Halo!

Dewa Iblis - Chapter 21

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 21

Terang itu membuat Arya semakin terbelalak. Permainan kata Mahesa sungguh menghujam dadanya. "Ada lagi, pohon semangka yang kecil dengan pohon kelapa, besar buahnya sama..." Bahkan pohon beringin yang besar buahnya tidak ada gunanya. Arya semakin hanyut oleh permainan kata Mahesa. Barusan dapat diterjemahkannya bahwa tidak ada beda antara orang yang berpangkat tinggi dengan orang yang berpangkat rendah, semuanya sama, sama punya satu napas, sama punya satu Tuhan.

Masalah fungsi dan manfaatnya tergantung orangnya sendiri. "Kita jangan seperti pohon Ampelan yang besar, namun durinya bisa mencelakakan makhluk lain. Lebih baik menjadi pohon bambu walaupun tipis dan seperti rapuh akan terombang-ambing oleh angin, namun manfaatnya sangat besar hingga ke akar-akarnya?" lanjut Mahesa membuat Arya semakin menundukkan kepala. Permainan kata itu benar-benar menyadarkannya dari apa yang telah dia lakukan selama ini. Begitu hebat kata-kata itu hingga membuatnya luluh lebih kuat dari cercaan puluhan pedang yang mungkin bisa ditangkisnya.

"Siapa yang membuat kata-kata itu?" tanya Arya. Dia berencana menuntut ilmu dari orang bijak itu. Namun Mahesa hanya menggaruk kepala sambil tersenyum malu. "Aku sendiri yang mengarangnya?" jawabnya tersenyum lucu, membuat Arya terkejut tidak percaya. Mahesa yang terkenal santri paling bodoh dalam menyerap ilmu silat ternyata ahli membuat syair dan kata-kata bijak. Pantesan Kyai Koneng sangat sayang padanya.

"Sudahlah kawan... aku mau salat tahajud dulu sebelum pergi ke pos ronda, menggantikan tugas Kang Darman yang ketiduran, agar keadaan malam ini aman dilindungi Tuhan..." ujarnya bangkit membuat Arya semakin kagum pada teman sekamarnya yang selalu riang itu.

Pagi-pagi semua santri dikejutkan oleh kegaduhan di luar pagar padepokan. Arya dan seluruh santri yang ada di sana pergi melihat. "Dasar tidak becus, jaga ronda malah tidur..." bentak Kang Darman pada orang di depannya sambil mengirimkan tamparan. Orang yang ditampar hanya meringis menahan sakit. "Saya tidak tidur, Kang!!" "Hanya tiduran sambil tulis-tulisan di pos jaga?" "Alasan!!" Plar... Kembali Kang Darman menamparnya. Santri yang lain hanya melihat dengan nanar dan kasihan pada orang yang ditampar. "Sudah bodoh, masih suka bohong?" bentak Kang Darman. Arya terbelalak melihat orang yang ditampar Kang Darman hingga bibirnya pecah berdarah. "Mahesa?" pekik Arya pelan. "Ini sebagai peringatan pada santri yang lain, jika bolos meronda pasti aku hukum dengan tegas..." bentaknya seraya mengambil kayu rotan, senjata pamungkasnya untuk menghukum santri. Jelas-jelas dia yang membolos dalam tugas, Mahesa hanya menggantikan posisinya. Semua santri tahu itu, namun tidak ada yang berani membantah.

Kang Darman hendak memukulkan pecutnya, namun ada tangan yang menahan. Kang Darman menoleh dengan geram. "Biar saya yang menggantikan hukuman itu, Kakang. Mahesa sudah lelah meronda semalaman?" pinta Arya membuat yang lain terkejut. "Apa kau bilang!!" Plarrrrr... Kang Darman menampar Arya seketika, namun dia terpekik seakan tangannya menghantam beton baja, hingga tangannya bengkak berdarah. Dia berusaha tidak meringis malu dilihat santri yang lain. Diangkatnya pecut itu dan memukul Arya. Arya meringis pelan seakan menahan sakit, padahal dia telah mengerahkan tenaga dalam pada bagian yang dipukul Kang Darman. Kang Darman memukulnya dengan kalap untuk mengobati rasa kesal karena tangannya bengkak, hingga kayu rotan itu hancur berkeping-keping. Setelah puas, Kang Darman meninggalkan Arya. Setelah dirasa cukup jauh dan tidak ada santri yang melihat, Kang Darman meringis memegang telapak tangannya yang berdarah. "Berkulit apa pemuda itu... keras sekali..." gerutu Kang Darman.

Sepeninggalnya Kang Darman, semua santri berhambur mendatangi Arya, melihat bagian yang dipukul Kang Darman. Mereka sadar jika sanksi Kang Darman sungguh keterlaluan. Seberat-beratnya hukuman Kang Darman mungkin hanya tiga cambukan rotan, namun mereka lihat sendiri rotan itu sampai hancur. "Wah, kau tidak terluka, Arya?" tanya Anwar terkejut. "Kau kebal?" susul Mahesa serta komentar santri-santri yang lain melihat kulit Arya tidak berbekas dari pukulan rotan yang sangat hebat. "Aduh..." Arya mengaduh saat salah satu santri meraba bekas pukulan itu. "Bukannya kebal, tapi karena kulitku keras hingga tidak tampak lebamnya. Sesungguhnya bagian dalamnya bengkak..." terangnya untuk menjawab keterkejutan yang lain.

Tiba-tiba Arya dan seluruh santri dikejutkan oleh gebrakan tiga ekor kuda besar yang melintas, hingga membuat mereka melompat ke samping. Penunggang kuda itu mengenakan pakaian prajurit kerajaan, dengan pedang besar terselip di pinggang dan sebuah panji berkibar dari tongkat yang dipegang salah satu prajurit. Jelas itu panji Pasukan Jalayuda Pajajaran. "Untuk apa pasukan itu datang ke sini?" tanya seorang santri. "Mana aku tahu?" komentar yang lain sama heran. "Cepat kau obati lukamu itu," ajak Anwar sambil membopong tubuh Arya yang pura-pura sakit.

Pasukan Jalayuda Pajajaran merupakan pasukan dari kelas tertinggi di bawah pimpinan Patih Darma Bumi yang dahulu merupakan tokoh silat berjuluk Gema Langit, adik dari Gema Samudra, orang tua Bintang Kusuma. Dia dianggap sangat berjasa dalam memukul mundur setiap pemberontak, bahkan pasukannya yang telah berhasil mengusir pemberontakan Patih Wilyatikta yang membelot beserta pasukannya. Pasukan Jalayuda sangat kesohor. Pasukannya hanya ada lima ratus orang dan akan tetap lima ratus, karena tidak akan mengadakan penambahan jika tidak ada pasukan yang tumbang atau mengundurkan diri. Pasukan itu terdiri dari orang-orang pilihan kelas hebat. Tiga pasukan sama dengan sepuluh pasukan artileri Pajajaran. Saking terkenal hebatnya hingga membuat mereka sombong, seperti yang telah mereka lakukan barusan, hampir membentur santri yang sedang berkumpul di gerbang padepokan.

Setelah meletakkan kudanya di kandang, mereka melangkah dengan angkuh memasuki balai padepokan, bahkan sepatunya tidak dilepaskannya. "Ada apa ini?" sambut Banjar Kalianget melihat kedatangan mereka dengan wajah sombongnya. "Mana Kyai Banjar? Ada titah raja yang ingin kami sampaikan?" kata-kata mereka sungguh kasar membuat Banjar Kalianget geram. Padepokannya tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan manapun, walau lokasinya ada di kerajaan Pajajaran, namun padepokan itu berdiri sendiri atas pemberian Raja terdahulu pada Kyai Banjar. "Silakan duduk dulu, sudilah kiranya Tuan Pasukan menunggu sebentar..." jawab Banjar Kalianget berusaha merendah membuat mereka semakin congkak. "Kami tidak punya waktu untuk bertele-tele, cepat suruh Kyai Banjar keluar, ada titah penting dari raja."

Kyai Banjar keluar dari salatnya setelah mendengar kegaduhan di luar, begitu juga Kyai Koneng. "Kyai Banjar... ada titah raja pada Padepokan Gajah Mungkur dan bawahannya untuk membantu kerajaan guna membasmi pemberontakan Kadipaten Ambangan?" terang mereka langsung. "Apa gunanya kerajaan minta bantuan kami?" jawab Banjar Kalianget geram melihat sikap pasukan itu. "Sesungguhnya pasukan Jalayuda bisa mengatasinya tanpa meminta bantuan kalian, namun Raja ingin menguji kesetiaan kalian pada Pajajaran," jawab salah satu di antara mereka dengan sikap tetap congkak. "Apalagi yang kalian hadapi hanya sebuah kadipaten?" tambah Kyai Koneng turut geram.

"Kadipaten Ambangan meminta bantuan dari tokoh-tokoh sesat seperti Datuk Pengemis Nyawa dan anteknya untuk menggulingkan kerajaan," jawab satunya dengan sikap sedikit kalem. Membuat Kyai Banjar dan lainnya terkejut mendengar kabar itu. Mereka sama teringat pada Dewa Iblis. "Biar kami pikirkan dulu, mau membantu atau tidak, kami yang akan memutuskan. Sampaikan pada rajamu, tidak usah menunggu kami. Jika kami mau membantu, tentu dengan cara kami sendiri," terang Kyai Banjar tenang. "Baik kalau seperti itu. Mau membantu atau tidak, tidak ada efeknya bagi kami, Pasukan Jalayuda pasti bisa mengatasinya sendiri," jawab salah satu pasukan seraya meninggalkan balai dengan cepat membuat Banjar Kalianget semakin geram. Mereka datang dan pergi tanpa salam, dianggap apa padepokannya itu. "Ingin rasanya ku hajar orang itu, jika bukan atas titah raja datang kemari..." geram Banjar Kalianget. "Bagaimana Kakang? Apakah kita akan membantu?" tanya Kyai Koneng teringat akan perkataan kakaknya tadi. "Tentu kita harus membantu. Kita harus sadari padepokan ini pemberian raja Pajajaran. Banjar... cepat kau kirim surat pada beberapa sahabat kita untuk diajak serta membela negara..." "Baik Romo...!!" jawab Banjar dengan cepat meninggalkan tempat itu guna membuat surat dan mengutus beberapa santri pada lokasi sahabat-sahabat Kyai Banjar.

Arya heran melihat persiapan beberapa santri pilihan yang dipanggil Kyai Banjar Banyu Bening. Ada sekitar lima belas santri yang terpilih, diantaranya Kang Darman. Mereka mendapat gemblengan khusus Kyai Koneng di ruang tertutup. Selain itu juga kedatangan beberapa orang berbau pendekar ke Gajah Mungkur, seperti kedatangan Kirana yang cukup membuatnya bergetar, juga pendekar lain yang tak kalah tentu hebatnya. Arya tidak mendengar kabar apa-apa, tiba-tiba padepokannya ramai oleh para pendekar. Dia tetap melakukan tugas hariannya memotong kayu di ujung padepokan.

Racun Barat juga didatangi utusan Raja Pajajaran. Walau mereka pulang pincang karena kepongahannya ketika menghadap, namun Racun Barat masih memerintahkan menantunya, Bintang Kusuma, bersama lima murid pilihan untuk turut bergabung ke Gajah Mungkur. Dengan demikian, dia berharap kesenjangan yang tercipta antara Gajah Mungkur dan Bukit Gembala sedikit reda. Bintang Kusuma menyambutnya dengan girang karena dia telah kenal pada keturunan pemilik Gajah Mungkur, Banjar Kalianget, juga salah satu pendekar wanita kesayangan Kyai Banjar, Kirana. Tak kalah rindunya dia ingin bertemu dengan pendekar hebat yang tanpa sengaja telah menjadi sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Dewa Iblis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment