Chapter 16
Hampir seluruh kemampuan telah digunakan, namun Si Buta Sadis menyambutnya dengan santai. Keringat dingin mengucur di tubuhnya, dia tidak mungkin meminta bantuan, karena yang lain juga sama melawan musuh yang tidak mudah.
Dia teringat akan calon istrinya, Putri Racun Barat yang jelita. Mungkinkah dia akan berakhir di sini? "Bagaimana Bintang Kusuma? Apakah kehebatanmu hanya sampai di sini?" ujar Buta Sadis tenang, mendengar nafas musuhnya sudah ngos-ngosan.
"Kalau kau sudah enggan menyerang, biar aku akhiri pertempuran ini dengan merampas nyawamu," teriak Buta Sadis, langsung melenting tinggi sambil memutar tongkatnya. Dengan sisa-sisa tenaga, Bintang Kusuma bersiap menyambut serangan Buta Sadis, dia tidak akan biarkan Buta Sadis merampas nyawanya. Ada seorang dara cantik yang menunggunya pulang.
Di tempat lain, tepatnya samping Rawa Lintah, pertempuran antara Kirana dan Pengemis Laknat berjalan semakin cepat. Beberapa lintar terburai isi perutnya terkena injak atau serangan mereka yang nyasar, sehingga air Rawa dan tepiannya penuh dengan darah, juga darah lengan Pengemis Laknat tercampur di sana.
Pengemis Laknat mengibaskan Tongkat bermata Besi Bulan Sabit ke tubuh Kirana, Kirana berkelit ke samping seraya menangkiskan pedangnya dan menyodokkan ke lengan Pengemis Laknat. Pengemis Laknat terbelalak tidak menyangka ada serangan sangat hebat itu.
Cepat-cepat dia lepaskan genggamannya pada Tongkat, takut terbabat pedang Kirana. "Trang!" Tongkat itu jatuh ke tanah dan Pengemis Laknat mundur tiga langkah. Melihat musuhnya tak bersenjata tidak membuat serangan Kirana surut, nafsu membunuhnya sangat tinggi teringat murit Pengemis Laknat, Boma yang hampir memperkosanya.
"Hiaaaaaat!" Kirana terus membabatkan pedangnya, membuat Pengemis Laknat yang sudah tanpa senjata semakin kalang kabut menghindar. "Craaaaas!" Lagi-lagi bahu kanan Pengemis Laknat terbabat, dia meringis menahan sakit dan mendekap luka yang mengucur darah segar itu.
Wajahnya pias menyaksikan kehebatan Tokoh Muda yang sedang dihadapinya, sangat salah tadi dia sempat meremehkannya. Pantas dia menjadi orang kesayangan Kyai Banjar Banyu Bening. Saking terperangahnya Pengemis Laknat, tidak sadar tubuh Kirana telah melenting tinggi. "Pedang Bulan Menukik Gunung?" teriak Kirana, serta merta tubuhnya berputar bak gasing dengan pedang dijulurkan ke depan.
Bagaikan pusaran taufan, tubuh Kirana berputar menuju Pengemis Laknat. Pengemis Laknat perperangah dan melompat ke samping mencoba menghindar. "Craaaaassssss!" Ada rasa dingin yang menyayat kulit leher Pengemis Laknat, hingga dia tidak sempat berbalik melihat penyerangnya. Darah muncrat tinggi dan tubuh Pengemis Laknat menggeloros kejang-kejang lalu tidak bergerak lagi.
Kirana tidak mampu melihat kematian musuh ditangannya sendiri itu, ada bercak air yang keluar dari mata lentiknya. Dia seka seraya menatap mulut Gua yang mengeluarkan kepulan abu hebat, bertanda di sana masih terjadi pertempuran hebat.
Kirana hendak berkelebat ke Gua itu membantu Arya, namun matanya terbelalak menyaksikan Bintang Kusuma yang dibuat kucing-kucingan oleh Si Buta Sadis tidak jauh dari tempatnya. "Hahahahahaaaa, ku permainkan nasibmu anak muda?" teriak Buta Sadis tersenyum penuh kepuasan seraya mengibaskan tongkatnya.
Bintang Kusuma berusaha menangkis serangan dengan tenaga dalam hebat itu. "Traaaaangggg!" Dua senjata bertemu menciptakan bunga api. Bintang Kusuma terpental dua tombak dan terjerembak di batu-batu tebing, namun dia cepat-cepat bangkit takut ada serangan lagi.
Nafasnya semakin kembang kempis, tubuhnya sudah luka-luka karena berulangkali jatuh ke batu dan bangkit lagi. Pedangnya sudah banyak yang tumpul, bahkan tangannya telah mengucurkan darah. Beberapa jurus lagi dia sudah tidak mampu melawan.
"Hahahaha... lagi anak muda!" teriak Buta Sadis melompat sambil mengibaskan tongkatnya. Bintang Kusuma dengan sisa tenaga memegang senjatanya dengan dua tangan hendak menyambut serangan lawan. "Traaaaangggg!" Buta Sadis terbelalak, tongkatnya bergetar hebat, cepat-cepat dia mundur tiga langkah.
Dihadapannya kini telah berdiri seorang wanita yang juga mundur tiga langkah mengontrol getaran senjatanya. Dan berdiri di samping Bintang Kusuma. Bukan hanya Buta Sadis, namun juga Bintang Kusuma heran melihat gadis yang kini berdiri di sampingnya.
Cepat-cepat Bintang Kusuma melihat ke samping Rawa, dan keterkejutannya semakin menjadi setelah melihat Pengemis Laknat terkapar kaku dengan kepala hampir putus. Buta Sadis tanpa menoleh namun sudah dapat merasakan bahwa pertempuran di samping rawa telah selesai.
Berarti kini yang juga hadir di tempat itu adalah orang yang memenangkan pertempuran Samping Rawa, dan tentu itu adalah Kirana. "Hahahaha... Berarti sekarang aku berhadapan dengan orang yang tadi hendak melawanku, ternyata kita berjodoh nona!" ujar Buta Sadis.
"Hati-hati, ilmunya sangat hebat!" terang Bintang Kusuma, membuat Kirana tersentak. "Kita lawan berdua, setelah itu kita bantu Dewa Iblis!" ujar Kirana, setelah dia rasakan benturan tadi. Si Buta Sadis memang memiliki Tenaga Dalam Tinggi, dan dalam keadaan tenaganya terkuras melawan Pengemis Laknat, tidak mungkin dia melawan sendirian.
Kirana teringat Arya, rasa khawatirnya semakin tinggi menyadari bahwa Arya sebelumnya telah melawan dua orang. Dia saja melawan satu orang, tenaganya hampir habis, apalagi Arya. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan Tokoh paling hebat golongan hitam, Datuk Pengemis Nyawa.
Pertempurannya dengan Si Buta Sadis harus cepat selesai agar dia bisa membantu orang yang menciptakan taman Bunga di hatinya. "Baik... " jawab Bintang Kusuma dengan menyusun sisa-sisa tenaganya. Dan memegang senjatanya dengan dua tangan yang bercelepotan darah.
"Baik anak muda?" cibir Buta Sadis, namun bukannya mereka berfikir untuk tidak keroyokan, malah serangan dari dua arah menerkam Buta Sadis yang telah pasang pendengaran dengan tajam dan meningkatkan tenaga dalamnya hingga ke level atas.
Di dalam gua, dentuman ledakan hasil benturan dua senjata sakti milik Pengemis Nyawa dan Dewa Iblis bercampur racun hitam sangit dan kekuningan harum kayu cendana memenuhi ruangan itu. "Hiaaaaat... " Arya melompat sambil memutar senjatanya hingga mengeluarkan suitan nyaring.
Pengemis Nyawa mengibaskan senjatanya dari arah bawah hingga mengeluarkan deruan angin hebat. Melihat serangan jarak jauh yang terkirim dari tongkat Pengemis Nyawa membuat Arya urungkan serangannya seraya bersalto ke bawah merangkak dengan cepat di tanah dan membabatkan kakinya.
Pengemis Nyawa melompat ke atas sambil menyodokkan tongkatnya ke bawah. Arya berkelit ke samping dan menopangkan tangannya mengangkat tubuh dan kakinya berputar ke atas menerjang Pengemis Nyawa yang masih melayang.
Melihat serangan yang sangat cepat membuat Pengemis Nyawa terkejut dan cepat-cepat menarik tongkatnya seraya menyilangkan di depan dada. "Darrrr!" Tendangan Arya menghantam Tongkat Pengemis Nyawa, membuat tubuh itu melayang ke atas membentur atap goa.
Namun seiring terpentalnya tubuh Pengemis Nyawa ke bawah, dia masih sempat membabatkan tongkatnya ke tubuh Arya. Melihat serangan sangat hebat, Arya bersalto ke belakang tiga kali. "Darrrr!" Pukulan Pengemis Nyawa menghantam tanah dengan kuat membuat gua itu bagaikan di terpa gempa.
Lagi-lagi batu-batu atap yang runtuh. Pengemis Nyawa bangkit sambil menyeringai menahan sakit di punggungnya. "Hiaaaaat... " Lagi-lagi Arya memburu dengan cepat sambil menyodokkan tongkatnya.
Pengemis Nyawa berkelit ke samping dan mengirimkan kibasan tongkat pula menuju kepala Arya. Arya menunduk, namun tak pernah dibayangkan tendangan Pengemis Nyawa mengancam dari bawah. Secepat kilat Arya silangkan lengan. "Bugggggg!" Tubuh Arya tersurut ke belakang, hingga di lantai gua tercipta garis kaki Arya tiga tombak.
Mereka sama-sama mengatur nafas yang sudah kebang-kempis, karena tenaga yang dikeluarkan bukan hanya untuk menyerang dan bertahan, namun juga untuk menghalau Racun yang bertebaran di dalam gua itu. Tubuh kedua pendekar yang sama berambisi membunuh lawan itu pun sama kacaunya, pakaian sudah compang-camping dan luka-luka lebang tampak di sana-sini.
Sampai lebih seratus jurus masih belum bisa ditafsirkan siapa yang bakal menjadi pemenang. Kedua mata mereka sama awas dan memerah menahan geram. Walaupun bagaimana, mereka tidak bisa gegabah. Tiba-tiba Pengemis Laknat yang ada di mulut Gua tersenyum kecut, membuat Arya tambah geram.
"Mari kita jajal lagi ilmu siapa yang paling hebat, Dewa Iblis?" "Hiaaaaat... " Arya langsung menyerang tanpa menjawab kata-kata itu, diputarnya senjata Kayu Cendananya hingga menderu bagaikan ribuan tawon. Dia melesat cepat ke tubuh Pengemis Nyawa, bukannya beriap, Pengemis Nyawa malah menancapkan tongkatnya ke lantai gua.
Hingga berdiri di samping Pengemis Nyawa tanpa di pegang, lalu Pengemis Nyawa membuat kuda-kuda rendah yang kokoh seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tindakan Pengemis Nyawa membuat Arya tersenyum karena dia tahu senjatanya itu tidak bisa di tahan oleh tangan sekuat apapun, besi saja bisa hancur, apalagi tangan kosong.
"Hiaaaaaat?" Arya semakin kalap melihat kesempatan. "Jurus Pencabut Nyawa... " teriak Pengemis Nyawa, tatkala serangan Arya tinggal sedepa. Membuat Arya berbelalak, seiring kedua tangan Pengemis Nyawa terjulur berbentuk cakar, tubuh Arya yang melesat cepat berhenti seketika bagaikan membentur tembok baja.
Pengemis Nyawa mengepalkan cengkramannya, membuat isi dada Arya remuk. Seketika dia pusatkan tenaga dalamnya untuk menjaga segala isi dadanya. Saking semangatnya, dia tidak ingat jika Pengemis Nyawa memiliki Ajian sangat mengerikan yang bisa menarik Organ dalam musuhnya hingga terburai keluar.
Sejak tadi dia sudah berusaha untuk menghindar dari berhadapan langsung, agar Pengemis Nyawa tidak bisa mengeluarkan jurus mematikan itu.