Halo!

Dewa Iblis - Chapter 20

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 20

Nasi berhamburan hingga Arya terpental hebat keluar dari balai tempatnya makan dan terjerembap di tanah. Semua yang melihat segera mengejar dengan khawatir. Di samping Kiai Banjar yang tersenyum, Arya mengaduh sambil bangkit dan melihat lengannya yang memar. Banjar Kalianget dan Kirana cepat memburu Arya lalu membantunya bangkit.

"Apa yang Romo lakukan?!"

"Kiai! Ilmu Arya telah habis, kenapa Kiai tega menghantamnya?" pekik Kirana yang terkejut melihat Kiai Banjar tersenyum seakan tidak bersalah melihat Arya terpelanting dan meringis menahan luka.

"Hahaha! Kalian sangat mengkhawatirkannya. Kalian tidak tahu apa yang aku lepaskan barusan? Ilmu yang sangat mematikan, ternyata hanya membuatnya lecet seperti itu?" terang Kiai Banjar, membuat semuanya terbelalak melihat Arya.

Mereka melepas genggamannya. Mereka tahu jurus yang dikeluarkan Kiai Banjar bisa menghancurkan bongkahan batu besar, bukan hanya tubuh Arya.

"Aku juga sempat khawatir dia kehilangan ilmunya, makanya aku mengetesnya."

"Kenapa kau tidak menghindar, Arya?!" bentak Kiai Koneng yang ada di sebelah Kiai Banjar dengan geram.

"Saya tidak pantas melawan orang yang menyelamatkan hidup saya, Kiai. Apakah Kiai mengharapkan ilmu yang saya miliki musnah? Jika seperti itu, saya rela melepaskannya," terang Arya, membuat semuanya terbelalak.

"Bukan seperti itu, Arya. Bahkan kami mengharapkan ilmu itu tetap utuh di tubuhmu," terang Banjar Kalianget yang kini sudah berdiri di samping Kiai Banjar, kecuali Kirana yang masih di sebelah Arya.

"Apa gunanya ilmu itu bagi saya lagi, Kakang?" jawab Arya pada Banjar Kalianget yang memang minta disebut Kakang.

"Ilmu itu sangat berguna untuk melawan ketidakadilan dan kekejaman yang diciptakan golongan hitam yang selalu meresahkan masyarakat. Kau bisa menjadi orang yang sangat berguna bagi orang lemah dan tertindas. Pada waktu itu, hidupmu sangat berarti dan sungguh mulia," terang Kiai Banjar.

"Maaf Kiai, saya masih belum mengerti," jawab Arya.

"Kau akan mengerti lambat laun jika selalu mengikuti pengajian kami. Sudah, kau sembuhkan dulu lukamu itu, pekerjaanmu masih banyak," perintah Kiai Banjar sambil berlalu diikuti Banjar Kalianget dan Kiai Koneng.

"Mereka berdua sepertinya jodoh," bisik Banjar Kalianget menyambut seorang wanita yang menggendong balita berusia dua tahun. Kiai Banjar dan Kiai Koneng hanya tersenyum kecil, juga menyambut cucu mereka yang lucu.

Kirana membalut luka di lengan Arya dengan selendangnya. "Terima kasih, Nona," ujar Arya. Kirana hanya tersenyum merona. Ada lesung pipit yang membuat jantung Arya berdetak hebat. Sekian musim melanglang buana melewati kehidupan yang serba kasar, tak pernah dia rasakan getaran hati saat melihat kebaikan Kirana.

"Kau harus hati-hati, jangan sampai selalu terluka," ujar Kirana merona.

"Dawuh Kiai Koneng dalam pengajiannya, nasib seseorang itu ada di tangan Tuhan yang menciptakan kita."

"Namun manusia diperintah untuk berusaha, jadi kau harus berusaha untuk tidak terluka," ujar Kirana tetap menunduk sambil membelai luka Arya yang sudah tertutup selendangnya.

