Halo!

Dewa Iblis - Chapter 25

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 25

Pasukan Pendekar kembali berkumpul di balai untuk membahas persiapan dan strategi pertempuran melawan Kadipaten Ambangan. Kirana mengagumi perubahan Arya yang kini duduk di tengah para pendekar dengan pakaian rapi.

Kyai Koneng datang membawa kayu cendana yang terbungkus kain hitam. Seketika ruangan itu dipenuhi harum cendana, namun Arya segera menutup kayu itu dan memperingatkan Kyai Koneng bahwa kayu itu beracun. Kyai Koneng justru tersenyum, membuka kembali kayu itu, dan menjelaskan bahwa racunnya sudah ia bersihkan. Ia berpesan agar Arya tidak menggunakan racun lagi jika ingin menjadi orang baik.

Kyai Koneng menyerahkan senjata Arya yang telah diberi sarung dari kulit ular. Kirana maju memberikan jahitan itu dan menyebut Arya "kakang", membuat Arya terperangah. Arya berterima kasih kepada Kyai Koneng dan Kirana. Kyai Koneng kemudian mengangkat tongkat Arya tinggi-tinggi, mengumumkan bahwa itu adalah tongkat komando pimpinan mereka, yang disambut sorak semangat.

Arya berteriak penuh semangat untuk memberantas kejahatan, menegakkan kebenaran, dan menumpas pemberontak. Perkataannya membuat semua yang hadir berapi-api. Arya melanjutkan dengan menyatakan bahwa mereka akan membicarakan dan mendiskusikan semua yang akan dilakukan untuk membantu Pajajaran, serta suara mereka dalam rapat itu akan menentukan nasib di medan laga. Kyai Koneng dan orang yang mengenal Arya terkejut dengan kewibawaannya. Arya tersenyum kecil melirik Mahesa, mengaku mencuri kata-katanya.

Di luar Kadipaten Ambangan, lebih dari seribu dua ratus pasukan telah berjejer, terdiri dari tentara, masyarakat biasa, perampok, dan perompak. Pasukan dibagi menjadi delapan kelompok, masing-masing dipimpin oleh seorang jenderal. Jenderal kelompok pertama adalah Patih Wilyatikta, kedua Mahesa Kurawan, ketiga Parit Ganjar, keempat Ronggo Wengi, kelima Saudagar Peteng, keenam Ketua Partai Golok Beracun Bimaskara, ketujuh Harimau Sendeng dari Pantai Ruberu, dan kedelapan Adipati Layan Kusuma.

Di depan barisan, beberapa tokoh hebat menunggang kuda, termasuk Biksu Tapak Maut dari Tiongkok dan dua orang di satu kuda, Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua. Datuk Pengemis Nyawa menunggang kuda besar di depan pasukan, diikuti dua kuda yang dinaiki Ninja kembar Jala dan Jalu.

Datuk Pengemis Nyawa berteriak membakar semangat pasukannya, melihat jumlah pasukan mereka yang besar dan Pajajaran yang kecil. Ia menyatakan bahwa Pajajaran telah lama mengganggu kebebasan dan kesenangan mereka, bahkan banyak saudara mereka yang ditangkap. Kini saatnya merebut kerajaan itu dan kerajaan lain agar tunduk di bawah kekuasaan mereka, karena mereka adalah orang pilihan yang dicipta untuk menjadi hebat.

Ia melanjutkan dengan memerintahkan pasukannya untuk membunuh sebanyak-banyaknya pasukan Pajajaran, menjanjikan kebebasan dan kesenangan di atas kematian musuh mereka. Ia juga berkata bahwa yang mati akan mati, namun yang bertahan hidup akan disambut kesenangan dan kekuasaan. Ia kemudian menggebrak kudanya, dan seluruh pasukan bergerak.

Penduduk di sekitar area peperangan mengungsi dengan membawa bekal ala kadarnya. Desa-desa yang dilewati pasukan menjadi sepi dan dijarah. Orang yang terpaksa ikut dalam pasukan lambat laun terpengaruh oleh gaya hidup perampok, sehingga tidak bisa dibedakan antara pasukan Patih Wilyatikta, Kadipaten Ambangan, masyarakat biasa, dan perampok. Mereka semua menikmati hasil jarahan dari desa yang ditinggal warganya. Datuk Pengemis Nyawa tertawa senang melihat kerakusan pasukannya, yang ia yakini akan rakus melahap musuh-musuh mereka karena janji kebebasan dan kesenangan yang ia obral.

Patih Gema Langit keluar dari baraknya menyambut tilik sandi yang ia utus untuk melihat persiapan musuh. Ia terkejut mendengar bahwa pasukan musuh berjumlah ribuan, bahkan pasukan Patih Wilyatikta bergabung, ditambah masyarakat biasa, perampok, dan perompak, serta banyak tokoh sakti dunia persilatan. Ia hanya membawa pasukannya sendiri, Pasukan Jalayuda yang berjumlah seratus lima puluh orang, untuk menyambut jumlah musuh yang sangat besar. Ia memerintahkan untuk mengirim utusan ke kota raja meminta tambahan pasukan dan menyampaikan jumlah musuh yang sangat banyak, dengan nada putus asa.

Di lain tempat, pasukan Pendekar berjumlah seratus tiga puluh orang berangkat menuju Daerah Jalu, selatan dari Bukit Gajah Mungkur. Perjalanan mereka tidak bisa cepat karena banyak pendekar yang tidak memiliki kuda. Bahkan yang memiliki kuda pun memutuskan berjalan kaki bersama yang lain, kecuali Kyai Koneng dan beberapa orang yang tidak memiliki ilmu peringan tubuh. Kecepatan perjalanan mereka disesuaikan agar tidak tertinggal, dengan patokan Golok Emas yang tidak memiliki peringan tubuh tinggi.

Sesungguhnya Arya bisa melesat sangat cepat, namun ia membiarkan kecepatan perjalanannya disesuaikan. Kirana berlari tidak jauh dari Arya, ingin melihatnya seksama. Ia menyaksikan Arya dalam berbagai wujudnya: Dewa Iblis yang sadis namun baik, santri yang dekil, dan kini sebagai pemimpin dengan pakaian rapi. Mantel yang menjuntai di punggungnya membuatnya terlihat mencolok. Arya ingin berdampingan dengan Kirana, namun ia malu dan sadar akan larangan Kyai Koneng. Arya kecewa karena Kirana ada di belakangnya.

Tiba-tiba Arya mendengar dentingan senjata di kejauhan. Ia berteriak menyuruh pasukannya berhenti dan bersembunyi. Banjar Kalianget bertanya ada apa. Arya menjelaskan bahwa ia mendengar bentakan dan dentingan benda keras, dan bertanya mengapa pertempuran terjadi di sana padahal masih jauh dari Daerah Jalu. Arya meminta Banjar Kalianget untuk memeriksa tanpa membuat gerakan dan melaporkan apapun yang ia lihat. Banjar Kalianget langsung melesat ke arah yang diperintahkan Arya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment