya memegang tangan Nyi Pelet. "Cepat katakan di mana Datuk Pengemis Nyawa!"

"Tidak mungkin aku katakan!" KREKKK! Teriakan Nyi Pelet sangat melengking saat jarinya dipatahkan dengan mudah oleh Arya. Semua mata melihat dengan bergetar. Betapa sadisnya pemuda itu.

"Cepat katakan!"

"Tidak?!" KREKKKKK! Kembali satu jari patah. Suaranya melengking menyayat hati.

"Mau lagi?" KREK! KREK! KREK! Sisa tiga jari Nyi Pelet Peteng dipatahkannya semua, membuat Nyi Pelet Peteng semakin melengking. Tidak cukup sampai di sana, kini Arya beralih pada tangan satunya.

"Masih tidak mau mengatakan di mana Datuk Pengemis Nyawa berada?" ancam Arya sambil memegang satu jari Nyi Pelet Peteng, siap untuk dipatahkan.

"Baik, akan aku katakan," ujar Nyi Pelet Peteng. Tampak ada riak kecil di matanya, saking tidak kuat menerima siksaan dan rasa takut.

"Guru ada di Rawa Lintah," ujar Nyi Pelet Peteng menangis. Arya bangkit. "Terima kasih," bisik Arya lirih.

Tiba-tiba kaki Arya terangkat... dan KREKKK! KREKKK! PLAAAARRRR! Semua mata terbelalak menyaksikan Arya menginjak kepala Nyi Pelet Peteng hingga pecah berantakan. "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Arya berteriak penuh amarah, seluruh uratnya menegang. "Kubunuh kau, Datuk Pengemis Nyawa!" teriak Arya. Seketika itu pula bumi di sekitar Arya bergetar hebat seperti gempa, angin saling berbenturan, air danau tergoncang. Bahkan kerikil pecahan beton pentas sebesar jempol orang dewasa mengambang satu jengkal oleh luapan tenaga Arya, membuat semua mata terbelalak akan kuatnya tenaga dalam Arya.

Tiba-tiba goncangan itu berhenti seketika, batu-batu jatuh. Air danau kembali normal, udara berkesiur normal seiring dengan robohnya tubuh Arya, tidak sadarkan diri oleh luapan amarahnya yang sangat besar.

Seekor kuda putih diderap dengan cepat oleh penunggangnya, meninggalkan debu yang berterbangan ke udara. Sepertinya ia diburu waktu dan kepentingan yang mendesak. Kuda itu melintasi persawahan penduduk yang terkejut melihat berlalunya kuda itu begitu cepat. Arah kuda itu menuju Padepokan Gajah Mungkur yang ada di puncak Bukit Gajah Mungkur. Bukit itu sangat asri dan subur, sehingga persawahan yang ada di sekitar bukit tumbuh dengan baik. Para santri padepokan yang sedang bercocok tanam sama terkejut melihat datangnya kuda putih itu, namun tak ada niatan untuk mencegah, karena mereka biasa melihat penunggang kuda itu datang ke Padepokan Gajah Mungkur. Dan mereka sangat mengenalnya.

Penunggang kuda itu seorang wanita berparas cantik berpakaian hijau, dan ada sebuah pedang di punggungnya. Ia tak lain adalah Kirana atau Dewi Pedang Bulan, yang jelas kedatangannya ke Padepokan Gajah Mungkur sangat penting.

"Hiaaaat!" Kirana menarik tali kekang kuda itu, hingga kudanya meringkik hebat, berhenti seketika di samping padepokan. Setelah mengikat tali kudanya, ia berlari cepat ke balai padepokan. Di sana ia telah disambut dua kakek tua berpakaian putih yang tadi telah mendengar kabar dari tilik sandi akan kedatangannya.

"Ada kepentingan apa sehingga kau buru-buru datang kemari?" sapa Kyai Banjar Banyu Bening yang berdiri bersama Kyai Koneng, penuh heran.

"Saya sudah bertemu dengan Dewa Iblis," ujarnya langsung, membuat kedua kakek saling pandang dan mempersilakannya masuk untuk membicarakan hal penting itu.

"Bisa kau ceritakan pertemuanmu itu?" ajak Kyai Koneng, penuh penasaran.

Kirana pun menceritakan perihal pengeroyokan Gerombolan Tapak Langit yang ingin menangkap dan hendak memperkosanya, serta kedatangan Arya membantu dari pengeroyokan itu. Tak lupa diceritakan pula kelakuan Arya pada Boma, pimpinan perampok Tapak Langit, hingga Boma mati bunuh diri tak tahan menahan siksaan.

"Sungguh tindakan yang sangat kejam. Apakah kau berurusan nyawa dengannya?!" tanya Kyai Koneng, penuh penasaran, sedangkan Kyai Banjar hanya membelai jenggot putihnya.

"Tidak, Kyai. Setelah memperlakukan Boma seperti itu, ia langsung meninggalkannya, tidak memedulikan saya. Namun, saya mengejarnya dan berhasil bicara panjang lebar tentang sepak terjangnya," membuat kedua kakek saling pandang heran.

Dewa Iblis yang terkenal kejam ternyata hanya mau berurusan dengan orang yang tidak disukainya saja. Buktinya, Kirana malah bisa bicara baik-baik dengannya.

"Coba kau ceritakan perbincanganmu dengan Dewa Iblis," ajak Kyai Banjar.

"Nama aslinya adalah Arya, seperti yang telah Kyai ketahui. Ia punya dendam sangat hebat pada Datuk Pengemis Nyawa." Kirana pun menceritakan semua perbincangan dengan Dewa Iblis.

"Hemmm, begitu?" Kyai Banjar hanya membelai jenggotnya.

"Jadi, Arya mengancam akan membunuh orang yang membunuh Datuk Pengemis Nyawa?" tanya Kyai Koneng, terkejut.

"Benar, Kyai."

"Dan juga tidak bisa menjawab ketika kau bertanya tindakannya setelah membunuh Datuk Pengemis Nyawa?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment