Chapter 22
Dia ingin tahu kabarnya serta ingin bernostalgia dengan beberapa pertemuan yang sangat hebat sebelumnya.
Sesampainya di Gajah Mungkur, Bintang Kusuma merasa kecewa karena dia hanya bertemu dengan Kirana dan Banjar Kalianget tanpa sosok yang paling dirinduinya, yaitu Dewa Iblis.
"Dia sekarang ada di sini..."
Hanya itu yang disampaikan oleh Kirana, membuktikan bahwa Dewa Iblis masih hidup.
Namun, dari kerumunan pendekar yang datang, dia tidak melihat sosok bersenjata Kayu Cendana itu.
Bintang Kusuma tidak sadar bahwa dia ditatap dengan heran oleh orang yang sedang memotong kayu di pojok Padepokan, namun untuk mendekat, dia merasa tidak pantas.
Karena Kyai Banjar tidak menginginkannya bergabung di sana.
Dia menatap Mahesa yang masih memotong kayu dengan kesal. "Kenapa, Mahesa?!" tanya Arya melihat temannya kesal, sambil membanting kapaknya. "Aku juga ingin bergabung di sana, walaupun aku tidak memiliki ilmu kanuragan hebat, namun aku bisa menggunakan ini untuk mengatur strategi?" Mahesa menunjuk batok kepalanya. Arya hanya tersenyum memercayai kata-kata temannya yang tergolong cerdas itu.
Walau badannya lemah untuk belajar bela diri.
"Memangnya ada apa? Banyak pendekar yang datang ke sini?" "Kau tidak dengar kabar...?" tanya Mahesa heran. Arya hanya menggeleng. "Pantas!"
Kau yang tidak pernah belajar kanuragan mana mungkin diajak serta. Aku saja yang sedikit punya kemampuan silat tidak dipanggil. Ini bela negara.
Kerajaan Pajajaran akan diserang oleh pemberontakan Kadipaten Ambangan yang melibatkan tokoh-tokoh sesat. "Kau ingin turut serta? Kau tidak takut mati...?" tanya Arya heran pada sikap temannya yang kesal karena tidak diajak serta berperang.
"Eh, kau harus tahu! Mati di medan laga demi membela kebenaran, apalagi sampai membela negara, tentu akan mati syahid, mati yang selalu dirindukan oleh semua orang Islam..." terang Mahesa membuat Arya semakin tidak mengerti.
"Apa itu mati syahid?" "Ah, dasar santri goblok!" bentak Mahesa sambil mendorong bahu Arya hingga dia terjungkal, namun tertawa melihat kekesalan temannya. "Mati yang langsung dijamin masuk surga tanpa diperiksa malaikat?" lanjut Mahesa sambil menatap langit.
"Aku rindu mati seperti itu, berkumpul dengan para syuhada dan para nabi di surga sana..." Mahesa menerawang ke atas.
Membuat Arya tersentak. "Surga?" Sejak dulu dia tidak pernah berpikir setelah kematian kelak. Dia tahu ada yang namanya surga dan neraka sejak kecil, namun selama hidupnya dia tidak berpikir ke arah sana. Kembali, ucapan teman sekamarnya menghentak sanubarinya.
"Sudahlah, Mahesa! Kyai Banjar mungkin masih melihat kita tidak pantas berperang. Kalau kita ikut mungkin hanya menjadi beban pasukan. Peperangan kita kali ini masih dengan kayu-kayu ini?" ujar Arya bangkit diiringi Mahesa mengambil kapak dan membelah kayu-kayu besar di depannya.
Sekitar lebih seratus pendekar berkumpul di sana memenuhi undangan Kyai Banjar guna membahas cara membantu Pajajaran.
"Aku dengar kabar, Kadipaten Ambangan dibantu tokoh sesat paling hebat, yaitu Datuk Pengemis Nyawa, serta anteknya. Yang tak kalah meresahkan adalah kemunculan dua pendekar hebat, Bocah Setan Tua dan Nenek Peniup Dupa yang turut serta di sana," terang Kyai Koneng membuka pembicaraan.
"Aku berpikir bagaimana kalau kita membentuk pasukan sendiri, jangan sampai bersama dengan para pasukan kerajaan. Sehingga gerakan kita lebih leluasa menyerang musuh..." Kyai Banjar memberi usulan.
"Setuju!" teriak semua yang hadir penuh semangat. "Tapi untuk membuat pasukan, kita harus punya pemimpin..." usul salah satu pendekar yang hadir.
"Bagaimana kalau Kyai Banjar atau Kyai Koneng yang menjadi pemimpin?" Pendapat pendekar muda disetujui yang lain.
"Maaf, saudara sekalian, aku sudah terlalu tua tidak sanggup berperang. Lebih baik cari yang lain, entah kalau adikku... Bagaimana, Kyai Koneng?" "Maaf, Kakang, dan juga saudara yang lain, aku memang ingin ikut berjuang, tapi tidak siap menjadi pemimpin. Seperti yang diucapkan Kakang barusan, kami sudah terlalu tua..." undur Kyai Koneng, membuat semua yang hadir berbisik bingung.
"Atau Kyai punya usulan, siapa yang pantas di antara kami jadi pemimpin?" tanya Bintang Kusuma. Sebelum Kyai Banjar menjawab, seorang yang berbadan kekar dengan golok besar berjalan ke depan. "Yang jelas, pemimpin pasukan ini harus paling hebat di antara semuanya, dan paling cerdas! Aku siap menjadi pemimpin kalian..." ujarnya penuh keyakinan.
"Apa yang kau katakan, Golok Emas! Seakan meremehkan kehebatan kami?" bentak Kang Darman penuh amarah.
"Siapa yang merasa paling hebat di sini, silakan maju menguji keahlian guna menjadi pemimpin?" Semua yang hadir gaduh mendapat tantangan Golok Emas, membuat Kyai Banjar hanya menggeleng kepala; dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Mungkin cara itu memang lebih baik untuk saling menguji kesaktian, hitung-hitung sebagai ajang latihan sebelum perang.
Golok Emas melenting ke luar balai, diikuti para pendekar yang lain. Semua santri Padepokan yang tidak tahu apa-apa terkejut dan berbondong-bondong menyaksikan keramaian itu, kecuali Arya dan Mahesa yang masih saling berlomba membelah kayu.
Golok Emas ada di tengah arena dikelilingi para pendekar yang lain. Sesosok tubuh berpenampilan sederhana maju ke tengah arena dengan pedang terselip di pinggangnya. "Bukannya aku berambisi menjadi ketua, namun aku hanya ingin menguji kelayakanmu, Golok Emas," ujarnya pelan. "Hahahahaha, jangan berbelit lidah, Mandala?" Orang yang disebut Mandala menghembuskan napas kesal hendak menyerang. Namun, sebelum perkelahian perebutan ketua dimulai, mereka dikejutkan oleh kedatangan beberapa kuda memasuki padepokan. Tampak jelas mereka Pasukan Jalayuda, dipimpin sosok tinggi besar dengan gada berwarna emas ada di punggungnya. Dia adalah Gema Langit, pimpinan Pasukan Jalayuda.
Gema Langit melompat turun dari kudanya, diiringi beberapa pasukan pilihan yang mengawalnya. Dengan sombong, pasukan menerobos beberapa pendekar hingga pimpinannya bisa berdiri di tengah arena, menatap Golok Emas dan Mandala dengan tajam, kemudian tergelak hebat.
"Hahahahaha... Sungguh tiba tepat waktu. Aku mendengar di sini sedang ada pemilihan ketua pasukan pendekar yang akan turut serta membela kerajaan kami. Aku ingin turut serta..." ujar Gema Langit penuh percaya diri.
"Apa maksud Patih Gema Langit?" tanya Kyai Koneng.
"Aku juga ingin menjajal kehebatan pendekar di sini. Aku sangsi pada kehebatan kalian, tapi kenapa Raja begitu percaya hingga minta bantuan pada kalian?" Gema Langit berputar di tengah arena dengan sombong, membuat semua pendekar yang ada di sana muak dan ingin menyerang, namun Kyai Koneng menahannya. Pasukan kerajaan sudah siap dengan pedang terhunus untuk menyambut serangan para pendekar.
"Hahahahaha, sungguh tidak adil jika kami harus melawan kalian semua, tentu kami kalah jumlah..." gelak Gema Langit.
"Patih Gema Langit, kami ingin membantu kerajaan tanpa ada rasa paksaan, dan kami sebagai pendekar hanya ingin bertindak dengan cara kami sendiri. Jadi, Tuan Gema Langit sudi tinggalkan tempat ini untuk mempersiapkan pasukannya sendiri?" pinta Kyai Banjar.
"Itu yang aku khawatirkan. Kalian bergerak sendiri tanpa perintah kerajaan, yang akhirnya malah akan merepotkan kami," terangnya penuh kesombongan.
Tiba-tiba Banjar Kalianget melenting ke tengah arena. "Sesungguhnya apa yang kau inginkan?!" "Hahahahaha, aku juga termasuk pendekar, jadi pantas jika bisa turut serta dalam pemilihan ketua ini."
"Tapi kau sudah menjadi Patih dan pimpinan Pasukan Kerajaan, tidak mungkin juga menjadi pimpinan pasukan pendekar..." "Hahahahaha... Kata siapa tidak bisa? Jika kalian tidak bisa mengalahkanku, maka kalian harus tunduk di bawah naungan panji Pasukan Jalayuda?" terangnya membuat semua terperangah dan ribut. Namun banyak yang menyatakan kesanggupan untuk melawan Patih Gema Langit, namun dia tidak kekurangan akal. Dia juga tahu bahwa yang berkumpul di sini adalah para pendekar kelas tinggi, dan dia juga tahu jika Kyai Banjar dan Kyai Koneng tidak akan turut serta dalam pemilihan.
"Namun sungguh tidak adil jika aku harus melawan kalian semua. Begini saja, kalian pilih dua pendekar untuk melawanku. Jika aku bisa mengalahkan keduanya, berarti kalian kalah?" tawarnya membuat suasana semakin gaduh. Banjar Kalianget menoleh pada Kyai Banjar, dia hanya mengangguk.
"Kalau kami menang, bagaimana?" tanya Banjar Kalianget.
"Kalau kalian menang, tentu aku akan biarkan kalian membuat pasukan sendiri semau kalian," jawab Gema Langit enteng seperti meremehkan mereka.
"Baik!" jawab Banjar Kalianget tegas. "Aku yang akan mencoba pertama kali, Paman?" Tiba-tiba Bintang Kusuma maju, membuat Gema Langit terkejut kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Bintang Kusuma keponakanku, aku sudah menjadi pendekar sebelum kau lahir, jadi jangan coba melawanku. Bagaimana aku bisa menjelaskan pada Kakang Gema Samudra jika kau cedera di tanganku..." ujar Gema Langit santai.
"Biarlah saya mencoba ilmu yang selama ini saya pelajari. Saya tahu kehebatan Paman, saya hanya ingin belajar..." terang Bintang Kusuma seraya mencabut pedangnya. Golok Emas yang sejak tadi congkak, melihat sekarang yang berdiri di tengah arena adalah Gema Langit, nyalinya ciut dan mundur, begitu pun Mandala. Semua yang hadir semakin mengatur jarak. Banjar Kalianget mundur juga; dia tidak khawatir akan keselamatan Bintang, karena dia adalah keponakannya sendiri dan Gema Langit juga pasti berpikir dua kali untuk melukai menantu Racun Barat itu.
"Baik! Jika kau sudah tidak bisa diperingatkan, aku tidak akan segan-segan lagi." "Hiaaaat!" Gema Langit langsung mencabut gada emasnya membuat semuanya terbelalak, begitu juga Banjar Kusuma. Tafsirannya keliru. Ternyata Gema Langit sungguh-sungguh, bahkan pada serangan pertama saja dia langsung menggunakan senjata hebatnya.
TRAAAANGGG! Bintang berusaha menangkis.