Chapter 12
Dua pasang mata mengamatinya dari balik kerimbunan pohon, diliputi rasa muak menyaksikan tingkah laku bocah itu. Namun, sang bocah terus saja asyik memakan lintah-lintah itu sambil bersiul kecil dan menggoyangkan kepala, seolah begitu menikmati.
Tiba-tiba, sebuah kilatan melintas cepat. Seekor lintah yang masih terpanggang diambilnya, lalu hinggap di batu besar tak jauh dari bocah itu. "Hei!" bentak si bocah marah. Namun, ia membanting kakinya tanda kesal setelah mengetahui siapa yang kini sedang melahap lintah tangkapannya dengan rakus. Seorang nenek tua, berpakaian mahal berwarna merah, rambut putihnya terurai, wajahnya yang penuh keriput berusaha ditutupi bedak tebal. Bibir tebalnya bergincu merah samar, bercampur dengan darah segar yang mengalir dari lintah yang sedang dimakannya.
"Bocah Setan Tua, kenapa kau tidak mengajakku kalau punya makanan selezat ini?" seringai si nenek berpenampilan mencolok, menyeringai.
"Itu milikku, Nenek Peniup Dupa!" bentak bocah yang dipanggil Bocah Setan Tua itu kepada Nenek Peniup Dupa, membuat dua pasang mata yang sejak tadi menyaksikan terbelalak mendengar siapa yang kini dilihatnya.
Mereka sudah mendengar informasi mengenai kedua tokoh itu. Seorang kakek tua berusia lebih dari seratus tahun yang telah mengalahkan ular Piton raksasa penguasa Pulau Hantu dan meminum darahnya, sehingga mendapatkan kesaktian dan tubuhnya kembali seperti anak-anak, namun dengan peningkatan kesaktian yang pesat. Tak kalah terkenalnya, si nenek tua yang disebut Nenek Peniup Dupa adalah seorang tokoh sesat yang sangat tersohor. Rambutnya yang terurai bisa menjadi senjata tajam yang mematikan; tak pernah ada korban yang selamat dari serangan mautnya.
Kedua tokoh itu adalah sosok sesat hebat yang merajai rimba persilatan sebelum munculnya Datuk Pengemis Nyawa serta tokoh penguasa rimba persilatan lainnya. Mereka sebaya dengan Pengemis Gila dari Utara yang kini sudah uzur. Sudah lama tak terdengar sepak terjang mereka berdua. Bahkan, ada rumor yang mengatakan mereka telah mati, ada pula yang berpendapat mereka telah mengasingkan diri dan tak mau mencampuri dunia persilatan. Namun, entah mengapa mereka muncul kembali. Pasti ada alasan yang sangat besar hingga mereka keluar dari pertapaannya.
"Kenapa kau keluar, Bocah Setan Tua? Katanya kau tidak mau lagi mencampuri dunia yang amburadul ini?" tanya Nenek Peniup Dupa. "Kau sendiri kenapa ada di sini? Bukannya setiap hari kau asyik berpesta dengan para pemuda di guamu?" ledek Bocah Setan Tua sambil memungut salah satu lintah di atas perapian lalu mengunyahnya. "Ahhh, mereka membosankan semua. Tapi aku dengar ada pemuda hebat yang tampan, siapa tahu bisa ku rayu," hik... hik... hik... seringai si nenek.
"Aku juga penasaran pada pemuda yang katanya lancang menantang Datuk Pengemis Nyawa itu. Katanya Pengemis Nyawa mengundang beberapa tokoh hebat. Apa kau juga diundang olehnya?"
"Aku tidak diundang oleh siapa pun. Aku hanya penasaran pada kejadian yang menggegerkan persilatan," ujar Bocah Setan Tua tenang sambil tetap mengunyah hidangannya.
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam? Siapa tahu Pengemis Nyawa menyediakan hidangan yang lebih lezat dari yang kau makan itu?" ajak si nenek sambil menatap ke arah tebing yang di tengahnya terdapat ceruk gua, tak jauh dari tempat itu.
"Aku tidak bisa naik ke sana, jadi gendong!" rengek si bocah, membuat si nenek terkejut lalu tertawa terkekeh. "Bilang saja kau mau meraba-raba dadaku, kakek mesum!" ledek si nenek, namun menyediakan punggungnya untuk dinaiki si bocah.
Sedangkan di dalam ceruk gua yang ada di tebing, tak jauh dari Muara Lintah, terdapat ruangan lumayan lebar yang ditata rapi menyerupai aula. Celah-celah batu di sekitar ruangan memberi kesempatan sinar matahari untuk menerobos masuk, sehingga pencahayaan cukup. Di utara gua terdapat tempat yang lumayan tinggi dengan sebuah kursi besar dan seorang kakek berwajah tirus, dengan topi besar dan mantel yang menutupi tubuhnya yang setengah bungkuk. Tongkat dari kayu jati hitam tersandar di sebelahnya. Dialah Datuk Pengemis Nyawa.
Di dalam ruangan itu juga hadir tiga tokoh sesat yang memang ia undang, serta satu tokoh yang memang sukarela hadir guna membantu membasmi bocah lancang yang menantang Datuk Pengemis Nyawa.
"Terima kasih atas kedatangan Biksu Ling Pau yang jauh-jauh dari Negeri Tiongkok menghadiri undangan saya..." seorang biksu tambun dengan tasbih besar melingkar di lehernya dan sebuah gada besar di tangannya bangkit.
"Amitabha. Guru saya, Biksu Tapak Maut, tidak bisa menghadiri undangan Tuanku. Beliau mengutus hamba untuk datang kemari, menyaksikan hal penting di tanah Dipa ini," hormat biksu itu seraya duduk kembali.
"Juga saya berterima kasih atas kedatangan Pendekar Muda yang sudah sangat terkenal kehebatannya, Joko Kewel dari Gua Kalilawar." Seorang pemuda tinggi besar berwajah kelimis dengan kumis tipis, memakai mantel hitam dengan kerah berdiri, tersenyum menunjukkan giginya yang bertaring dan kuku-kukunya yang runcing seperti kalilawar. Ia bangkit memberi hormat lalu duduk kembali.
"Juga Si Buta Sadis dari Kali Bangkai." Seorang kakek buta memegang tongkat dari bambu kuning berdiri memberi hormat.
"Juga kepada Pengemis Laknat yang hadir guna menyambut seorang pemuda yang hendak mengantarkan nyawa kemari. Dendammu sama seperti dendamku; murid kita sama terbunuh di tangan pemuda biadab itu," ujar Datuk Pengemis Nyawa, membuat Pengemis Laknat semakin menggelegar dendamnya.
"Dan juga ada seorang pemuda hebat yang tidak mungkin kita percayai juga turut hadir di sini untuk menyambut darah pemuda lancang itu," terang Datuk Pengemis Nyawa, membuat semua yang hadir saling pandang tak mengerti. Tiba-tiba, seorang pemuda menggunakan pakaian putih dengan pedang putih mengkilat tanpa sarung terselip di pinggangnya muncul dari balik batu di belakang tempat duduk Pengemis Nyawa.
"Pendekar Pedang Naga!" Semua yang hadir terbelalak sambil memegang senjata erat, karena mereka tahu dia adalah tokoh yang bertentangan dengan aliran mereka.
"Tenang, saudara sekalian. Kedatangan Pendekar Pedang Naga kemari bukan untuk berseteru dengan kita, bahkan hendak menjadi teman kita untuk membasmi pemuda pembuat onar yang meresahkan semua aliran itu."
"Ya, untuk sementara ini aku berdamai dengan kalian karena memiliki tujuan yang sama. Tapi di luar itu, aku tidak sudi berteman dengan kalian?" terang Aji Mahendra tegas.
"Sungguh lancang dan sombong mulutmu, anak muda!" bentak Si Buta Sadis, maju dua langkah dari tempatnya. Isyarat tantangan itu dijawab Pendekar Pedang Naga dengan memegang gagang pedangnya.
"Tenang, saudara sekalian. Urusan kita yang jauh lebih penting masih belum selesai. Jangan sampai bersitegang untuk hal yang bisa merugikan kita," pinta Datuk Pengemis Nyawa, membuat Si Buta Sadis mundur dan Aji Mahendra melepas pegangannya.
Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh kekehan seorang nenek yang menggema dari pintu masuk, membuat semuanya siaga menyambut hal yang tidak diinginkan. Tambah terkejut lagi ketika tahu siapa yang datang: seorang nenek berpenampilan menor sedang menggendong seorang bocah yang asyik mempermainkan dada si nenek yang sudah kempes itu.
"Sudah hentikan, Bocah Setan Tua! Geli, tahu?" bentak si nenek, namun si bocah terus saja memiting-mating dada itu, hingga si nenek terkekeh lagi.
"Hentikan! Kita sudah sampai. Malu dilihat orang?" bentak si nenek, hingga harus membanting bocah itu untuk bisa lepas dari gangguannya.
BUGGGG! Bocah itu terhempas dengan kuat di tanah, namun bangkit seolah tidak terjadi apa-apa seraya mengibas-ngibaskan bokongnya yang kotor. "Ternyata kau tahu malu juga, Nenek Peniup Dupa!" ledek si bocah mencibir, membuat si nenek kesal. Dikibaskan tangannya hingga keluar hembusan angin panas yang kuat akan menghantam si bocah. Dengan cepat si bocah melompat ke samping.
BLARRRRR! Batu sebesar orang dewasa pecah seketika terhantam pukulan nenek yang asal-asalan itu, membuat semua yang melihat semakin terbelalak. "Wah, kau jahat! Kalau mau main gelitik-gelitikan jangan di sini," sungut si bocah, membuat si nenek tertawa. Sungguh gurauan yang mengerikan.
"Sungguh tidak disangka, pendekar hebat seperti Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua mau mendatangi tempatku yang jelek ini," puji Datuk Pengemis Nyawa seraya turun dari tempat duduknya, menyambut hormat dua tokoh istimewa itu.
"Benar, tempatmu jelek dan bau lagi?" ledek si bocah sambil memitingkan hidungnya, membuat si nenek tertawa kembali. Datuk Pengemis Nyawa hanya tersenyum kecut menahan geram, namun dia tidak berani berurusan dengan dua tokoh yang terkenal sangat hebat itu. Bahkan, dia berencana mengajak serta dua tokoh menakutkan itu untuk membasmi orang yang hendak datang. Jika kedua tokoh itu turut serta, maka jelas dia tidak perlu turun tangan, walau dia sudah yakin dengan keberadaan beberapa tokoh yang hendak membantunya. Dewa iblis akan mudah dikalahkan, namun alangkah lebih baiknya jika kekalahan Dewa iblis sangat telak.
"Ada apa gerangan Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa hingga meninggalkan pertapaannya dan datang kemari?" tanya Datuk Pengemis Nyawa mewakili keheranan semua yang hadir.
"Aku hanya ingin menyaksikan kepengecutan kalian mengalahkan Dewa Iblis," ledek si Nenek, membuat semuanya maju satu langkah saking tersinggungnya. Namun, Datuk Pengemis Nyawa memberi isyarat untuk tenang dengan tangannya.
"Apa alasan Nenek mengatakan kami pengecut?" kejar Datuk Pengemis Nyawa.
"Ya, pengecut lah. Jelas-jelas Dewa Iblis hanya seorang pemuda ingusan, malah mau dikeroyok tokoh seperti kalian," celetuk Bocah Setan Tua sambil mempermainkan tanah, tingkahnya benar-benar bocah usia sepuluh tahun.
"Kami tidak akan main keroyokan. Kami hanya ingin menjajal kehebatan orang yang digemparkan itu. Nyawanya tetap milik Datuk Pengemis Nyawa," bela Biksu Ling Pau geram.