Chapter 19
"Bukannya aku tidak senang mendengar kematian Dewa Iblis yang lancang menantangku, namun setelah menyusun semua kejadian yang ada, ternyata Racun Barat, Pengemis Utara, dan Kyai Banjar Banyu Bening dari timur ingin menentangku," terang Datuk Pengemis Nyawa. Hal itu membuat yang lain menghentikan tawa dan mulai berpikir.
"Namun, ada hal yang tidak kalah penting yang pantas saya kabarkan," terang Jala.
"Apa itu?"
"Di Rawa Lintah, saya melihat kemunculan orang yang tidak kami sangka, yaitu Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa yang menyaksikan pertempuran, namun kemudian pergi entah ke mana."
"Apa?! Kalian tidak salah lihat?" Datuk Pengemis Nyawa terbelalak. "Walau kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya, namun itulah yang kami dengar dari nama mereka berdua. Gatot Ngurai jelas sangat menghormati mereka."
"Hahahaha! Ini sungguh kabar baik. Mereka sudah lama menghilang, kemunculannya pertanda baik untuk kita," gelak Datuk Pengemis Nyawa diiringi tawa yang lain.
"Guru, setelah keadaanmu pulih, apa yang akan kau rencanakan?" tanya Layan Kusuma.
"Yang jelas aku akan berterima kasih pada kalian, terutama padamu Layan Kusuma yang telah melindungiku selama di sini dengan jamuan yang sungguh memuaskan. Bahkan aku akan memberikan hadiah yang tidak kau sangka," ujar Datuk Pengemis Nyawa sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan gagah.
"Hadiah?!"
"Ya. Apakah kau siap jadi Raja?"
Semua yang ada di sana terbelalak kaget dan saling berpandangan. "Raja?"
"Aku ingin merebut Kerajaan Pajajaran untukmu dan untuk kalian semua yang ada di sini, serta orang-orang yang telah sudi membantuku!" teriak Datuk Pengemis Nyawa, membuat yang lain terbelalak hebat.
"Apakah mungkin, Guru? Kerajaan Pajajaran sangat hebat, apalagi kita ketahui bersama bahwa Racun Barat, Pengemis Utara, dan Kyai Banjar Banyu Bening sekarang sedang menantang Guru."
"Apanya yang tidak mungkin? Kita kumpulkan semua perompak di seantero Tanah Dipa dan ajak serta Patih Wiryatikta yang telah lama membelot dari Kerajaan Pajajaran untuk bekerja sama. Apakah kalian tidak yakin dengan kehebatanku? Kalau aku sendiri mungkin tidak mungkin, namun jika ditambah kehebatan Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa, apakah kalian masih ragu?" bentak Datuk Pengemis Nyawa. Namun, mereka yang hadir masih tampak bingung.
"Aku tahu kekhawatiran kalian tentang Racun Barat, Pengemis Utara, dan Kyai Banjar Banyu Bening. Mereka tidak akan ikut campur urusan pemerintahan. Yang mereka pikirkan hanya dunia persilatan. Dan ketika Pajajaran telah kita kuasai, kita akan memiliki kekuatan besar untuk menggilas Bukit Gembala, Gajah Mungkur, serta kediaman Pengemis Utara. Setelah itu tak ada lagi yang bisa menghalangi kita. Hahahaha!" terang Datuk Pengemis Nyawa, membuat yang lain tersentak girang dan saling mengangkat gelas tuak merayakan rencana brilian tersebut.
"Guru memang cerdas dan hebat! Hahahaha!" puji Layan Kusuma yang dijanjikan menjadi Raja Pajajaran.
Arya tersentak ketika sadar dirinya berada di sebuah ruangan sangat lebar, di atas ranjang bambu yang kokoh. Tubuhnya terasa remuk, banyak kain membalut tubuhnya. Dia teringat kembali kejadian di Rawa Lintah. Memori terakhirnya hanya menangkap dirinya terjebak di dalam gua yang runtuh, dengan sebagian tubuh terhimpit batu. Entah bagaimana caranya dia bisa berada di ruangan itu.
Dia hendak bangkit sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. "Tenang dulu, anak muda. Tubuhmu belum pulih benar," ujar seorang kakek tua berjenggot panjang mengenakan pakaian putih dan bersorban yang mendekatinya. Arya mengerutkan dahi karena tidak mengenal orang yang merawatnya.
"Kau ada di Padepokan Gajah Mungkur. Aku adalah Kyai Koneng, adik pemilik padepokan ini. Kirana dan Banjar Kalianget yang membawamu ke sini," terang Kyai Koneng seraya membantu Arya bersandar di tepi pembaringan.
"Bagaimana keadaannya, Kyai?" Tiba-tiba dari pintu masuk tiga orang. Terlihat Kirana bersama seorang pria paruh baya dan orang tua berpakaian sama dengan Kyai Koneng. Dialah pemilik padepokan ini. Arya menatap mereka secara bergantian karena tidak kenal.
"Aku adalah Banjar Kalianget yang membawamu kemari, dan ini adalah orang tuaku, Kyai Banjar Banyu Bening, pemilik padepokan ini," terang Banjar Kalianget menyadari keheranan Arya atau sang Dewa Iblis.
"Terima kasih atas pertolongan kalian padaku. Entah bagaimana aku harus membalasnya," ujar Dewa Iblis.
"Kau tenang saja, pulihkan dulu kesehatanmu, anak muda," kata Kyai Banjar.
"Bagaimana nasib Datuk Pengemis Nyawa?" tanya Arya tersentak seraya melihat Kirana. Semuanya juga melihat ke arahnya.
"Musuhmu telah mati mengenaskan, tak berbentuk karena membentur batu. Sungguh ilmu yang sangat hebat," puji Kirana.
"Tenaga dalammu sangat tinggi, anak muda, hingga bisa bertahan dari racun dan ilmu mengerikan Datuk Pengemis Nyawa. Jika tidak, isi dadamu sudah jebol tidak terselamatkan lagi," tambah Banjar Kalianget.
"Saya belajar ilmu mati-matian guna mengalahkan jurus itu," jawab Arya.
"Kini musuhmu telah mati. Sekarang setelah keadaanmu pulih, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Kyai Banjar.
Arya terkejut dan bingung. "Entahlah, Kyai. Dalam tujuan hidup saya hanya ada Datuk Pengemis Nyawa. Selain itu saya tidak punya tujuan yang pasti. Jika boleh, untuk menutup utang budi saya pada kalian yang telah menyelamatkan saya, izinkan saya mengabdi di padepokan ini," jawab Arya, membuat semuanya terkejut tidak percaya.
"Apa yang kau inginkan di padepokan ini, Arya? Semua yang ada di sini bertujuan ingin menuntut ilmu bela diri, sedangkan kami tidak mungkin mengajarimu lagi. Ilmumu telah sangat hebat, bahkan mungkin melebihi kami," ujar Kyai Koneng.
"Saya tidak butuh ilmu bela diri lagi, Kyai. Ilmu itu sudah tidak ada gunanya setelah kematian Datuk Pengemis Nyawa. Saya hanya ingin mengabdi di sini dan menumpang hidup hingga kelak menemukan jalan hidup yang baru, atau mungkin jalan hidup saya memang di padepokan ini."
"Apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Banjar Kalianget, yang kemudian dijawab dengan sorotan mata tajam oleh Kyai Koneng karena takut Arya tersinggung. Banjar Kalianget pun menundukkan kepala dengan takzim.
"Saya bisa menjadi kuli, mengangkut air, memotong kayu, dan pekerjaan kasar lainnya, seperti yang pernah saya lakukan di padepokan-padepokan lain tempat saya belajar ilmu," jawab Arya semangat.
Dia benar-benar tidak punya tujuan hidup. Jika ada di padepokan ini, setidaknya dia tidak akan kekurangan makanan dan tidak terlunta-lunta di jalanan serta berebutan makanan dengan kera seperti yang sering dia lakukan.
"Biar kami musyawarahkan dulu. Beristirahatlah," jawab Kyai Banjar sambil membawa ketiga tokoh lainnya menuju balai padepokan.
"Bagaimana, Kakang?"
"Aku masih khawatir dengan sifat liarnya, seperti yang pernah dia lakukan pada padepokan lain. Bisa saja padepokan kita terancam oleh keberadaannya di sini," jawab Kyai Banjar.
"Namun saya menangkap ketulusan di mata Dewa Iblis, Romo," komentar Banjar Kalianget yang ternyata putra Kyai Banjar Banyu Bening. Banyak yang tidak mengetahui itu karena Banjar Kalianget hanya memanggil sebutan 'Romo' di dalam lingkungan padepokan saja.
"Dan dengan tinggalnya Dewa Iblis di sini, Kyai bisa mengubah karakter dan wataknya sesuai dengan harapan Kyai," Kirana juga memberi komentar.
Kyai Banjar Banyu Bening hanya manggut-manggut. "Aku juga mengharapkan demikian. Hanya saja aku mengingatkan kalian pada kemungkinan yang bisa terjadi, jadi aku mengharapkan kalian turut serta mengawasi Dewa Iblis dan menanggulangi semua hal yang tidak diinginkan," jawab Kyai Banjar. Semua yang hadir mengangguk.
Arya memulihkan tenaganya di tempat itu. Tidak ada perlakuan khusus baginya. Bahkan Banjar Kalianget memerintahkannya tidur bersama santri yang lain agar sikap dan perangainya bisa meniru santri yang ada di Padepokan Gajah Mungkur. Arya belajar mengaji dan shalat dengan giat. Dia melakukan perintah ketua santri dengan patuh, padahal jika dilihat dari ilmu kanuragannya, para santri itu tentu tidak ada seujung kuku dibanding dirinya. Hal itu membuat Kyai Banjar dan mereka yang mengetahui siapa dia menjadi heran sekaligus kagum. Keadaan itu menghilangkan semua kekhawatiran yang selama ini mengganjal di hati mereka. Santri yang lain tidak tahu tentang sosok asli Arya sebagai Dewa Iblis yang menggetarkan dunia persilatan. Mereka hanya tahu bahwa Arya adalah pemuda yang diselamatkan paman guru mereka dari maut dan kini mengabdi di sana bersama mereka.
Semua santri merasa heran ketika jadwal latihan silat tiba, Arya malah sibuk dengan pekerjaannya seperti mengisi air dan memotong kayu, atau malah tiduran di pondok. Namun mereka membiarkannya saja dan menganggap Arya membolos. Gurunya tidak pernah menanyakan keberadaannya, tidak seperti santri lain yang membolos. Bahkan mereka merasa menang dari Arya karena lebih rajin belajar silat.
Arya juga melakukan tugas santri yang lain seperti piket ronda malam. Arya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia benar-benar meninggalkan ilmu-ilmunya, bahkan tidak menanyakan keberadaan senjata kayu cendana beracunnya. Dia bahkan tidak menahan diri untuk jatuh dari pohon ataupun tergelincir, membuat Kyai Banjar dan lainnya heran sekaligus khawatir jika Arya benar-benar melepas atau menghilangkan seluruh kemampuannya.
Hingga pada suatu kesempatan yang sepi, Kyai Banjar melepaskan serangan maut berupa pukulan jarak jauh pada Arya yang sedang makan.
"Kakang!"
"Bapa!"
"Kyai!"
Tiga orang yang melihat serangan itu mendelik kaget. Arya yang sedang makan seakan tidak menyadari serangan itu. Dia tetap makan nasi bungkus daun itu dengan lahap, membuat Kyai Banjar terkejut dan melompat.
"Awaas!" teriak Kyai Banjar khawatir. Ternyata Arya benar-benar tidak sadar dan benar-benar tidak memiliki ilmu lagi.
BLAAAARRRRR! Pukulan itu telak menghantam Arya.