Chapter 18
"Bagaimana, Kakang?" tanya Jala yang masih bersembunyi di tempatnya, tak kalah terkejut. "Kita kembali ke Kadipaten Ambangan, mengabarkan semuanya pada Guru," jawab Jalu seraya berkelebat meninggalkan tempat itu.
Disusul beberapa bayangan yang juga meninggalkan tempat itu. Jelas, yang mengintip pertempuran bukan hanya empat atau lima orang.
Kirana dan Bintang Kusuma terkejut mendengar bentakan setelah hinggap di mulut gua yang ambruk, "Hati-hati, asap ini racun!" bentak suara itu yang jelas bukan dari Arya. Membuat Kirana dan Bintang heran, namun mereka cepat-cepat menutup hidungnya. Jelas, suara itu bukan musuh karena telah memperingati mereka akan bahaya yang tidak mereka sadari. Mereka pun menunggu saja di sana.
Jelas ada rasa khawatir yang sangat di wajah Kirana, menatap batu-batu besar yang menutup lubang gua.
Dari pendar-pendar asap yang mengepul, keluar sebuah bayangan orang membopong tubuh manusia. "Paman Banjar Kalianget!" pekik Kirana heran dan menatap nanar pada orang yang dibopongnya.
Begitu juga Bintang Kusuma, ia berkata, "Aku diutus menyusulmu kemari oleh Kyai Banjar Banyu Bening dan Kyai Koneng. Mereka khawatir keselamatanmu."
"Bagaimana keadaan Arya, Paman?" tanya Kirana khawatir melihat Arya yang penuh dengan darah.
"Dia luka dalam cukup parah, dan racun memenuhi darahnya. Luka dalamnya hanya Kyai Koneng yang mampu menyembuhkan, namun yang aku khawatirkan adalah racun yang menyebar di darahnya?"
"Apa tidak ada penawarnya, Paman?"
"Racun ini adalah ciptaan Racun Barat, hanya dia yang bisa menyembuhkan. Namun, apakah dia bersedia?" terang Banjar Kalianget khawatir. Hal itu membuat Bintang Kusuma terkejut. "Racun Barat?"
"Wah, gawat! Dia tidak mungkin mau membantu kita. Jelas, Pedepokan Bukit Gembala dan Padepokan Gajah Mungkur sejak dulu tidak akur." Kirana sangat khawatir. "Mungkin ini penawarnya..."
Bintang Kusuma mengeluarkan botol kecil dari balik ikat pinggangnya, membuat yang lain heran. "Racun ini hanya bisa dinetralkan oleh buatan Racun Barat, tidak bisa dinetralkan oleh penawar lainnya," terang Banjar Kalianget.
"Tapi ini adalah ramuan titipan Tuan Racun Barat untuk Dewa Iblis," terang Bintang Kusuma, membuat Kirana dan Banjar Kalianget heran.
"Siapa sesungguhnya kau, pendekar muda?" tanya Banjar Kalianget.
"Saya Bintang Kusuma, putra Gema Samudra, calon menantu Racun Barat," terangnya, membuat mereka semakin terkejut. Namun, walaupun mereka bersengketa dengan Racun Barat, melihat betapa gigihnya Bintang Kusuma dalam membela Dewa Iblis, rasa curiga mereka langsung musnah.
"Bagaimana mungkin Racun Barat mau membantu Dewa Iblis?" tanya Banjar Kalianget meyakinkan.
"Ceritanya panjang, jika saya ceritakan pertemuan kami dengan Dewa Iblis. Namun yang jelas, saya diutus Racun Barat ke Rawa Lintah membantu Dewa Iblis yang telah menjadikan saya sebagai menantu Racun Barat," terang Bintang Kusuma.
"Yang jelas, dendam Dewa Iblis pada Datuk Pengemis Nyawa telah terbalaskan; dia telah binasa. Ternyata keterangan Kyai Banjar tentang keberadaan Datuk Pengemis Nyawa di Kadipaten Ambangan salah, dia ada di sini," ujar Kirana.
"Kamu salah, Kirana. Datuk Pengemis Nyawa yang asli ada di Kadipaten Ambangan, dia adalah Gatot Gurai, salah satu murid Datuk Pengemis Nyawa yang memang mirip dengannya," jawab Banjar Kalianget, membuat mereka terbelalak tidak percaya.
"Namun walaupun begitu, jangan sampai Dewa Iblis tahu agar dia merasa puas telah membunuh musuh buyutannya. Jika dia tahu, dia akan mencarinya lagi, dan kekisruhan di Dunia Persilatan akan tercipta lagi di tangannya. Mari kita cepat ke Gajah Mungkur untuk mengobati lukanya?" ajak Banjar Kalianget.
"Saya tidak bisa mengiringi tuan-tuan ke Gajah Mungkur. Saya harus cepat kembali ke Bukit Gembala, melapor semua yang terjadi pada Racun Barat, apalagi pernikahan saya sudah hampir tiba," terang Bintang Kusuma sedikit merona.
"Oh ya, sampaikan terima kasih kami pada Racun Barat. Jika punya waktu, kami akan datang di pernikahanmu, pendekar muda," jawab Banjar Kalianget, seraya berkelebat disusul Kirana. Bintang Kusuma juga berkelebat ke arah yang berlainan, karena dia punya kabar yang sangat membanggakan pada calon mertuanya.
Ronggowengi mundar-mandir mengatur beberapa pekerja yang menyusun pentas pemujaan Gurunya. Beberapa pekerja yang dianggap tidak becus ditendangnya.
Pentas kayu setinggi setengah lengan, berlapis karpet merah dengan lebar empat depa orang dewasa persegi, dibangun di belakang kediaman Adipati Layan Kusuma. Beberapa orang menyusun perapian guna penerangan tempat, dan juga baskom-baskom dari perak disusun rapi di atas pentas. Ada pula meja kecil dengan berbagai sesaji di atasnya, seperti dupa dan kembang tujuh warna.
Pembesar Kadipaten Ambangan, seperti Mahesa Kurawan dan Parit Ganjar, mengatur formasi pengamanan tempat. Mereka memerintahkan pasukannya untuk membuat formasi pagar betis sangat rapat di sekitar rumah Layan Kusuma, bahkan di luar kadipaten mereka letakkan tilik sandi.
Pasukan yang tersebar di seluruh kadipaten ditarik untuk berkonsentrasi pada pengamanan kediaman Layan Kusuma.
Di balai tamu, tampak Datuk Pengemis Nyawa duduk dengan tenang di atas singgasana Layan Kusuma, sedangkan Layan Kusuma duduk di depan samping kanannya, menyambut beberapa tokoh serta saudagar yang hadir di balai atas undangan Datuk Pengemis Nyawa.
"Bagaimana persiapannya, Layan?" tanya Datuk Pengemis Nyawa dengan suara berat.
"Persiapan sudah hampir rampung, Guru. Pasti bisa digunakan nanti malam."
"Serta, gadis-gadisnya sudah kau siapkan?"
"Sudah, Guru. Satu gadis hadiah dari Saudagar Peteng yang merupakan puterinya sendiri dari selir kedua."
Orang yang disebut Saudagar Peteng, berwajah sangar hitam dan berpakaian bagus, bangkit memberi salam pada Datuk Pengemis Nyawa dengan bangga. "Satunya lagi adalah hadiah dari Ketua Partai Golok Beracun yang merupakan puteri dari Adipati Lasem."
Orang yang disebut Ketua Partai Golok Beracun bangkit dengan sombong pula.
"Terima kasih atas hadiah yang sangat bagus dari kalian semua. Yang jelas, jasa kalian tidak akan aku lupakan!" seringai Datuk Pengemis Nyawa disambut tawa oleh mereka yang hadir.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan pasukan yang menghadap, "Adipati... Adipati!" teriak pasukan itu ketakutan.
"Ada apa, Bejo?!" bentak Adipati Layan Kusuma, bangkit dari tempat duduknya.
"Dua puteri yang dikurung di ruang Timur dicuri tiga orang dengan kehebatan tinggi. Kami tidak mampu menjaga, bahkan beberapa pasukan terkapar tidak berdaya!" terang pasukan itu, membuat semuanya kaget hingga berdiri.
"Bagaimana pengamananmu, Layan Kusuma!" bentak Datuk Pengemis Nyawa geram.
"Ampun, Guru. Semua pasukan dikerahkan untuk pengamanan pemujaan, dan juga luar pagar rumah. Saya tidak menyangka jika ruang Timur yang tertutup akan diserang orang. Namun, Guru tenang saja, walaupun kita kehilangan dua puteri, saya juga telah siapkan delapan gadis desa yang kecantikannya tidak kalah dengan puteri raja," ujar Layan Kusuma ketakutan, namun kemudian lega ketika mendengar tawa Gurunya penuh kebahagiaan.
"Kau memang pintar, Layan. Kenapa sampai delapan orang, yang aku butuhkan hanya dua orang?" puji Datuk Pengemis Nyawa puas.
"Sisa yang dipilih Guru tentu milik kami?" seringai Layan Kusuma disambut gelak tawa semua yang hadir.
"Lalu bagaimana dengan tiga pencuri itu, Guru?" teriak seorang tinggi besar yang hanya mengenakan selempang kain, hingga tubuhnya yang berotot terlihat jelas.
"Tenang saja, Gimbal, kita jangan terpancing dengan tiga pencuri itu. Kita sekarang berkonsentrasi pada pemujaan Guru. Setelah itu baru kita buat perhitungan dengan mereka," ujar orang yang ada di sebelahnya, seorang tua bertubuh kerdil berpakaian kuning dengan gada besar yang lebih tinggi dari orangnya.
"Benar apa yang disampaikan Ki Ranggas Rangsang," jawab Datuk Pengemis Nyawa.
"Lalu bagaimana dengan nasib putriku?" tanya Saudagar Peteng khawatir.
"Apa bedanya nasib putrimu diberikan padaku dan dibawa kabur orang?" tanya Datuk Pengemis Nyawa, tertawa bersama tawa yang lain, membuat Saudagar Peteng kesal dan kembali duduk di tempatnya.
Yang lain pun dengan tertawa duduk di tempatnya kembali.
Sepeninggalan Bejo, kini muncul dua sosok berpakaian ninja hitam dengan pedang kembar di punggungnya, membuat yang lain tersentak kecuali Datuk Pengemis Nyawa dan Adipati Layan Kusuma yang tahu sosok itu.
"Hamba menghadap, Guru," hormat mereka dengan jongkok.
"Sampaikan kabar yang kau dapat, Jala dan Jalu?" perintah Datuk Pengemis Nyawa.
"Sebelum hamba bicara tentang keadaan Rawa Lintah, sebelum hamba masuk kemari, hamba melihat tiga bayangan membopong dua orang dari arah sini."
"Itu... itu pasti orang yang mencuri putriku!" teriak Saudagar Peteng, membuat semuanya tersentak.
"Kalian lihat ciri-cirinya?" tanya Datuk Pengemis Nyawa.
"Mereka berpakaian compang-camping dengan tongkat kayu berbandul buntalan kain," terang Jalu, membuat semuanya terbelalak, saling tatap, karena mereka bisa menebak ciri-ciri itu.
"Pasti mereka adalah anak buah Pengemis Utara!" lanjut Jala menegaskan.
"Hemm..." geram Datuk Pengemis Nyawa. "Pengemis Utara ingin membuat perhitungan denganku. Awas jika keadaanku pulih! Sekarang, sampaikan informasimu tentang Rawa Lintah?"
Jala dan Jalu pun memaparkan silih berganti tentang pengamatannya di Rawa Lintah, serta kedatangan Kirana dan Bintang Kusuma yang datang membantu, hingga matinya Gatot Gurai dan runtuhnya gua tempat Dewa Iblis berada.
"Apakah Dewa Iblis selamat?" tanya Layan Kusuma tidak sabar.
"Kami tidak melihat langsung jasadnya, namun saat gua runtuh Dewa Iblis masih ada di dalam," terang Jalu.
"Hahahahahaha! Dia pasti tidak selamat terhimpit batu-batu itu!" gelak Ki Ranggas Rangsang diiringi tawa yang lain, kecuali Datuk Pengemis Nyawa yang hanya membelai dagunya.
"Apakah Guru tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Layan Kusuma.