Halo!

Dewa Iblis - Chapter 13

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 13

"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak sia-sia datang kemari untuk melihat pertunjukan kalian," seringai Nenek Tua terkekeh, mendengar kedatangan mereka hanya untuk menyaksikan saja. Datuk Pengemis Nyawa kecewa, namun dia tidak kekurangan akal untuk mengajak serta tokoh hebat itu membantunya. "Apa kalian tidak penasaran juga akan kemampuannya, mengujinya dengan beberapa jurus hebat kalian...?" rayu Datuk Pengemis Nyawa.

"Tanganku sudah kaku, tidak bisa bersilat lagi?" celetuk Bocah Setan Tua dengan tenang. Padahal tadi mereka lihat sendiri bagaimana si bocah menghindari pukulan si nenek dengan gesit. "Aku tidak mau berbuat malu harus melawan bocah ingusan, dan jika yang ada di Kadipaten Ambangan itu yang meminta, mungkin aku pikirkan..." seringai si Nenek 109 membuat Datuk Pengemis Nyawa terbelalak kaget. Kartunya terbongkar, namun dia berusaha bersikap tenang agar semua tamu yang lain tidak tahu hal itu.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan sangat lantang diiringi tenaga dalam yang sangat kuat dari luar gua. "DATUK PENGEMIS NYAWA CEPAT KELUAR... SAMBUT AJALMU?" Bukan hanya teriakan itu yang membuat mereka terkejut, juga hembusan angin yang sangat kuat bagai badai topan menerpa tempat itu.

Bocah Setan Tua memegang kaki Nenek Peniup Dupa yang tertanam dengan kuat ke tanah, juga pendekar lain yang ada di sana melakukan hal yang sama agar tidak terjungkal. Hembusan yang sangat kuat itu mampu memporak-porandakan isi ruangan hingga beberapa kursi dan meja serta isinya terlempar.

"Hahahahaha, dia datang...!!" teriak Bocah Setan Tua berjingkrak-jingkrak kegirangan, diiringi hembusan napas kesal oleh para tokoh yang lain. Sedangkan Nenek Peniup Dupa malah saling pegang tangan dengan Bocah Setan Tua berjingkrak berputar-putar kegirangan. Benar apa yang disampaikan Pengemis Laknat pada Aji Mahendra, tempat itu pasti didatangi oleh beberapa 110 pendekar dunia persilatan yang ingin menyaksikan pertarungan hebat. Beberapa pasang mata yang mengintip di sela-sela rimbunnya hutan menatap lekat pada seorang pemuda yang berdiri dengan gagah di samping Rawa Lintah, yang membuat mereka heran adalah lintah-lintah itu enggan untuk mendekati pemuda yang jelas bisa menjadi santapan lezatnya, bahkan menjauh.

"Hebat benar tenaga dalamnya pemuda itu, hingga panasnya keluar mengusir lintah penguasa rawa. Pantas jika Nyi Pelet Peteng kalah olehnya?" "Apa tindakan kita jika dia juga tidak bisa dikalahkan di sini, kakang...?" tanya salah satu pengintip yang sejak tadi ada di sana, bahkan sempat melihat Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa makan lintah.

"Seperti yang telah diperintahkan Guru, kita hanya mencari informasi dan membawanya ke Kadipaten Ambangan. Jadi kita tidak boleh ikut campur urusan di sini..." terang yang satunya, yang wajahnya mirip satu sama lain. Dia adalah Jala dan Jalu, salah satu murid Datuk Pengemis Nyawa. Seraut wajah yang juga mengintip di tempat itu terbelalak kaget menatap kemunculan beberapa tokoh hebat di mulut gua. Bukan karena banyaknya tokoh yang ada, 111 namun wajahnya geram menatap seorang pemuda yang tidak pantas ada di sana...

"Aji Mahendra?" "Pendekar Pedang Naga kah...?" pekiknya meyakinkan pandangannya. Arya menatap lekat pada Datuk Pengemis Nyawa seakan acuh pada beberapa tokoh yang tidak dia kenal, namun sempat heran juga melihat orang yang mengatakan dari golongan putih juga ada di sana. Namun keterkejutannya cepat ditepis. Yang jelas seluruh yang ada di depannya kini adalah musuh.

"Ingat janji kalian, jangan sampai main keroyokan, beri pertunjukan yang indah bagi kami?" celetuk si Nenek. "Jika pertunjukannya tidak bagus dan curang, aku akan mengamuk?" ancam Bocah Setan Tua bersungut-sungut cemberut.

"Aku ingin menjajal ilmu pemuda ini..." geram Biksu Ling Pau, serta merta melompat dari mulut gua yang ada di tebing dengan ketinggian tujuh depa orang dewasa. Tubuhnya melesat turun dibawa berat bobot tubuhnya yang tambun. Biksu Ling Pau seperti tidak memiliki ilmu peringan tubuh, hingga tubuh itu melesat dengan cepat. BUMMMMM 112 Tubuh itu dengan kuat membentur bumi, hingga menimbulkan debu yang bertebaran. Jika tubuh orang biasa pasti remuk seketika, namun Biksu Ling Pau jatuh dengan tetap berdiri walau kakinya sedikit amblas di tanah. Menunjukkan tenaga dalamnya sangat kuat.

"Amitabha. Gelarmu sangat tinggi, anak muda, membuatku penasaran pada kehebatanmu?" ujar Biksu Ling Pau, seraya berjalan meninggalkan tempat jatuhnya dengan memikul gada besar. Arya memberi hormat yang sama seperti dilakukan Biksu Ling Pau, karena dia juga pernah berguru pada seorang biksu dari Tiongkok, yaitu Biksu Hong Pek.

"Maaf, Biksu. Saya tidak punya urusan dengan Anda. Urusan saya hanya dengan Datuk Pengemis Nyawa. Namun jika Biksu memaksa, jangan salahkan saya melawan..." kata Arya tegas.

"Hahahaha, kesombonganmu setinggi langit, anak muda. Namun aku ingin bukti." Hiaaaaaaat... Setelah selesai bicara, Biksu Ling Pau langsung menderukan gadanya, secepat kilat Arya menghindar ke samping dengan langsung mengatur kuda-kuda jurus Belalang Sembah, di mana tangan bertahan di depan dan kaki ditekuk rendah. Jika melihat jumlah musuh yang ada, maka dia harus pintar mengatur tenaga agar tidak cepat 113 terkuras. Dia menggunakan silat biasa guna menjaga tenaganya.

Setelah serangan pertama tidak menemukan sasaran, Biksu Ling Pau memutar gadanya. Ada serangan menuju kepala, Arya langsung mengangkat tangan kiri menahan serangan itu. BUGGG. Sangat kuat pukulan itu, namun Arya sempat menekuk tangan kanannya dan menghantam kepala Biksu yang tanpa pertahanan. BUGGG. Biksu Ling Pau oleng sedikit, sedangkan Arya harus terjungkal dua langkah, bahkan tangannya memerah. Mujur tadi dia sempat melindungi kepala, jika tidak, pasti kepala itu sudah remuk. Sedangkan Biksu Ling Pau seakan tidak merasakan efek pukulan Arya, bahkan dia menyeringai mengejek. Walau Biksu Ling Pau tidak menggunakan peringan tubuh, namun serangan penuh tenaga dalam dan tubuhnya kebal pukulan, pantas dia terkenal hebat, membuat Arya semakin penasaran. 114

Biksu Ling Pau mencoba menyerang kembali dengan gadanya. Arya melompat di bawah selangkangan lalu bangkit dan langsung mengirim tendangan ke arah punggung. BUGGG. Lagi-lagi tubuh gemuk itu hanya tersurut satu langkah, menoleh dan menyeringai tenang. "Apakah hanya sampai di sana kehebatanmu, Bocah!!" bentak Biksu Ling Pau seraya menyerang lagi. Arya tambah penasaran dengan terus menghindar tidak berani menangkis kembali gada itu, dengan sesekali mengirim serangan. Sangat jelas dalam kelincahan Arya lebih unggul, bahkan serangannya banyak yang bisa mengenai lawan, walau lawan tidak terpengaruh.

Tokoh-tokoh yang melihat perkelahian itu tersenyum geli.

"Apakah hanya sampai di sana kehebatan orang yang berjuluk Dewa itu," cibir Nenek Peniup Dupa.

"Ah, tidak asik... rugi aku datang kemari?" celetuk Bocah Setan Tua seraya tiduran di tanah berbantal batu, kecewa. 115

"Hahaha, kesaktian seperti itu malah mau menantangku?" tawa Datuk Pengemis Nyawa sombong.

"Tidak! Apakah kalian tidak merasa janggal kalau kesaktian bocah itu hanya sampai di sini? Kenapa tak satupun pukulan Biksu Ling Pau mengenainya?" ujar Si Buta Sadis yang hanya bisa memperhatikan dengan pendengaran supertajamnya.

"Benar, dia hanya main-main?" jawab Aji Mahendra dengan wajah serius menatap pertempuran yang imbang itu. Dia sudah pernah berhadapan dengan Dewa Iblis dan dia tahu jika Dewa Iblis sejak tadi hanya menggunakan satu jurus saja, yaitu Jurus Belalang Sembah. Walaupun Biksu Ling Pau telah berganti beberapa jurus, membuat semua kembali tertuju pertempuran dengan serius.

"Biksu Ling Pau, cepat kau binasakan bocah itu..." teriak Datuk Pengemis Nyawa.

"Baik! Jika kau izinkan aku merenggut nyawanya!!" jawab Biksu Ling Pau seraya mengambil tasbih besar yang melilit lehernya...

"TASBIH BUDA PENCABUT NYAWA?" teriak Biksu Ling Pau keras sambil melempar tasbih. Bagaikan sebuah gasing dari baja, tasbih itu berputar menderu ke arah Arya. Dengan sigap dia melompat menghindar, namun anehnya tasbih itu seperti bermata terus mengejar Arya. Arya terus 116 menghindar. Saban kali tasbih mengenai benda, benda itu langsung hancur berantakan. Begitu kuatnya tenaga dalam yang mengiringi tasbih itu. Tak hanya harus menghindari kejaran tasbih bermata, Arya juga harus meloncat ke sana kemari dari kibasan gada yang dipegang Biksu Ling Pau. Semua mata yang menyaksikan terkejut takjub pada keluwesan tubuh Arya menghindari dua serangan yang saling menderu. Dia berkelit, merunduk, bersalto, dan berlarian dengan cepat.

Arya yang berusaha mengirit tenaganya harus berjuang mati-matian menghindari serangan mematikan Biksu Ling Pau, dan hal itu juga bisa menguras tenaganya dengan cepat. Saat tasbih hendak mengarah tubuhnya, dia melenting ke udara dan berteriak, "GADA BUDA..." Seketika itu pula dari kedua tinjunya menderu udara padat sangat panas menghantam tasbih Biksu Ling Pau. BEMMMM BEMMMM 117

Seketika itu pula tasbih terpental dan hancur berantakan. Biksu Ling Pau terkejut bukan kepalang. Bukan hanya lantaran jurus Arya menghancurkan tasbihnya, namun jurus yang digunakan Arya adalah jurus sangat terkenal di Tiongkok milik Biksu Hong Pek, petinggi Shaolin. Ternyata dikuasai orang Jawa. Dipa hingga tidak sadar ada serangan balasan dari Arya. "GADA BUDA..." Kembali angin menderu dari tinju jauh Arya menghantam biji-biji tasbih yang bertebaran, hingga biji-biji itu terdorong kuat melesat ke tubuh Biksu Ling Pau. Biksu Ling Pau terkejut menangkis biji-biji itu dengan gadanya. Namun... PLAK... PLAK... PLAK... Tiga biji tasbih sebesar kelereng menghantam perut Biksu Ling Pau hingga dia tersurut empat langkah, dan darah segar menyembur dari mulutnya... Dia roboh bertopang gada. Semua yang menyaksikan terbelalak hebat, terutama Aji Mahendra, yang menyangka Arya hanya menang curang, kini menyaksikan kehebatan Arya yang sebenarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment