Chapter 23
Namun, serangan itu sungguh dengan tenaga dalam tinggi hingga tubuhnya terdorong gada yang menempel di pedangnya. Kemudian, ia melenting ke atas dan hinggap di belakang Gema Langit.
Gema Langit tidak tinggal diam, ia terus memburu Bintang Kusuma. TRAAAAANGGG! Dua senjata kembali bertemu. Tubuh Bintang bergetar hebat oleh benturan tenaga yang dahsyat itu, tubuhnya menggigil seketika. "Ilmu pamannya sungguh sangat dahsyat!" "Ponakan tidak tahu untung!" "Hiaaat!" Gema Langit benar-benar menggunakan seluruh kesaktiannya, menyerang ponakannya yang kebingungan. Bintang sadar bahwa yang dihadapi adalah pamannya sendiri, tidak mungkin dia menggunakan senjata rahasia atau jurus pamungkas, dia masih hormat padanya. Sadar jika ilmunya tidak mampu melawan Gema Langit, jika tidak menggunakan jurus pamungkas dan senjata rahasianya, membuat Bintang mengendurkan tenaga dalamnya. TRANGGGG! Kembali senjata bertemu. Bintang tidak bisa mempertahankan pedangnya, pedang itu terpental jauh. Dia harap pamannya menghentikan serangan, melihat dia kalah.
Namun...
"Ponakan harus diberi pelajaran!"
Kembali Gema Langit mengibaskan senjatanya penuh dengan tenaga dalam tinggi, membuat semua terbelalak. Bintang bisa mati, semuanya terpekik.
Bahkan Kyai Banjar tidak menyangka akan jadi begini, hingga dia lambat melompat menolong Bintang. Gada itu melesat cepat akan menghantam Bintang. Bintang tergagap, tak berdaya, hingga dia hanya bisa pasrah memejamkan mata.
TRAAAANGGGGG...
Gema Langit terpekik dan mundur beberapa langkah. Gadanya seperti membentur bongkahan baja besar. Dan bukan hanya dia yang terkejut, semua yang hadir juga terbelalak kaget melihat sesosok tubuh kini berdiri di depan Bintang.
Bintang membuka mata karena serangan pamannya tidak mengenainya. Sekarang matanya bisa menatap dengan jelas pada sosok yang membelakanginya, sehingga tidak bisa melihat wajah orang yang menyelamatkannya. Orang itu hanya mengenakan celana dekil tanpa pakaian. Rambutnya yang sedikit panjang tertiup angin.
Tampak jelas tubuhnya sangat kekar, basah oleh keringat.
Di tangan kanannya, terkepal sebuah kapak kayu biasa.
Semua pendekar dan santri Padepokan Gajah Mungkur terbelalak tidak percaya. Bahkan Kang Darman sampai mengucek mata beberapa kali untuk memastikan.
Sosok tubuh yang tadi mereka lihat membelah kayu di ujung padepokan, kini berdiri dengan gagah di tengah arena, bahkan menantang Gema Langit dengan sorot mata yang tajam.
Semua orang tetap tidak percaya jika seorang kacung atau pekerja padepokan ini mampu menangkis serangan Gema Langit yang sangat hebat.
Hal itu juga dirasakan Gema Langit. Di hadapannya hanya tukang kayu biasa, mengapa memiliki kemampuan untuk menahan serangannya.
"Hahahahahahaaaaa! Apakah kalian tidak punya pendekar hebat, hingga seorang penebang kayu ini dipilih melawanku?!" cibir Gema Langit. Semua yang hadir gaduh, karena mereka tahu, ini adalah babak penentuan sesuai dengan perjanjian Gema Langit.
Orang yang berdiri menghadap Gema Langit sungguh tidak meyakinkan. Ia hanya bersenjata kapak kayu biasa, bukan senjata hebat andalan pendekar.
Lagipula mereka lihat sendiri tadi ia tidak berkumpul dengan para pendekar, malah memotong kayu di ujung sana.
Mana mungkin ia menang menghadapi Gema Langit? "Sungguh, kau sangat kejam memperlakukan keponakanmu sendiri seperti itu!" ujar pemuda itu tegas, matanya menatap tajam Gema Langit. "Arya, jika kau mau melawannya... jangan sampai dia cedera!" teriak Kyai Banjar. Semua mata melihat padanya. Ada senyum tenang yang berkembang di bibir Kyai Banjar dan Kyai Koneng, membuat mereka heran. Apa mungkin Kyai Banjar tidak khawatir jika pilihannya kalah? Namun, melihat ketenangan mereka sedikit mengurangi kewaswasan.
"Siap, Kyai?" jawab Arya, tersenyum tenang. Ekspresinya langsung berubah dari asalnya yang seperti singa ketika melihat Gema Langit. "Arya!" pekik Bintang Kusuma. Arya hanya menoleh, tersenyum tenang. "Kau kembali dulu, ambil senjatamu. Biar aku yang akan menghadapinya," pinta Arya menjabat tangan Bintang. "Aku tidak mau melawan jongos, tidak ada kebanggaan aku melawannya," ujar Gema Langit sombong. "Sudahlah, Pak Tua pemegang pentungan tikus! Jika pentungan bututmu itu bisa mengenai tubuhku, aku mengaku kalah!" teriak Arya tidak kalah sombong, membuat semua yang hadir terbelalak. Begitu mudahnya pemuda jongos itu membual. "Ucapanmu sungguh seperti pendekar paling hebat, Anak Muda. Aku hargai keberanianmu, namun keberanian saja tidak cukup untuk berdiri di sini. Cepat panggil pendekar yang lain!" teriak Gema Langit sambil menatap pendekar yang lain penuh tantangan.
"Bilang saja kau takut melawan kapak hebatku ini!" ujar Arya tenang sambil mengamati kapak kayunya. Kirana dan petinggi Padepokan Gajah Mungkur tersenyum. Mereka tidak percaya jika Arya yang dahulu sadis dan tegas, sekarang tampak lucu.
"Kurang ajar! Baik, jongos, akan ku robek mulutmu itu! Namun kemenanganku ini tidak termasuk hitungan, silakan kalian persiapkan satu pendekar lagi untuk melawanku!" teriak Gema Langit, melesat mengayunkan gadanya. Arya malah melempar kapaknya ke samping, bertangan kosong, dan mengatur kuda-kuda Putri Bulan yang sangat lincah.
Gada Gema Langit menyodok melewati samping kepala Arya. Arya menunduk dengan cepat dan menusukkan jari telunjuknya ke ketiak Gema Langit. "Cut...!" ujarnya, menyentuh ketiak itu lalu melompat sambil tertawa lucu. Hal itu membuat yang melihat terkejut sekaligus geli. Tingkah laku dan kecepatan Arya, yang bukannya mengirimkan pukulan malah main-main menggelitik ketiak Gema Langit.
Gema Langit menjadi geram, langsung meningkatkan serangannya. Arya hanya melompat ke sana kemari menghindari serangan maut Gema Langit dengan gesit sambil tertawa tenang.
Hingga setelah lima puluh jurus berjalan, Arya masih bermain-main menghindari serangan Gema Langit. Hal itu membuat semua pendekar yang hadir percaya pada kemampuan Arya yang tadi mereka remehkan.
"Makanya, kalau pentungan tikus jangan digunakan sebagai pemukul manusia, tidak akan kena... tuh, kan?" cerocos Arya seraya terus menghindari serangan Gema Langit yang semakin cepat, namun gerakannya untuk menghindar tidak kalah cepat.
Hingga napas Gema Langit tersengal-sengal, ia masih belum mampu menyentuh tubuh Arya.
Betapa hebat orang yang diremehkan itu, membuatnya semakin penasaran.
Kini ia yakin jika pemuda yang dilawannya itu bukanlah orang sembarangan. Ia yakin dia adalah pendekar hebat yang menyamar menjadi jongos di padepokan itu. Hal itu juga dirasakan oleh semua yang melihat.
Mahesa ternganga tidak percaya pada orang yang selalu tidur bersamanya itu; bahkan kapak yang dipegangnya bergetar. Begitupun Kang Darman yang selama ini selalu memperlakukan Arya dengan kasar, karena cemburu melihat Arya begitu dekat dengan Kirana.
"Sudahlah, Gema Langit, hentikan pertarungan itu! Bisa jadi kau kehabisan napas karena kelelahan mengejarnya. Kau kembali saja pada pasukanmu!" teriak Kyai Banjar.
Namun Gema Langit tidak mendengarkan ucapan itu, terus mengejar Arya walaupun napasnya telah kembang-kempis. Arya merasa kasihan juga. "Apa Kyai mau saya selesaikan pertarungan ini?" teriak Arya. "Asal kau tidak melukainya...!" jawab Kyai Banjar.
Tiba-tiba Arya melenting ke udara dan mengambang di sana, membuat semua mata terbelalak, begitu juga Kyai Banjar dan Kyai Koneng yang selama hidupnya tidak pernah melihat ilmu bisa membuat orang melayang di udara.
"Pak Tua, apakah kau bisa mengejarku ke sini? Lebih baik kau menyerah saja!" teriak Arya dari atas udara, menatap Gema Langit yang terbelalak hingga mulutnya menganga.
"Atau kau ingin merasakan salah satu jurusku? JURUS SABIT BULAN!" teriak Arya, menendangkan kakinya di udara pada sebuah pohon beringin besar yang memang diperintah Kyai Banjar untuk ditebang. Seketika itu, larian sinar kehijauan sangat panas berbentuk bulan sabit sebesar dua depa melesat dengan cepat menghantam pohon beringin itu. BLAAAARRRR!
Kayu besar itu tumbang seketika, bagaikan tertebas pedang sangat tajam dan besar. Semua mata semakin terbelalak pada kehebatan orang yang mereka anggap jongos itu.
Gema Langit tergagap, seluruh tubuhnya bergetar hingga tak sadar gadanya jatuh. Wajahnya pias, keringat dingin mengucur dengan deras. Ia terduduk lemas melihat kesaktian lawannya yang begitu hebat.
Ia bisa bayangkan jika jurus itu dihantamkan ke bawah, bukan hanya ia yang tidak selamat, namun juga beberapa pendekar di sekitarnya.
Arya melayang turun dengan pelan dan ringan seperti kapas, lalu hinggap di depan Gema Langit.
"Patih, bukan niat saya memamerkan kesaktian di sini. Tapi saya terpaksa agar Anda sadar dan melihat bahwa musuh yang hendak Anda hadapi itu mungkin lebih hebat dari saya, dan jumlahnya lebih dari satu. Bisa saja pasukan Anda tidak ada yang selamat. Makanya, di sini para pendekar berkumpul untuk membuat pasukan sendiri melawan mereka agar pasukan kerajaan tidak banyak jatuh korban. Apa Anda tidak menghargai mereka? Mereka sangat menghormati Anda, sehingga tidak mau melawan Anda. Saya yakin di antara mereka banyak yang lebih hebat dari saya," terang Arya, membuat Gema Langit hanya tertunduk. Tidak pernah terbayangkan sedikit pun jika ia harus takluk hanya oleh jongos Padepokan Gajah Mungkur.
Para pendekar yang lain semakin kagum pada pemuda yang mereka anggap jongos itu. Bukan hanya memiliki ilmu kanuragan hebat, namun cara bicaranya pun sungguh tegas dan mantap. "Saya terlalu sombong pada kemampuan pasukan saya sendiri. Saya sakit hati ketika Raja meminta bantuan para pendekar untuk melawan Kadipaten Ambangan, seakan tidak percaya pada kami. Tapi mendengar penjelasanmu, Basuran, membuatku sadar. Apalagi di Ambangan ada sosok sesat hebat berjuluk Datuk Pengemis Nyawa," terang Gema Langit, membuat Arya terpekit. "Datuk Pengemis Nyawa?!" Arya tersentak.
Seketika Kyai Banjar, Kyai Koneng, dan Kirana langsung berhambur ke sebelahnya. "Sabar, Arya... biar aku jelaskan nanti," Kyai Koneng berusaha meredam emosi Arya.