"Nona mengkhawatirkan saya?" tanya Arya, membuat Kirana tersentak lalu berlari ke dalam menahan malu ketika melihat ada seorang santri di kejauhan. Namun, Kirana masih sempat menghentikan larinya dan menoleh seraya tersenyum manis. "Ya," ujarnya singkat, meneruskan larinya ke dalam, membuat jiwa Arya melambung tinggi.

"Hei, Arya!" Tiba-tiba dia dikejutkan oleh tepukan di bahunya. "Eh, ada apa, Kang?" Ternyata Kang Darman, ketua santri, sudah berkacak pinggang di sampingnya, membuat Arya seperti orang ketakutan dan menunduk.

"Ada apa, ada apa! Sejak tadi aku memanggilmu, malah melongo di sini. Aku kan sudah bilang, kalau sudah makan, cepat kembali bekerja!" bentak Kang Darman hingga ludahnya muncrat ke wajah Arya. Namun, Arya tidak berani menghapusnya, takut menyinggung perasaan Kang Darman.

"Iya, Kang," jawab Arya seraya berlalu menunduk, seperti orang yang ketakutan pada Kang Darman yang terus menatapnya garang. Walau sesungguhnya dia masih lapar karena makannya tadi terganggu oleh serangan Kiai Banjar.

"Arya, tunggu!" Ada teriakan yang menghentikannya. Dia menoleh dan melihat Nyai Ambar Wati berdiri di samping Kang Darman yang menunduk takzim pada istri Banjar Kalianget itu.

"Kau disuruh kembali untuk makan oleh Kang Banjar!" teriak Nyai Ambar.

"Saya sudah kenyang, Nyai," jawab Arya.

"Sudahlah, jangan malu seperti itu. Ayo! Darman, kau carikan pengganti untuk pekerjaan Arya sebentar," perintahnya pada Darman. Darman hanya mengangguk kesal melihat Arya tersenyum lucu, walaupun bukan kepadanya. Semua santri tahu jika Nyai Ambar yang memanggil untuk makan, tentu menunya sangat spesial karena dia memang pintar memasak.

Begitulah hidup yang dijalani Arya di Padepokan Gajah Mungkur. Selama di sana, dia merasakan ketenangan batin yang tidak didapatnya selama ini. Di hadapan santri yang lain, dia tetaplah santri biasa. Dia tidak pernah bercerita tentang masa lalunya, bahkan kepada teman dekat sekalipun.

Arya sangat terpukul saat semua teman yang dikenalnya baik sering membicarakan sosok Dewa Iblis yang mereka benci karena selalu berbuat sadis dan kejam. Dia tidak tahu jika sepak terjangnya selama ini sangat dibenci orang. Namun, betapa baiknya pemilik padepokan ini telah menerimanya dengan baik, saat semua orang membencinya dan tidak menerima kehadirannya.

"Dewa Iblis memang sadis. Kenapa Tuhan masih memelihara napas orang seperti itu? Andai aku memiliki ilmu yang hebat, ingin rasanya aku yang membabat lehernya," komentar Anwar, santri paling alim di sana, saat mereka berkumpul di teras pondok.

Arya hanya menyimak perbincangan itu dari samping pondok. Dia teringat semua sepak terjangnya selama ini. Dulu tak sedikit pun sesal yang ada, namun entah kenapa sekarang rasa itu menyeruak di dadanya. Dia teringat kematian Boma, Nyai Pelet Peteng, Datuk Pengemis Nyawa, serta beberapa tokoh yang mati di tangannya.

Arya menatap tangannya yang kasar; banyak darah telah tumpah di sana. Untuk siapa dia lakukan semua itu? Hanya untuk dirinya sendiri? Dia tidak pernah berpikir untuk melakukannya demi orang lain. Dia teringat Bintang Kusuma dan Kirana yang membelanya mati-matian di Rawa Lintah atas perintah Racun Barat dan Kiai Banjar yang tidak ada hubungan sebelumnya. Bahkan sekarang mereka menolongnya tanpa mengharapkan apa pun. Apakah itu yang dianggap kebaikan kepada orang lain? Apakah selama ini dia pernah melakukan kebaikan?

Tak terasa air matanya menetes pelan. Ucapan Anwar barusan terngiang di telinganya. Untuk apa Tuhan masih memelihara napasnya? Bahkan ketika dia hampir mati di Gua Rawa Lintah dan sekarang hidup tenang di Gajah Mungkur, untuk siapa dan untuk apa dia masih diberikan napas? "Jika hanya untuk diri sendiri, apa bedanya aku hidup atau mati?" batin Arya berperang hebat.

Dia teringat dawuh Kiai Banjar. Ilmunya masih sangat berguna untuk orang lain; orang yang teraniaya yang tidak punya kemampuan untuk membela diri dari penindasan orang tidak berperasaan. Selama ini dia sering melihat hal itu, namun cenderung membiarkannya saja karena hanya mengikuti kepentingannya sendiri. Sedangkan Tuhan memberikan napas bukan hanya untuk dirinya sendiri. Banyak yang bisa dia lakukan untuk orang lain. Untuk membantu tenaga dia bisa, membantu harta apalagi. Yang dia punya hanya tangan dan kaki yang kokoh. Hal itu juga berguna jika dia mau menggunakannya untuk membantu orang lain, tapi kenapa selama ini tak pernah dipikirkannya?

Tiba-tiba Arya sadar, dendamnya pada Datuk Pengemis Nyawa telah membutakan hatinya hingga tidak pernah berpikir tentang hal lain. Sungguh menyesal hidupnya selama ini. Tak satu pun kebaikan yang pernah diciptakannya membuatnya malu berada di tempat orang-orang yang terkenal baik itu. Tapi di sini dia bisa belajar mengasah hati, menemukan jati dirinya yang hilang terampas dendam. Hatinya bisa terbuka lebar melihat dunia yang luas penuh dengan berjuta manusia dengan berbagai masalahnya, bukan hanya Datuk Pengemis Nyawa yang selama ini tampak di benaknya.

Ada Kirana yang menggetarkan hatinya, ada Kiai Banjar, Kiai Koneng, dan Banjar Kalianget yang baik tanpa pamrih. Ada Bintang Kusuma yang begitu setia pada mertuanya hingga berani mengorbankan nyawa demi perintah untuk membantunya. Ada yang seperti Aji Mahendra yang mengaku orang baik padahal sesungguhnya sama seperti dirinya di masa lalu. Ada yang seperti Kang Darman yang sombong karena telah diangkat menjadi ketua santri, serta berbagai tabiat santri yang ada di padepokan ini. Dulu dia tidak pernah merasakan hal itu. Dalam jiwanya, yang tampak hanya dua orang di jagat ini: dirinya dan Datuk Pengemis Nyawa. Setelah berada di Padepokan Gajah Mungkur, baru dia rasakan bahwa dunia yang dia lihat selama ini begitu luas. Dan dia berada di tengahnya sebagai orang yang kebingungan mencari arah.

"Apa yang kau lakukan di sini, kawan?" tiba-tiba Mahesa, teman sekamarnya, duduk di sebelahnya. Arya hanya tersenyum menyembunyikan air matanya.

"Semua santri di sini ketika murung biasanya yang dipikirkan sama!" tebak Mahesa, membuat Arya mengerutkan dahi.

"Aku juga sama memikirkannya. Ketika kita selesai menuntut ilmu di sini dan kita memiliki ilmu yang hebat, apa yang akan kita lakukan?" lanjut Mahesa yang membuat Arya terbelalak kaget karena dia pun menanyakan hal yang sama sejak tadi.

"Pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar taufan menerjang. Semakin tinggi burung terbang, semakin parah ketika jatuh menghujam," terang Mahesa sambil menatap langit yang penuh dengan bintang seraya menarik napasnya.

"Pepatah lain mengatakan, semakin tinggi pohon siwalan, dia akan semakin congkak, namun tak akan lelah petani memerah niranya. Semakin tinggi pohon padi, dia akan merunduk, namun tak akan lelah petani merawatnya dengan sayang..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment