Halo!

Dewa Iblis - Chapter 17

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 17

Kekalapan Arya membuatnya lengah, dan kini Jurus itu tak bisa dihindari lagi. Arya merapalkan kedua tangannya di depan dada sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk bertahan. Pengemis Nyawa menarik-narik tangannya seakan isi dada Arya ada di kepalan tangannya, baik Arya maupun Pengemis Nyawa sama-sama bergetar hebat, bahkan kakinya mengepul tanda kerahan tenaga dalam yang sangat kuat.

Arya semakin kebingungan, tenaga dalamnya yang sejak tadi terkurah hebat, kini harus menghadapi jurus maut Pengemis Nyawa, darah segar dimuntahkannya, bahkan kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang. Jika begini terus, dia tidak akan sanggup lagi mempertahankan isi dadanya. Kepalan Pengemis Nyawa semakin kuat, juga giginya yang saling merapat hebat, dia semakin bernafsu melihat Arya memuntahkan darah segar, dia tahu jika Arya tidak akan mampu bertahan dengan ilmunya itu.

Sampai sekarang, tak seorang pun yang bisa selamat dari jurus maut itu. Arya terduduk di tanah, kakinya kejang-kejang. Di luar Gua, Si Buta Sadis, Kirana, dan Bintang Kusuma sama terkejut hingga menghentikan pertempurannya, karena mereka tidak mendengar lagi pertempuran di dalam gua, bahkan lengang, mereka berpikir pertempuran di sana sudah selesai, namun siapa yang jadi pemenang, sampai saat ini tidak seorang pun yang meninggalkan Gua, apakah mungkin semuanya tidak selamat, atau sama sekarat.

Mereka pun sama-sama saling tatap tajam untuk segera menyelesaikan pertempuran, guna melihat keadaan Gua. Kirana kirimkan tebasan pedangnya, disusul Bintang Kusuma mengirimkan hal yang sama. Si Buta Sadis menyambutnya dengan putaran Tongkat Bambu Kuningnya. Pertempuran kini berjalan dengan imbang, jelas jika si Buta Sadis memiliki Ilmu sangat tinggi, bahkan melawan dua orang yang bukan sembarangan, dia masih mampu membuat balasan, membuat Kirana dan juga Bintang mundur ke belakang menghindari kibasan senjata Buta Sadis.

Kirana mendekati Bintang Kusuma dan membisikkan sesuatu, Bintang Kusuma hanya mengangguk dan memberikan benda pada Kirana. "Serang lagi," teriak Kirana, secara bersamaan mereka melakukan serangan dari dua arah untuk mengecoh pendengaran Buta Sadis. Buta Sadis hanya tersenyum kecut, serangan seperti itu sudah pernah dilakukan mereka, mana mungkin dia akan terkecoh, pendengarannya sangat peka.

Namun matanya terbelalak ketika mendengar desingan senjata rahasia Bintang Kusuma menuju kaki kanannya, dia pindahkan kaki itu ke samping. Namun dia tidak sadar jika ada dua senjata yang terlempar dan itu mengarah kaki kirinya. Buta Sadis terpekik mundur dua langkah mendekap pahanya yang robek. Tidak mungkin jika Bintang Kusuma yang ada di samping kanannya bisa melemparkan senjata dari arah kiri.

Bintang Kusuma memuji Kirana, "Ternyata rencanamu bagus, nona?" Kirana hanya tersenyum kecil, tak ada waktu untuk saling memuji dalam kesempatan kali ini. Mereka merasa ngeri melihat nasib Buta Sadis yang mengadu di depannya, dia sudah buta, kini kakinya hampir putus, masih ditambah tangan kanannya juga hampir putus, membuat Kirana meringis. "Tapi itu setimpal dengan semua kejahatannya selama ini," kata Bintang Kusuma melihat Kirana.

"Sudahlah, dia tidak akan mampu berapa-apa lagi seumur hidupnya, sekarang kita melihat keadaan dalam Gua, aku khawatir nasib Arya?" ujar Kirana. Mereka menatap ke mulut Gua mengharap Arya keluar dari sana. Bintang Kusuma terpekik menyadari ada deruan angin panas dari Si Buta Sadis. "Awaaaaas?" teriak Bintang seraya melompat ke samping dan menerjang Kirana yang masih terpaku melihat mulut gua.

Kirana terpelanting ke samping kanan, Bintang Kusuma menghindar ke samping kiri hingga deruan itu lewat di tengah mereka, betapa panasnya serangan itu, hingga pakaian Bintang dan Kirana sama hangus dan sedikit terbakar kulit mereka. Serangan itu menghantam dinding batu hingga bergetar hebat, bahkan banyak batu yang jatuh seperti longsor. Saat melompat, Bintang melempar senjata rahasianya, disusul pedangnya ke tubuh Buta Sadis.

Dua senjata rahasia Bintang terpental oleh kibasan tongkat Buta Sadis, namun dia tidak mampu menghindari dua senjata lagi. Sebuah bintang anglup di dahinya dan pedang Bintang Kusuma menancap di dada Buta Sadis hingga tembus ke belakang, kematiannya sungguh mengerikan. Dia mati terduduk tersangga pedang yang tembus, kepalanya menggongak memamerkan cakram Bintang yang penuh dengan darah.

Kirana bangkit, merapikan diri, tidak tega saat Bintang Kusuma menarik pedangnya seraya menerjang tubuh Buta Sadis untuk bisa lepas, dan memungut beberapa senjata rahasianya, membersihkan darah yang menempel di sana pada baju Buta Sadis. "Amitafa," Biksu Ling Pau dan Joko Kewel yang sejak tadi memulihkan tenaganya setelah dikalahkan Dewa Iblis kini berdiri tidak jauh dari Bintang Kusuma dan Kirana, membuat mereka terkejut, bahkan Bintang Kusuma menghembuskan nafas kecewa.

"Ternyata usia kita sampai di sini, nona?" tampak ada rasa putus asa di wajah Bintang Kusuma, namun tidak untuk Kirana, dia telah mencabut pedangnya kembali, walau jelas di wajahnya kelelahan yang sangat. "Tenang, pendekar berdua, kami tidak akan melawan kalian," tahan Joko Kewel, tampak jubahnya telah bolong-bolong, dia tidak mungkin bisa terbang seperti tadi.

"Saya berterima kasih pada Dewa Iblis yang mengampuni nyawa kami, kami datang ke sini tidak ada alasan lain kecuali menjajal ilmunya, dan kami mengaku kalah," terang Biksu Ling Pau, membuat Bintang Kusuma dan Kirana terbelalak saling tatap heran. Di dalam Gua, Arya semakin belingsatan seperti cacing kepanasan, menggelear-gelepar di tanah, darah sudah banyak dia muntahkan, telinganya mendesing hebat, matanya berkunang-kunang, dan kepalanya pening.

"Kalau seperti ini terus, aku bisa mati sebelum membunuhnya?" geram Arya dalam hati, dikerahkannya seluruh sisa tenaga. Pengemis Nyawa terbelalak heran memandang Arya bangkit berlahan dengan terus mendekap dadanya. "Hiaaaaat?" Pengemis Nyawa semakin menguatkan tenaga dalamnya, membuat Arya muntahkan darah segar lagi, dan terduduk bertopang lutut.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?" Arya berteriak hebat, "SABIT BULAN." Arya berteriak sambil merobohkan tubuhnya dan menendangkan kaki hingga keluar larikan sinar kehijauan berbentuk bulan sabit yang cukup besar, bahkan ujung-ujung cahaya yang membentur dinding gua menggeretak bagaikan gesekan besi dengan batu cadas, hingga meninggalkan guratan cukup dalam di dinding itu.

Pengemis Nyawa terbelalak, tidak menyangka Arya akan mengeluarkan jurus yang begitu dahsyat, dan ketika dia menggunakan jurus pencabut nyawa itu tidak bisa menghentikan jurusnya seketika, atau organ tubuhnya yang akan terburai, dia berada di dua pilihan yang mematikan, namun dia lebih khawatir pada jurusnya sendiri yang telah diketahuinya, sedangkan jurus Arya dia tidak tahu kehebatannya.

Dia tetap mempertahankan jurusnya, membuat Arya menggelepar hebat, karena tenaganya telah digunakan untuk menggeluarkan Sabit Bulan. Bagaikan sebuah pedang besar, jurus Sabit Bulan menghantam telak tubuh Pengemis Nyawa, hingga dia terlontar keluar Gua sangat jauh dan tinggi, dadanya terkoyak, dan darah serta isi dadanya muncrat dari mulutnya karena jurus Pencabut Nyawa berhenti seketika.

Semua yang ada di luar Gua terkejut dan ngeri melihat tubuh Pengemis Nyawa jatuh menghantam batu besar dan hancur mengenaskan. Mereka bukan hanya dikejutkan oleh matinya Datuk Pengemis Nyawa, namun juga runtuhnya Gua. "Arya," teriak Kirana dengan cepat melompat ke Gua yang runtuh, diikuti Bintang Kusuma.

Sedangkan Biksu Ling Pau dan Joko Kewel melesat meninggalkan tempat itu, karena urusannya telah selesai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment