Chapter 11
Bisa saja Pengemis Laknat memberikan informasi bohong pada Aji Mahendra, agar buruannya, yaitu Dewa Iblis, tidak didahului Aji Mahendra.
Namun, dia juga penasaran tentang Rawa Lintah, yang menurut Pengemis Laknat bakal banyak Pendekar menuju tempat itu.
Namun, ada informasi paling penting yang sangat dibutuhkannya dari obrolan Aji Mahendra dan Pengemis Laknat: Dewa Iblis ada di Bukit Gembala dan akan menuju Rawa Lintah. Sehingga, dia punya tujuan yang pasti ke mana mencari Dewa Iblis.
Sesosok pemuda yang telah menggetarkan hatinya.
Kirana pun cepat-cepat meninggalkan kedai itu. Apalagi setelah dia tahu Dewa Iblis menuju Rawa Lintah, padahal Datuk Pengemis Nyawa ada di Kadipaten Ambangan, dia takut itu hanya jebakan.
***
Setelah memulihkan stamina di Bukit Gembala, Arya berpamitan baik-baik pada Racun Barat yang telah sudi merawatnya selama dia lemah.
Arya terpaksa menolak permintaan Racun Barat untuk tinggal sejenak di kediamannya hingga acara pernikahan putri bungsunya dengan Bintang Kusuma, putra Datuk Gema Samudra, selesai.
Namun, dia berjanji apabila urusannya rampung, dia akan menghadiri pernikahan itu.
Dengan cepat Arya meninggalkan Bukit Gembala karena Rawa Lintah berada di bagian tengah pulau, jauh dari tempat itu.
Dia khawatir Datuk Pengemis Nyawa lebih dulu mengetahui kedatangannya hingga berhasil menyiapkan sambutan dengan matang, atau malah kabur lagi seperti halnya dia meninggalkan Ceruk Gua Bangkai, tempatnya semula.
Dengan peringanan tubuh yang begitu baik, dia bisa melesat dengan cepat, melompat dari cabang pohon ke cabang pohon lainnya.
Hingga beberapa kera dan burung yang menempati pohon harus undur diri sebelum terinjak tokoh yang dibakar api dendam itu.
Namun langkahnya tertahan setelah dirasa ada kelebatan kuda yang mengejarnya.
Dia penasaran dengan pengejar yang sepertinya punya kepentingan khusus.
Bisa saja dia adalah Datuk Pengemis Nyawa atau anteknya.
Dia melompat turun menunggu kedatangan pengejar itu dengan persiapan yang begitu matang, namun akhirnya dia bernapas dengan lega dan mengendurkan seluruh uratnya setelah mengetahui siapa gerangan.
"Ada apa kau mengejarku, Bintang Kusuma?" Tanya Arya bersamaan dengan melompatnya Bintang Kusuma dari atas kudanya.
"Aku diperintah Racun Barat membantumu di Rawa Bangkai," terang Bintang Kusuma, membuat Dewa Iblis terkejut.
Baru kali ini ada orang yang peduli pada urusannya.
"Aku tidak melihatmu di Bukit Gembala sejak sadar dari pingsan. Kapan kau bertemu dengan Racun Barat?" tanya Arya.
"Setelah aku pulang dan menceritakan semuanya pada Bopo. Dia memerintahkanku secepatnya menuju Bukit Gembala untuk mengadakan lamaran. Jadi aku kembali dengan membawa rombongan ke Bukit Gembala. Sesampainya di sana, Racun Barat memerintahkanku mengejarmu?"
"Terima kasih atas niat baik kalian. Namun, urusan ini adalah urusan nyawa. Bisa saja nyawa kita yang tertinggal di sana, sedangkan kau sebentar lagi akan menikah. Jangan sampai putri Racun Barat menjadi janda sebelum kau nikahi. Jadi, lebih baik kau kembali saja. Sampaikan terima kasihku pada niat baik Racun Barat!" teriak Dewa Iblis secara cepat, meninggalkan Bintang Kusuma yang termangu melihat kecepatan lompatan Dewa Iblis.
Namun, dia masih bingung di tempatnya.
Dengan jelas Dewa Iblis menolak tawarannya, namun dia juga malu jika harus kembali ke Bukit Gembala mengingkari perintah Racun Barat.
***
Hingga matahari terik membakar bumi seakan berada di atas ubun-ubun, Arya masih terus berlari dengan cepat, hingga napasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi seluruh pakaiannya.
Dia tidak akan sampai seperti itu jika tidak mengerahkan banyak tenaga dalam pada larinya.
Namun, dia diburu waktu.
Dia harus sampai di Rawa Lintah sebelum besok pagi.
Jika dalam perjalanan tidak ada gangguan, dia akan sampai di Rawa Lintah pada tengah malam, sehingga dia mempunyai waktu untuk beristirahat mengembalikan stamina sebelum babak penentuan pada siang hari besok.
Jika ingin berniat curang, bisa saja dia menyerang pada malam hari, saat kebiasaan manusia beristirahat, namun tindakan itu tentu tanpa kepuasan.
Sedangkan dia ingin dengan telak dan jantan membalaskan dendam orang tuanya.
Hingga matahari sedikit condong ke barat, Arya masih terus berlari dengan sesekali memetik buah hutan guna mengganjal perutnya dan menambah staminanya.
Bahkan, terkadang Arya merampas buah yang sedang dipegang kera, sehingga kera itu bingung, menyangka embusan angin yang membuat buah itu lepas dari tangannya.
Kembali langkahnya tertahan saat sesosok tubuh dengan gesit melompat dari kuda putih dan menghadang jalannya.
Dengan sigap Arya hendak melepas pukulan jarak jauh pada penghalang itu.
Dia tidak mau langkahnya tertahan lagi.
"Hentikan, Arya!" teriak orang itu, membuat Arya tergagap setelah tahu orang yang menghentikannya adalah wanita dan menyebut namanya yang jarang diketahui orang.
Pukulan yang telah ada di ujung tangan seketika dihantamkan pada pohon besar yang ada di sebelahnya. BLARRRRRR! Seketika itu pula, pohon besar itu tumbang terempas pukulan Arya yang dahsyat, membuat wanita itu tergagap dan keringat dingin mengucur deras.
Tentu dia tidak akan mampu menahan serangan mendadak yang dahsyat itu.
"Ah, hampir saja aku membunuhmu!" bentak Arya seraya menarik napas mengatur ketegangan jantungnya, seraya melihat yang berdiri di salah satu dahan tidak jauh dari pohon tempatnya berpijak.
Orang itu adalah Kirana yang merona malu melihat keadaan Arya, di mana keringat mengucur deras hingga membuat bajunya melekat dan menunjukkan lekuk tubuh Arya yang sangat jantan.
"Ada apa kau menghalangi langkahku, Kirana?" tanya Arya setelah napasnya normal. Hal itu membuat Kirana tambah merona setelah Arya menyebut namanya, berarti Arya masih ingat padanya.
"Seperti yang telah aku janjikan, aku sudah tahu keberadaan Datuk Pengemis Nyawa yang kau cari."
"Di Rawa Lintah, kan?" tebak Arya mencibir.
"Bukan! Tapi di Kadipaten Ambangan. Dia meminta perlindungan dari Adipati Layan Kusuma," terang Kirana tegas. Hal itu membuat Arya terbelalak.
Namun, kemudian tersenyum sinis, "Jangan membohongiku, Kirana! Buat apa Datuk Pengemis Nyawa yang hebat minta perlindungan Adipati yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri?" bantah Arya, membuat Kirana terkejut, namun secepatnya memberikan alasan kuat guna meyakini Arya. "Sekarang Datuk Pengemis Nyawa sedang kehilangan ilmunya dalam setengah bulan ini hingga mengadakan upacara pemulihan. Dan Datuk Pengemis Nyawa memilih Kadipaten Ambangan sebagai persembunyian karena di sana juga banyak murid-muridnya."
