Chapter 14
"Katakan siapa gurumu?" Tanya Biksu Ling Pau parau, bertopang gada dan memegang perutnya. "Guru ku banyak?" jawab Arya singkat. "Tapi kau menggunakan jurus milik Biksu Hong Pek, namun silatmu bukan aliran Saolin," kejar Biksu Ling Pau penuh rasa ingin tahu, kembali ia memuntahkan darah segar. "Aku memang pernah berguru pada Biksu Hong Pek. Kau jangan banyak bicara dan bergerak jika masih sayang pada nyawamu?" ujar Arya tegas. Biksu Ling Pau sadar, maka ia cepat-cepat bersemedi memusatkan tenaga dalamnya untuk menekan luka dalam.
"Datuk Pengemis Nyawa, aku hanya punya urusan denganmu... jangan gunakan orang lain sebagai korban!" teriak Arya.
Pada deretan tokoh yang berdiri di mulut gua, membuat Datuk Pengemis Nyawa menahan geram. Ia hendak melompat, namun sebuah tangan menahannya.
"Aku ingin mengujimu?" Tiba-tiba sesosok tubuh melayang ringan di udara dengan mengembangkan jubah hitam besarnya seperti kelelawar. Ia adalah Joko Kewel atau Pendekar Kelelawar Hitam. Ia benar-benar terbang melayang-layang di udara. Dari atas udara, ia menjatuhkan benda sebesar kepalan tangan orang dewasa pada Arya. Arya melompat ringan ke samping.
BOMMMMMMM! Sebuah ledakan besar menggetarkan tempat itu, membuat Arya terpental dua tombak saking kuatnya hempasan ledakan itu. Namun, ia cepat-cepat bangkit karena Joko Kewel kembali menjatuhkan benda yang sama. Ia melompat lumayan jauh dan berlindung di balik batu. BOMMMMMM! Kembali bumi seperti gempa. Melihat Arya kalang kabut, Joko Kewel tertawa terpingkal-pingkal di atas udara. Datuk Pengemis Nyawa juga tertawa dengan puas.
Namun tidak bagi Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa serta Aji Mahendra. Setelah melihat bagaimana Arya menjatuhkan Biksu Ling Pau, mereka penasaran jurus apa lagi yang akan digunakan Dewa Iblis untuk melawan orang yang kini ada di atas udara.
"Kau tidak bisa menghindar dari seranganku, Dewa Iblis?" teriak Joko Kewel yang kini berputar-putar di atas persembunyian Arya, lalu menghantamkan benda itu lagi. Lagi-lagi Arya melompat menjauh. BOOOOOOMMM! "Gada Buda?" teriak Arya sambil menghindari serangan Joko Kewel, menyadari ada deruan angin dari bawah.
Joko Kewel memiringkan sayapnya hingga serangan itu lewat di sebelahnya. Sejak tadi ia sudah waspada pada tangan Arya yang bisa mengeluarkan serangan jarak jauh itu.
"Kau tidak bisa mengalahkanku dengan jurus yang sama, Dewa Iblis. Aku sudah tahu itu," hahahahaaaa, ledek Joko Kewel dengan lagi menghantamkan bendanya ke arah persembunyian Arya. BOOOOOMMMMM! Kembali tempat itu meledak dahsyat, dan tidak terlihat ada kelebatan manusia yang menghindar, membuat semuanya terbelalak. "Hahahaha, mampus kau!" teriak Joko Kewel penuh kemenangan.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu secara sembunyi menatap nanar. Dewa Iblis akhirnya bisa dikalahkan oleh Joko Kewel. Ada yang turut bahagia, namun juga ada yang berduka. Di mulut gua, semua orang tertawa senang akan kemenangan itu.
"Yah, sudah selesai pertunjukannya..." Kecewa Bocah Setan Tua. "Secepat itukah? Rugi aku keluar dari pertapaan?" Nenek Peniup Dupa juga kecewa.
"Tenang saja, Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa, kalian jangan kecewa. Sebentar lagi kita akan pesta meriah, tentu kalian akan senang?" ceria Datuk Mengemis Nyawa terpingkal-pingkal senang. Namun Aji Mahendra dan Pengemis Laknat merasa heran melihat Si Buta Sadis tidak sesenang mereka menyaksikan kekalahan musuh yang mereka nantikan itu.
"Kenapa kau, Buta Sadis? Sepertinya tidak senang kita menang?" Tanya Pengemis Laknat membuat semuanya menoleh pada Si Buta Sadis heran. "Kita belum menang?" ujarnya pelan bergetar, membuat semuanya terkejut.
"Apa maksudmu? Jelas-jelas Dewa Iblis telah terkena serangan Joko Kewel," bantah Aji Mahendra.
"Benar apa yang dikatakan Si Buta Sadis. Pendengarannya lebih peka dari mata kita yang terkecoh. Lihat di atas?" ujar Nenek Peniup Dupa serius. Mereka sama menoleh pada Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua yang serius melihat sebuah pusat. Semua pun melihat arah pandang mereka. Jika Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa saja terkejut dan terbelalak, tentu yang lain lebih terbelalak lagi, melihat sesosok tubuh yang kini mengambang di udara tanpa sayap mengatur serangan, memperhatikan Joko Kewel yang asik berputar merayakan kemenangan.
"Joko Kewel, awas di sampingmu..." teriak Datuk Pengemis Nyawa membuat Joko Kewel terkejut dan menghentikan putarannya. Dan itu yang ditunggu Arya.
"Beliung Samudra?" teriaknya. Seketika itu pula dari kibasan kedua tangannya menderu angin yang sangat dahsyat seperti hembusan taufan besar, membuat Joko Kewel terbelalak. Tak ayal jubahnya yang terentang lebar berkelebar hebat dan membawa serta tubuhnya seiring hembusan angin ke tebing. BUGGGGGG! Tubuhnya terbanting kuat ke tebing batu, dan melosor lemah ke bawah tak sadarkan diri.
Semua mata yang menyaksikan semakin menggigil melihat kehebatan Dewa Iblis yang dengan ringan turun perlahan menginjak bumi.
"Ilmu peringan tubuh apa itu?" Tanya Bocah Setan Tua. "Aku juga tidak tahu, baru kali ini aku menyaksikan orang bisa mengambang di udara tanpa sayap," tegun Nenek Peniup Dupa.
"Kau tidak akan menang melawannya, Datuk Tua?" Ledek Bocah Setan Tua pada Datuk Pengemis Nyawa yang semakin geram. "Aku sudah melihat ilmu-ilmunya, jadi aku bisa mengatasinya?" bela Datuk Pengemis Nyawa.
"Dia pasti masih memiliki ilmu simpanan. Kau lihat sendiri, kedua temanmu ditumbangkan dengan jurus yang berbeda," terang Nenek Peniup Dupa menyadarkannya.
"Kau bisa menang jika mengeroyoknya secara bersamaan. Terbukti dia kewalahan saat melawan Tasbih dan Gada Biksu Ling Pau," usul Bocah Setan Tua.
"Kau menyetujui dia main keroyokan?" Tanya Nenek Peniup Dupa. "Daripada tak ada pesta kemenangan?" jawab si Bocah tenang. "Benar juga... hahahahaha..." jawab si nenek terkekeh.
"Tidak!! Sebelum aku menjajalnya?" Tiba-tiba Si Buta Sadis melompat turun sendirian. Arya sudah terengah-engah napasnya, terbukti tenaganya sudah banyak terkuras. Ia menatap kecewa dengan orang yang datang, karena bukan Datuk Pengemis Nyawa. Tentu ilmunya lebih tinggi dari sebelumnya, dan ia harus berjuang mati-matian lagi guna menumbangkan kakek buta pemegang tongkat bambu kuning yang kini berdiri di hadapannya.
Arya melihat ke atas, masih ada empat orang sebelum Datuk Pengemis Nyawa yang harus dilawannya. Ia berfikir Nenek Berwajah Menor, serta Bocah tidak mungkin orang sembarangan itu juga harus dilawan. Masih lagi seorang tua memegang tongkat bermata besi berbentuk bulan sabit yang tak lain adalah Pengemis Laknat Guru Boma, dan Pendekar Pedang Naga, lalu terakhir Datuk Pengemis Nyawa. Jika melihat itu semua, tenaganya tidak akan mampu.
Arya menarik napas berat. Bagaimanapun caranya, ia harus mampu menyapu dendam kesumatnya pada Datuk Pengemis Nyawa. Ia sudah mati-matian belajar ilmu beladiri dan mencari Datuk itu kemana-mana. Ia tidak akan menyerah sampai di sini.
Tiba-tiba sesosok bayangan hijau berkelebat dan berdiri di samping Arya, membuat Aji Mahendra terbelalak melihat sosok yang kini berdiri berhadapan dengan Si Buta Sadis. Arya juga tak kalah heran pada orang yang kini melangkah ke depannya berhadapan langsung dengan Si Buta Sadis.
"Kirana!!" pekik Arya pada gadis di depannya. Gadis itu hanya menoleh tersenyum menawan. "Urusanmu dengan Datuk Pengemis Nyawa, sejak tadi aku tidak tega kau harus berurusan dengan orang yang bukan urusanmu!!"
"Sejak tadi?" Arya semakin terkejut. "Ya, sejak tadi aku sudah ada di sini, dan sudah sejak kemarin aku mengikutimu. Maaf jika informasiku tentang keberadaan Datuk Pengemis Nyawa salah, ternyata dia memang ada di rawa lintah." Ia berfikir kesalahan informasi yang dia terima bukan karena Kyia Banjar Banyu Bening dan Kyai Koneng, karena beliau juga mendengar informasi dari orang lain.
Lagi-lagi mereka dikejutkan oleh kelebatan sesosok berpakaian putih dan kini berdiri di samping Arya. "Bintang Kusuma?" Arya semakin heran pada orang-orang yang jelas-jelas ingin membantunya membela nyawa.
"Aku kan sudah jelas-jelas memintamu kembali ke Bukit Gembala...!!"
"Tidak mungkin aku kembali begitu saja... Bagaimana caranya aku menjawab pada calon mertuaku, jika tidak membantumu?" senyum Bintang Kusuma. Sesungguhnya Arya ingin menolak bantuan mereka, karena ini adalah urusan pribadinya, namun ia benar-benar kehabisan tenaga, sedangkan musuh aslinya masih sehat di atas sana.
"Datuk Pengemis Nyawa, cepat turun bawa serta antek-antekmu. Kami siap melawan kalian semua, terutama dia..." Tunjuk Kirana pada Aji Mahendra yang semakin pias di tempatnya. Bukan lantaran ia takut beradu ilmu dengan Kirana, tapi di belakang Kirana ada Kyai Banjar Banyu Bening dan Kyi Koneng serta tokoh aliran putih lainnya. Ia bisa dimusuhi aliran putih. Walau dendamnya pada Dewa Iblis sangat besar, namun ia lebih takut terusir dari aliran kebanggaannya itu.
Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua yang hendak pula membantu Datuk Pengemis Nyawa mengurungkan niatnya melihat siapa yang kini membantu Arya. Bukan lantaran mereka takut pada pendekar muda itu, tapi Kirana adalah orang kesayangan Kyai Banjar Banyu Bening, tokoh sakti belahan timur, dan Bintang Kusuma adalah calon menantu Racun Barat yang juga tokoh sakti. Dan bukan pula mereka takut pada tokoh sakti persilatan itu, bagi mereka kata takut telah dihapus dari kehidupannya. Namun mereka merasa risih dan tidak enak hati jika harus berurusan dengan tokoh sakti di belakang mereka.
"Aku tidak mau ikut campur urusan kalian..." Kata Nenek Peniup Dupa seraya berkelebat cepat meninggalkan tempat itu sambil menggendong Bocah Setan Tua. Datuk Pengemis Nyawa menggeram hebat seraya meluncur turun, disusul Pengemis Laknat, sedangkan Aji Mahendra masih di tempatnya bingung. Kini di arena sudah berdiri imbang antar sebelah pihak.