Chapter 15
Di barisan Datuk Pengemis Nyawa, ada Si Buta Sadis dan Pengemis Laknat, sedangkan di Barisan Dewa Iblis, ada Kirana atau Dewi Pedang Bulang dan Bintang Kusuma. Tidak perlu ditanya siapa yang akan dilawan oleh Arya, pilihannya pasti tertuju pada Datuk Pengemis Nyawa.
"Kalian jangan ikut campur urusanku hanya dengan Dewa Iblis..." bentak Pengemis Laknat dengan suara yang sangar. "Dan aku tidak merasa punya urusan denganmu... urusanku hanya dengan Datuk Pengemis Nyawa," jawab Arya dengan tegas.
"Kau telah membunuh muridku dengan sadis, masih mau bilang tidak punya urusan denganku?" geram Pengemis Laknat penuh amarah. "Siapa kamu dan siapa muridmu, aku tidak tahu, yang jelas aku tidak bermaksud membunuh seorang pun, kecuali 128 antek dan Datuk Pengemis Nyawa, kalau terbunuh aku tidak tahu..." jawab Arya tanpa melihat lawan bicaranya, dia tetap menatap Datuk Pengemis Nyawa.
"Lalu Boma, Ketua Perampok Tapak Langit, yang kau siksa sampai mati itu apa?" bentak Pengemis Laknat, membuat Arya dan Kirana terkejut, karena mereka tahu kematian Boma, dan ternyata yang berdiri di depan mereka kini adalah gurunya yang menuntut balas.
"Boma tidak aku bunuh, tapi dia bunuh diri," bela Arya. "Murid bejatmu itu memang pantas mati, kakek tua..." teriak Kirana menahan geram, dia ingat saat Boma hendak memperkosanya, mujur Arya datang membantu dan membasminya. Jika tidak, entah nasibnya sekarang seperti apa.
Kirana menggeser tempat berdiri yang awalnya berhadapan dengan Si Buta Laknat, kini jelas dia menginginkan berhadapan dengan Pengemis Laknat, guru orang yang hendak membuatnya celaka.
"Buta Sadis, kau lawanku?" tantang Bintang Kusuma seraya melangkah berhadapan dengan Buta Sadis, walau dia buta, namun dia bisa membaca aliran gerakan lawan.
"Hahahahaaaa, ternyata aku harus berhadapan dengan murid atau keturunan Gema Samudra, bagaimana kabar Gema Samudra, apakah kakinya tetap pincang?" tanya Si Buta Sadis mengejek.
"Sungguh kau bangsat, Buta Sadis, kau menikamnya saat lemah selesai bertarung dengan Pendekar Naga Api, kau mengambil kesempatan saat Gema Samudra istirahat memulihkan lukanya," geram Bintang Kusuma yang ternyata memiliki urusan serius dengan Si Buta Sadis.
Arya terkejut mengetahui orang yang membantunya ternyata punya urusan serius dengan para antek Datuk Pengemis Nyawa. Jadi dia tidak perlu punya hutang budi pada penolongnya, karena mereka memang punya urusan sendiri.
"Sungguh garis langit memang tidak bisa dibaca, ternyata kita sama-sama memiliki urusan sendiri?" terang Datuk Pengemis Nyawa.
"Sudah, jangan banyak cakap, berbicara terus hanya membuang waktu," bentak Arya setelah dirasa nafasnya berangsur pulih, dan mereka tidak sadari selama terjadi perbincangan, Arya telah memulihkan tenaganya.
"Aku ingin tahu, darahmu berwarna apa, anak muda, hingga berani menantangku?" bentak Datuk Pengemis Nyawa seraya mengirimkan serangan jarak jauh berupa hembusan angin padat sangat panas menderu ke tubuh Arya.
Arya malah tidak menghindar serangan itu, namun tangannya dikibaskan menghantam pukulan Datuk Pengemis Nyawa, seperti sebuah bola, pukulan itu terpental hingga meledak di kejauhan.
Pengemis Nyawa melompat, begitu pula Arya. Bukan hanya mereka, Kirana dan Pengemis Laknat serta Bintang Kusuma dan Si Buta Sadis saling serang, membuat alam di sekitar menjadi bergetar. Mereka mencari tempat pertarungan sendiri-sendiri, tidak mungkin jika mereka berdekatan dengan pertarungan lainnya, takut terkena serangan salah sasaran dari pertempuran sebelahnya.
Arya mengejar Datuk Pengemis Nyawa hingga ke dalam gua, itu merupakan siasat Datuk Pengemis Nyawa yang tidak disadari Arya, di dalam gua yang sempit. Dewa Iblis tidak akan bisa menggunakan Jurus Melayang dan juga Pukulan Gada Buda yang bisa membuat gua ambruk dan mereka tertanam di sana bersamaan, jadi yang perlu diwaspadai hanya Beliung Samudra, dan di tempat yang sempit ini Arya tidak akan mampu mengumpulkan angin sebanyak-banyaknya, jika Arya menggunakan serangan itu, tentu kecil saja efeknya.
Arya sedikit terkejut sesampainya di gua itu, tadi dia lihat Pendekar Pedang Naga ada di sana, dia mengira akan menghadapi dua musuh di dalam gua itu. Namun ternyata kini Pendekar Pedang Naga tidak ada di sana. Entah dia ada di mana, namun dia harus tetap waspada pada beberapa lubang gua yang jadi pintu, bisa saja Pendekar Pedang Naga sembunyi dan menyerangnya ketika lengah.
Datuk Pengemis Nyawa hanya tersenyum, lawannya terjebak pancingannya itu. Di tempat lain, tepatnya samping Rawa Lintah, telah terjadi pertempuran sengit antara Pengemis Laknat dan Kirana, dentingan benda keras antara Pedang Bulan dan Tongkat Punama Pengemis Laknat saling beradu kuat, hingga memercikkan api di sana-sini.
Tak jauh di tempat itu, di antara batu-batu cadas tepi tebing, Bintang Kusuma melayani serbuan Bambu Kuning Si Buta Sadis yang kerasnya menyerupai besi murni kelas terbaik, pedangnya terus beradu saling memberi dan menerima dengan kuat.
Pertempuran kali ini berbeda dengan pertempuran Dewa Iblis dengan lawan sebelumnya, karena pertempuran sekarang melibatkan emosi yang sangat tinggi untuk saling membunuh lawan.
Arya tahu bahwa dia tidak bisa menggunakan jurus-jurus hebatnya di dalam gua, dalam posisi ini dia hanya bisa menggunakan pertarungan jarak dekat. Melihat Datuk Pengemis Nyawa menggunakan senjata Akar Kayu Jati Berwarna Hitam yang jelas bukan kayu sembarangan, maka Arya menggunakan jurus Putri Bulan, jurus yang baik untuk melawan musuh bersenjata, karena jurus itu untuk pertarungan jarak sedikit jauh, sedangkan untuk menggunakan jurus Belalang Sembah yang memiliki pertahanan dan serangan lumayan bagus, tidak mungkin.
Walaupun Arya memiliki ambisi untuk membunuh Datuk Pengemis Nyawa, dia tidak boleh gegabah, apalagi musuh yang dihadapi adalah tokoh sesat yang sangat sakti, dan dia sadar telah terpancing ke tempat yang membuatnya tidak bisa menggunakan ilmunya secara bebas, bisa-bisa dia yang tidak selamat keluar dari dalam gua itu, dia harus mampu bertahan untuk mengetahui kekuatan dan jurus-jurus lawan sehingga bisa berpikir untuk memberikan balasan sesuai dengan kelemahan jurus lawan.
"Hiaaaaat..." Datuk Pengemis Nyawa menyodokkan tongkat akar jatinya ke dada Arya, Arya surut tiga langkah, namun serangan itu terus memburu, membuatnya harus berkelit ke samping. Melihat musuhnya berkelit, Pengemis Nyawa tidak tinggal diam, dikibaskan tongkat itu ke samping, Arya merunduk dan berguling menghindari tendangan Pengemis Nyawa.
Terbersit kagum dan juga geram Pengemis Nyawa melihat kecepatan dan kelihaian Arya menghindari semua serangan mautnya, dia terus memburu dengan serangan-serangan tongkat, melihat Arya tidak mampu memberi balasan, bahkan serangan Datuk Pengemis Nyawa semakin cepat dan menderukan angin yang sangat hebat, membuat Arya terbelalak, dia tidak menyangka pada serangan yang tergolong masih dasar, namun sudah mematikan.
Arya pun meningkatkan jurus Putri Bulan pada level pertengahan guna menghindari serangan Datuk Pengemis Nyawa yang semakin membabi buta. Seiring menderunya tongkat, juga tersisa bias-bias angin hitam yang cukup sangit.
"Ini racun?" geramnya dalam hati, seraya menahan nafas dan mengerahkan hawa murni dalam dada untuk mengumpulkan seluruh racun yang telah tersedot, mengumpulkannya di bawah pusar, dan menghembuskan lagi keluar.
Melihat musuhnya masih sehat, bahkan terus mampu menghindari serangan Datuk Pengemis Nyawa, membuatnya semakin kalap, padahal racun yang keluar dari Akar Kayu Jati Hitam itu adalah ciptaan Racun Barat yang terkenal sangat mematikan, racun yang bisa menghancurkan semua saraf dan otot orang yang menghirupnya, berarti Dewa Iblis memang bukan orang sembarangan yang pantas dia remehkan.
Arya melompat ke sisi tebing guna mencari udara segar yang terhembus dari lubang-lubang cahaya, Pengemis Nyawa terus memburunya dengan tongkat anehnya. Arya melompat ke samping, BLARRR, tembok gua bergetar bersama beberapa atap gua yang runtuh, membuat semuanya surut guna menghindari batu-batu itu.
Semuanya sama terkejut, menyadari betapa rapuhnya batu-batu gua itu. "Apakah kau ingin kita sama-sama terkubur di gua ini, Dewa Iblis?" "Asalkan kau mati, aku tidak akan menyesal mati juga," bentak Dewa Iblis seraya mencabut Kayu Cendana yang sejak tadi terselip di pinggangnya, seketika gua yang sedikit bau lembab itu menyebar harum kayu cendana.
Dia terpaksa mengeluarkan senjata karena tidak mungkin dia melawan Pengemis Nyawa dalam pertarungan jarak dekat ini tanpa senjata, sejak tadi dia hanya bisa menghindari saja serangan Tongkat Pengemis Nyawa. Tidak mungkin dia menangkis tongkat itu dengan tangan kosong, melihat tongkat itu mampu menghancurkan beberapa batu yang salah sasaran, bisa-bisa tangannya remuk jika dipaksakan berbenturan.
Datuk Pengemis Nyawa yang telah tahu dari Pendekar Pedang Naga tidak terbuai dengan harum Kayu Cendana. Diapun menutup hidungnya dengan kain agar tidak ada hawa racun yang terpancar dari kayu cendana Arya masuk ke tubuhnya. "Dasar Iblis, kau kecoh musuhmu dengan harum kayu cendana ini?" bentak Pengemis Nyawa.
Di luar gua, tepatnya di tebing batu, pertempuran antara Bintang Kusuma dan Si Buta Sadis berjalan dengan cepat, ledakan demi ledakan terjadi di mana-mana. Bintang Kusuma terbelalak menyaksikan kehebatan musuh bersenjata Bambu Kuning yang buta, pendengarannya sungguh tajam, membuatnya semakin penasaran.
Dilemparkan kembali senjata rahasia berupa cakram berbentuk bintang, WEESSSS, WEESSSS, WEESSSS, tiga bintang melesat dengan cepat menuju tiga titik tubuh mematikan Si Buta Sadis, dengan cepat Buta Sadis memutar tongkatnya, TRANG, TRANG, TRANG, tiga bintang terpental dengan kuat, bahkan ada yang menancap pada batu cadas, sungguh hebat dan cepatnya Bintang melempar senjatanya, Bintang semakin terbelalak, nafasnya sudah kembang-kempis, tenaganya sudah semakin menipis.