Chapter 10
"Benar, Kyai!" "Sangat jelas tujuan hidupnya hanya satu, membunuh Datuk Pengemis Nyawa. Sungguh malang anak itu," ujar Kyai Banjar lirih, membuat Kirana dan Kyai Koneng tidak mengerti.
"Apa maksud, Kakang?" tanya Kyai Koneng. "Dia benar-benar ditutup api dendam, sehingga jalan hidupnya tidak jelas, dan orang seperti itu mudah putus asa. Aku khawatir, ketika keinginannya sudah tercapai, dia tidak akan memiliki tujuan hidup yang jelas sehingga menjadi plin-plan. Pada saat itu, dia akan mudah dipengaruhi orang lain yang memiliki kepentingan lain padanya. Dan jika nanti golongan Hitam yang menemukannya, dia akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi kita."
"Lalu, bagaimana tindakan kita, Kakang?"
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang ini, sebelum dia berhasil meredakan emosinya. Dan emosi itu tidak bisa reda sebelum dendamnya terbalas."
"Lalu, apakah kita akan membantunya untuk membinasakan Datuk Pengemis Nyawa yang memang musuh besar kita itu, Kakang?"
"Kau sudah dengar tadi dari Kirana, hanya dia sendiri yang berhak membunuh Datuk Pengemis Nyawa, bahkan akan mengancam orang yang membunuhnya."
"Lalu, bagaimana, Kakang?" tanya Kyai Koneng tidak sabar. Kyai Banjar hanya berdeham diam sambil berpikir.
"Dewa Iblis sempat meminta saya untuk mencarikan informasi keberadaan Datuk Pengemis Nyawa," terang Kirana, membuat kedua kakek itu saling pandang.
"Lalu, kau menyanggupinya?" tanya Kyai Banjar terbelalak.
"Saya tidak punya pilihan lain, Kyai..." ujar Kirana menunduk, takut salah di depan junjungannya itu.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang?" ujar Kyai Banjar seketika, membuat Kirana terkejut, namun juga senang karena keputusannya tidak keliru. "Hanya itu yang bisa kita lakukan, membiarkan Dewa Iblis membalas dendam, setelah itu baru kita bisa menggiringnya ke jalan yang benar."
"Aku dengar kabar sepintas bahwa Datuk Pengemis Nyawa sekarang ada di Kadipaten Ambangan, meminta perlindungan dari Adipati Layan Kusuma," terang Kyai Koneng ditambah anggukan Kyai Banjar.
Membuat Kirana terkejut dan girang. "Sampaikan informasi itu pada Dewa Iblis. Kau harus bertindak lebih cepat sebelum dia menemukan lebih dulu, agar kau punya jasa padanya. Dan kau dengan mudah bisa mendekatinya untuk dibujuk ke jalan yang benar," perintah Kyai Banjar.
"Saya mengerti, Kyai," ujar Kirana seraya bangkit minta izin.
"Apa kau tidak mau istirahat lebih dulu?" tanya Kyai Koneng.
"Saya harus bertindak cepat, Kyai, takut seperti yang dikatakan Kyai Banjar, Dewa Iblis lebih dulu menemukan Datuk Pengemis Nyawa. Apalagi melihat gerakannya berlari ke daerah barat, tentu sekarang dia jauh dari tempat ini. Maka saya harus cepat mengejarnya," pinta Kirana seraya berlalu meninggalkan padepokan dengan diiringi Kyai Banjar dan Kyai Koneng.
Kirana menghentak tali kudanya dan memacunya dengan cepat. Dia harus cepat bertemu Arya dan menyampaikan informasi penting itu, walau dia tidak melihat sendiri keberadaan Datuk Pengemis Nyawa, namun dia mendengar informasi itu dari orang yang sangat dipercayainya. Apalagi, sejak pertemuan pertama telah tercipta benih sangat indah di dasar hatinya. Dan sebuah harapan yang begitu indah jika dia bisa bertemu dengan pemuda tampan itu lagi.
Dengan menahan geram, Pendekar Pedang Naga atau Aji Mahendra mencabut beberapa sisa duri ampelan yang menusuk tubuhnya. Tangan serta beberapa bagian tubuhnya yang mulus penuh dengan goresan luka. Pakaian putihnya pun penuh dengan bercak darah. Wajahnya merah padam menahan kemarahan yang membuncah. Pedang Naga Kebanggaan kini tergeletak lemas di atas meja makan. Ia tidak memedulikan kedatangan laki-laki tua berpakaian compang-camping memegang tongkat dengan sebuah besi tajam di ujungnya berbentuk bulan sabit masuk ke dalam kedai itu. Ia lalu duduk di meja kosong yang ada di sebelahnya.
Laki-laki tua itu memperhatikan dengan telak sosok pendekar yang telah sering baku hantam dengannya pada beberapa kesempatan. Aji Mahendra menuangkan kendi arak ke mulutnya hingga berbunyi nyaring, lalu membanting kendi arak itu.
"Cepat ambilkan arak yang baru?" teriak Aji Mahendra. Dengan sigap, pelayan memenuhi perintah itu. Jelas pelayan merasa ketakutan, apalagi melihat pedang Aji Mahendra yang mengilat di atas meja. Aji Mahendra sudah beberapa kali membanting kendi, terlihat jelas pada beberapa pecahan kendi yang ada di bawah mejanya. Bahkan di sana juga ada sisa arak yang berserakan. Mungkin tadi dia sempat membanting arak dengan kualitas rendah.
"Hahahahaha! Seharusnya aku yang melakukan seperti itu. Orang yang sangat kesohor sebagai aliran putih sangat tidak pantas melakukannya," ledek kakek itu sambil meneguk araknya.
"Aku masih belum mau berurusan denganmu, Kakek Tua!" bentak Aji Mahendra pada Tokoh Sesat Tua Pengemis Laknat yang ada di sebelahnya tanpa menoleh.
"Melihat pakaianmu yang compang-camping serta beberapa luka di tubuhmu, pasti baru dipecundangi orang?" ledek kakek tua, membuat Aji Mahendra mengerang sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.
"Dewa Iblis! Kurang ajar!" geramnya, membuat Pengemis Laknat terkejut menghentikan makannya.
"Kau dipecundangi Bocah Busuk itu?!" kejutnya, menatap nanar pada Pendekar Pedang Naga.
"Aku bukan kalah, tetapi dia dengan curang menggunakan racun hingga tubuhku lemas. Jika bertemu sekali lagi, akan kucincang tubuhnya dengan pedang ini..." geram Aji Mahendra dengan mengangkat pedangnya.
"Aku juga punya urusan nyawa dengan Dewa Iblis. Murid kesayanganku, Boma, Ketua Partai Tapak Langit disiksa sampai mati olehnya," geram Pengemis Laknat.
Namun Aji Mahendra enggan menanggapinya. "Sepertinya kita punya tujuan yang sama, anak muda. Bagaimana kalau kita kerja sama saja?" ajak Pengemis Laknat. Aji hanya menoleh sebentar sambil tersenyum sinis. "Tidak mungkin aku kerja sama dengan orang aliran hitam, kau tetap musuhku, namun sekarang aku punya urusan yang lebih penting," jawab Aji tegas.
"Hahahahaha! Sungguh aneh, dua orang dari golongan yang berbeda malah punya musuh yang sama?" kelakar Pengemis Laknat, namun Aji Mahendra tidak menghiraukannya. "Aku dengar kabar, Dewa Iblis membuat onar di Bukit Gembala saat Racun Barat mengadakan sayembara, dan membunuh salah satu murid Datuk Pengemis Nyawa yang bergelar Nyi Pelet Peteng."
"Yang jelas, Datuk Pengemis Nyawa tidak tinggal diam," komentar Aji Mahendra.
"Malah bocah itu yang mencari Datuk Pengemis Nyawa. Setelah disiksa, Nyi Pelet Peteng menyebut tempat keberadaan Datuk Pengemis Nyawa. Dia pasti menuju sana sekarang," terang Pengemis Laknat, membuat Aji Mahendra atau Pendekar Pedang Naga terkejut.
"Di mana itu?!" pinta Aji Mahendra.
"Hahahahaha! Ternyata kau butuh juga informasiku. Aku kira Aliran Putih tidak akan butuh pada orang sepertiku?" ledek Pengemis Laknat mencibir.
"Jangan main-main, Pengemis Laknat!" geram Aji Mahendra seraya mengangkat pedangnya.
"Kau keburu nafsu, anak muda. Kalau kau sendirian saja, kau tidak akan sanggup mengalahkan Dewa Iblis. Nyi Pelet Peteng yang terkenal hebat saja mampu dikalahkannya tanpa perlawanan. Apalagi orang sepertimu yang jelas-jelas pernah dipecundangi?" ledek Pengemis Laknat.
"Aku bukan kalah, bahkan aku berhasil melukainya. Seandainya dia tidak menggunakan cara curang dengan racun, aku pasti telah membuatnya binasa!" geram Aji Mahendra. Napasnya semakin memburu menahan amarah, membuat Pengemis Laknat terbelalak. "Tidak mungkin! Kalau kau bisa melukainya, kenapa Nyi Pelet Peteng bisa dikalahkannya dengan mudah? Bahkan menurut informasi, Nyi Pelet Peteng tidak sempat memberi balasan."
Keheranan Pengemis Laknat juga dirasakan oleh Aji Mahendra. Dia juga tahu kesaktian Wanita Iblis berjuluk Nyi Pelet Peteng itu. Bahkan dia ada di bawah kesaktiannya, tetapi kenapa dia yang berhasil memukul Dewa Iblis dan Nyi Pelet Peteng bahkan tidak sempat memberi balasan pada Dewa Iblis?
"Mungkin Dewa Iblis memberi racun sama seperti yang telah dilakukan padaku."
"Bisa juga!" jawab Pengemis Laknat manggut-manggut, membuat semangat kedua tokoh yang memiliki dendam pada orang yang sama semakin menggelora. Mereka yakin Dewa Iblis tidaklah sehebat diberitakan orang. Kehebatan Dewa Iblis karena kecurangannya. Itu yang mereka yakini.
"Lalu, di mana tempat Datuk Pengemis Nyawa yang akan didatangi Dewa Iblis itu?" pinta Aji Mahendra.
"Di Rawa Lintah. Banyak orang dunia persilatan yang mendengar informasi itu, pasti mereka juga akan ke sana menyaksikan pertarungan hebat itu," jawab Pengemis Laknat. Seketika Aji Mahendra bangkit, meletakkan beberapa uang di atas meja, lalu melangkah cepat keluar.
"Hati-hati, anak muda, jangan anggap remeh lawanmu itu. Namun, jika kau telah berhasil mengalahkannya, sisakan beberapa tubuh untuk aku cincang..." teriak Pengemis Laknat, membuat Aji Mahendra menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Aku tetap punya urusan denganmu, namun kali ini kita masih memiliki urusan yang sama. Jika kita kebetulan menemukan dia bersamaan, kita bagi dua tubuhnya?" ujar Aji Mahendra, membuat Pengemis Laknat tersenyum sambil meneguk minuman terakhirnya lalu meninggalkan kedai itu juga.
Sejak tadi, perbincangan mereka menjadi pusat perhatian seorang gadis berbaju biru dengan cadar menutupi wajahnya, yang kebetulan berada di dalam kedai itu pula. Dia adalah Kirana. Sepeninggalan dua tokoh dunia persilatan itu, Kirana tertegun.
"Sesungguhnya, di mana keberadaan Datuk Pengemis Nyawa? Di Kadipaten Ambangan atau di Rawa Lintah?" pikir Kirana bingung. Karena pembawa kabar itu dapat dipercaya semua. Menurut Kyai Koneng dan Kyai Banjar Banyu Bening, Datuk Pengemis Nyawa ada di Kadipaten Ambangan. Dan kedua tokoh itu tidak mungkin berbohong, buat apa membohonginya. Sedangkan informasi yang dia dapat barusan bahwa Datuk Pengemis Nyawa ada di Rawa Lintah, berasal dari orang yang memburu keberadaan Dewa Iblis yang sedang mencari Datuk Pengemis Nyawa. Tentu, informasi itu juga patut dipercayai. Namun, ketika dipikir dengan jelas, informasi Kyai Koneng lebih masuk akal.