"Kau melihat sendiri keberadaan Datuk tua itu?" kejar Arya memastikan.
"Tidak! Namun, informasi ini aku dapat dari orang yang sangat aku percayai."
"Aku mendengar kabar keberadaan Datuk Tua itu di Rawa Lintah juga dari orang yang sangat dipercaya. Bahkan, dia adalah muridnya sendiri," cibir Arya.
"Bisa saja dia berbohong atau malah sebuah jebakan?"
"Tidak mungkin dia berbohong. Aku sendiri yang menyiksanya hingga mengatakan keberadaan gurunya," bela Arya tidak percaya.
"Kau harus percaya kata-kataku, Arya! Tidak mungkin aku berbohong padamu. Buat apa?" pinta Kirana memohon. Dia takut Rawa Lintah hanya sebuah jebakan yang akan mengancam keselamatan orang yang dikaguminya itu.
"Terima kasih, Kirana, atas informasimu. Namun, aku yakin Datuk Pengemis Nyawa ada di Rawa Lintah, jadi tak usah lagi kau membantuku," ujar Arya sinis sambil melompat, meninggalkan Kirana dengan kesal karena telah menghalangi perjalanannya.
Malah, informasi itu membuatnya bingung.
Arya tidak menghiraukan teriakan Kirana yang memanggilnya dengan parau. Bahkan, dia kesal pada Kirana yang telah berusaha menghalangi perjalanannya menuju Rawa Lintah, tempat Datuk Pengemis Nyawa berada. Bahkan berusaha mengubah arah perjalanannya.
Kirana menatap kepergian Arya dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa kecewa yang menusuk sanubarinya, melihat Arya tidak percaya bahkan cenderung menuduhnya berbohong.
***
Seperti namanya, Rawa Lintah adalah sebuah rawa cukup luas di tengah hutan dengan ribuan lintah sebesar kepalan tangan manusia, membuat warna rawa menghitam.
Banyak tulang belulang berserakan di sekitarnya.
Pasti itu adalah tulang beberapa hewan yang tidak selamat melintas di tempat itu. Dengan lintah-lintah sebesar tangan manusia, tidak butuh waktu lama untuk bisa menghisap habis darah korban.
Saking derasnya lintah yang ada di tempat itu, hingga gemericik serta bunyinya sedikit mengundang perhatian beberapa hewan yang kebetulan melintas di tempat itu.
Salah satunya seekor kijang yang berencana menghilangkan dahaga di air rawa.
Tanpa dia sadari, beberapa lintah telah menempel di kakinya.
Tak ayal lagi, kijang itu roboh ke dasar rawa, kekurangan darah. Seakan ada yang mengomando, lintah-lintah itu berbondong-bondong menggerogoti sang kijang.
Jika beberapa orang jijik dan bahkan takut mendekati rawa yang penuh lintah itu, malah dengan tenang seorang bocah usia sekitar sepuluh tahun, mengenakan celana kolor tanpa baju, menangkap beberapa lintah. Dia menusuknya dengan ranting hingga darah segar mengucur di tangannya, lalu meletakkan di atas perapian yang dia ciptakan.
Bocah itu bersiul-siul kecil sambil menginjak beberapa lintah yang hendak menempel di kakinya.
Perbuatannya sangat aneh dan menjijikkan. Darah yang keluar dari lintah mencemari air rawa, hingga lintah-lintah yang lain kebingungan, menyangka darah itu merembes dari lintah di sebelahnya. Lintah-lintah itu pun saling serang antar sesama guna menemukan makanan.
Hal itu membuat bocah tertawa senang.
Kemudian, dia duduk di samping perapian, memungut beberapa lintah yang dia panggang lalu melahapnya dengan rakus, padahal lintah itu belum begitu masak hingga masih berceceran darah di sekitar mulut si bocah.