Halo!

Dewa Iblis - Chapter 24

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 24

Melihat orang-orang terdekatnya khawatir, Arya hanya tersenyum tenang. "Saya bukan yang dulu lagi, Kyai. Walaupun Datuk Pengemis Nyawa ada sepuluh lagi, saya tidak akan terpancing emosi. Saya sudah belajar untuk meredamnya," terangnya. Hal itu membuat mereka yang khawatir terkejut, kemudian tersenyum tenang.

"Patih Gema Langit, maafkan atas sambutan kami ini. Yang pasti, kita masih dalam satu perjuangan untuk mengusir pemberontak," ujar Kyai Banjar sembari berusaha membantu Gema Langit berdiri.

"Saya yang minta maaf, Kyai. Namun, sebelum saya meninggalkan padepokan ini, izinkan saya tahu siapa Nak Mas yang sangat hebat ini," pinta Gema Langit sambil menatap Arya. Hal itu juga diharapkan oleh para pendekar lain yang hadir.

"Nama saya Arya. Saya santri di padepokan ini, belajar ilmu agama dan juga ilmu batin pada Kyai Banjar serta Kyai Koneng," jawab Arya tenang.

"Tapi saya tidak percaya jika Nak Mas hanya santri biasa. Kehebatan Nak Mas membuktikan bahwa Anda adalah pendekar yang sangat hebat," tambah Mandala yang juga ikut mengerumuni Arya bersama pendekar dan santri padepokan lainnya.

Arya tidak menjawab karena dia ragu untuk menjelaskan identitas aslinya. Melihat sikap Arya, Kyai Koneng tersenyum arif. "Dia benar-benar santri yang giat belajar ilmu di sini, berusaha mengubah diri dari masa lalunya yang tidak bisa dibilang baik, dan tidak bisa pula disebut buruk," terangnya sambil memperhatikan para pendekar yang semakin penasaran. "Jika nanti kalian tahu siapa dia, kami harap kalian jangan mempermasalahkannya. Kita lihat sendiri keadaannya sekarang. Apakah kalian percaya jika saya katakan dia orang jahat?" pancing Kyai Koneng.

"Tidak mungkin, Kyai!"

"Jelas-jelas tadi dia tidak berani melukai Patih Gema Langit sesuai perintah Kyai. Mana mungkin dia orang jahat?"

"Jangan mengada-ada, Kyai!"

Banyak yang berkomentar tidak terima saat Kyai Koneng menyebut Arya orang jahat. Hal itu membuatnya tersenyum puas.

"Walaupun dia orang jahat sekalipun, melihat sikapnya sekarang, saya tidak mungkin memusuhinya. Namun yang saya tangkap, dia adalah pendekar dari golongan putih yang baik," komentar Gema Langit.

"Benar, Kyai. Kami melihat dengan pasti, dia tidak malu bersama dengan santri yang lain, mengaji, dan melakukan kegiatan berat seperti menebang pohon dan mengangkut air di padepokan ini. Mana mungkin dia jahat?" bela Anwar yang juga tidak terima.

"Terima kasih atas pembelaan kalian pada Arya, tapi dia benar-benar bekas orang jahat," jawab Kyai Banjar, membuat semua orang terkejut dan menoleh pada Arya yang tertunduk. Jelas mereka tidak percaya pada ucapan itu.

"Kyai jangan mengada-ada. Kalaupun dia mantan orang jahat, kita sangat bersyukur jika ternyata sekarang dia menjadi orang baik," bela salah satu pendekar yang disetujui pendekar lain. Rasa kagum pada Arya lebih tinggi daripada sekadar kata-kata tentang masa lalunya.

"Kyai membuat kami semakin penasaran. Apakah dia merupakan pendekar yang terkenal?" kejar Golok Emas.

"Sangat terkenal. Mungkin semua yang ada di sini pernah mendengar gelarnya," tambah Banjar Kalianget. Pernyataan itu semakin membuat orang penasaran melihat Arya yang tertunduk malu di bawah sorotan mata kagum semua orang.

"Maafkan semua kelakuan saya selama ini, yang mungkin membuat para pendekar gusar. Kelakuan saya yang tanpa perhitungan dan hanya mementingkan kepentingan sendiri," ujar Arya pelan.

"Pendekar muda, rasa sesalmu dan ketulusanmu untuk berubah, bahkan bersedia mondok di sini bersama para santri yang tentu bukan kelasmu, sudah cukup pantas untuk menghapus dendam, jika memang kami punya dendam padamu," terang seorang pendekar paruh baya, yang dibenarkan oleh lainnya.

"Jika nanti kalian telah mengetahui siapa saya yang sebenarnya, dan jika ada kesal serta dendam di hati kalian, izinkan saya memikul hukuman yang setimpal," tambah Arya. Hal itu membuat suasana menjadi haru, bahkan Kirana menitikkan air mata melihat ketulusan Arya.

"Sudahlah, anak muda. Siapapun kamu, kami telah memaafkan seluruh kesalahanmu selama ini. Kyai Banjar, Kyai Koneng, serta Patih Gema Langit menjadi saksinya," tambah pendekar paruh baya itu lagi.

"Terima kasih atas kemurahan hati Tuan-tuan sekalian. Dulu sikapku dipengaruhi dendam yang begitu besar pada Datuk Pengemis Nyawa."

"DEWA IBLIS!" sentak beberapa pendekar. Hal itu membuat yang lain terbelalak kaget hingga mundur satu langkah. Mereka tahu hanya Dewa Iblis yang dikenal berani mencari dan menantang Datuk Pengemis Nyawa.

"Ya, benar. Dia adalah Arya yang berjuluk Dewa Iblis," tegas Kyai Banjar.

Semua mata menatap tidak percaya pada sosok yang terkenal sadis dan kejam itu. Kini di hadapan mereka berdiri seorang pemuda tampan bertubuh kekar dengan banyak bekas sayatan di tubuhnya, sedang menunduk dan menitikkan air mata penyesalan. Mereka seolah tidak percaya bahwa pemuda itu adalah Dewa Iblis yang legendaris. Banyak yang menyangka Dewa Iblis berusia di atas tiga puluh tahun. Namun, Kyai Banjar tidak mungkin berbohong, dan mereka telah menyaksikan sendiri kehebatan Arya yang luar biasa.

"Dia Dewa Iblis yang terkenal kejam dan sadis. Kini dia berdiri di hadapan kalian dalam keadaan menyesali perbuatannya. Lalu apa yang ingin kalian lakukan padanya?" tanya Banjar Kalianget menyadarkan mereka dari keterkejutan.

"Dia yang pantas menjadi pemimpin pasukan pendekar!" teriak Golok Emas mantap. Usulan itu malah didukung oleh yang lain. Arya terbelalak tidak percaya.

"Jangan! Bukan saya! Tadi saya tidak berniat ikut dalam perebutan jabatan. Saya hanya tidak tega jika Patih Gema Samudra melukai keponakannya sendiri," bela Arya kebingungan.

Namun pendekar lain terus mengusulkannya. Arya semakin bingung dan menoleh ke kanan-kiri, melihat Kyai Banjar yang tersenyum padanya.

"Maaf Tuan-tuan, saya tidak pantas. Bahkan Kyai Banjar tidak memanggil saya untuk turut serta dalam pasukan pendekar," terang Arya berusaha meminta perlindungan dari Kyai Banjar.

Hal itu membuat semua mata menatap Kyai Banjar dengan heran, mengapa orang sehebat Arya tidak dipanggil. Kyai Banjar tersenyum arif.

"Aku memang berencana tidak mengajak Arya, karena kita tahu sendiri bahwa Dewa Iblis sangat dendam pada Datuk Pengemis Nyawa. Kita juga tahu bahwa di sana ada Datuk Pengemis Nyawa yang asli. Sedangkan Arya baru saja melampiaskan dendamnya dengan membunuh kembaran Datuk Pengemis Nyawa di Rawa Lintah, yang sesungguhnya adalah muridnya bernama Gatot Ngurai. Aku khawatir jika dia ikut serta, dia hanya akan mementingkan dendam pribadinya dan mencelakakan pasukan pendekar," terang Kyai Banjar. "Kami meyakini jiwa Arya masih labil. Kami tidak mau Dewa Iblis menjelma menjadi sosok mengerikan seperti dulu lagi, sementara sekarang dia masih dalam proses penyembuhan luka batinnya."

"Tapi siapa lagi yang lebih pantas memimpin pasukan ini selain dia, Kyai? Seseorang yang memiliki ilmu sangat tinggi dan rasa perhatian pada sesamanya?" tanya Bintang Kusuma yang telah berdiri di samping Patih Gema Langit.

"Saya harap izinkan dia memimpin pasukan ini, Kyai. Pasukan kami pasti juga mengharapkan kehadirannya," pinta Patih Gema Langit.

"Tadi aku khawatir saat kau menceritakan tentang keberadaan Datuk Pengemis Nyawa di Ambangan. Setahunya, Datuk Pengemis Nyawa telah mati. Itulah sebabnya kami cepat mendatanginya, takut sifat liarnya muncul lagi. Ternyata dia justru tersenyum dan mengatakan tidak terpancing lagi oleh dendam itu," Kyai Banjar kembali menjelaskan.

"Lalu, apakah Kyai mengizinkan dia menjadi pimpinan kami?" tanya para pendekar lain.

Kyai Banjar mengangguk sambil tersenyum, membuat semua orang senang kecuali Arya yang semakin bingung.

"Saya tidak pantas memimpin pasukan ini, Kyai. Saya tidak punya pengalaman. Pasti ada yang lebih layak. Namun, jika diizinkan, saya ingin turut serta dalam pasukan."

"Ya, kau diizinkan ikut serta. Namun sebagai pimpinan. Tenang saja, aku juga akan ikut mendampingimu," ujar Kyai Koneng.

"Jangan menolak tanggung jawab yang diberikan orang banyak padamu. Jika kau memang dibutuhkan, kau harus bersyukur bahwa hidupmu dihargai dan bisa berguna bagi orang banyak," terang Kyai Banjar.

Arya tersentak, kemudian menunduk. Dia tidak pernah berani membantah orang-orang yang telah berbuat baik padanya dan menganggapnya keluarga sendiri, seperti Kyai Banjar, Kyai Koneng, dan Banjar Kalianget.

"Baik, Kyai. Tapi kalau diizinkan, saya ingin mengajak Mahesa di samping saya. Walaupun ilmu kanuragannya tidak sehebat pendekar lain, kecerdasannya pasti bisa digunakan untuk menyusun strategi dan menjadi teman diskusi saya," pinta Arya.

Mahesa, yang tadinya hendak kembali memotong kayu dengan rasa kesal karena mengira hanya Arya yang diajak berjuang, tersentak kaget saat Kyai Banjar memanggilnya.

"Mahesa, kau diajak serta berjuang oleh Arya. Apakah kau mau?"

Wajah Mahesa langsung merona girang. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Siap, Kyai!" teriak Mahesa sambil melemparkan kapaknya ke arah kerumunan pendekar.

"Kalau begitu, saya izin undur diri kembali ke barak pasukan untuk mempersiapkan pertahanan dan serangan. Mohon doanya, Kyai," ujar Patih Gema Langit dengan sikap yang jauh berbeda dari saat dia datang.

Pasukan Jalayuda yang dipimpin Patih Gema Langit pun segera meninggalkan padepokan tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment